Minggu, 28 Februari 2010

Jumat, 26 Februari 2010

PENEMUAN NASKAH MANAKIB SYEH ABDUL QADIR JAELANI DI SELAAWI GARUT

oleh Reza Saeful Rachman
ini adalah hasil temuan saya dua tahun yang lalu.
Identifikasi Naskah:

NASKAH MANAKIB SYEH ABDUL QADIR JAELANI

Bhs.Sunda Aks.Pegon Prosa/Wawacan
176 hlm Kertas


Judul : Manakib Syeh Abdul Qadir Jaelani (tidak ada pemberian judul pada sampul)
Ukuran : Hal 21cmx17cm ,Tulisan 17cmx16cm
Halaman : 176 hlm, kosong 2hlm, sobek 1hlm
Penomoran : Penomoran halaman terletak di sudut kanan atas menggunakan angka arab. Penomoran halaman baru sampai halaman 151. sisanya tidak diberi penomoran.
Tinta : Hitam
Keadaan fisik : Masih sangat jelas dibaca, cukup terawat, akan tetapi penjilidan sudah agak longgar.
Asal Naskah : Hasil penyalinan pada tahun 1966

Ukuran Huruf : Sedang

Pemakaian : setiap larik dipisahkan 2 garis miring kecil
tanda baca

Kejelasan : Masih sangat jelas
tulisan

Kertas : kertas bergaris seukuran buku tulis

Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : masih putih tetapi sebagian pinggiran sudah ada yang berwarna kuning.
Cara penulisan: Bolak balik

Nama : Bpk.H.Asep Saepudin
Pemilik

Tempat : Kampung panyiungan Desa Samida Kec. Sela Awi Garut
Penyimpanan

Naskah ini merupakan naskah manakib yang dibaca dengan cara di dangding atau dinyanyikan. Biasanya naskah ini dibacakan pada acara-acara seperti syukuran munggah haji, aqiqahan, dan acara-acara lain yang masih bernafaskan agama islam. Pemegang naskah merupakan generasi kedua dalam penyalinan naskah. Sebelumnya adalah ayah beliau yang menyalin dari naskah yang asli. Saat ditanyakan tentang dimana naskah asli dan salinan pertama, beliau tidak mengetahuinya.
Naskah ini terdiri dari pupuh-pupuh yang menceritakan kehidupan Syeh Abdul Qadir Jaelani. Diawali dengan pupuh asmarandana, diteruskan pupuh sinom, dan seterusnya.
Asmarandana
kapihatur nu jadi pepeling
ka sadaya ahli kolawarga
kanu sepuh kanu anom
ka sobat sanak sadulur
ka pameget sareng ka istri
saha-saha anu seja
anu estu maksud
aya pangarah paneda

Naskah ini menceritakan tentang kisah hidupan syeh abdul qadir jaelani sejak lahir sampai dengan meninggal dunia. Dalam naskah ini beliau diceritakan sebagai sosok yang sangat jujur sejak kecil beliau sudah diajarkan perihal kejujuran oleh sang ibu. Dalam satu kutipan pupuh disebutkan bahwa saat itu syeh yang masih kecil disuruh ibunya untuk pergi menuntut ilmu. Oleh ibunya, beliau diberi uang 40 dinar. Ibunya berpesan kepada beliau agar selalu berkata jujur, bertndak jujur selama di perjalanan apapun yang terjadi. Suatu ketika di tengah perjalanan beliau di cegat oleh gerombolan perompak gurun. Pimpinan perompak itu kemudian menodongkan pedang yang amat tajam ke perut syeh. Dia bertanya kemanakah tujuan syeh berkelana. Lalu dia meminta semua benda yang dibawa syeh. Saat ditanya apakah ada benda lain yang yang di bawa, syeh kecil menjawab bahwa ia memiliki uang sebesar 40 dinar. Pemimpin perompak itu pun tertawa mendengar jawaban syeh. Dia tidak percaya bahawa ada anak kecil membawa uang dengan jumlah sebanyak itu. Lalu syeh mengeluarkan uang 40 dinar itu dari balik pakaiannya. Setelah benar-benar melihat sejumlah uang yang dikeluarkan syeh kecil pemimpin itu bukan senang, dia malah menangis sambil berlutut di hadapan syeh. Dia merasa amat malu, hatinya amat teriris melihat kejujuran seorang anak yang masih kecil ini. Pemimpin perompak ini pun akhirnya bertaubat dan syeh pun diperkenankan untuk pergi melanjutkan perjalanan.

Pada halaman-halaman terakhir, terdapat bacaan solawat-solawat. Naskah ini sering dibaca oleh pemiliknya yang seorang ahli manakib.

Gambaran Fisik Naskah



Naskah Pembanding

WAWACAN SYEH ABDUL QADIR JAELANI

Bhs.Sunda Aks.Pegon puisi:wawacan
128hlm Kertas

Judul : luar teks : Manakib Sultan Aulia Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Ukuran : sampul: 21,5 x 17,5 cm, hlm : 21,5 x 16cm, tulisan :18 x 13,5cm
Jilid : 1 dari 1; jenis alas naskah kertas mengkilap;sampul :kertas

Penomoran : 1-128 dengan angka arab di bagian tengah
Halaman
Tinta : Hitam
Keadaan Fisik : kertas masih baik, penjilidan ketat sehingga kertas agak melengkung
Karangan : tahun 1929;tempat: Soreang Bandung
Salinan : penyalin: H.Tajudin
Asal Naskah : Lurah Hormat Bojong
Tempat : H.Sulaeman ; Panyiarapan-Soreang , Bandung
Penyimpanan

Teks ini sebenarnya berupa hasil fotokopi. Setiap lembaran naskah terdiri atas satu halamanteks. Naskah aslinya diperkirakan sudah pindah kepada pemilik lain. Mungkin dengan cara tukar menukar. Teks sudah suram, mungkin karena berupa naskah fotokopi dan sering dibaca oleh pemiliknya yang seorang ahli manakib.





CERITA SYEH ABDUL QADIR JAELANI MENURUT PANDANGAN KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA BERCORAK ISLAM.

Abdul kadir jaelani atau gilani adalah seorang ahli sufi yang dilahirkan pada tahun 1077 dan meninggal dunia pada tahun 1166. berbagai riwayat hidupnya telah dituliskan orang, tetapi riwayat hidupnya banyak dimasuki bahan-bahan yang bercorak fiksi. Beliau dianggap sebagai pemimpin aliran tasawuf yang dipanggil kadiriah.

Sebuah hikayat tentang riwayat hidup syekh abdul kadir jaelani itu telah dituliskan dalam bahasa indonesia. Salah satu versi hikayat ini tersimpan di jakarta bertanggal tahun 1892. hikayat dalam bahasa indonesia ini dikatakan dikutip dari sebuah buku yang bernama kitab Kitab khalasyat al-Mufakhir.


Sinopsis hikayat syekh abdul kadir jaelani

Hikayat ini menceritakan riwayat hidup syekh yang dikatakan berasal dari anak seorang yang bernama abu saleh, ia dibesarkan di kalangan ahli-ahli sufi. Keturunannya dirujuk kepada hasan dan ali bin abi thalib. Hikayat ini juga melaporkan tentang perkara ajaib yang telah berlaku dalam kehidupan syekh tersebut ; tentang kebesarannya dan martabatnya di sisi allah s.w.t. Hikayat ini melaporkan dengan terperini tentang riwayat. Abdul kadir sejak dia dilahirkan oleh ibu sampai akhir hayatnya.

Daftar Pustaka :
JAWA BARAT : KOLEKSI LIMA LEMBAGA: Edi S. Ekajati dan Undang A. D
KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA BERCORAK ISLAM: Dr.Ismail Hamid

Kamis, 25 Februari 2010

Mikrofilm Naskah Haji Hasan Mustafa



Ini adalah tampilan dari mikrofilm naskah Haji Hasan Mustafa.
Naskah ini berkode:
OR.
- NR. 7855
ORIENTAL MANUSCRIPT
4-4-2005 .IJ
UNIVERSITEIT BIBLIOTHEEK LEIDEN

Informasi Pengkajian Naskah Sunda Kuno

Dalam waktu dekat, saya bersama kawan saya Ilham Nurwansyah akan menggarap sebuah naskah sunda beralas tulis lontar (nipah?), beraksara sunda kuno, dan berbahasa sunda kuno. Mohon doa, dan bagi yang berminat mendapatkan foto naskah ini silahkan kontak ke 085721256661 (Reza Saeful Rachman)



Selasa, 23 Februari 2010

Orang Kanekes (Dipulut ti Wikipedia)




Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).


Wilayah

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20°C.

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Asal-usul

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-oraang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan 'wangsit siliwangi' yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin:


Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)


Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.


Kelompok-kelompok dalam masyarakat Kanekes

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Baduy Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "puun". Struktur pemerintahan secara adat Kanekes adalah sebagaimana tertera pada Gambar 1.

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "puun" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.


Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung (Makmur, 2001).

Mata pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Interaksi dengan masyarakat luar

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Rujukan

Adimihardja, K. (2000). Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia air pemelihara sungai, Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Jan-Apr 2000, hal 47 – 59.

Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.

Iskandar, J. (1991). An evaluation of the shifting cultivation systems of the Baduy society in West Java using system modelling, Thesis Abstract of AGS Students, [1].

Makmur, A. (2001). Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif kekerabatan, [2].

Nugraheni, E. & Winata, A. (2003). Konservasi lingkungan dan plasma Nutfah menurut kearifan tradisional masyarakat kasepuhan Gunung Halimun, Jurnal Studi Indonesia, Volume 13, Nomor 2, September 2003, halaman 126-143.

Permana, C.E. (2001). Kesetaraan gender dalam adat inti jagat Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi dalam penafsiran ruang masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net, [3]

Permana, C.E. (2003). Religi dalam tradisi bercocok tanam sederhana, Indonesian Arheology on the Net, [4]

Oleh-oleh ti kanekes (Baduy)




kuring leumpang jeung mang kesek, urang ciboleger nenjo lembur kaduketug sanggeus kahuruan. (luhur)
Kuring jeung Karmaen, urang baduy jero tapi someah pisan ka urang luar.(handap)

Keluarga Pengusaha Susu Perah dari Sekekondang, Sindanglaya

Wilayah Utara Ujungberung sudah sejak dahulu terkenal dengan hasil susu perahnya. Sejak Andreas de Wilde menghentikan usaha ternak sapinya, maka semua usaha ternak susu di Wilayah Ujungberung Kaler dipegang oleh beberapa pengusaha susu dari Eropa.
Menurut catatan sejarah 'per-susuan' di tanah air, setidaknya ada 3 Perusahaan Pemerahan Susu (“Boerderij”) terkemuka di Kabupaten Bandung. Para pengusaha susu tersebut merupakan ‘cikal bakal’ usaha peternakan sapi perah jenis unggul yang di bawa dari Friesland (negeri leluhurnya sapi-sapi perah di Negeri Belanda) ke Nusantara pada awal abad ke- 20. Satu perusahaan berada di Pangalengan, serta dua lagi berada di Wilayah Ujungberung Kaler.
Lembangsche Melkerij “Ursone” di Lembang, sebuah perusahaan susu yang didirikan oleh keluarga Ursone yang berkebangsaan Itali. Sedangkan Perusahaan “Generaal de Wet Hoeve” di Cisarua, milik Tuan Hirschland dan Van Zijll.
Hingga tahun 1938, di Wilayah Bandung terdapat 22 usaha pemerah susu dengan produksi 13.000 liter/hari. Hasil produksi susu ini semua ditampung oleh “Bandoengsche Melk Centrale” (BMC), untuk diolah sebelum disalurkan kepada para pelanggan di dalam maupun di luar negeri (Sumber: “Bandoeng Tempo Doeloe”: 95, 1984).
Barangkali sama tuanya dengan perusahaan susu milik keluarga Ursone dan Hirschland, maka di Sekekondang, Sindanglaya pun dulu ada sebuah peternakan susu milik Meneer Franz. Tuan Belanda ini telah memiliki tanah di wilayah tersebut sejak akhir abad ke- 19. Di tanah seluas 4 ha lebih milknya itu, ia membuka usaha ternak sapi perah, babi, dan ayam.
Semasa Jaman Jepang, ia dijebloskan menjadi tahanan oleh penguasa Jepang di kamp interniran, Cimahi. Pada masa awal kemerdekaan serta revolusi fisik, rumah tempat tinggalnya itu sempat dirusak dan dijarah massa. Semasa Agresi Belanda I yang melahirkan Negara Pasundan (1948), Meneer Franz kembali menempati rumahnya. Ia membuka kembali usahanya hingga tahun 1951, sebelum akhirnya meninggalkan Indonesia untuk pulang ke negara asalnya.
Sepulang Meneer Franz ke tanah airnya, di bekas lahan peternakan tersebut, pada tahun 1952, masyarakat setempat dikejutkan dengan munculnya sebuah batu besar mirip pondasi sebuah bangunan yang memiliki tinggi lebih dari 6 meter dengan permukaan datar seperti panggung pertunjukan. Susunan batu tersebut disebut oleh masyarakat sekitar sebagai ‘batu ajaib’.

MASJID BESAR UJUNGBERUNG, PUNYA SIAPAKAH DIKAU GERANGAN ?

Menelusuri sejarah keberadaan Masjid Besar Ujungberung, ternyata sangat pelik sekali. Bagaimana tidak, silsilah tanah masjid yang berukuran 9360 m2 itu telah disengketakan sejak dulu. Baik penggugat dan yang tergugat memberikan setumpuk alasan dan saksi untuk mempertahankan argumennya masing-masing.
Gugatan pertama kali dilayangkan tahun 1951 sebagai Perkara Perdata No. 469/1951 di Tingkat Pengadilan Negeri, yang kemudian diteruskan ke Tingkat Pengadilan Tinggi Jakarta dengan Perkara Perdata No 289/1956. Si penggugat, Adeng Hidayat bin R. Hamidi, mengakui kalau tanah masjid tersebut merupakan hak waris dari keluarga besar H.R.A. Sayoeti Zaenal Djarkasih mantan Naib Kepala KUA Kecamatan Ujungberung. Sedangkan si tergugat adalah R.H. Sajoeti, Naib Kepala Kaum Ujungberung yang bertindak mewakili pemerintah/Kaum Ujungberung. Akhirnya di tingkat banding lewat Keputusan Pengadilan Tinggi Jakarta tanggal 5 Desember 1961, diputuskan kalau tanah Masjid Besar Ujungberung tersebut merupakan tanah hakkulah (wakaf negara).
- Sang penggugat memaparkan tentang silsilah pendiri masjid tersebut diawali dengan seseorang yang bernama R. Mukisan, yang diyakini sebagai Penghulu Pertama Ujungberung. Setelah selesai pembuatan Jalan Raya Pos, atas ijin Bupati Bandung, R. Mukisan pada awal tahun 1810 mendirikan sebuah masjid di atas tanah sendiri yang jaraknya hanya sekitar 30 m dari rumahnya. Bangunan masjid pada waktu itu baru berukuran 7 x 9 m bertiang kayu, dengan atap welit dan dinding bambu. Bangunan peribadatan tersebut diberi nama Masjid An Noer (atas dasar itulah, keluarga penggugat mendirikan Yayasan “An Nur Mukisan” pada tanggal 20 April 1994).
- Dari pernikahannya dengan Nyimas Diyol, keturunan Anggayuda, seorang Patih Bandung, R. Mukisan dikaruniai seorang putera yang bernama R. Mukiam. Setelah menunaikan ibadah haji namanya menjadi R.H. Abdullah Mukiam yang kemudian menikah dengan Nyimas Aisem, adik kandung R. Muhammad Aspia, Penghulu ke-2 Ujungberung. Dari pernikahan tersebut ia dikarunia 4 orang putera diantaranya R. Enur, yang setelah menunaikan ibadah haji berganti nama menjadi R.H. Muhammad Djarkasih. Beberapa tahun kemudian, Bupati Bandung (Dalem Karanganyar) mengangkat R. Mukiam menjadi Khalifah Pertama Kaum Ujungberung. Saat ayahnya meninggal ia meneruskan tugas ayahnya mengurus tanah masjid. Beberapa tahun kemudian, kembali Bupati Bandung mengangkat R. Muhammad Aspia, ipar R. Mukisan, menjadi Penghulu ke-2 Ujungberung.
- Saat menunaikan ibadah haji, R. H. Abdullah Mukiam meninggal di tanah suci. Sebelum berangkat, ia sempat menitipkan ke empat puteranya dan hak kekayaan keluarganya pada R. Muh. Aspia yang waktu itu juga telah dikaruniai 5 orang putera dari tiga orang istri, salah satunya adalah R.H. Hamdjah atau Abah Enjoh.
- Pada awal tahun 1870-an di masa pengelolaan R. Muh. Aspia, terjadi peluasan pembangunan mesjid menjadi berukuran 10 x 10 m dengan bangunan bertiang kayu, atap genting, dan lantai panggung.
- R. Muhammad Aspia meninggal tahun 1893, kemudian pengurusan titipan tanah dan Masjid Ujungberung dilanjutkan oleh puteranya R.H. Muhammad Hamdjah, yang telah diangkat menjadi Khalifah Cibiru.
- Selanjutnya R.H. Muhammad Hamdjah dan R.H. Muhammad Djarkasih bersama-sama mengurus tanah serta Masjid Ujungberung.
- R.H. Muhammad Djarkasih meninggal 17 Oktober 1943. Kemudian pada masa Revolusi Fisik, masyarakat Ujungberung terpaksa harus mengungsi. Baru pada awal tahun 1948, di masa pemerintahan Negara Pasundan, masyarakat Ujungberung kembali dari pengungsian. Tanah sekitar alun-alun tampak lengang, yang tersisa cuma bangunan masjid dan gardu GEBEO atau PLN.

Mulailah dari masa itu hak kepemilikan masjid menjadi simpang siur, hingga akhirnya 1952, keturunan dari R.H. Muhammad Djarkasih menggugat kepemilikan dari tanah serta Masjid Ujungberung tersebut, yang diteruskan dengan banding pada tahun 1956. Akhirnya di tingkat banding lewat Keputusan Pengadilan Tinggi Jakarta tanggal 5 Desember 1961, diputuskan bahwa tanah Masjid Besar Ujungberung tersebut merupakan tanah hakkulah (wakaf negara).
Tentu saja sang penggugat tidak bisa menerima begitu saja cerita tersebut, karena mereka punya bukti yang diyakini sekali kebenarannya. Sehingga berdasar ketidakpuasan atas putusan Pengadilan Tinggi Jakarta tahun 1956, di awal masa reformasi ini bergulir kembali wacana status hak milik tanah Masjid Ujungberung episode baru, karena saat ini baik penggugat dan yang tergugat merupakan para putera penggugat dan yang tergugat pada kasus gugatan pertama tahun 1951.
Untuk meredam konflik status tanah dan Masjid Ujungberung yang mencuat kembali, lewat Yayasan “Mutiara” yang didirikan pada tanggal 21 Oktober 1991, oleh para keluarga yang pernah menjadi tergugat, melakukan pembelaan dengan memaparkan kembali sejumlah bukti fisik yang digunakan pada pembelaan tahun 1951, yakni diantaranya;

- Surat wasiat R.H. Muhammad Hamdjah (92 tahun), tertanggal 26 Nopember 1957. Dimana dalam surat tersebut, dia memaparkan tentang kabar dari ayahnya (Muhammad Aspia) yang menjelaskan bahwa masjid tersebut dibangun oleh ayahnya tahun 1870 di atas tanah hakkulah (tanah negara). Saat itu R. Muh. Aspia menjabat sebagai naib pertama Masjid Ujungberung. Pada waktu menerima cerita ayahnya saat itu R.H. Muh. Hamdjah berusia 10 tahun. Setelah dewasa dia bekerja di Kaum Ujungberung pada awalnya sebagai merbot, khotib, juru tulis zakat, hingga ditunjuk menjadi khalifah dari tahun 1896 hingga 1921.
- Peta Desa Pakemitan-Ujungberung tahun 1940, yang disalin oleh KUA. Kabupaten Bandung Bagian Kemasjidan. Pada peta tersebut di tengah-tengah areal masjid tertera tanda (g.g.) dan tanda ( ). Dimana tanda (g.g.) merupakan ciri tanah wakaf yang berasal dari hakkulah (tanah negara). Sedangkan tanda ( ) menunjukkan ciri bahwa tanah wakaf tersebut telah menjadi milik kemasjidan, berstatus wakaf dari pemerintah.
- Di Kaum Distrik Ujungberung tidak dikenal pangkat penghulu, kedudukan penghulu berada di Kaum Kabupaten yang didampingi wakilnya Ajun Penghulu. Di Kaum Ujungberung hanya dikenal jabatan naib. Naib pertama Kaum Ujungberung adalah R. Muhammad Aspia. Pernyataan tersebut mengindikasikan kalau tergugat tidak pernah mengenal dan mengakui R. Mukisan sebagai Penghulu Pertama Kaum Ujungberung karena jabatan itu tidak pernah ada di Kaum Ujungberung.

Tampaknya baik sang penggugat dan tergugat setuju kalau Masjid Ujungberung dibuat pada awal tahun 1800-an, dengan ukuran awal 7 x 9 m, di atas tanah kemasjidan seluas 80 x 117 m atau 9360 m2 (sampai saat ini luas ukuran tanah tidak berubah). Apakah mungkin awal tahun 1800-an sudah ada bangunan di sekitar alun-alun sekarang, mengingat pusat keramaian saat awal Jalan Raya Pos dibuat pun (1811) masih terpusat di sekitar Sindanglaya dan Cinunuk (karena adanya tempat pemberhentian kereta pos). Kemungkinan mesjid dibuat setelah ibukota Distrik Ujungberung Wetan di pindahkan dari wilayah Nyublek ke sekitar Alun-alun Ujungberung sekarang, sekitar akhir tahun 1820-an.
Pada awal tahun 1870 bangunan masjid diperluas menjadi 10 x 10 m. Pada tahun 1922 mengalami perubahan kembali dengan besar bangunan tetap. Tahun 1953, bangunan mesjid mengalami lagi perluasan menjadi berukuran 16 x 16 m dengan dinding bangunan terbuat dari batu bata dan atap genting serta lantai jubin.
Seperti juga bentuk dasar bangunan masjid lainnya yang dibangun semasa kolonial, maka kemungkinan besar bentuk Masjid Ujungberung pada awal pengembangannya tahun 1870, memiliki kemiripan dengan bentuk dasar masjid lainnya yang ada di Bandung, seperti Masjid Agung Bandung (1850), Masjid Cipaganti, Masjid Cicalengka, Masjid Ciparay dsb.

MAS HASANDIKARTA (18..-1976), “JURAGAN ACI” DARI CIBIRU-CILEUNYI

Siapakah masyarakat Ujungberung pada saat itu yang tidak mengenal nama Mas Hasandikarta. Sang Konglomerat Cibiru ini terbilang seorang tokoh yang penuh dengan kontroversi. Dari profesinya sebagai ‘ juragan aci ' (tepung tapioka) hingga terlibat proyek pengerasan jalan kontrak di sekitar Cigending-Nagrog, serta aktif pengembangan seni bela diri Benjang, seninya 'urang' Ujungberung hingga ikut andil menyokong para pejuang kita di masa awal kemerdekaan.
Lelaki yang bernama kecil “Djoelia” yang berarti ‘jujur ‘dan ‘mulia’, saat masa kecil hidup dengan penuh penderitaan. Hingga dewasa dia bekerja serabutan. Dari kuli pikul hingga tukang gali kubur pemakaman orang cina di Cikadut, ia pernah jalani. Konon untuk meraih kesuksessannya sebagai pengusaha pabrik tepung tapioka (aci), ia getol sekali tapa dan berpuasa. Akhirnya di awal abad ke-20 ia mulai merintis usaha pembuatan tepung tapioka kecil-kecilan bersama isteri pertamanya, Nyi Sale, di Cibagong Desa Cinunuk.
Hasil tepung tapioka itu ia jual pada orang cina di Bandung, dengan menggunakan gerobak sapi yang ia jalankan sendiri. Setelah menikahi Nyi Tarliah dan Nyi Empik, usahanya makin melambung sehingga hasil produk pabrik tepung aci-nya sering diekspor ke luar negeri. Mas Hasandikarta memiliki dua buah pabrik tepung tapioka, yakni di Parakan Muncang, Cicalengka dan di Desa Cinunuk (+ 2 km dari tempat tinggalnya), serta Pabrik Minyak Sereh di Warunggede, Cibiru. Pada masa revolusi fisik, pabrik tepung tapioka di Desa Cinunuk sempat dijadikan gudang mesiu oleh para pejuang kita, sehingga dihancurkan pasukan Belanda.
Tempat tinggalnya sendiri merupakan dua buah rumah 'gedong' (berdinding tembok) yang dibangun pada tahun 1920-an dengan gaya arsitektur Barat. Untuk memasok kebutuhan air rumah tersebut dan daerah di sekitarnya, Mas Hasandikarta mengalirkan air dari sumber mata air yang keluar dari sebuah pohon piru/biru (sehingga daerah tersebut dinamakan Cipiru, atau Cibiru), yang berada di Pasir Bobojong (kini menjadi perumahan Cibiru Asri). Wilayah tempat tinggal keluarga Mas Hasandikarta itu berkembang menjadi sebuah perkampungan yang dikenal orang sebagai “Kampung Gedong”.
Tahun 1925, Mas Hasandikarta mengikutsertakan hasil produksi pabrik tepung tapioka miliknya pada pameran hasil kerajinan, pertanian, dan peternakan yang diadakan oleh pemerintah Hindia Belanda di Kabupaten Bandung. Tepatnya tanggal 29 Agustus s/d 7 September 1925. Pada Festival tersebut hasil produk tepung tapioka milik Mas Hasandikarta mendapat penghargaan dan pujian dari Qesien Bupati Bandung dan Bestuur Doorsiter. Festival tersebut dihadari juga oleh Y.Q. van Beijst dan Residen Midden Preanger.
Karena prestasi dan keberhasilan dibidang usahanya, sejak saat itu keluarga Mas Hasan-dikarta sering dikunjungi tamu penting, baik dari dalam atau luar negeri, diantaranya Sunan Solo, Paku Buwono X dan isterinya, R.A. Widiastuti, yang mengunjungi Bandung, dan sempat menjadi berita utama harian “Preanger Bode”, sempat singgah ke rumah kediaman Mas Hasandikarta.

NYUBLEK, TEMPAT LEGENDA CINTA ROMANTIK NONA IRENE DAN R. ABIRANGGA

Dalam “Aardrijkskundig en Statistisch Woordeboek van Nederlandsch Indie” dijelaskan bahwa Ibukota Ujungberung Wetan berada di pinggir Jalan Raya Pos, berjarak 5 pal dari titik 0 km. Pada peta Wilayah Ciparoengpeong tahun 1904, District Oedjoengbroeng Wetan yang dibuat tahun 1906 oleh Topographisch Bureu–Batavia, bahwa wilayah tersebut berada di sekitar Kampung Nyublek, antara Cikadut dan Sukamiskin.
Pemilihan Wilayah Nyublek menjadi Ibukota Distrik Ujungberung Wetan, dimungkinkan berkaitan erat dengan usaha pemerintah kolonial untuk mempermudah akses pengangkutan hasil bumi Wilayah Ujungberung Wetan semasa awal tanam paksa berlangsung. Pada masa itu Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Wilayah Utara Ujungberung Wetan yang memanjang dari Kampung Rasagalor (hulu Cikadut), hingga Kampung Cigorowong (hulu Sindanglaya) sebagai lahan perkebunan kopi.
Memang belum ditemukan bukti otentik tentang kapan dipindahkannya Ibukota Distrik Ujungberung Wetan dari Nyublek ke sekitar Alun-alun Ujungberung sekarang, Namun diperkirakan pemindahan ibukota distrik itu terjadi saat mulai dihapuskannya tanam paksa, yaitu sekitar awal tahun 1830-an.


Hasil dari penelusuran tim “Ujung Galuh”, menjelaskan bahwa hingga pada tahun 1890-an di tempat sekitar Nyublek masih terdapat 4 buah rumah gedong (berdinding tembok). Rumah tersebut merupakan rumah dinas (tangsi) para pegawai Belanda. Tempat itu dinamakan Eintech Fronte (Kampung Eintech).
Dari penelusuran tersebut didapati juga sebuah cerita roman legenda, tentang cinta tragis sepasang remaja yang berkaitan erat dengan keberadaan perkampungan orang Belanda tersebut. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa salah satu pengisi rumah gedong di Kampung Nyublek adalah tuan Giehen van Renghern. Ia ditunjuk sebagai wakil pemerintah kolonial yang mengurusi sosial-ekonomi masyarakat sekitar Kampung. Giehen van Ranghern mempunyai seorang isteri nyai, bernama Nyi Ayisari Amidantia. Dari hasil pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang puteri yang diberi nama Nona Irene Amidanti.
Oleh orang tuanya, Nona Irene dipertunangkan dengan Eigh Den van Der Saar seorang putera keluarga bangsa Belanda dari Pasirhonje (Wilayah Padasuka sekarang). Namun rupanya Nona Irene lebih memilih R. Abirangga, putera R. Padminata seorang bangsawan pribumi yang kaya dan disegani.
Tentu saja hubungan kedua remaja tersebut tidak mendapat restu dari orang tua Nona Irene. Namun Tuan Belanda tersebut tahu resiko yang harus ditanggung bila menentang R. Padminata secara langsung, bisa-bisa menyulut pemberontakan anti pemerintah. Masalahnya keluarga R. Padminata sangat dicintai oleh rakyat pribumi sekitarnya.
Akhirnya ia menerapkan sangsi 'embargo ekonomi' dengan membatasi barang-barang kebutuhan pokok masyarakat sekitar. Usaha tersebut cukup membuat geram penduduk kampung. Namun, sebagai orang tertindas mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Rupanya usaha Tuan Geihan tidak berhasil, karena walau telah diterapkan 'embargo ekonomi' tetap saja api asmara Abirangga dan Nona Irene terus berkobar tambah 'membara'. Akhirnya Juragan Belanda itu bersama calon menantunya, Eigh Dan, merencanakan untuk mencelakai R. Abirangga. Maka mereka mengupah tiga orang tukang pukul bangsa pribumi untuk menjalankan rencana jahatnya itu.
Ketiga orang bayaran tersebut ternyata lepas kontrol. Mereka bukan saja berhasil menganiaya R. Abirangga, tapi juga telah membuat putera bangsawan tersebut tewas. Tentu saja perbuatan itu menyulut kemarahan keluarga Pandminata dan seluruh warga. Malam itu juga seluruh warga Kampung Nyublek, dipimpin langsung oleh Padminata mendatangi rumah Tuan Geihen.
Melihat gerombolan masa mendatangi rumahnya, Tuan Geihen ketakutan. Ia dan keluarganya mengunci diri di dalam rumah. Emosi masa tidak terbendung lagi. Mereka beramai-ramai membakar rumah Juragan Belanda tersebut. Sungguh tragis, semua isi rumah bersama penghuninya terbakar menjadi abu.
Setelah kejadian tersebut, Pemerintah Belanda segera menangkap tiga orang centeng bayaran yang menganiaya R. Abirangga hingga tewas. Namun tidak dijelaskan bagaimana nasib jejaka Belanda yang bernama Eigh Den van Der Saar selanjutnya.
Itu adalah sebuah legenda, namun adanya beberapa rumah berdinding tembok yang juga terlihat pada peta lama daerah Nyublek menandakan bahwa tempat tersebut memang pernah dijadikan pusat kegiatan kepemerintahan semasa kolonial berlangsung.
Nama “Nyublek” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti 'suatu wilayah yang berada di antara tikungan jalan yang menurun dan menanjak'. Namun Yoga Pradana, salah seorang sahabat penulis dan juga penyiar Radio “Lisma” berpendapat, bisa jadi “Nyublek” berasal dari kata asing “new” dan “block” atau berarti 'wilayah yang baru dibuka'. Tentunya ini berkaitan dengan pembukaan wilayah tersebut untuk dijadikan Ibukota Distrik Ujungberung Wetan setelah Wilayah Ujungberung dibagi menjadi dua distrik di akhir tahun 1820-an. Wallohualam.
Sejak tahun 1970-an, nama Kampung Nyublek pun seakan menguap tak berbekas, berganti dengan nama lain yang dianggap lebih keren, yaitu Kampung Kertasari. Memang sangat disayangkan. Satu lagi nama sebuah tempat di Wilayah Ujungberung, harus diganti, tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu nilai historis yang menyertai lahirnya nama tempat tersebut.

MENAK DAN CACAH DI PRIANGAN, “MENAK” ADALAH SEBUTAN GOLONGAN PRIYAYI DI PRIANGAN

Pada abad ke -17, seluruh Priangan masih merupakan hutan belantara, dengan penduduk yang masih sedikit. Maka untuk membuka lahan tersebut pada tahun 1653, masa pemerintahan Amangkurat I, ditransmigrasikan orang Jawa sejumlah kurang lebih 2000 jiwa ke Karawang di bawah pimpinan Kyahi Singaprabangsa dan Wirasaba. Kemudian disusul pengiriman transmigrasi dari Worosobo (daerah Surabaya) ke Galuh.
Hingga abad ke -19, masih sukar untuk menentukan batas antar kabupaten di Priangan. Sehingga bagi para bupati cukup kesulitan untuk mengontrol dan memberdayakan wilayahnya secara ekonomis. Karena itu, Gubernur Jenderal Johansens Camphuijs memerintahkan Komandan Jacob Couper dan Kapten Joachum Michiels untuk menangani daerah Priangan. Dengan kewenangan tersebut, kedua pejabat VOC itu membagi wilayah Priangan menjadi tujuh kabupaten dengan jumlah cacah penduduk yang berbeda pada setiap kabupaten. Pangeran Sumedang diberi 1015 cacah, Demang Timbanganten mendapat 1125 cacah, Tumenggung Sukapura diberi 1125 cacah, Tumenggung Parakanmuncang diberi 1076 cacah, Dipati Imbanagara diberi 708 cacah, Dipati Kawasen diberi 605 cacah, Lurah Bojonglopang diberi 20 cacah dan 10 kampung, dan Bupati Bandung, R. Ardisoeta mendapat 1125 cacah. Bisa kita bayangkan, Kabupaten Bandung yang wilayahnya sangat luas hanya mendapat 1125 cacah. Sehingga bisa dipastikan kalau menjelang akhir abad 17, Ujungberung masih relatif sunyi senyap dari hiruk pikuk penduduk.
Keberadaan cacah sangat penting bagi para bupati. Tenaga mereka dieksploitasi secara ekonomis untuk membuka lahan baru di wilayah kabupaten yang dikuasainya. Apabila kesatuan keluarga cacah pindah untuk membuka lahan baru, mereka itu dimanapun tempat tinggalnya tetap milik bupati. Para bupati hidup dari cacah, karena cacah merupakan sumber penghasilan, seluruh kekayaan dan kemuliaan bupati.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron Van Imhof (1743-1750), untuk pertama kalinya penduduk di Priangan merubah cara bercocok tanam padi dari sistem berladang beralih ke sistem bersawah. Karena itu untuk membuka lahan pesawahan di Cisarua (Bogor), VOC mendatangkan para petani beserta isteri dan kerbau piaraannya dari Tegal (Jawa Tengah). Sedangkan untuk membuka lahan di Congeang (Sumedang ), didatangkan para petani dari daerah Banyumas.
Pada masa itu, penduduk di tepian Bandung telah lajim berkebun sayur seperti sawi, petsai, slada, katuk, terong, bayem, kacang panjang dan lampenas (Soeparma Satiadiredja, “Indonesische Groenten”, 1950). Di antara mereka masih banyak yang statusnya tidak jauh berbeda dengan cacah.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Parra (1761-1775), buat pertama kali pemerintah kolonial mendatangkan bibit sayuran dari negeri Belanda, seperti kool, kentang, dan bit. Menurut catatan Dr. Ir. E. de Vries (1935), konon Luitenant Ram (1765-1768), seorang perwira Kompeni, membawa bibit sayuran dari luar negeri untuk dibudidayakan di beberapa daerah, termasuk di pinggiran Bandung.
Setelah ibukota kabupaten dipindahkan pada tahun 1811, dari Krapyak (Dayeuh Kolot) ke Bandung (sekitar Alun-alun), maka lahan peruntukan pertanian sayur dialihkan ke Wilayah Ujungberung Kaler (Lembang), Cisarua (Cimahi ), Pacet, dan Pangalengan. Sehingga pada saat itu para petani atau pedagang yang akan berjualan sayur membawa barang dagangannya dengan berjalan kaki dari Lembang menuju Dayeuh Kolot, melalui jalur Palintang-Arcamanik-Sindanglaya-Cisaranten-Cijawura-Buahbatu.
Golongan petani seperti inilah yang pada masa Sistem Tanam Paksa terkena wajib kerja rodi (herendiensten) untuk pemerintah, kepentingan umum, dan para pembesar tanpa dibayar. Golongan mereka itulah disebut sebagai golongan ‘cacah baru’.
Adapun tugas mereka untuk pemerintah dan kepentingan umum, antara lain : membuat serta memelihara jalan-jalan raya dan jembatan, menjadi pekerja serta memelihara gudang-gudang, membuat dan memelihara penginapan-penginapan dan istal-istal kereta pos, membuat tangsi-tangsi dan istal-istal serdadu yang sedang melakukan perjalanan, memotong rumput di tempat pemberhentian kereta pos, dan memegang kerbau di pendakian-pendakian yang tajam.
Sedangkan tugas mereka untuk para pembesar adalah : bekerja di kebun-kebun kopi, memelihara rumah-rumah kediaman para pembesar, kuda-kuda, kerbau-kerbau dan mengerjakan sawah-sawah milik pembesar.

Para pembesar yang terdiri dari keluarga bupati dan bawahannya itu disebut “wong gede”, sedangkan rakyat cacah (kebanyakan) di bawahnya disebut “wong cilik”. Wong gede itu adalah golongan priyayi, yang di Priangan disebut kaum menak.
Yang disebut golongan priyayi terutama adalah para menak yang bekerja untuk pemerintah (gubernement), dimana susunannya pada tingkat kabupaten adalah Patih, Onder Collecteur, Jaksa, dan Penghulu. Sedangkan di tingkat distrik terdiri dari Wedana dan Mantri Ulu-ulu (pengairan). Di tingkat onderdistrik yang dianggap priyayi adalah Camat.
Kaum menak tersebut menduduki posisi penting dalam hirarki status tradisional. Mereka dengan sungguh-sungguh mempertahankan perbedaan yang ada antara mereka dan golongan cacah. Seperti misalnya : cara berpakaian, hubungan ikatan perkawinan, meniru kebudayaan keraton, bangunan tempat tinggal (termasuk ukuran, letak, serta susunannya), dan memelihara sejumlah besar abdi.
Kaum menak merasa dalam segala hal lebih dari kaum cacah. Semua pekerjaan kasar pantang bagi mereka. Karena sebagian besar mereka adalah kaum birokrat, dengan begitu kaum menak membangun kebudayaan mereka berdasarkan kepentingan yang erat/kuat untuk status, kehalusan, sikap sopan santun berlebihan yang terkendalikan, dan untuk urusan seni murni. Pendek kata mereka adalah pelindung dan pendukung seni dan adat kebiasaan menurut pola-pola yang terdapat dalam kehidupan aristrokratis.
Sebagai gambaran, dalam rumah tangga seorang bupati, memiliki banyak pembantu dan hamba sahaja, yang mengerjakan pekerjaan seperti telah kita bahas tadi. Bupati Bandung pada awal abad ke -19 misalnya mempunyai 234 orang kerja wajib. Banyak di antara mereka yang terus mengabdi kepada pangawulaan (= tuan) walau masa kerja wajib mereka telah selesai. Karena bagi mereka menjadi suatu kebanggan bisa bekerja dengan para kaum menak kabupaten.
Olahraga dan hiburan yang lajim dilakukan oleh kaum menak adalah berburu dan menangkap ikan. Tempat perburuan Bupati Bandung yang terkenal adalah di Muncul (Majalaya), dan Baleendah (Bandung Selatan). Dalam sekali pengejaran dapat menangkap/membunuh hingga empat puluh ekor menjangan.
Adapun tempat penangkapan ikan yang terkenal pada waktu itu yang digunakan oleh para kaum menak, berada di Wilayah Ujungberung Kidul. Tepatnya di daerah Sapan, pinggiran Sungai Citarum, juga di selatan Kota Bandung.
Dalam perburuan dan penangkapan ikan yang berskala besar disertai dengan pertunjukan. Pada perburuan yang dipertunjukan seni tandak dan wayang golek, yang bisa berlangsung hingga dua atau tiga hari lamanya. Pada kegiatan pemancingan dimainkan seni kecapi suling, adakalanya disertai alunan para sinden.
Peri kehidupan yang mengarah kepada pemborosan dengan alasan untuk mempertahankan status dan pengaruh, menjadikan jurang pemisah yang semakin menganga antara kaum menak dan cacah. Gambaran kaum menak waktu itu sebagai golongan feodal yang digandeng dan diperalat oleh penjajah yang menghisap kekayaan bangsa dan mengakibatkan penderitaan dan kemelaratan.
Sindiran-sindiran yang miring terhadap kaum menak bisa tergambar secara terselubung pada karya-karya seni, seperti nyanyian dolanan anak-anak “Ayang-ayang Gung” sebagai berikut:

Ayang-ayang gung Berasal dari kata 'hayang agung'= ingin jabatan yang lebih tinggi

Gung goongna rame Memukul gong hingga terdengar ramai
Menak Ki Mas Tanu Mas Tanu yang bangsawan.
Sebutan “Mas” adalah menak golongan ‘santana’, yang memiliki darah hasil perkawinan dari ayah golongan menak serta ibu golongan cacah.
Nu jadi Wadana Yang menjadi Wedana
Naha maneh kitu Mengapa kau berperilaku begitu
Tukang olo-olo Menjadi sombong, besar kepala
Loba anu giruk Banyak yang membecinya
Ruket ka kumpeni Yang selalu berhubungan baik dengan Kompeni
Niat jadi pangkat Berniat ingin naik jabatan
Katon kagorengan Terlihat ketidak jujurannya
Ngantos Kanjeng Dalem Menunggu bupati atau bisa berarti ingin jadi bupati

Lempa-lempi lempong Pekerjaan kakek dan nenek yang ompong dengan
Ngadu pipi jeung nu ompong mengadu pipi, bisa diartikan sebagai pekerjaan sia-sia
Jalan ka Batawi ngemplong walau tak ada rintangan, diumpakan dengan jalan menuju Batavia yang tidak ada rintangan. Arti keseluruhan bisa jadi adalah kalau sudah tua lebih baik tinggal saja di rumah.

Lagu ini awalnya lagu orang dewasa, tetapi entah mengapa kemudian diambil alih menjadi dolanan anak yang dinyanyikan saat menjelang senja. Syair lagu tersebut diperkirakan dikarang oleh R.H. Moehamad Moesa, Penghulu Kepala Garut, yang sempat menyindir Wedana Suci.
Lepas pertengahan abad ke -19, terjadi perubahan kebijakan pemerintah kolonial sesudah berakhirnya Tanam Paksa, mengakhiri peranan monopoli pemerintah kolonial di bidang ekonomi ke arah penanaman modal swasta atau pribadi. Untuk mendukung kebijakan tersebut diadakan reorganisasi birokrasi pemerintahan baik di lingkungan pemerintahan bangsa Eropa atau pun pribumi. Perubahan dalam fungsi jabatan ini membutuhkan latihan dan pendidikan.
Untuk keperluan itu maka dibuka Hoofdenschoolen, bagi para putera kepala daerah, dan kaum menak terkemuka lainnya. Sebagai bahasa pengantar dipergunakan bahasa Belanda dan Melayu. Di Kota Bandung sekolah semacam ini baru dibuka tahun 1878.
Menjelang abad ke 20, pendirian sekolah formal bagi kaum pribumi berkembang dengan pesat hingga mencapai wilayah distrik, dan pada tahun 1918 mulai diperkenalkan sekolah desa. Sekolah tersebut didirikan untuk menampung keinginan yang sangat tinggi dari golongan kelas bawah yang tak tertampung di sekolah distrik. Mereka berusaha menyekolahkan anaknya agar anak mereka bisa memasuki atau mengenal lebih jauh dunia kaum menak melalui penguasaan pendidikan, serta berharap diangkat menjadi pegawai pemerintah.
Pada awal abad ke -20, menurut Van Niel, kaum menak menjadi lebih Barat dalam pendidikan dan latihan serta di dalam konsep mereka mengenai pengabdian kepada negara dan masyarakat. Maka mereka menjadi symbol masyarakat Indonesia yang sedang bangkit, efisien dan maju, serta setia kepada tanah air.
Pada kondisi seperti inilah kaum menak menjadi 'buffer' bagi penjajah dengan rakyat jajahannya. Mereka umumnya menjadi pelopor berdirinya sekolah distrik dan sekolah desa. Khususnya di Distrik Ujungberung Wetan, yang mempelopori dan menjadi tenaga pengajar sekolah formal adalah kaum menak dari keluarga wedana dan penghulu (lihat bahasan selanjutnya).
Akhirnya perlahan-lahan pejabat pamongparaja tidak hanya diangkat berdasarkan silsilah keturunan, akan tetapi juga diperhatikan prestasi pendidikannya. Sehingga kriteria pendidikan menjadi lajim digunakan dalam pengangkatan pegawai di lembaga pemerintahan atau pada perusahaan-perusahaan partikulir (swasta).
Maka terjadilah pergeseran pengertian tentang kaum menak, dimana para pamongpraja, pegawai negeri, dan orang-orang pribumi (baik dari golongan bangsawan atau rakyat kebanyakan) yang berpendidikan lebih baik, serta mempunyai kedudukan dalam pekerjaan lebih baik, di kota atau di pinggiran bisa disebut golongan priyayi atau menak.
Sejak itulah kaum cacah mulai banyak memasuki suasana kepegawaian yang menjadikan mereka golongan manusia baru (hominess novi). Berkat pendidikan model Barat-lah mereka menduduki jabatan dan kedudukan yang terpandang dalam masyarakat yang pada masa lampau tidak mungkin akan mereka capai, walau hanya dalam mimpi.

KAMPUNG MAHMUD - KABUPATEN BANDUNG, MEMPERTAHANKAN TRADISI DI TENGAH MODERNISASI

Kampung Mahmud diperkirakan sudah ada sejak akhir abad ke -18. Pada awal masa “Jalan Raya Pos”, kampung tersebut belum termasuk ke dalam Wilayah Ujungberung (setelah diberlakukannya pemerintahan distrik, kampung tersebut masuk di bawah pemerintahan Onderdistrik Bojongasi, Distrik Ujungberung Kulon). Ternyata keberadaaan para pendiri kampung telah menjadi inspirator bagi pendatang dari Priangan Timur, khususnya mereka yang datang dari Tasikmalaya dan Garut, untuk masuk ke Wilayah Ujungberung dan menatap di sekitar Rawa Gegerhanjuang.
Secara administratif saat ini Kampung Mahmud termasuk ke dalam Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Lokasinya berada di RW 04, dengan hanya dua RT di dalamnya, yakni RT 01 dan RT 02.
Mengenali Kampung Mahmud cukup mudah, karena sebelum masuk ke areal kampung terdapat gerbang gapura bertuliskan “Makom Mahmud”. Karena di dalam kampung tersebut kita akan menemukan tiga buah makam keramat pendiri kampung, yakni Eyang Haji Dalem Abdul Manap serta dua orang kepercayaannya yakni Eyang Agung Zaenal Arifin dan Eyang Abdullah Gedug. Letak masing-masing makam agak terpisah, tapi masih dalam satu kompleks. Makam Eyang Haji Dalem Manap terdapat di komplek makam utama, sedangkan kedua makam lainnya berada sekitar 100 meter dari letak komplek makam utama.
Kampung Mahmud menempati lokasi yang terpisah dengan perkampungan Iainnya. Batas-batas yang mengelilingi Kampung Mahmud adalah Sungai Citarum. Tepatnya, batas Kampung Mahmud di sebelah barat, selatan, dan timur adalah Sungai Citarum lama. Adapun di sebelah utara, berbatasan dengan Sungai Citarum baru.
Kampung Mahmud juga menempati satu dataran yang agak rendah (lengkob, bhs. Sunda). Meskipun demikian, tempat tersebut tidak pemah mengalami banjir. Dalam pandangan masyarakat Mahmud, itu berkat tuah atau barokah dari tanah karomah yang menjadi asal-usul kampung tersebut.
Kondisi geografis seperti itu tidak menutup peluang warga Mahmud saat ini untuk berkomunikasi dengan orang luar kampung. Pertama, adanya sarana transportasi berupa jembatan kokoh di atas Sungai Citanam yang mempermudah keluar masuknya berbagai alat transportasi ke tempat tersebut. Kedua, media komunikasi berupa telepon pun sudah mulai masuk. Dengan demikian, mudah bagi mereka menjalin komunikasi dengan dunia luar. Dalam hal ini, termasuk juga mengenal dunia luar melalui media elektronik seperti
Radio dan televisi; juga media cetak seperti surat kabar, majalah, atau buku. Selain itu, mereka sudah terbiasa dengan kunjungan para peziarah dari daerah lain.
Siapa sebenarnya Syekh Abdul Manap alias Eyang Haji Dalem Abdul Manap Mahmud itu? Menurut Buku “Sejarah Kabupaten Bandung”, 1970: 41-42, dijelaskan bahwa, saat tentara Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Bhahureksa menyerbu Tatar Ukur untuk menangkap Dipati Ukur, salah seorang putera Dipati Ukur yang bernama Dalem Nayasari atau Mudian Gede dapat meloloskan diri ke Timbanganten. Di tempat tinggal barunya itu ia dikaruniai seorang putera yang diberi nama Dalam Salayaderega atau Dalem Nayadirega yang kelak terkenal sebagai Embah Dalem Paneger. Ketika wafat, ia dimakamkan di Sentakdulang, Kecamatan Cicadas. Embah Dalem Paneger berputera Embah Dalem Kyai Haji Abdul Manap yang kelak terkenal sebagai ulama besar yang mempunyai santri dengan jumlah banyak. Setelah dewasa ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari tanh suci ia mendirikan sebuah kampong yang diberi nama “Kampung Mahmud” (“Mahmud” berarti “suci/bersih”) Setelah meninggal dia dimakamkan di kampung tersebut (Mahmud’il-Bandar) yang terletak di tepian Sungai Citarum. Keturunan dari Kyai Haji Abdul Manap Mahmud sampai kini menjadi ulama-ulama terkenal di Cigondewah dan Sukapakir.
Lokasi kampung yang berada di pinggir Sungai Citarum dipandang cukup strategis. Hingga awal abad ke-19, di Kabupaten Bandung, lalu lintas air melalui sungai masih memegang peranan penting sebagai penghubung antar kampung satu dengan yang lainnya. Apalagi secara geografis, kampung tersebut letaknya tidak terlalu jauh dari Ibukota Kabupaten Bandung, yang waktu itu masih berada di Krapyak (Dayeuhkolot), di antara pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Citarum dan Cikapundung. Bahkan konon, Bupati Bandung R.A. Wiranatakoesoemah II (1794-1829), sempat pula hilir mudik dengan menggunakan perahu dari Krapyak hingga hulu Sungai Cikapundung dengan menggunakan perahu dalam usahanya mencari daerah untuk lokasi pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung.
Pada saat awal pendirian kampung tersebut, banyak kegiatan yang terlarang dilakukan oleh penduduk kampung, seperti membuat sumur, menyalakan penerang, membunyikan alat-alat musik termasuk bedug, memiliki perlengkapan meubel rumah tangga, tidak memiliki jendela berdinding kaca, memelihara angsa, dsb. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat kampung, larangan itu sebagian sudah mulai ditinggalkan.
Kini warga kampung berusaha untuk terus mempertahankan keaslian dan keasrian lingkungan sekitar kampung tersebut. Itu dapat terlihat dengan jelas pada bangunan-bangunan seperti rumah, mesjid, langgar, komplek makam, yang semuanya masih dibuat dengan gaya arsitektur bangunan tradisional sunda. Bangunan-bangunan tersebut dibuat dengan menggunakan bahan kayu serta berdinding anyaman bambu (bilik, bhs. sunda).


SILSILAH DIPATI UKUR MENURUT MANGLE ARUM

Sunan Jambu Karang
dari Kerajaan Jambu
Karang. (Purbalingga,
Banyumas sekarang), masih
beragama Budha

Abdurakhman al-Qadri
atau Pangeran Atas Angin
(menantu berdarah Arab )


Pangeran Cahya Luhur


Pangeran Adipati Cahyana


Wangsanata
Diasingkan ke Tatar Ukur
setelah Kerajaan Jambu
Karang jatuh dalam
kekuasaan Sutawijaya,
dari Kerajaan Mataram.
Kemudian dia menikah
dengan Nyi Gedeng Ukur
puteri Adipati Ukur Gede,
penguasa Tatar Ukur
keturunan Pajajaran.
Setelah menggantikan
mertuanya, Pangeran
Wangsanata bergelar
Dipati Ukur



Mudian Gede



Dalem Nayadirega



Dalem Abdul Manap

SISTEM PEMERINTAHAN KABUPATEN MASA KOLONIAL JABATAN PATIH DAN WEDANA PADA AWALNYA DIPEGANG OLEH KARABAT BUPATI

Pada masa VOC (1677-1804), diperlakukan sistem pemerintahan tidak langsung (indirect rule system), dimana VOC tidak ikut campur dengan urusan politik pribumi sepanjang kepentingan dalam mencari keuntungan dari komoditas pertanian tidak terganggu.
Pada abad ke 19, Daendels membagi Pulau Jawa menjadi 9 prefektur, dan setiap perefektur dipimpin oleh seorang “prefek”. Kabupaten Bandung termasuk ke dalam wilayah Prefektur Preangerregentschappen di samping Kabupaten Cianjur, Sumedang, Parakan-muncang, dan Karawang. Selanjutnya ia mulai menempatkan “bupati” sebagai pejabat pemerintahan di kabupaten dibawah prefek. Pada masa kekuasaan Inggris di bawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816) diperkenalkan istilah keresidenan sebagai pengganti landdrost-ambt bikinan Daendels. Sejak itu diperkenalkan istilah “residen” yang mengepalai keresidenan. Pulau Jawa dibagi menjadi 16 keresidenan. Kabupaten Bandung bersama kota lain di Priangan tergabung dalam Keresidenan Priangan. Raffles juga memperkenalkan jabatan “wedana” yang mengepalai distrik. Akhirnya, pada abad ke 19 hingga tahun 1942, para pejabat pemerintah tergabung dalam birokrasi tradisional (pangreh praja) hasil rekayasa pemerintah kolonial. Selanjutnya Bupati diangkat oleh Gubernur Jenderal atas usul residen dan diberi pertimbangan oleh Adviseur voor Inlandische Zahen dan Raad van Indie.
Pejabat pangreh praja adalah kaum menak. Berdasarkan wilayah penugasannya, kaum menak tersebut di Kabupaten Bandung terbagi atas dua golongan, yaitu menak paseban (paseban= tempat menyerahkan seba atau upeti) dan menak kaum (qaum= tempat kediaman penghulu berserta bawahannya: naib, kalipah, imam, bilal/modin, dsb).
Menak paseban terdiri dari bupati yang memiliki seorang pembantu bupati yang disebut “patih”. Patih membawahi wedana yang bertugas di daerah. Pada awalnya yang diangkat menjadi patih dan wedana adalah kerabat dekat bupati. Patih bertugas mengkoordinasikan birokrasi bupati di ibukota kabupaten, dan tugas pribadi yaitu memegang administrasi pesawahan terutama milik bupati di seluruh penjuru kabupaten, jalan-jalan, jembatan-jembatan, rumah serta bangunan milik kabupaten. Pelaksanaan kerja di lapangan dilakukan oleh tenaga kerja wajib (heerendieust) dan pembiayaannya ditanggung oleh para wedana yang mengambilnya dari kekayaan daerah-daerah.
Selain patih yang berkedudukan di ibu kota kabupaten, ada juga jaksa berikut bawahannya yang disebut ajun, juru tulis jaksa, dan asesor. Tugas jaksa adalah memutuskan perkara sengketa, menjatuhkan hukuman terhadap pencuri/penjahat, dan mengurus bidang kepolisian. Penghasilan jaksa didapat dari hasil cukai pemotongan hewan berupa kulit, tanduk, serta dari perdagangan yang berupa uang bea cukai yang disebut “panerang”.
Menurut keputusan Residen Priangan tertanggal 27 Januari 1825, no 29, bahwa selain wedana dibawah patih ada wakil patih yang disebut “camat nagri”, empat orang “lengser” atau “kabayan” (orang suruhan patih), 2 orang “juru tulis bale bandung”, dan seorang “kumetir jalan” yang pekerjaannya mengurus jalan. Selain itu dikenal juga jabatan “kumetir kopi” yang mengurus kebun kopi, dan “kumetir cuke” yang pekerjaannya mengumpulkan cukai/pajak. Pada perkembangan berikutnya jabatan wakil patih mengepalai kantor kabupaten yang disebut “mantri besar”. Patih juga memiliki 2 orang sekretaris yang tidak digaji, hanya mendapat cuke (pajak) padi setahun 200 pikul dan mendapat sawah carik seluas 4 bau. Dalam sistem ini dikenal juga pejabat lain yang disebut “kaliwon”. (kaliwon berasal dari kata kalih-ewuan = 2.000 –an, suatu pangkat yang membawahi dua ribu orang). Tugas kaliwon adalah mempersiapkan sejumlah orang atau kuda untuk keperluan bupati (pekerjaan ini ditangani seorang umbul), terutama bila bupati akan mengadakan pemeriksaan ke daerah-daerah. Selain itu seorang kaliwon juga bertugas menyiapkan segala urusan surat masuk dan keluar serta surat menyurat dengan distrik-distrik. Dalam menjalankan tugasnya seorang kaliwon dibantu oleh juru tulis paseban. Seorang kaliwon dapat dipromosikan menjadi seorang wedana.
Di depan kabupaten terdapat dua buah paseban. Menurut letaknya disebut paseban kulon (di sebalah barat) dan paseban wetan (di sebelah timur). Paseban wetan adalah tempat tinggal seorang kaliwon, sedangkan paseban kulon adalah kantor jaksa, tempat memutuskan berbagai macam perkara hukum. Paseban wetan dijaga siang malam oleh 2 orang umbul, 4 orang peryayi yang bertugas sebagai pengantar surat, dan jugul (pesuruh). Paseban wetan juga merupakan tempat rapat patih bersama kepala-kepala lainnya.
Antara tahun 1840 hingga 1849, jabatan wedana disebut kepala “cutak”. Berdasarkan surat edaran Residen Priangan, kepala cutak membawahi camat (wakil kepala cutak), pangarang (pesuruh kepala cutak), lengser (wakil cutak untuk urusan kecutakan), juru tulis cutak, jaksa cutak, kepala-kepala terup, mandor kopi, dan cutak/lurah kampung.
Seorang cutak/lurah bisa dijabat oleh orang biasa (bukan keturunan menak). Dalam menjalankan tugasnya ia dibantu oleh punduh, lebe, dan para polisi desa yang disebut pancalang. Sebagai atasan langsung para lurah ini adalah patinggi. Seorang patinggi membawahi dua sampai tiga buah desa. Pangkat patinggi itu hampir sama dengan camat hanya ada perbedaan sedikit karena camat kota waktu itu sebenarnya atasan langsung patinggi. Jabatan patinggi sebagai asisten camat hingga tahun 1870 tidak mendapat surat pengangkatan dari pemerintah Hindia Belanda.
Pada perkembangan berikutnya, wedana sebagai pimpinan distrik, dalam bekerja dibantu oleh seorang camat, jaga-satru, juru tulis/asesor, dan kopral. Setiap hari mereka bekerja di paseban. Camat sebagai tangan kanan wedana, bagaikan jabatan patih di tingkat kabupaten. Sementara jaga-satru bagaikan kaliwon. Jaga-satru berada langsung di bawah kaliwon. Seorang jaga-satru dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang kabayan/ lengser.
Tempat tinggal wedana disebut “pakemitan”. Bila pakemitan tidak ada, wedana bisa tinggal di kabupaten. Di kabupaten ia dilayani oleh seorang pangarang. Di lingkungan kabupaten dikenal juga pakuwon atau patamura, yaitu tempat tinggal bagi pegawai rendahan. Namun tidak hanya di kabupaten, di pakemitan pun terdapat juga pakuwon, yaitu perumahan bagi umbul dan peryayi yang letaknya di belakang rumah wedana atau kawedanaan. Tugas umbul menerima perintah dari kaliwon, menjaga pakuwon dan paseban secara bergiliran. Kopral dan asesor bertugas mengurus berbagai macam perkara di distrik, seperti memungut cukai, pemotongan hewan, sama seperti jaksa di tingkat kabupaten, dan ia merupakan bawahan langsung jaksa.
Setelah terjadi Re-organisasi Priangan tahun 1871, Priangan dibagi menjadi 9 afdeling yang masing-masing dipimpin oleh seorang asisten residen. Afdeling-afdeling tersebut ada yang menyatu dengan kabupaten, sehingga di samping bupati sebagai penguasa pribumi, ada juga asisten residen sebagai wakil penguasa Hindia Belanda. Di daerah seperti itu ada seorang patih afdeeling yang disebut “zelfstandige patih” sebagai pemimpin pemerintahan pribumi. Daerah tersebut adalah Bandung, Sumedang, dan Sukapura.
Pada masa itu kabupaten merupakan wilayah kekuasaan bupati yang juga menjadi wilayah kerja asisten residen. Asisten residen merupakan penasihat bupati yang memiliki tugas khusus dibidang pertahanan dan kebijakan, tetapi bukan atasan bupati karena keduanya langsung di bawah residen. Bupati dan asisten residen harus saling membantu dalam memberikan laporan. Dalam melakukan pekerjaannya, seorang asisten residen dibantu oleh kontrolir dan adspiran kontrolir.
Di setiap afdeeling ada ondercollecteur yang tugasnya membantu mengumpulkan pajak, membuat catatan dan laporan pajak, mencatat hasil tanaman wajib : kopi, teh, nila, dsb. Pada awal tahun 1990-an patih dijadikan wakil bupati, sehingga kekuasaan bupati menjadi kecil.
Tahun 1874, wilayah district dibagi menjadi beberapa onderdistrict. Setiap onderdistrict sekurang-kurangnya membawahi 15 desa. Onderdistrict dikepalai oleh seorang asisten wedana (camat).
Kekuasaan administrasi di pusat kabupaten dipegang antara lain oleh hoofddjaksa (jaksa kepala) yang menangani urusan kepolisian dan peradilan dengan dibantu oleh adjunct – hoopddjaksa (wakil jaksa kepala). Jaksa kepala membawahi jaksa-jaksa yang tinggal di distrik. Urusan keagamaan menyangkut perkawinan dan perceraian (nikah, talak, dan rujuk) dan upacara kematian di ibukota kabupaten ditangani oleh hoofd-penghulu. Di daerah dipegang oleh penghulu distrik dan penghulu onderdistrik yang lebih dikenal dengan sebutan “onder”. Penghulu onder di beberapa daerah disebut juga “naib”.
Di beberapa kabupaten, terdapat adjunct-penghulu yang bertugas mewakili penghulu sebagai kepala masjid. Di Kabupaten Bandung disebut “kalifah”. Dalam bertugas kalifah dibantu oleh “imam” yang memimpin sholat, “khotib” yang memberi ceramah, “muadzin” (modin) yang menyuarakan adzan, dan “merebot” yang bertugas memukul bedug.
Juru tulis adalah jabatan terendah dalam sistem pemerintahan pangreh praja, dimana jabatan ini merupakan awal karir golongan menak sebagai pekerja pemerintah. Yang bertugas sebagai penjaga dan pesuruh disebut “opas”. Di kabupaten terdapat sekurangnya 6 orang anggota opas, di tingkat distrik ada 4 orang anggota, sedangkan di tingkat onderdistrik terdapat 2 orang anggota.
Jabatan lain yang dikenal pada birokrasi tradisional adalah bermacam jabatan mantri, seperti mantri ulu-ulu (mengawasi pengairan), mantri gudang kopi, mantri gudang garam, mantri candu, mantri tebu, mantri pencatatan tanah, mantri polisi dan mantri kayu.

JEJAK “WONG JOWO” DI UJUNGBERUNG, ASAL MULA KOLONI ORANG-ORANG JAWA DI KIARACONDONG

Sangat menarik ketika kita menelusuri keberadaan para pendatang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah ke Wilayah Ujungberung. Beberapa pertanyaan pun terbesit, Kapan mereka tiba ? Bagaimana kiprah mereka di wilayah tempat tinggal baru mereka ? Tampaknya kita dihadapkan pada beragam cerita, tetapi bisa diperkirakan jika kedatangan mereka ke Wilayah Bandung umumnya, khususnya ke Ujungberung sudah terjadi sejak pertengahan abad ke-17. Bahkan konon pada tahun 1810 mereka sudah ikut serta dalam pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke Kota Bandung sekarang.
Bukti fisik yang masih dapat ditelusuri adalah adanya nama kampung yang berindikasikan penduduknya berasal dari Jawa, yakni “Babakan Surabaya”, “Kampung Jawa”, atau “Babakan Jawa”. Nama itu akan kita temukan di setiap daerah seperti di Limbangan, Ujungberung, Kiaracondong, Cimahi, hingga ke Wilayah Banten. Kedatangan mereka ke Bandung, awalnya hanya menetap di pinggiran kota dan menikah dengan penduduk setempat. Di Wilayah Jatinangor pada tahun 1970-an pernah terdapat sebuah komplek makam orang jawa, bahkan di Wilayah Rancaekek sampai saat ini kita masih bisa menemukan nama “Kampung Jawa” yang semasa bergejolak revolusi fisik telah dijadikan tempat pengungsian sementara bagi para pendatang dari Jawa yang tinggal di Ujungberung, baik yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, serta pendatang dari Cirebon dan Indramayu.
Di wilayah Rancaloa pun, sampai saat ini masih dikenal nama Kampung “Babakan Surabaya”, bahkan pada tahun 1980-an di tempat tersebut terdapat juga sebuah komplek pekuburan khusus orang Jawa, tetapi sayang komplek pemakaman tersebut kini telah lenyap karena 'tertabrak' pembangunan sebuah komplek perumahan penduduk. Di Wilayah Kiaracondong dapat kita temukan pula nama “Babakan Surabaya” dan “Kampung Jawa”. Rupanya Kampung “Babakan Surabaya” Kiaracondong punya kaitan erat dengan keberadaan Kampung “Babakan Surabaya” Rancaloa dan Limbangan. Konon Kampung tersebut dibuka oleh sekelompok orang yang dikepalai oleh seorang sakti bernama ‘Malim’.
‘Malim’ bernama asli Djaluddin. Beliau berasal dari Kampung Pariuk, Limbangan-Garut. Sumber lain menyebutkan bahwa orang tua Djaluddin adalah keturunan suku Jawa yang telah menetap di Limbangan sejak abad ke 18. Bahkan keterangan lain menyebutkan bahwa kakek Djaluddin adalah salah seorang tentara Mataram yang tidak pulang kampung setelah gagal menyerbu Batavia pada abad ke 17.
Nama Djaluddin menjadi terkenal karena kesaktiannya mengusir berbagai roh halus. Keahlian itu ia dapat setelah berguru ke berbagai pesantren dan perguruan ilmu kanuragan di Jawa Timur. Lalu, sepulang berguru ia mendirikan Kampung ‘Babakan Surabaya’ di Limbangan.

Tindakan spektakuler yang dilakukannya adalah berupaya membuka lahan super angker “Geger Hanjuang” (Rancaloa). Konon untuk membuka lahan tersebut ia harus melakukan tapa berata dan bertempur dengan jin 'Bulu Carang' penguasa tempat tersebut. Setelah bertempur berhari-hari akhirnya ia bisa mengalahkan para jin dan bisa mengusir para dangiang itu dari tempat tersebut ke daerah Subang. Keahliannya dalam mengusir roh halus telah menarik perhatian Bupati R.A. Wiranatakoesoemah II atau Dalem Bintang yang sedang merencanakan memindahkan Ibukota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuh Kolot) ke Bandung (sekitar alun-alun sekarang). Maklum pada waktu itu Bandung masih merupakan hutan belantara yang angker, penuh dengan binatang buas dan roh halus jahat.
Djaluddin pun diminta oleh Sang Bupati untuk memimpin tim ‘pengusir makhluk halus dan binatang buas’ yang telah mendiami tempat yang kelak akan dijadikan ibukota baru Kabupaten Bandung. Kerja Djaluddin dan pasukannya berbuah kepuasan hati Sang Bupati. Oleh sang bupati ia diberi hadiah sebidang tanah yang cukup luas di daerah Kiaracondong. Tempat tersebut oleh Djaluddin diberi nama sama dengan nama kampung tempat tinggal dia sebelumnya di Rancaloa dan Limbangan, yakni “Babakan Surabaya”. Karena kesaktiannya tersebut ia diberi gelar “Malim”. Malim merupakan gelar penghargaan dalam masyarakat Sunda untuk orang yang sakti dan dituakan dalam sebuah kelompok masyarakat.
“Malim” meninggal sekitar tahun 1850-an, dan dimakamkan dekat Kantor Desa Babakan Surabaya. Komplek makam tersebut diberi nama “Mbah Malim”, yang sampai kini masih dikeramatkan oleh penduduk setempat. Awalnya tempat makam tersebut berada diberi nama Gg. Kuburan, yang kemudian berubah menjadi Gg. “Mbah Malim”. Sedangkan tempat yang dulu terdapat Kantor Desa Babakan Surabaya diberi nama Gg. Desa. Di bekas lahan kantor desa tersebut sekarang berdiri sebuah sekolah dasar.
Dalam buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” dijelaskan bahwa dalam rangka memantapkan pertahanan militernya, maka pemerintah Kolonial Belanda secara bertahap tahun 1898 memindahkan Pabrik Mesiu dari Ngawi dan Artillerie Constructie Winkel atau “ACW” (disebut Pabrik Senjata PINDAD sekarang) dari Surabaya ke Bandung. Lokasinya kira-kira 5 km dari batas Kota Bandung yang waktu itu masih masuk wilayah District Oedjoengbroeng Wetan, tepatnya di Wilayah Kiaracondong.
Pemindahan tersebut menggunakan cara 'bedol desa', yakni tidak hanya mesin dan peralatannya saja tetapi juga seluruh 'crew' yang terdiri dari teknisi, pegawai, serta seluruh keluarganya. Mereka ditempatkan pada sebuah pemukiman baru di dekat pabrik. Kampung pemukiman baru arek-arek Suroboyo tersebut kemudian disebut “Babakan Surabaya”. Masih di sekitar tempat tersebut, tepatnya dekat pabrik gas, kita juga akan menemukan nama “Kampung Jawa”.
Bila cerita tentang keberadaan “Mbah Malim” benar, maka dipastikan sebenarnya Kampung Jawa dan Bababakan Surabaya sudah ada sebelum 'acara' pemindahan pabrik senjata dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Sehingga penetapan wilayah tersebut sebagai lokasi pabrik, kemungkinan didasari atas pertimbangan agar para pekerja pabrik yang baru didatangkan dari Surabaya dan wilayah sekitarnya bisa mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya karena sudah ada para 'Wong Jowo' yang lebih dulu menetap di wilayah tersebut.
Bahkan sebelum pabrik mesiu dipindahkan dari Surabaya, di sekitar tempat lokasi pabrik tersebut yakni sekitar Kampung Dungusnangtung, pada tahun 1818 pernah berdiri sebuah pesantren milik R.H. Muhammad Irsyad, seorang penduduk dari Cicalengka yang masih memiliki garis keturunan Jawa. Sebelum mendirikan pesantren beliau pernah menuntut ilmu di Pesantren “Arjosari” Jawa Timur. Karena itulah beliau menamakan pesantren miliknya sama dengan pesantren tempat ia menuntut ilmu sebelumnya, menggunakan ejaan Sunda, yakni “Pesantren Arjasari” (lihat Bab VI).
Pada tahun 1919, seiring dengan usaha pengembangan kota Bandung secara seimbang, didasari usulan Komisi Karsten, maka dibangunlah sebuah stasiun kereta api di wilayah tersebut. Sehingga menjadikan Kiaracondong sebagai tempat transit pertama para “Wong Jawa” yang datang menggunakan kereta api, sebelum memasuki Gemeente Bandung. Bahkan banyak diantara mereka yang memutuskan untuk menetap di tempat itu selamanya. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri jika Wilayah Kiaracondong dari dulu hingga sekarang merupakan salah satu ‘sentra tempat beranak pinaknya para ‘Wong Jowo’ di Bandung.

KERAJAAN ARCAMANIK, SEJARAH ATAU HANYA DONGENG ?

Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, dahulu di Utara Wilayah Sindanglaya-Ujungberung, pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Arcamanik. Dari penelusuran tim “Ujung Galuh”, majalah yang melakukan studi folklore Jawa Barat, didapat pernyataan bahwa Kerajaan Arcamanik berdiri pada sekitar tahun 1608 Masehi, tidak lama setelah hancurnya Kerajaan Pajajaran. Rajanya yang pertama bernama Prabu Pamungkasan. Berdirinya Kerajaan Arcamanik diyakini untuk menyelamatkan harta karun Kerajaan Pajajaran dan juga Sumedanglarang dari serbuan penguasa-penguasa kerajaan Islam pada waktu itu (Cirebon, Banten, Demak, dan Mataram).
Menurut salah seorang sesepuh Kampung Arcamanik, pada tahun 1922 pernah dilakukan penggalian benda-benda bersejarah oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dari penggalian tersebut ditemukan beberapa arca berwujud wanita, yang kemudian dibawa ke Batavia dan kini kemungkinan tersimpan di Museum Nasional. Patung tersebut diyakini sebagai “Nini Maranak”, sebagai lambang 'dewi kesuburan' masyarakat Kerajaan Arcamanik.
Konon pada saat itu, patung wanita telah menjadi maskot kerajaan. Di setiap sudut keraton berdiri patung-patung wanita. Karena itulah kerajaan di Utara Sindanglaya-Ujungberung ini diberi nama “Arcamanik” yang berarti 'patung hitam'.
Akhir tahun 1630-an, Kerajaan Arcamanik sempat hancur karena musibah bencana alam. Tahun 1631 pusat Kerajaan Arcamanik dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi yang saat ini dikenal sebagai Kampung Mandang Kamulya, Desa Sindang Kaprabonan.
Pada masa pemerintahan Prabu Subekti (1615), putera sang Prabu yang bernama Pangeran Sambara mendirikan sebuah padepokan sebagai pusat pengembangan seni karawitan istana. Padepokan tersebut kini kira-kira berada di sekitar Kampung Sekekondang, Desa Pasirimpun, Kecamatan Sindanglaya-Kabupaten Bandung.
Hingga tahun 1633, Padepokan tersebut menjadi tempat latihan karawitan bagi para puteri Prabu Subekti, seperti Putri Sangkeareng, Putri Silahpalastri, Putri Dharmi Alyandra. Tahun 1618, para puteri senapati kerajaan mulai ikut pula menjadi siswa di padepokan ini, seperti Putri Sentrasari, Putri Dyah, serta Putri Arum Arpitah.
Kini sisa-sisa padepokan hampir tidak berbekas, yang ada hanya sebuah batu besar bersusun yang diyakini sebagai bekas pondasi bangunan padepokan. Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut batu ajaib karena dianggap memiliki kekuatan gaib yang banyak melahirkan cerita-cerita mistik hingga kini.
Tanda-tanda masa kemunduran Kerajaan Arcamanik terjadi pada tahun 1835, pada masa pemerintahan Prabu Adipati Suryadiraksa Panangkaran. Sang Prabu menikah dengan Nyi Mas Jembarsari, keturunan Resi Guru Manikmaya atau Prabu Abhisanja Wirahman, penguasa Kerajaan Kendan (Kelang) pertama. Namun dari pernikahan tersebut Prabu Adipati Suryadiraksa tidak dikaruniai seorang putera pun. Lalu Sang Prabu menjalin hubungan gelap dengan Nyi Nurhayati Wilang Kananga, seorang emban istana yang cantik jelita. Hubungan tersebut berlangsung selama tiga tahun, hingga akhirnya terbongkar.
Nyi Mas Jembarsari murka. Untuk menyelamatkan rumah tangga dan kewibawaan kerajaan, Permaisuri Arcamanik pun mengeluarkan opsi, yang isinya Sang Prabu diijinkan untuk menikahi Nyi Nurhayati, asal isteri barunya itu dijadikan selir kerajaan. Tetapi 'madu'-nya tersebut merasa berada di 'atas angin', karena dia telah berhasil memberikan seorang putra lelaki hasil hubungan gelapnya dengan Prabu Adipati Suryadiraksa. Ia menolak opsi yang diberikan permaisuri dengan mengeluarkan opsi lain. Opsi tersebut mengharuskan sang Prabu untuk memutuskan memilih salah satu di antara dirinya (Nyi Nurhayati Wilang Kananga. ed) dan Nyi Mas Jembarsari, sebagai permaisuri kerajaan.
Sudah bisa diduga, kalau sang Prabu lebih memilih Nyi Nurhayati Wilang Kananga. Sehingga Nyi Mas Jembarsari pun tersingkir dari kerajaan dengan hati hancur. Konon menurut cerita, Nyi Mas Jembarsari sebelum meninggalkan istana sempat mengeluarkan “supata” dengan mengerahkan ilmu Patulak Raga, yakni mengutuk seluruh keturunan Nyi Nurhayati jauh dari kemuliaan hidup.
Terbukti sumpah tersebut sangat ampuh. Prabu Suryadiraksa pun jatuh sakit. Sejak saat itu Kerajaan Arcamanik pun mulai memasuki masa kemunduran hingga akhirnya hancur tanpa Benar atau tidak Terlepas dari benar atau tidak cerita tersebut, sudah menjadi sebuah tantangan bagi para ahli sejarah untuk menggali lebih dalam dengan pembuktian-pembuktian akurat sehingga keberadaan Kerajaan Arcamanik bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun, walau bagaimanapun upaya dari Tim “Ujung Galuh” dalam menelusuri keberadaan Kerajaan Arcamanik patut kita hargai. Kemungkinannya, ini bisa menjadi peletak dasar atau jejak awal dalam upaya menguak rahasia Kerajaan Arcamanik di masa mendatang. Semoga.

Babad Dermayu

oleh
Ruhaliah



Bab I
Pendahuluan


1.1 Identifikasi Naskah

1. Judul Naskah : Babad Dermayu (Babad Carbon II)
2. Nomor Registrasi : 1.368
3. Nomor Inventarisasi : 183.1498/07.35
4. Asal Naskah : ?
5. Keadaan Naskah : • hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik;
• Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit.
• Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit.
6. Bahan Naskah : kertas Eropah
7. Warna kertas : putih kusam karena dimakan usia
8. Tebal Naskah : 124 halaman
9. Aksara Naskah : Cacarakan Jawa
10. Bahasa Naskah : Jawa Cirebon
11. Tinta yang digunakan : Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca
Rubrikasi : Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh.
12.
13. Penomoran halaman : tinta, setiap dua halaman, aksara Arab
14. Jilid : kertas tebal
15. Keterangan lain : • Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca,
• Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal),
• Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah,
• Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan,
• Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.





Bab II
Ringkasan Cerita


1. Sinom
Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa.
Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti
Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang.
Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum pura-pura marah.
Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macam-macam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik.

3. Sinom
Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari.
Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan.
Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman.
Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.
Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana.
Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra.
Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan murid-muridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas.
Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang.

4. Kinanti
Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah.

5. Durma
Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu.
Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan.
Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra.

6. Dangdanggula
Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen.

7. Durma
Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji.
Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya.

8. Dangdanggula
Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok.
Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom.
Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur.
Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV).
Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.
Nyai Moka pekerjaannya mengaji, sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan.
Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun, putra Singalodra. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh, Kulinyar, dan Pasiripis. Jumlahnya sekitar 700 orang, dipimpin oleh Bagus Kandar, Bagus Rangin, Surapersanda, Bagus Leja, dan Bagus Seling. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Lalu dilakukan penyerangan. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan, yaitu Ciliwidara. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya.
Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Ciliwidara kemudian menghilang. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya.

9. Sinom
Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara.
Pada suatu hari, ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta, datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati.

10. Pangkur
Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas, Hastrasuta meninggal oleh panah Ki Serit. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu.
Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Sepanjang perjalanan mereka merampok. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan, sehingga para perampok itu tiba di Darmayu.
Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi, isinya meminta bantuan. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan.

11. Durma
Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Mereka diikat dan disiksa. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan, tetapi sebagian lainnya melarikan diri.

12. Asmarandana
Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah.

13. Durma
Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan, anak Wangsakerti. Bagus Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang, sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan.

14. Sinom
Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap.
Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi.
Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya.

15. Pangkur
Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Keduanya dimarahi dan dicaci. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan.
Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Mayatnya menghilang. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal, agar Cirebon mengganti kerugian Belanda.
Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpura-pura sedih. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran yang merugikan pihaknya. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Cirebon diserahkan kepada Belanda.

16. Kasmaran
Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11.030. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. Bupati meninggal dunia. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Wiralodra memiliki tujuh orang anak, yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang, Nyayu Wiradibrata, Nyayu Hempuh, Nyayu Pungsi, Nyayu Lotama, dan Hanjani.
Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi.
Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Ia memiliki lima orang putra, yaitu Patimah, Nyayu Juleka, Brataleksana, Bratasentana, dan Bratasuwita.
Raden Rangga memiliki dua orang anak, yaitu Raden Mardada, Raden Wiramadengda, dan Nyi Sumbaga.
Kalektor memiliki lima orang anak, yaitu Hardiwijaya, Sudirah, dan Nyai Juminah. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak, yaitu Raden Karta Kusuma. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak, yaitu Biska, dan Kertadiprana. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka, Mangundria, Muhadapan, Nyayu Jenikuwu, dan Kertahatmaja.















































Bab III
Transliterasi dan Terjemahan



3.1 Teknik Penyajian Transliterasi
Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. Dalam transliterasi ini, kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya, tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang.
Transliterasi disusun berurutan ke bawah, tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. Selain itu, karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh, yang terikat oleh guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra, maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya, seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat, tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut.
BD ditulis dalam bentuk pupuh. Dalam transliterasi, pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya, misalnya I Asmarandana. Bait-bait yang berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1.
Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi.
1. Nomor dengan angka Romawi
Nomor ini menunjukkan urutan pupuh
2. Nomor dengan angka Arab
Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis, yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait; sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1, 1a, 2, 2a, 3, 3a, dan seterusnya). Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan, sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan.
Contoh nomor halaman: 17 (37, 857)
- 17 nomor halaman pada naskah
- 37 nomor halaman pada naskah dalam foto
- 857 nomor eksposure pada foto
3. Tanda […]
Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca, walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya.
4. Tanda (…)
Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara, suku kata, atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi.

3.2. Pengantar Terjemahan
Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD.
Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Atja dan Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan, melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra, bergantung kepada kemampuan penulisnya. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul.
B.H. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks, penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut, (2) siapa pengirim pesan itu, ditujukan kepada siapa, dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran, (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan, makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan, dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran.
Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). Berdasarkan pendapat itu maka:
1) objek terjemahan adalah bahasa tulis;
2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin;
3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah); dan
4) di dalam proses penerjemahan, penerjemah harus mencari padanan yang dinamik, artinya padanan kontekstual, bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu.
Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu, yaitu penerjemahan fonologis, penerjemahan morfologis, dan penerjemahan sintaksis.
1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber;
2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem, kata, kata majemuk, dan frase). Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana, meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik;
3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik, di samping aspek linguistik. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan.

Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan, jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa, sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. Namun jika teks berbentuk puisi, terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan, terutama dalam gaya. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas, yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya.
Berkaitan dengan penerjemahan teks BD, yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah:
a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda, maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati;
b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama, sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut;
c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan, yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. Walaupun bentuknya pupuh, teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. Karena itu, penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase, di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi, dengan menggunakan tanda khusus, agar mempermudah proses membaca.
d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD, ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus, karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis, dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah semula, sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.


































3.3 Traansliterasi

1 (1, 821) //I. SINOM

1. …li ka[h]ula haserat,
hing dalu Jumahah legi,
(nu)ju se(neng)...tiyang,
jam kalih dalu nu jo …n[n]i,
waktuna ... sasih,
nuju seneng manah hulun,
hing tanggal kaping sadasa
… wan di...nuju néki,
tahun séwu sanga ngatus pan[n]e…

2. Tan sanés hingkang sinekar,
wedar[r]ing kanda rumi(yin),
…sajarah tiyang ku[n]na,
turun-tumurun niréki,
hanak……nakin…,
Ki Wiralodra rumuhun,
bermula Da(lem Kang)jeng,
Kang hana hing Darmayu mangkin,
trus tumurun hing putra…

3. … kinarang sinekarna,
sampun kantos… langkin,
supaya samya huni[ng]nga,
kartadipran[n]a……s,
hérpol sa[ng]king Mantri Haris,
supaya … galur.
Hanak putu Wiralodra,
bénjang lang…… kun hakir,
Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir...

4. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat,
buku sajarah dalem …
… nti pada … rusak,
ka…hical hingga tu …
…n[n]é sujarah dingin,
maksa hing ngila[r]ran hulun,
Minggu palesir kula,
pakuburan pun tinga[l]li…
…ngungun rusak[k]é hing pakuburan.


5. Nulya ka[h]ul[l]a,
ningal[l]i sujarah mangkin,
turun[n]i Wiralodra,
Larakelar hasal néki,
laki…mangkin,
Pejajar[r]an putra ratu,
hapeputra…
tumenggung hanang Metawis…,
hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa).

6. Wirasecapan kagu[ng]ngan,
Kartiwangsa …(mang)kin,
Tumenggung hanang Mataram,
wedar……kantos dateng Majapahit,
...
Pan sada……(tu)menggung,
Panembahan Kyahi Be(la)ra,
…sumi,

7. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u…
nulya kagu[ng]ngan putra,
Jeng Pangeran Hadi…
hingkang peperab,
Bagelén hing rang(gah)
( hapepu)tra malih,
Gagak Pernala Tu(menggung),
…ki gumantya,
Lajeng ha…
…puna…sekawan.


1a (2, 822) 8. … Pringgadipura,
gumantya para bopati,
Dén Gagak Wirahandaka.
… nagara,
Karangjati kang nagari,
Putra hingkang pa…
Pan Radén Gagak Kumitir,
nulya peputra …
hanang Banyu Hurip Kedu,
Dén Gagak Wiraku(suma)
hapeputra malih,
Gagak Singalodraka…da…ya.



9. Pembajeng Wangsanagara,
Wangsayuda rayi héstri,
(Wi)ralodra katiganya,
Tanujaya hingkang rayi,
(Tanu)jiwa kang wuragil,
hing Bagelén dalem[m]ipun,
Wiralodra,
sanget saking nyandang kingkin,
kasa,
remen[n]ipun hamertapa

10. Hana …ling malaya,
pernah hingkang sepi mangkin,
gumuling hing wisma,
hanenuwun hing Yang Widi,
saréngat (hakeka)t mangkin,
hakékat mahripat wahu,
tansa(h) hingkang tumingal,
hamandeng hing wujud tunggil
…nya (hing) jero supaya dados satunggal.

11… (sa)réh miwah dahar,
tigang dahun lamin[n]éki,
kantu Bagelén.. rosik[k]a,
sampun hical wujudnéki,
…cahya hingkang bening,
tanda tinarim[m]éng hagu(ng),
…ngaran suwun hing yang sukma,
muga-muga hantuk mu(lya)
turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan.

12. (nu)ju dalu Jumah,
ningal[l]i wonten hing langit,
(pa)dang kadya lintang,
sareng ming wétan ning[ng]al[l]i,
…dang nelahi,
yahiku cahya handaru,
cahya…mang tapa,
hicaling pepadang mangkin,
nulya …kinanti hingkang tinembang,

II. KINANTI

1. (Su)kma hing yang hagung,
suwara kang kapiyarsi…,
…Wiralodra,
lamun péngén mulya kaki…nira,
…ru ngira,
babad[d]ahing halas kaki.

2. Ngulon hungsinen kacung,
hing halas Cimanuk
halas gedé hi[ng]ku nyawa,
pan bakal dadi nga….
(ha)turan turun[n]ira,
duging turun pitu kaki

3. …tuhamu,
mila hénggal lunga haka…
…Wiralodra,
Halilir hanggé
…sami katar …hing jeng rama
Ngatur[r]aken pi … hing jeng
…nas mikatur
2 (3, 822) //...ning ram[m]a,
kaki hanak [k]ingsun mangkin.

4. Sun pasrah(a)ken yang hagung,
sangking sakarsan[n]é kaki,
putra ningsun hayu …cw,
rinangkul dipun tang[ng]is[s]i,
putra ngambung suku ram[m]a,
miwah nang[n]i hingan[n]néki.

5. Kahidinan sampun kondur,
sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki,
sami medal toya..waspa,
handres miji(l) ditangis[s]i,
kaliyan Kang Pandakawan,
Kyahi Tinggil tanéki.

6. Medal ngidul pinggir gunung,
malebeting wanadri,
lali turu miwah dahar,
mapan déréng ha…ta,
(hing) kali Cimanuk pernahnya,
hing pundi panggé(nénéki)

7. Kantos lami tigang nahun,
hanggén[n]é wa(na)dri,
…hapandé ring hantuk marma,
pitulung Yang Maha Widi,
nulya jeng hing lampahnya,
kantos dumugi hing kali,

8. Kali hageng hing Citarum,
hang linggih hing pinggir kali,
…toya geng prapta.
Nulya hawecan[n]a haris,
hanang hing(kang panda)kawan,
ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil.

9. “(Pa)man susah hingsun,
kali gedé hangliwati,
(pri)yén pan karo hapa?”
Humatur kiyahi Tinggil,
…sowan,
kula tur[r]i sabar briyin…
…mi pukulun,
Le…

2a (4, 823) 10. Saparantos bendara,
Léréh[h]an nyenangna pikir,
lan puniki Gusti dara,
kathah wowotan puniki.

11. Kula kinten be…dusun,
hutawi kebon jalmi.
Sareng héca gényagah,
wunten kaki tuwa prapti,
hingkang mindah kaki tuwa,
Buyut Sidum tiyang karihin.

12. Raden Wiralodra dulu,
wunten kaki kaki prapti,
sanget bhingah[h]é hang…
lah bagja temen pun mami,
bakal hingsun (hantuk) warta,
sangking kaki tuwa hiki.

13. Hénggal ti(nari)k rinangkul,
sesalaman hasta kalih,
sarta sareng nya lenggah,
humatur hawelas sasih.
“Haduh Kakang tu (lung) kula,
nuwun pitulung pun kaki.

14. Pun lami lampah …n hulun,
sangking Bagelén nagari,
tigang (tahun) lampah kula,
hing pundi Cimanuk kali,
kula (harsa) hantuk warta,
muga kaki hanulung[ng]i.

15. Kyahi Dum wecan[n]a harum,
sarwi megap megas har[r]is,
dé… (han)tuk hawecan[n]a,
“Duh Ki Putu welas mami,
sampéyan … kula,
ngatur[r]aké lampah néki.

16. …(Kali) Citarum, …
Kerawang bagiyan néki,
sampun…kedah wangsul malih niki,
hamesisir la…

3 (5, 824) //…la ngétan pernah néki. “

17. Nulya hical kaki sepuh,
kagét wahu haning[ng]al[l]i,
getun Radén Wiralodra,
déréng (ta)kén wastanéki,
lan sing pundi hika hasal,
kabujeng (mu)sna pun kaki.

18. Nulya hawecan[n]a harum,
“Duh paman Kiyahi Tinggil,
hing ngendi si kaki tuwa?”
Ki Tinggil humatur haris
gugup dara hameriksa,
boten[n] takén wasta kriyi(n).

19. Hutawi negarin[n]ipun,
nanging bagja kula Gusti,
…manten pan hantuk marma,
pitulung[ng]é hing Yang Widi,
mila…hénggal-lénggal,
kula lajeng pangkat Gusti.

20. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun,
hambhujeng lampah pun hénjing,
ningal[l]i medal[l]ing surya,
nulya hénggal halumaris,
lampa[h]hing KiWiralodra,
ngétan ngalér margin[n]éki.

21. Hangrem(pug) hing wana (a)gung,
lumampah siyang lan wengi,
datan saréh miwah dahar,
sareng duging Pasir Hucing,
lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki,
wonten toyan[n]ipun mili.

22. Sumber medal saking sumur
wan[n]a dateng Ki Tinggil.
“Duh Paman Tinggil pun kula,
meng(ké) laréh pada mandi,
sun ting[ng]ali hiki toya,
langkung sa(hé) toya bening.”

23. Kyahi Tinggil pan humatur,
(lamun Gusti) kersa mandi,
kula péngén sesaréyan,
3a (6, 825) pi//wiwitan hiki,
hadem kasilir marut[t]a,
hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil.

24. Lami hanthuk kalih minggu,
hana (to)ya tengah wanadri,
nulya pangkat Wiralodra,
ming[ng]elér lampah hiréki.
nulya manggih tiyang gaga,
madukuhwan hing wan[n]adri.

25. Wirasetra wastanipun,
sing wétan hasli rumihin,
hing bénjang bakal nurun[n]a,
Dalem (Pega)dén hing bénjang,
Kyahi Wiralodra tanya,
sarwi sesalaman kalih.

26. “Duh kakang basa pukulun,
hing Kakang tembé pinanggih,
lan sinten kakang peparab,
duh Wirasetra jeneng mami”
“Hingkang wewangi pun kakang,
Wirasetra jeneng ma(mi)

27. Yayi sinten jeneng[ng]ipun,
lan badé karsa hing pundi,
sah[h]a hasli pundi ranti?”
Wiralodra jeneng rayi,
sing Bagelén hasli kula,
ngalar[r]i Cimanuk kali.”

28. Karun[n]a sarwi hangrangku(l),
“Duh bagja temen rayi,
pinanggih kaliyan kakang.
Kakang (ing) wétan nagari,
Banyu Hurip dulur misan,
Wirakusuma Dipati.

29. Hanulya binakta wangsul,
hing wisma pernah hi(ré)ki.
Sinubu- subu haneda,
sami pada suka hati,
pu……na tan dahar,
tyang tangga samiya bhukti.

30. Kyahi…humatur,
“Duh Bendara tembé habdi,
dahar …se//(ka)lih hulam,
salaminé boten bukti,
dameng gegodong[ng]an kula,
hingkang dipun bukti habdi.

31. Haduh dara kula suwun,
hingkang lami manggén riki,
badé hanglemok[k]en badan,
handugék hagen pun daging,
daging kula kathah hical,
dameng tambi weteng blending,

32. Ngayang hayang hir tiyang bu…
suku hasta halit halit,
yén lumampah sempoyongan,
kula hasring niba tangi,
kasrimped déning la…tan,
mila sing lami hing riki.

33. Tyang kalih sami (gu)yu,
hamireng hatur[r]é Tinggil.
“Ya paman Tinggil wus begja,
pinanggih lan kadang mami,
sarta rejekimu paman,
bis[s]a wareg dika bukti.”

34. Kyahi Wirasetra puniku[s]
hanyambung[ng]i sabda man[n]is.
“Duh kabegjan pama..la.
manggén tengah wana mami,
pinanggih kaliyan kadang,
lubér[r]an masșa redi,

35. hanggén[n]é bungah wak ingsun.”
Humatur Kyahi Tinggil,
“Duh bagja kula ben(dara)
kranten kula nyémah niki,
sampun gama rasa kula,
sadinten ping kalih bukti.”

36. Radén Wiralodra wahu
kantuk sasasih mangkin,
nulya humatur hing raka,
“Duh kakang panrima yayi,
muga dén hidin[n]i kula,
4a (8, 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin.

37. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun,
pernah[h]ipun hingkang kali,
Cimanuk wangsit yang sukma?”
Wirasetra muwus haris,
“Muga dak jujurung pandonga,
mugiya hénggal pinanggih.

38. Sarta rineksa Yang Hagung.”
Nulya sesalaman sami,
Ki Tinggil pan manembah,
sarwi matur klayan lirih,
“Nun bhendara nuwun kula,
daging kula dugi malih.”

39. Ki Wirasetra hangguguk,
gumujeng[ng]é suka hati.
“Héh Tinggil sun dongakna,
hénggal hasira pinanggih,
sangking daramu pikersa,
gampang bésuk sandang malih.”

40. Hang kalih pangkat hanjugjug,
mingétan hingkang … dén…i
maksih hageng hingkang wana.
Nulya pinanggih lan kali,
kelangkung sanget bungahnya,
“Lah paman Tinggil puniki,

41. tak duga hiki Cimanuk.”
Ki Tinggil humatur lirih,
“Duh dara men[n]awi nyata,
namung héwuh ……habdi,
boten wonten padukuh[w]an,
kanggé… kan…yaktosnéki.

42. Nulya tiyang kalih lumaku,
hatut pinggir pinggir kali,
kalih sasih hing laminya,
ming (pinggi)ran[n]iréki.
Kyahi Sidum sanget welas,
ningal[l]i dangka kalih,

43. lumampah nrajang rinungkun.
5 (9, 828) Hanulya nyipta kiyahi,
kebon lega palawija,
langkung sahé dén tinga[l]li,
tanem[m]ana warna- warna,
térong kara sabrang cipir.

44. Boléd homas miwah jagung,
paré gajih putih putih,
bonténg timun miwah lobak,
langkung seneng haningal[l]i,
kebon lega palawija,
hing wétan tan[n]ana Tinggil.

45. Pinggir kali wésma nipun,
pinuter kembang srengkun[n]i,
tongkéng malengkung hing lawang,
kanan kéri mandakaki,
sundrem malem mangajeng[ng]an,
Ki Sidum lenggah (ing bumi).



46. Raden Wiralodra dulu,
ningal[l]i kebonan mangkin.
Wiralodra hawecan[n]a,
“Duh Tinggil bagja wak mami,
kebon bhagus datan[n]ana,
hing wétan kadya puniki.

47. Gemuh wéhing kebon wahu.”
Nulya hamarin[n]i sirih,
hing wésma wonten tiyang lenggah,
linggih hongot-hongot deling,
bakal wuwus aya hulam.
Nulya hawecan[n]a haris.

48. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun
mugya hagung pangaksami,
badé tanya pan kagu[ng]ngan,
kebon sahé sapuniki,
sarta Kyahi kali nap[p]a,
wastan[n]é puniki kali.

49. Hanyentak ngandika wahu,
(“Ha)rep hapa siréki,
nembé teka hamariksa,
5a (10, 829) //wong ngendi sira hiki,
hapa harep ngrampog hingwang,
sira tekang wisma mami.

50. Hiki kali pan Cimanuk,
sun kang duwé kebon hiki,
harep hapa sira tanya?
Kakang tan[n]i malih warni.
Haran ningsun kang sinambat,
tan mingsir bari halinggih”

51. Kyahi Wiralodra getun,
“Sugal temen kaki kakang,
hingsun tanya bentak nyentak.”
Humatur Kyahi Tinggil,
hinggih leres Gusti Dara,
nembé kula haningal[l]i,

52. Nanging hadat[t]é puniku,
prawantu tiyang dusun Gusti,
(bo)ten gadah tatakrama,
kedah[d]ipun maklum Gusti,
na pamali tiyang halas[s]an.
Nulya dén pedek[k]i lirih.

53. “Duh Kyahi pan hingsun tulung,
senyatan[n]é kula kyahi,
tebih sing Bagelén nagara,
tan liyan hingkang sun hilar[r]i,
kali Cimanuk pan hingwang,
hing tembé ningal[l]i kali.

54. Ya hiki kali Cimanuk,
kuma tumut ngebon kaki?”
Hang réncang[ng]i jeng ngandika,
muga dén pernahna Kyahi
hingsun nurut jeng ngandika,
welas sakya hing mami,

55. Kyahi malih warni muwus,
“Hora harep tulu(ng) mami
krana hingsun sugih rayat,
6 (11, 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i,
hénggal sira hamampus[s]a,
haku tan sudi ning[ng]al[l]i.”

56. Radén Wiralodra bendu,
jajabang muka lir gen[n]i,
rin[n]aket[t]an kaki tuwa,
sorah ngandikan[n]é mangkin,
“Héh kaki dika wong hapa,
hora ken[n]a tak bhedam[m]i!

57. Sahiki kaki sun jaluk,
perkara kebonan kaki,
hawéh hingsun jaluk paksa,
kaki grendaka sun tan[n]i,
ngisén[n]i dika wong dés[s]a,
hora ken[n]a sun halus[s]i.

58. Hingkang mindhah kaki wahu,
hangadeg linggih hing korsi,
langkung sorah hawecan[n]a,
walang kerik hanuding[ng]i,
mapan haku hora sérab,
han[n]ingal[l]i hing siréki.

59. Bermula halas dén jaluk,
kari kari kebon mami,
bener sira pan bherandhal.”
Radén Wiralodra mangkin,
hanubruk hing kaki tuwa,
surung-sinurung tiyang kalih.

60. Hing pernah kebon wahu,
hangadu sakti linuwih,
binanting hanulya hical,
musna kebon kaki-kaki,
hical mapan dadi wana,
nameng wonten kapiyarsi…

61. “Hah Wiralodra putuku,
yén hora weruh hing mami,
Buyut Sidum haran ningwang,
pan dudu Cimanuk kali,
pan pinasti karsa n[n]ing wang,
bésuk dadi dés[ș]a hiki.

62. Pammanuk[k]an hingwang dusun,
Cipuhnegara kang kali,
hénggal sira hanyabrang,
6a (12, 831) //mengkola mun șira manggih,
kidang mas hinten kang soca,
hénggal bhurun[n]en dah kaki.

63. Hing pundi hical ké wahu,
yahiku Cimanuk kali,
bénjang lamun kaki babad,
poma kaki wekas mami,
tetapa hahaja néndra,
pasti turun nira mukti.”

64. Tyang kalih hanyabrang sampun,
hing Cipunegara kang [kang] kali,
hénggal-hénggal lumampahnya,
surya hingkang dén ningal[l]i,
yén hénjing tamtu hing wétan,
yén șonten kulon pun lingsir.”

65. Lajeng malebetan gung,
pinanggih macan gedéki
hangadang margan[n]ya.
Hinggebeg kiyahi Tinggil,
“Duh tulung bendara ningwang,
hing pundi nusup pun haki.

66. Hana macan hagung.”
Hanulya wecan[n]a haris,
mapan Radén Wiralodra.
“Man Tinggil meneng siréki,
mangko hingsun harep tanya,
macan hapa karen[n]éki?”

67. Sima[h] kekerag hing ngayun,
nulya hanubruk tumul[l]i.
Radén Wiralodra hindha,
macan tin[n]abok tumul[l]i,
nulya musna rupi macan,
wunten takșaka hageng prapti,

68. Lajeng takșaka hambhuru,
hambhakta pendhu Ki Tinggil,
dén pendhung hula sirahnya.
Musna hula dadi kali,
Radén Wiralodra héran,
ningal[l]i kali geng néki.

69. Nulya mendak (taska)ra wahu
dén lepas[ș]aken tumul[l]i,
hing Radén Wiralodra,
7 (13, 832) //kali musna tan kahékși,
wunten pawéstri yu héndah,
taksih nonoman maran[n]i.



III. SINOM

1. Dateng Radén [pan] Wiralodra,
ngalih hasih melas șasih.
“Duh Radén bagus jandika,
tiyang bagus pinanggih riki,
salebet[t]ing wanadri.
Haduh melas temen hingsun,
pan badé ngilar[r]i napa,
sarta kang sineja n[n]éki?
Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula.

2. Pan kula makșih[h]aken[n]ya,
déréng hanglampah[h]i laki,
Larawan[n]a wasta kul[l]a,
manggah jandi katurut[t]i,
napa sakarsan niréki,
kula sanggup badé tulung,
kasugih[y]an kadigjayan,
hasar kula dipun kawin,
manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula.”

3. Ki Tinggil majeng hing ngarsa,
sarwi humatur halirih,
“Duh bendara dén hénget[t]a,
puniki tengah wanadri.”
Wiralodra ngandika haris,
“Tan gingsir paman wak [k]ingsun,
mangko badé hingsun priksa,
bisșa temen ngomé hiki,
hamit kula badé hamangsul[l]i sabda.

4. “Sampéyan wonten hing wana,
datan pantes tiyang héstri,
hana hing tengahing wana,
ngangken kenya déréng laki,
pan ka[h]ul[l]a datan hasti,
…da krama kula wahu,
sanajan héstri yuhéndah…
hé ora ha(rsa) șeja krami,
langkung gampil tiyang …karma bénjang…

5. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a,
7a (14, 833) su…//pekik,
hangantos hantuk kamulyan,
buru dadi kaki-kaki,
huntu lunga kempo(t) pipi,
kuping tuli gigir bekuk,
hanuwun șamangké kula,
yén șampéyan tan nurut[t]i,
pasti pejah sareng ngakalih jandika.

6. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an,
Radén nyimpang nganan ngéri,
nulya nyandak Larawan[n]a,
dateng Wiralodra mangkin,
kinipat[t]aken tumul[l]i,
kalumah[h]an nulya nubruk,
malempat Ki Wiralodra,
dibujeng sami prang lirih,
ngadu sakti gumreget Nyi Larawana.

7. Wiralodra dén priyatna,
tan ken[n]a sun hé mangkin,
suka matiya wak[k] ingwang,
yén nora dadi sawiji,
candak- cinandak mangkin,
malajeng ming wétan wahu,
Wiralodra dén priyatna,
senjata ranté pan hiki,
tadah hana tyang pekik kaya jandika.

8. Nulya dén pe[n]ta sanjata,
Wiralodra hanadah[h]i,
senjata ranté tumiba,
hananging tan pasrah mangkin,
gébés-gébés haningal[l]i,
…cak pan[n]a wong [ng] abagus,
héran temen Wiralodra,
wong bagus ..tun[n]a …sakti,
manggah Radén sampéyan males hing kula.

9. Nulya Radén Wiralodra,
hangasta cakra tumuli,
Ki Tinggil maran[n]i hénggal,
“Duh Radén kang ngatiyati
kinten bhabar pisan Gusti,
karanten ……,
nulya Dén Wiracabra pinendi,
Nyi Larawan[n]a nadah[h]i,
kénging musna rupi kidang pan kencana.

10. Hanulya Radén tuminghal
8 (15, 834) gumebyar saliran[n]éki,
tan șamar kidang kencan[n]a,
nulya hangandika haris,
“Hing paman kiyahi Tinggil,
paman dén hawas handulu,
hika pan kidang kencan[n]a,
hayuh paman haja kari,
hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang.”

11. Tyang kalih hambhujeng kidang,
dén pegat nganan lan ngéri
cinandak-candak tan ken[n]a,
yén tebih kidang ngentos[ș]i
sampun lepas lampah néki,
ming wétan kidang malayu,
tyang kalih datan katinggal,
hanutut[t]i kidang mangkin,
siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a.

12. Nulya dumugi hing lampah,
karsan[n]é…mara tinggi
kidang kencan[n]a pan hical,
katingal hujur ring kali,
toya deres hingkang mili,
punika kali Cimanuk,
nulya léréh hing ngandapya,
kajeng kiharah geng néki,
nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah.

13. Hing ngimpén kang kapiyarsa
riki kacung hapan kali,
Cimanuk kang dén pilalah,
wis bhagja muraki bénjing,
hing turun-turun siréki,
karsan[n]é Yang Maha Hagung,
mapan holih kamuktiyan,
wis katrima hing Yang Widi,
nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra.

14. Sanget bhungah réhing manah,
hing himpén kang kapiyarsi,
wélan-wélan hasung warta,
Radén Wiralodra mangkin,
ngandika hing paman Tinggil,
“Duh paman bhegja wak[k]ingsun,
pan[n] ingsun șaréh lan dina,
8a (16, 835) supen[n]a pana……//warti,
nyata hiki Cimanuk kali pernahnya.

15. Wis terang wang(si)t Yang Sukma.”
Ki Tinggil humatur lirih,
“Duh bendara yén waten[n]a,
menggah Gusti kersa pundi,
kanggé panggénan pun habdi?”
Radén Wiralodra wahu,
nulya hangilar[r]i pernah,
hangilar[r]i minggir kali,
manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata.

16. Nulya hadamel kang wisma,
Ki Tinggil damel[l]an[n]éki,
hanulya hamasuh raga,
Radén Wiralodra mangkin,
hanggén[n]é babad wanadri,
miwah banténg warak wahu,
mapan bhibar katawur[r]an,
paribawan[n]é panas hatis,
sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya.

17. Mangka Raja Budipakșa,
miwah patih Bujar[r]awi s,
hakumpul șabhalad nira,
miwah para kang prajurit,
sarta sakéng sén[n]apati.
Ki Gedé muwara Cimanuk,
kelangkung sanget duka[n]nya,
sakéng bala bubar mangkin,
kénging Radén Wiralodra babad wana.

18. Nulya kalurug Dén Wira,
kapethuk hing wisman[n]éki.
Bhudi Pakșa hangandika,
“Héh satriya wongasigit,
pasti lancang kumawan[n]i,
hi ra[n]né sapa siréku,
gawé rusak bhala[n]ningwang,
hénggal nyingkir sira hiki!”
Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a.

19. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira,
ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis,
9 (17, 836) kumawani// ngusir hingwang,
dikira haku pan wedi,
braga brigih ngarsa mami,
ngisén[n]i gandarwo bulus,
hingkén[n]é majuwa sira,
mapan hingsun tan ngoncat[t]i.”
Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira.

20. Sakéh[h]é Gedén Muwara,
samya dugi hangrawuh[h]i,
ribut prang[ng]é Radén Wira,
hamasing donga Ki Tinggil,
Sulahémana Srabad mangkin,
jurubiksa kathah lumpuh,
nulya wonten hutus[s]an[n]ya,
sangking Tungjung Bang puniki,
Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat.

21. Dugi hanang Sultan Hemas
“Haja pada dén ganggon[n]i,
hiku Radén Wiralodra,
krana turun Majapahit,
becik dén raksa hahiki,
pada hakuren sadulur,
krana maksih pernah cangga,
Rara Kidul Gusti mami,
nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa.”

22. Sarwi manembah hing ngarsa,
ngasih hasih melas șasih,
“Duh Radén Gusti kawul[l]a,
kasamaran bhala habdi,
muga dén hampura Gusti.”
Ngandika Dén Wira wahu,
“Mangké sinten pan jandika,
katambhet[t]an Gusti habdi,
Werdinata sultan hanang Pulo Mas.”

23. “Duh kasuwun jeng ngandika,
Rayi Sultan bhas[s]a mami,
sukur bagja rayi sultan,
pada kekadang[ng]an mami,
dumugi saturun rayi,
sahanak sadulur,
kakang pan gawé hi…s[s]a,
9a (18, 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi,
samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an.

24. Nulya siyang dalu babad,
Ki Tinggil kang dadi koki,
miwah nanem palawija,
boléd jagung kalih cipir,
palawija warni- warni,
gundem juwawut hagemuh,
datan wonten kakirang[ng]an.
Ki Tinggil humatur haris,
“Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a.

25. Boten wonten kakirang[ng]an,
palawija tan kabukti,
kawentar kebon[n]an[n]ira,
lamun bhagus tanah néki,
kathah tiyang sami prapti,
tumut wisma hanang riku,
hawit tetaneman gemah,
lumintu tiyang kang dugi,
sami gemah kebon[n]an hawarna-warna.

26. Kathah tiyang kang damel wisma,
manca negari kang dugi,
Ki Tinggil kadadi lurah,
tan wonten tiyang kirang nedi,
hingkang lén Cimanuk kali,
sampun hantuk tigang tahun,
lami damel padukuwan.
Radén hangandika haris,
“Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula.

27. Sanget kapéngin pinanggya,
kalih rama hibu mami,
manah paman dén kariya,
teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin,
bok hana tiyang kang yuda,
trimanen kongkon malebhu,
haja dén télaksaman.
Tinggil dén kari basuki,
hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari.

28. Kacariyos hing lampahnya,
pun dugi hing Banyu Hurip,
hanjujug hing padalem[m]an
10 (19, 838) //Bagelén hingkang negari,
rama hibu sami linggih,
sumanding putra tetelu,
kagét hibu miwah rama,
ningal[l]i kang putra prapti,
pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa.

29. “Haduh nyawa putra[n]ningwang,
hora nyan[n]a temen kaki,
siyang dalu pan kating[ng]al,
hibumu pan șamya bintip,
hanangis șiyang lan ratri,
yén hinget hing sira kacung,
marah hanak[k]ingsun nyawa,
lelampah[h]an putra mami,
caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a.”

30. Putra humatur Jeng Rama,
pun katurang lelampahnéki,
rama hibu mirengna,
miwah kadang kadang néki,
sadaya samya han[n]angis,
welas[ș]é hing lampah[h]ipun,
“Duh mas han[n]ak ingsun nyawa,
sangking marman[n]é Yang Widi,
muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira

31. Si Tinggil hingkang hatenggah,
kang dadi lurah hiréki,
sekawan[n]é putra ningwang,
sahiki pan sira kaki,
mengkuwa Bagelén negari,
supaya dadi weruh,
hatur[r]an ngurus nagara,
kambi sadulurmu kaki,
Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya.

32. Miwah si Wangsanagari,
lan Tanu[h]jiwa siréki,
gampang bésuk yan wus dadya,
hing kulon dadi nagari,
samya matur ram[m]a haji,
handérék șakarsan[n]ipun,
dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a,
sadaya cakep ping kardi,
10a (20, 839) kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara.

33. Ki Tinggil hingkang dén tilar,
langkung kathah tiyang prapti,
tumut magén padukuh[w]an,
cacah limang ngatus jalmi,
mapan mukti kiyahi Tinggil,
kadya pangkat[t]ing tumenggung,
Sukubahu Jungjangkrawat,
hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil,
Bayantaka Jayantaka Surantaka.

34. Wanasara Puspahita,
miwah Ki Pulaha kyahi,
cakep hadamel gelar[r]an,
margi hageng lurungnéki,
pinedhak kadya nagari,
tempat panjagian gardu,
saban lurung panjagahan,
tyang halit șeneng kang hati,
saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma.

35. Hanulya wonten tiyang prapta,
hayun[n]é hang luluwih[h]i,
Hindang Darma hingkang nama,
tur maksihken[n]ya pawéstri,
dén hiring pawong[ng]an kalih,
mikul gandum kalih pantun,
tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an,
hanjujug wisma Ki Tinggil,
pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah.

36. Ki Tinggil haris tetanya,
“Hamit palamarta habdi,
hing sémah manembah prapta,
punapa sejan[n]é Nyahi,
lan șinten kang wangi,
hasli sangking pundi hayu?”
Nyi Hindang mangsul[l]i sabda,
“Duh paman tambet hing mami,
Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a.

37. Bade handérék ka[h]ul[l]a,
tumut damel wisma kaki,
11 (21, 840) kula haningal[l]i senang,
badé ngebon kula kyahi,
hutawi kula hanyabin,
muga dén hidin[n]i hulun.”
Ki Tinggil hambales șabda,
“Sumanggah handérék habdi,
dateng pundi sumanggah kapilih karsa.

38. Hakulon hutawi wétan,
sumanggah hayu hamilih,
tan[n]ah hingkang radi jembar,
Nyi Hindang mariyos makin,
hing pernah kang senang milih,
tan[n]a tan[n]i dérék wahu,
sampun medal șangking wisma,
Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i,
nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya.

39. Hayu mulus kang salira,
mandan napa Gusti mami,
kanggé garwan[n]é bendara,
nanging bénjang dara mami,
yén rawuh hanang riki,
temtu haku nulya matur,
mandah bungah[h]é bendara,
ningal[l]i wong hayu luwih,
mapan șampun Hindang Darma damel wisma.

40. Pan gemah kang pakebonan,
hingkang murid-muridnéki,
Hindang Darma mulang jaya,
kedot pan gun[n]a sakti,
sakéh murid pan șami,
ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh,
sakathah[h]é murid[d]ira,
kawentar liyan nagari,
kapiyarsa marang Pangéran Palémbang.

41. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran,
hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i,
ngandika hing murid[d]ira,
pan likur pangéran[n]éki,
“Héh sekabéh murid mami,
hingsun mapan wis hangrungu,
hana wanodya hamulang,
memada… hing jenengi
11a (22, 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang.

42. Sahiki murid șadaya,
pada sira dangdan haglis,
hingsun ngungsi Pulo Jawa,
hanangkep kang pada mami,
hingsun ngrungu t[t]an șudi. “
Sampun numpak hingkang prahu,
nulya hénggal babar layar,
sampun dugi prahun[n]éki,
hing muwara mentas pangéran sedaya.

43. Pangéran pan wicakșan[n]a,
sakedap nétra wus prapti,
hanang wisma Hindang Darma,
kagét Nyi Hindang ningal[l]i,
wunten tiyang kathah prapti,
nulya haris gé nya matur,
“Duh [duh] bagja kula sémahan,
tiyang hagung hang rawuh[h]i,
manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya.”

44. Pangéran gawok tumingal,
cipta sajroning galih,
hiki wanodya yu héndah,
héman temen tingkahnéki,
pangéstri hang lelanang[ng]i.
Nulya Nyi Hindang humatur,
“Duh hamit hing palamarta,
mila hing ngabrama Gusti,
samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a.

45. Sanget kumejot hing manah,
kawit[n]é tyang dusun habdi,
lan badé karsa punapa,
saha sinten kang wawang[ng]i,
hasli sangking pundi Gusti,
kados wonten karya hagung,
samakta rawuh paduka,
sakaprabon hing ngajurit,
kados wonten dén bujeng lampah paduka.”

46. Pangéran mangsul[l]i sabda,
“Héman temen pan șiraki,
12 (23, 842) //wong hayu sira wanodya,
hora ngrungu béja warti,
kang lagi guruhna ngélmi,
hing Palémbang nagrinipun,
tedak Haryadilah Sultan,
Pangéran Guruh ran mami,
dadi guruh sakéhé para pangéran.

47. Mapan hiki murid hingwang,
hingkang ngiring marang mami,
hingsun parlu mrikșa sira,
yén șira guruhna ngélmi,
haja mungkir sira hiki,
memadahing jeneng hingsun,
kawentar saban nagara,
suyud pangéran hing mami,
hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang.

48. Kari kari Hindang Darma,
pakșa lumancang hawan[n]i,
dadi guruh kaya hingwang,
hapa kadiran siréki,
wong hayu tur lencang kuning,
hora nana padan[n]ipun,
kaya hayun[n]é Hindang Darma,
dayang humbaran sira hiki,
hora nganggo tatakramané wanodya.

49. Kaya sakti sakti sira,
kaya gun[n]a hang luwih[h]i,
lancang[ng]é kaliwat-liwat,
tan karuwan negarin[n]éki,
tan[n]ana manus[s]a hiki,
kaya tingkah hira hiku.
Hambales sabda Nyi Hindang,
“Duh héman hing rupi Gusti,
langkung sahé pideksa rupi paduka.

50. Hananging sugal wecan[n]a,
boten wonten bas[s]a lirih,
mungguh pan dakwah Pangéran,
matur héstu kang sayekti,
badé pun[n]apa Gusti,
mapan wisma datan nyambut,
hutawi karéh hing karya,
12a (26, 845) hipe kon paduka Gusti,
badé napa sumanggah dérék pikersa.

51. Hindang Darma datan sérab,
hutawi hajrih ning[ng]al[l]i,
sakayu(n)-kayun[n]ing hadang,
sémah neda dén suguh[h]i,
bedama pucuk[k]ing keris,
hutawi saktining guru,
manggah Gusti kersandika,
sagending habdi lados[s]i,
lamun kawon mapan kula boten wirang.

52. Hénggal hanubruk pangéran
Wisanggen[n]i jenengnéki,
Bramakendali kalihnya,
Bratakusuma kang rayi,
hanulya medal tumul[l]i,
maran[n]i papan Kang Hagung,
kinten jembar yudabrata,
sarwi nguwuh huwuh tanding,
“Duh Pangéran hing riki papan kang jembar.

53. Sampun rucah jeng ngandika,
héman rupi hadi hadi,
prang tanding ngadu gun[n]a,
samya perang silih huki,
kathah Pangéran ngemas[s]i,
Nyi Hindang sakti pinunjul,
sasih hanggén[n]é yuda,
sadaya pangéran ngemas[s]i,
kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a.

54. Ki Tinggil sanget hajrihnya,
Ki Pulaha dén timbal[l]i,
sampun cahos hanang ngarsi,
“Susah kang Pulaha mami,
bendun[n]é bendara mami,
hidin[n]é kon gawé dus[s]un,
kanggé tiyang tani tempat,
kang seneng[ng]an lampah tan[n]i,
kari kari kanggé tempat yudabrata.

55. Sadaya para pangeran,
prang sami hangemas[s]i,
13 (27, 846) //sangking Palémbang nagara,
tak duga pan maksih wargi,
kalih Gusti puniki,
sadaya pan kancan[n]ipun,
kariya tunggu nagara,
sun harep matur hing Gusti,
sampun kantos hantuk duka hing bendara.”

56. Nulya pangkat gegancangan,
lumampah siyang lan wengi,
prawantu Ki Tinggil lampah,
najan pandakawan mangkin,
wicaksan[n]a tur hasakti,
sakedap[p]an sampun rawuh,
lanang Bagelén nagara,
tumunten cahos hing Gusti,
samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa.

57. Tinubruk Ki Pandakawan
sarwi dén rangkul tumul[l]i,
“Duh paman welas ka[h]ul[l]a,
sun tinggal kari rumihin,
toya waspahan dres mijil.
karun[n]a sesambat[t]ipun,
duk dingin sareng sangsara,
Ki Tinggil hangguguk nangis,
sareng hénget sakalih sareng hanembah.

58. Nulya kang rama ngandika,
“Haduh hanak[k]ingsun kaki.”
Sakalih pada menenga.
“Wis jamak[k]é sira kaki,
sun dongak[k]aken Yang Widi,
muktiya wong loro kulup,
si Tinggil turun[n]ira,
muktiya dugi hing bénjing,
mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya.”

59. Haduh mas pawong[ng]an hingwang,
linggihya hasoh rumihin,
legan[n]a hingkang man[n]ah,
sarta matur[r]a hing mami,
saré[h]hing dén tinggal kari,
Tinggil han[n]éng pagusténmu,
hapa holih kasenengi,
13a (30, 849) //kancamu pada basuki,
marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang.

60. Kasinggiyan[n]ipun dara,
hanggén[n]é tinggal nagari,
hantuk marma ning Yang Sukma,
pinaring[ng]an harja Gusti,
dalah kadados[s]an sasti,
gemah rah[h]arja hing dusun,
sarta win[n]angun[n] nagara,
gelar[r]an pangatur habdi,
berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an.

61. Nameng humatur kaul[l]a,
katiwas[s]an habdi Gusti,
kadugén Nyi Hindang Darma,
masih ken[n]ya hayu luwih,
dérék damel wisma Gusti,
Hindang Darma pan pinunjul,
dalah kathah tiyang prapta,
Hindang Darma mulang ngélmi,
kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang.

62. Hang wulang[ng]aken kagunan,
Nyi Hindang memada mangkin,
nulya dén lurug Nyi Hindang,
Pangéran Guruh ngrawuh kyahi,
bantasa kaprabon jurit,
pan badé hanangkep wahu,
Nyi Hindang Darma dinakwa,
dadi guru mulang ngélmi,
sarwi bakta muridné para pangéran.

63. Mapan sami yudabrata,
ngaben sakti hing ngajurit,
kelangkung sakti Nyi Hindang,
pangéran samya ngemas[s]i,
tan kiyat hananding jurit,
kantos lami pan setahun,
mila habdi gegancang[ng]an,
matur huning dateng Gusti,
kados pundi Gusti sakarsa paduka.”

64. Kang Gusti pan Singalodra,
tumenggung Bagelén nagara,
14 (31, 850) //”Héh kulup pan Wiralodra,
hiku héyang ngira kaki,
sing Palémbang guruh ngélmi,
turun Majapahit kulup,
poma kaki dén tangkep[p]a,
Hindang Darma tiyang pawéstri,
nameng kaki kang halus panangkep[p]ira.

65. Gawanen pan kadang[ng]ira,
Si Wangsanagara kaki,
Wangsayuda Tanujaya,
Tanujiwa hingkang rayi,
Hindang Darma luwih sakti,
héyangmu pan sami lampus,
kang putra dérék pikarsa,
nuwun hidin hing ramaji,
hingkang rama hanjurung pandonga pasrah.

66. Sadaya samiya manembah,
hing hibu miwah ramaji,
dipati hamaca donga,
kapasrah[h]aken hing Yang Widi,
Ki Tinggil humatur haris,
“Duh Gusti pepundén hulun,
didongakhaken ka[h]ul[l]a,
habdi suwun berkah Gusti,
hinsahalah, Tinggil sun durung kamulyan.

67. Tan kawuwus hanang marga,
samya prapta wisman[n]éki,
hing parnah Ki Tinggil wisma,
Jungjang Krawat cahos ngarsi,
Bayantaka hana ngarsi,
miwah Ki Pulaha wahu,
Puspahita Wan[n]asara,
sadaya pepek hing ngarsi,
hangandika Radén hanang Ki Pulaha.

68. “Pan paman Kyahi Pulaha,
hiringen lampah Ki Tinggil,
kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang,
kinten kabaktaha kyahi,
lan kanca dika haja kari.”
“Sumanggah dérék pukulun.”
sampun kondur sangking ngarsa,
handumuk wisman[n]iréki,
14a (32, 851) gegancangan gumanti ganti tembang.


IV. KINANTI

1. Sampun prapta kan hing ngutus,
hing wisma Nyi Hindang mangkin.
Nyi Hindang kagét tumingal,
hamaran[n]ika Ki Tinggil,
“Duh bagéya paman dika,
lami datan tan kahéksi.”

2. Ki Tinggil haris humatur,
“Radén Hayu héstu habdi,
lepat boten tur huni[ng]nga,
sahéstu [pa]manah pun habdi,
ningal[li] tiyang yudabrata,
Radén[n]ayu habdi hajrih.

3. Dados singid[d]an pukulun,
kaluntan wangsul pun habdi,
dateng wisma hanang wétan,
sareng wangsul wisma habdi,
bendara tumut ming kula,
miwah kadang raka rayi.

4. Mila habdi dipun hutus,
Radén hayu dipun hatur[r]i,
linggih han[n]ang compok kula,
kedah kéring da hing habdi,
miwah Jungjang Krawat kula,
hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i.

5. Nyi Hindang ngandika harum,
manggah badé dangdos briyin,
Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a,
pin[n]ahés releng asuri,
rémah cemeng handan pandan,
kulit kuning nemu giring.

6. Dedeg kelangkung hayu,
datan han[n]a sakéng héstri,
kadi rupi Hindang Darma.
sekancan[n]é kaki Tinggil,
handérék Nyi Hindang Darma,
kadia putri widadari.

7. Sampun dugi nembah ngayun,
hing raség sadayan[n]éki,
mapan sadaya tumingal,
15 (33, 852) hamite geng[ng]en ningal[l]i,
dateng wahu Hindang Darma,
hayun[n]é hangliliwat[t]i.

8. Radén hénggal wecan[n]a harum,
“Bagéya kang nembé prapti,
manggah katuran haunggah,
kula sémah nembé prapti,
kapéngén hénggal pinanggya.”
Nyi Hindang humatur haris.

9. “Radén mahéwu [ng]kang suwun,
hugi Radén nembé prapti,
rawuh hing dukuh punika,
mapan Gusti kula mangkin,
habdi hingkang dérék numpang,
dateng tapak hasta Gusti.”

10. Mila dén timbal[l]i hulun,
dateng paman Kiyahi Tinggil,
gegancangan lampah kul[l]a,
sangking sanget hajrih habdi,
ngrahos handérék ka[h]ula,
dateng tapak hasta Gusti.

11. Hugi Radén sanget nuwun,
bekti habdi nun katampi,
sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a,
prawantu pawéstri habdi,
kaliyan miskin ka[h]ul[l]a,
handérék tumut basuk[k]i.

12. Wiralodra ngandika harum,
hora dadi hapa Nya[h]i,
pan hingsun hasung paréntah,
hing paman Kyahi Tinggil,
sapakersa gawé wisma,
hingsun préntah hangidin[n]i.

13. Hamung hingsun Nyahi perlu,
tebih sing Bagelén nagri,
miwah kadang kadang kula,
perlu mriksa hing perkawis
krana kuwajib[b]an kula,
muga matur[r]a hing mami.

14. Pan dakwah Pang[ng]éran guru,
sami yudabrata Nyahi,
coba matur[r]an Nyi Hindang
15a (34, 853) //priyén bermulan[n]iréki,
hingsun harsa mireng[ng]en[n]a,
kang dadi kawitan mangkin.”

15. Nyi Hindang nulya humatur,
“Duh Radén humatur habdi,
sumpah hing hayahan Tuwan,
datan wantun hang[ng]langkung[ng]i,
hutawi ngirang[ng]i kul[l]a,
matur héstu kang sayekti,

16. Bermulan[n]ipun pukulun,
saweg linggih wisma habdi,
kagét rawuh[w]é Pangéran,
samurid[d]é sami dugi,
dateng compok pun ka[h]ul[l]a,
lajeng bendu hangliwat[t]i,

17. Pan dakwah Pangéran gugu,
réning habdi sugih jalmi,
ha[k]bujeng damel sawah,
hutawi kebon[n]an habdi,
prawantu héstri kul[l]a,
damel hakal Radén habdi.

18. Mejanggu tan[n]i hulun,
tiyang hingkang hambanton[n]i,
nyabin miwah pakebonan,
dén dakwah memada habdi,
mejang hélmu klayan,
badé hanangkep pun habdi.

19. Seja pin[n]ejahan hulun,
kinepung hing para murid,
sakéh[h]é para pangéran,
pitulung Yang Maha Widi,
hapes yudan[n]é Pangéran,
seja sami ngemas[s]i.”

20. Wiralodra ngandika rum,
“Yén bener haniréki,
Héyang Guruh hingkang salah,
nurut[t]i napsu niréki,
sanajan wong kuwat n[n]ingwang,
hingsun[n]ora hamilon[n]i.

21. Jadi pan karsan[n]ingsun,
tak jaluk sukan[n]é Nyahi,
16 (35, 854) réhna gawa jago hingwang,
tak jajal[l]é karo Nyahi,
totohwan pan jiwa raga,
Nyahi kalah dadi rabi.

22. Yén menang dadi bujangmu,
bogan lanang kalah ngéstri,
hiku pan jaluk wak [k]ingwang,
supaya huni[ng]nga mami,
satingkah polah Nyi Hindang,
hingkang hanyaksan[n]i mami.”

23. Hindang Darma hamlas[s]ayun,
humatur sanget pan hajrih,
“Duh bendara Radén kul[l]a,
hapan sanget hajrih habdi,
nuwun ges[s]ang paduka,
héstu ngapunten pun habdi,

24. Wiralodra haris muwus,
“Hiku Nyahi haja hajrih,
pan sangking hidin[n]ing wang,
seja hingsun han[n]iwal[l]i,
dadi manjing…yang bara,
hadin[n]ingsun kangge galih.

25. Perang tanding rebut hunggul,
Hindang Darma karo rayi,
yén makaten déra k[k]arsa,
kumedah majeng hing jurit,
nameng sanget hanuwun kula,
sampun dados manah Gusti.

26. Hindang Darma nembah ngayun,
hakondur sing ngarsa Gusti,
hanulya Radén hamedal
sekalih dangdos hing jurit,
Tanujiwa Tanujaya,
hangedal[l]i perang tanding.

27. Radén medal nguwuh huwuh,
Tanujaya haran mami,
wong ayu sira Nyi Hindang,
payuh pada ngadu sakti,
lamun kalaha Nyi Hindang,
pasti bakal hingsun kawin.

28. Hapan dadi bojon[n]ingsun,
Nyi Hindang methuk prang lirih,
sili hugi ngadu gun[n]a
16a (36, 855) //Radén sinabet tumul[l]i,
Tanujaya kapisanan,
gumuling ken[n]a hing siti.

29. Ki Tinggil hambakta sampun,
Tanujiwa majeng nuli,
pun hayun- hayun[n]an yuda,
“Haduh Nyahi Hindang golis,
nyata sakti mandragun[n]a,
wong hayu hanarik hati.

30. Haja hinda duh wong[ng]ayu,
péngén ngemb[b]éhé Nyahi.”
Nyi Hindang nulya hanggeblag,
kabur tiba han[n]ang ngarsi,
hing ngarsan[n]é Wiralodra,
mésem haningal[l]i rayi.

31. Pendelik lan socan[n]ipun,
megap-megap napan[n]aki,
sambat hora kuwat kakang,
Hindang Darma luwih (sakti),
kaki pasrah ka[h]ul[l]a,
kénging ngén Nyi Hindang geulis.”

32. Wiralodra ngandika harum,
“Priyén rayi rasan[n]éki,
paju wong yudabrata,
tak ras[s]a sen[n]ang kang hati,
wong nom lok yan mangan,
hasuk[k]a-suka wédang kopi.


33. Ngadirane rama hibu,
sugih banda kaya mangkin,
putra gegedé nagara,
gagah kayan[n]é rayi,
sawitan ngatur pakéyan,
perang kalah hing pawéstri.

34. Lamun kaya hawak [k]ingsun,
wirang kathah kang ningal[l]i,
Tanujaya sabda sugal,
“Cobi kakang kangedal[l]i,
mingkin kula ningalan[n]a,
HindangDarma luwih sakti.

35. Nulya dén hatur[r]i wahu,
17 (37, 856) Radén//Wangsayuda mangkin,
“Manggah sampéyan hakarsa,
je…yudabrata kalih,
Nyahi Hindang Darma kaki.”
Wangsayuda matur haris.

36. “Duh rayi kakang tan sanggup,
Nyi Hindang tandangiréki,
lir sikat[t]an nyamber walang,
rayi kalih pan kajodi
kawirang[ng]an yudabrata,
haja kakang hangawit[t]i.

37. Muga kang susah kelangkung,
mérang marang rama mangkin,
katimbalan[n]én nangkep[p]a,
hanang Nyahi Hindang geulis,
wus san[n]a kala(h) jagonya,
kakang pasrah hingkang rayi. “

38. Kang rayi sami humatur,
“Dédé musuh Hindang Geulis,
mungguh kakang mérang ram[m]a,
sampun wangsul hing nagari,
manggah nganclong saba…ran,
bagjan[n]é ngungsi hing ngukir.”

39. Radén Wiralodra muwus,
sarwi mésem ngandika haris,
“Loh hadat[t]é wong kalah prang,
wirang hisin yén hamulih,
nyambung sabda Wangsayuda
hora gun[n]a hingsun hiki.

40. Gawa jago loro hiku,
kelurug samargi margi,
tak nyana solot tarungnya,
ne …sun haben lan bibit,
kari kari hora gun[n]a,
tarung (kero)yok[k]an mangkin.

41. Nyentak Tanujaya muwus,
miwah Tanujiwa rayi,
“Loh kang Wangsayuda bis[s]a,
mancén[n]i hing rayi kalih,
manggah kaki géh yudaha,
mengkin rayi kang ningal[l]i.

17a (38, 857) 42. //Lamun hunggul yuda wahu,
kalih Hindang Darma mangkin,
kul[l]a kahul géndong kakang,
sing riki duging negari,
Bagelén hing kanjeng ram[m]a,
bagjan[n]é gentén tyang kalih.”

43. Wangsayuda hagemuyu,
halatah- latah hambelik.
“Sekalih rayi wecan[n]a,
kakang tanda hora wan[n]i,
kala thothot wedi pis[s]an.
Nulya hangandika haris

44. Radén Wiralodra wahu,
hing ka[ng]dang- kadang[ng]iréki.
“Wis rayi dén baris[s]an[n]a,
mengko kakang maju[ng] jurit,
yudabrata kalih Hindang,
Nyi Hindang hingsun timbal[l]i.”

45. Nulya hanimbal[l]i wahu,
Nyi Hindang cahos hing ngarsi,
nulya manembah Nyi Hindang,
Wiralodra ngandika haris,
“Duh mas Nyahi Hindang Darma,
dadin[n]é hingsun timbal[l]i.

46. Haja dadi ma(nah) (ya)yi,
jamak[k]é wong mangun jurit,
sapa kalah sapa men[n]a(ng),
nyata hunggul hing ngajurit,
prawantu tanding hing yuda.”
Nyembah Nyahi dén turut[t]i.

47. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun
yén tedan péngén ngrahos[s]i,
man[n]is legin[n]é….”
Nyahi Hindang matur haris,
“Duh bendara Radén kul[l]a
dados pundi polah habdi.

48. Hora Nyahi …u…kma,
mudu bahé dén turut[t]i,
hénggal Nyahi metung …
18 (39, 858) //…Nyi Hindang panembah lirih,
medal hanang yudabrata,
(wi)réh(i) hawelas[s]asih.


V. DURMA

1. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata,
Radén kalih Hindang golis,
sampun hayun[n]ayun[n]an,
hanggén[n]é hang[ng]adu saktya,
prawantu sakalih sakti,
hing mondragun[n]a,
mapan sami hanimbang[ng]i.

2. Nulya sami surung-sinurung hing yuda,
tarik tinarik wani,
Wiralodra ngandika,
dateng Nyahi Hindang Darma,
“Héh tuhu nyata prajurit,
sira Nyi Hindang.”
Hanulya dén candak wan[n]i.

3. Nyi Hindang hical saking hastanira,
hanulya dén bujeng wahu,
malempat Nyahi Hindang,
pan Radén hambujeng hénggal,
Dén turut[t]i Hindang golis,
saparan[n]ira,
hical pan dadi wanadri.

4. Dados taman habening hing toyan[n]ira,
(yuda)brata man[n]iréki,
hical dadi taksaka,
hambhujeng hing Radén Wira,
dén mapan dadi peksi,
peksi garuda,
taksaka hical mangkin.

5. Hindang Darma manjing hing jambu wénya,
mapan Radén dadi peksi,
kuthilang badé dahar,
hing buwah jambu punika,
nulya hical jambu mangkin,
sarwi (sinam)mbat,
“Duh susah hawak mami.

6. Mapan Radén sekti liwat- liwat,
hingsun humpet[t]an pinanggih,
18a (40, 859) //ngendi paran[n]ing wang.”
Nyi Hindang héwed hing manah,
Radén hanang hanutut[t]i,
saparan[n]ira,
nulya prang pinggir hukir.

7. Dadi watu sagunung hanak hagengnya,
campur kalan hukir,
nanging tan samar Dén Wira,
juwet temen Nyahi Hindang,
Nyipta glap sinamber haglis,
Nyi Hindang honcat,
hanggebur hanang wari.

8. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal,
Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin,
...né hing hayun[n]ira,
bareng ngamukti lan hingwang,
dadiya (se)kar ring puri,
kalawan hingwang,
kula tan saged kami.

9. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya,
maksih panjang lampah[h]a (sirek)i
nameng hanuwun nama,
sampun hical nama kula,
ha(ngdad)i manuk puniki,
sareng babadnya,
Radén kaliyan nagri.

10. Lamun sampun dados nagari hing bénjang,
hing kulon Cimanuk kali,
muga dén nama nama,
Darmayu bénjang nagara,
Hindang sing namhing wari,
pan hanang tuknya,
dateng Cimanuk (hing) ukir.”

11. Radén Wira haget[t]un sajroning manah,
leng manah Nyi Hindang golis,
kasmaran ningal[l]in[n]a,
nulya mengngulon hing lampah,
hing Pegadén kang dén hungsi,
kang wa …
nulya ngrangkul pinanggih.

19 (41, 860) 12. “Haduh rayi //nembé pinanggya,
sangking pundi sangkan rayi,
kado(s pundi lelam)pah[h]an,
hanggén[n]é damel nagara,
hing wan[n]a Cimanuk
…repun dadya?”
Kang rayi matur haris.

13. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka.”
Kang raka nulya ngamin[n]i,
“Sukur bagja rinta,
muga lulus[s]a hing bénjang,
dadiya negariya,
…kanggé turun[n]ya,
hanak putun[n]é rayi.

14. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a,
gén[n]é sisiniyan kalih,
nulya matur kang raka,
badé nuwun hidin raka.
Kang raka hangidin[n]i,
hanulya pangkat,
wangsul hanang negari.

15. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan,
kagét hana pri……ni,
surak mangambal[l]ambal,
hawor suwaran[n]ing bedil
pan Radén hamaran[n]i,
dateng baris[s]an,
baris[s]é mangun jurit

16. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan),
pan sineja mriksan[n]i,
kulon Cimanuk wan[n]a,
hana hing gawé negara,
sing wétan haslininéki,
hanulya duging baris.

17. Nulya pethuk kali panarah,
Wiralodra tanya haris,
“Duh nilari ngapa,
pun[n]iki baris[s]an napa,
siyagi samakta jurit


19a (42, 861) 18. …//…ngan,
hangiring Gusti mami,
badé hamriksana,
… hingkang wangun nagara,
lan sinten hingkang wewangi
(wa)n[n]i hambabad,
Gragé wewengkon[n]éki.

19. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang,
kadiparan yén wis manjing,
hageng nagara hing wang,
sapa layak yudabrata,
maksih bakal nya nagari,
tamtu hing rusak,
nulya humatur haris,

20. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara,
sahéstu kula puniki,
Wiralodra pan kula,
kang wantun wangun nagara,
hénjing kula cahos Gusti,
hing Kanjeng Sultan,
sampun da(dya) nagari,

21. Kran[n]a waktu punika,
pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling,
lah kabener[r]an hingwang,
sukur bagja pan pinanggya,
sumanggah cahos hing Gusti,
(Dalem) Kuning[ng]an,
nulya cahos tyang kalih.

22. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an,
nulya hangandika wahu,

…ngagéh da Dipasarah,
cahos hanang harsan[n]ingwang,
(ga)wa (kang) kanca siréki,
pan hiku sap[p]a?”
Nulya humatur haris.

23. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa
(ma)tur Gusti,
hingkang wangun nagara,
puniki hing ….”
20 (43, 862) Hangandika Kumuning.

24. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an
cahos sangking harsa Gusti,
hing Gragé sinuhun holiya,
katimbalan majung yuda,
mapan mentas perang tanding,
lan dalem Kiban,
sangking Galuh prajurit.

25. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan,
kéngkén hamriksa puniki,
kang wantun gawé negara,
hanang wawengkon sultan,
Geragé hing pan[n]egari,
hidin sing sapa.”
Wiralodra hamangsul[l]i.

26. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika,
hawit déréng matur Gusti,
hanang sultan holiya,
upas repat pun hamba,
nameng nuwun hadil habdi,
sakersandika,
dérék tiyang salah habdi.”

27. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal,
“Yén mangkon[n]o réki,
tan katon Gusti sultan,
lamun prajurit téku
sangking Kuning[ng]an,
nagari pan wicaksan[n]a,
hingsun Harya Kumun[n]ing.

28. Wiralodra prawantu putra sing wétan,
turun saking Majapahit.”
Hanulya wecan[n]a,
“Lah wong hapa Kuning[ng]an,
haku jaluk pangaksami,
teka semban[n]a,
ngadir[r]aken prajurit.

29. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda,
hora duwé tatakrami,
wong Sunda pan sembrana,
ngakun[n]é prajurit ku[n]na,
pangrasan[n]é hingsun wedi,
hing rupan[n]ira,
20a (44, 863) Kumuning //sun tan wedi.”

30. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra,
“Lah coba tanding lan mami,
hing rupa kaya sira.”
Dipasarah nyandak kula,
Wiralodra hangingget[t]i,
sinépak hénggal,
Dipasarah gumuling,

31. Masandakom hing siti pan Dipasarah,
Kumuning nrajang wan[n]i,
surung sinurung haprang,
hanggé pun ngadu jaya,
prawantu tiyang ngajurit,
tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti.

32. Harya Kumuning hanggén[n]é
harep pribadya,
sinuhun hora ngidin[n]i,
prang hutawa ngusir
hing tiyang gawé negara,
mugi sukur hanambahi,
gawé jajahan,
Kumuning hanglancang[ng]i.

33. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah,
sin[n]épak kajumpalik
mrangkang ngungsi hing kuda,
si Windu titiyan[n]ira,
hanulya pun titih[h]i,
dén nang[ng]ngen hingwang,
pasti sira ngemas[s]i.

34. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat,
mangsa kuwat siréki,
kran[n]a hakéh luwangnya,
wong Galuh hakéh kang pejah,
si Windu hingkang nyépak[k]i,
payuh majuwa,
nulya cinandak wani.

35. Dateng Radén Wiralodra
pan cinandak,
kendal[l]i dipun cekel[l]i,
datan bis[s]a mobah,
jimat kapal sampun hical,
21 (45, 864) nalika prang Galuh //dingin,
waktu Dalem Kiban,
nyinirat hanang hukir,

36. Mila windu tan kiyat gén yudabrata,
hanggebeg saliran[n]éki,
Dén Wira langkung welas,
Si Windu hangéréng nulya,
dén ngucap Si Windu mangkin,
“Haduh pan Radian,
huculna habdi Gusti,

37. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata,
kaliyan Radén habdi,
Windu dekuh sukunya,
pertanda sujud hing ngarsa,
pan Radén welas ningal[l]i,
nulya dén lepas,
mundur lampah turanggi.

38. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira,
“Héran temen Windu mangkin,
pan sira sering haprang,
hanggempur wong sanegara,
nyap[p]rang hiki pantos siji,
sira kalah haprang.”
Si Windu hambesat haglis.

39. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira,
mapan Windu napsu wan[n]i,
semu radi ngelawan,
hangeprang hapus sinebrak,
tan kiyat harya Kumuning,
han[n]ahan[n]ana,
lir kilat palajengnéki.

40. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira,
kiniwit[t]aken tumuli,
hingkang Gusti Kuning[ng]an,
kantaka datan hémut[t]a,
Kang Gusti gumuling siti,
Windu malempat,
hical sajron[n]ing wanadri.

41. Merkayangan si Windu hana hing wana,
prawantu kuda duk dingin,
turun Budaprawa,
sangking jaran Harba Puspa,
mangka Wiralodra mangkin sa…
21a (46, 865) … //pinanggya,
lan Dipasarah patih.

42. Dipasarah hanulya,
panembah hénggal,
dateng Wiralodra mangkin,
sarwi hamasrahin[n]a,
hing jiwa raga pun hamba.”
Wiralodra ngadika haris,
hing Dipasarah,
wis rayi hénggal balik.

43. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya,
pan sampun hanang nagari.”
Dipasarah manembah,
dateng Kyahi Wiralodra,
kalangkung bingah hing ngati,
kalintang sabar,
nyata tuhu prajurit.

44. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an.
Nulya Radén Wira mangkin,
seja nuntun hing lampah,
hing pundi kang pudi dipun sedya,
hing Garagé pan negari,
hing Gusti sultan,
wus cahos ngarsa Gusti.

45. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan,
nulya dén candak tumuli,
“Duh Wiralodra sira,
kabener[r]an pan pinanggah,
pinuju kumpul[l]ing wali,
bagja pan sira,
kasuwun berkah Gusti.

46. Nuwun duka mahéwuh deduka,
pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi,
pasrah hing ngayahan Tuwan,
sedaya karsa nata,
kaliyan takdir Yang Widi,
hing lancang hamba,
habdi damel nagari.

47. Kanggo turun turun nira Wiralodra,
sarta hasanak put[t]u kaki,
mapan sira turun sultan,
Majapahit turun[n]ira,
sangking Brawijaya wing[ng]in,
turun[n]an[n]ira,
22 (47, 866) wang //hingkang gumanti

VI. DANGDANGGUL[L]A
1. Wiralodran matur ring Gusti,
“Hanuwun berkah hing para holiya,
badé wangsul Gusti mangké,
sedaya hidin sampun.”
Wiralodra kondurning ngarsi,
gegancangan hing lampahnya,
dugi hing Cimanuk,
mapan samya pinanggya,
kadang kadang hingkang dipun tinggal kari,
ngrangkul kadang sadaya.

2. “Duh kakang langkung sanget kuwatir,
kadang sadaya hingkang katinggal,
tan manggih béja wartos,
Hindang Darma pinunjul,
kados pundi raka samangkin,
werni na… pun nyi Hindang Darma,
katangkep[p]é wahu?”
Kang raka haris ngandika,
“Haduh rayi Hindang Darma musnang kali,
lumuh nglakon[n]i krama.

3. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi,
nameng Hindang weling hing suwara,
yén dadi negari mangké,
winastanan Darmayu,
nanging rayi hingsun turut[t]i,
kran[n]a Nyahi Hindang Darma,
héstu tiyang punjul,
datan kotor yudabrata,
Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih,
tuhu wong wicaksan[n]a.

4. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi,
sanajan hingkang ngawit[t]i kakang,
hingkang gawé negaran[n]é,
Hindang Darma pan tumut,
hangelar gawé nagari,
dadi campur wanita,
hadat wong Dermayu,
bénjang han[n]ak putu kaki,
yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing,
keris hatawa pedang.

5. Bénjing negari Darmayu ri,
22a (48, 867) //dadi pangungsén segala bangsa,
tan[n]ah sabrang dugi mangké,
sing wétan kulon rawuh,
mapan pribawan[n]ing pawéstri,
samya ber[r]umah tangga,
han[n]a hing Darmayu,
luwih raméh pan negara,
nameng susah bénjang hanak putu mami,
hakéh pan kasengsara.

6. Namung kakang sadaya pun rayi,
kula turri kadang sedayanya,
karsa ngatur gelar[r]an[n]é,
mugiya sami wangun,
wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi,
tempat[t]é tiyang ngatur karya,
miwah tarub hagung,
kanggé ngistrnén[n]i negara,
tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi,
hanjeneng hing nagara.

7. Kadang kadang sedayan[n]iréki,
humatur manggah karsa kakang,
hamit rai medal mangké,
kakang ngidin[n]i wahu,
pan sekalih medal hing jawi,
han[n]epang hing hupacara,
kaki Tinggil wahu,
Kyahi Pulaha Bayantaka,
Surantaka miwah Wanasara mantri,
hanjér pepek hing ngarsa.

8. Sampun bedama sadayan[n]éki,
badé hawangun liyan negara,
cakep siyagi sakabéh,
wangunan tarub hagung,
pan kanggé tempat kajat bénjing
kumpul[l]a hing kawul[l]a,
pan hantuk saminggu,
jaler héstri kumpulna,
patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi,
hantuk[k]é hing kawul[l]a.

9. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing,
miwah tetembangan suka suka,
haganti sami ngibing[ng]é,
Ki Tinggil ngibing wahu,
23 (49, 868) mé// gat- mégot weteng belenjing,
kinepok[k]an hing kancanya,
cangkem[m]é mecucu,
tyang gumujeng latah latah,
kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi,
surak kadya hampuh[w]an.

10. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil,
pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al,
gumuruh tyang suwaran[n]é,
hageng halit pan kumpul,
mulya medal hajat[t]iréki,
sadaya kumpul[l]ing kajat,
nulya ngandika rum,
mapan Radén Wiralodra,
“Héh sanak kula sadaya kang hing riki,
muga dén sakesn[n]an.

11. Hanggén[n]é sami wangun nagari,
pan sampun langados[s]an
nagara klayan kersan[n]é Yang Manon,
negari dadi sampun,
sarta sira pada naksén[n]i,
pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an,
negari Darmayu.”
Humatur sadaya tiyang,
“Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari,
kawul[l]a suka sadaya.”

12. Para sepuh sami hangamin[n]i,
sarta maca donga kaslamet[t]an,
gumuruh hamin wong hakéh,
pun maca donga rampung,
nulya Radén ngandika haris,
“Duh sanak kula sadaya,
sami linggih wahu,
manggah kula hatur[r]i neda,
pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki,
raméh hanggén dahar[r]an.

13. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti,
mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a,
“Duh sanak kula sekabéh,
sedaya kula suwun,
saban sasih kados puniki,
hurun[n]an sanak sedaya,
23a (50, 869) kula handon//blenduk,
sarwi ngibing dedeng[ng]éngan,
tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i,
tunjang hambakta berekat.
14. Sarwi bibar sedayan[n]iréki,
kadang-kadang samiya dahar[r]an,
Ki Tinggil tukang méjan[n]é,
daharan suka sampun,
gamelan[n]é calempung sul[l]ing,
rebab tiyang[ng]é hanembang,
senggak muluk-muluk,
kang dahar suka hing manah,
suwaran[n]é celempung suling rangin,
cinampur kalih tembang.

15. Para rayi pan sampun halami,
nulya matur kados pundi raka,
sarén[n]ingpun lami mangké,
rama pan ngayun[n]an,
dateng habdi sadaya rayi,
“Yén hidin paduka raka,
rayi bade kondur.”
Kang raka haris ngandika,
sarwi ngrangkul
“Kang rayi sedayan[n]éki,
kaya hap[p]olah hingwang.

16. Mapan katinggal hing rayi-rayi,
nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a,
datang rama hibu mangké,
hapa sangking kadulu,
rayi sedaya kang han[n]ang riki,
gelar[r]é Dalem nagara,
hageng halit[t]ipun,
sampun lepat dén haturan,
mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki,
maksih dangdan nagara.

17. Sareng hénjing rayi pangkat nuli,
wangsul han[n]ang Bagelén nagara,
kang raka hangater[r]ake(n),
dumugi hing wates[s]ipun,
24 (51, 870) nulya//sami salaman rayi,
sarta kang Wangsanagara,
mapan hipé wahu,
“Duh rayi muga lulus[s]a,
pikantuk kanugraha hing Yang Widi,
sinalin demang madurma.

VII. DURMA

1. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara,
wunten musuh nekan[n]i,
hangrebat nagara,
krana bakal mulyan[n]ira,
dumugi hing hakir mangkin,
hanak putunya,
turun pitu bopatih.

2. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan,
hing ngiring sakancan[n]éki,
jeneng niki nagara,
Watuhaji hingkang raka,
pun dugi Dalem miréki,
Dén Wiralodra,
nulya dén priksa mangkin.
3. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a,
boten nganggé tata krami,
duméh nagara bakal,
hanang satengah hing wana,
mapan dadi jig jawin[n]é,
hanunggangtaya.”
Watuhaji hambales[s]i.

4. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a,
saparan paran mami,
dadin[n]é hingsun tumekang,
pan hanang nagaran[n]ira,
hiki pan bakal nagari,
bade sun teda,
tan suka hingsun jurit.”

5. Wiralodra hantik panduka lir brama,
h[h]anulya ming[ng]éh hangeri,
ngadeg kiyahi pulaha,
miwah sakanca sadaya,
dén candak binaktang Jawi,
gégér hurahan,
24a (54, 873) raméh gén mangun jurit.

6. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang,
baksan[n]é hanglétér wani,
yén sinabet bedama,
malempat kadi kilat,
pan mégot ngigel maran[n]i,
raméh hanang ngaprang,
musuh kathah kajodi.
7. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a,
baksan[n]é halus hamanis,
duhung sinondénganana,
pedang hing ngagem dén hasta,
mapan cakep hing ngajurit,
maju jatmika,
héran tiyang kang ningal[l]i.
8. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha,
balan[n]é Watuhaji.
Héran Nitinegara,
wong tengah hana hing wana,
ko pada bis[s]a hing jurit,
lir tiyang nagara,
tak kira tan bis[s]a jurit.
9. Nulya medal Nitinagara hing yuda,
sarwi hanguwuh tanding,
“Héh Wiralodra sira,
haja suwé ngadu bal[l]a,
pan hayuh maju wang jurit,
hayuh mapag[g]a!”
Radén Wira hangedal[l]i.

10. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda,
“Héh Wiralodra mangkin,
hayuh hénggal gitik[k]a,
keris hatawa pedang,
hayuh hingsun tadah[h]i!”
Ngandika Wira,
“Hora watek handingin[n]i.

11. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!”
Hénggal Nitinegari,
hang[ng]asta wangking[ng]an,
han[n]yuduk[k]i Wiralodra.
Nitinegara binanting,
gumuling kisma,
25 (55, 874) dén talén[n]i hing Ki Tinggil.

12. Pan binakta binekta hanangkon Wira,
nulya majeng rana malih.
Sesumbar Radén Wira,
pan hanang tengah hing ran[n]a,
“Héh prajurit Watuhaji,
maju wang ran[n]a,
tanding[ng]en jeneng mami.

13. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah,
yén tuhu sira prajurit,
kang janglar han[n]ang ran[n]a,
haja gugup gitik hira,
pan tuhu sira prajurit,
hayun[n]ayun[n]an,
hudreg hasili(h) huki.”

14. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an,
pan Radén hanang ngajurit,
nemu tending hing yuda,
Watuhaji lan dén Wira,
sinurung-surung hing jurit,
pan Wiralodra,
medal tiwikraman[n]éki.

15. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya,
Watuhaji ngoncat[t]i,
pan malajeng sing ran[n]a,
ming[ng]idul palajeng[ng]ira,
hingsun dikang dén hungsi,
mapan mertapa,
dadi pandita mangkin.

16. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya,
Ki Gedéng Dépok mangkin,
Cisambeng hingkang pernah,
caritan[n]ipun kanda,
pan salin naman[n]iréki,
Ki Gedéng Sambeng nama,
hing bénjang pan turun néki.

17. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara,
susah pan tiyang halit,
jinarah kebo sapin[n]ya,
beras pari lan harta,
kathah tiyang dén patén[n]i,
bubar sasar[r]an,
medal sangking Bantarjati.
25a (56, 875) 18. Mapus//…it[t]a,
Drayantaka Wan[n]asara,
ngamuk hana hing jurit,
nulya dén Wiralodra,
hangamuk bala kathah,
balan[n]é tumenggung mangkin,
nungkul sedaya,
kapasrah[h]aken Ki Tinggil.

18. Mila raméh nagari tambah hing tiyang
sahatus[s]an balan[n]iréki,
sami berumah tangga,
pan senang sadaya,
langkung raméh pan nagari,
tiyang kang teka,
pan damel wisma mangkin.

19. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah,
Wiralodra jenengnéki.
Kyahi dalem jenengnya,
pan ngangkat demang ranggah,
Ki Tumenggung miwah patih,
pepek sedaya,
ponggawa para mantri.

20. Watuhaji kaliyan Nitinagara,
hingkang wade tanah mangkin,
hanang bangsa Blanda,
tan[n]ah Bogor lan Krawang,
bala hambral kathah mangkin,
pun ngadeg jéndral,
miwah kathah soldatnéki.

21. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika,
hambakta harta mangkin,
pinten sinten gotong[ng]an,
harta mahéwu yutan,
Radén Wiralodra sugih,
ngateran harta,
hanang tumenggung kalih.

22. Hamiruda bade kapotong jangganya
miruda lolos wengi,
sangking keraton[n]ya,
26 (57, 876) damel salah hing la//mpah,
pan badé hambedah mangkin,
Darmayun[n]ika,
hiku pan hora becik.

23. Gemah harja darmayu dadi nagara,
sen[n]ang pan tiyang halit,
kawentar saban negara,
giris haningal[l]in[n]a,
saktin[n]é hang liliwat[t]i,
pan Wiralodra,
mapan macan nagari.

24. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram,
mila monca negari jri
sedaya kathah tiyang,
san[n]és sangking nagara,
bakta bandakayan[n]éki,
Dramayu hika,
ginanti dangdang malih.


VIII. DANGDANGGUL[L]A

1. Mapan Nitinagara hanangis,
han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira,
yén bade kakirim make,
hing Metaram sinuhun,
hatur[r]ipun melas sasih,
misti Gusti kahul[l]a,
potong jangga hulun,
“Habdi Gusti nuhun ges[s]ang.”,
Wiralodra sanget telas haningal[l]i,
Watuhaji kang dos[s]a.

2. Pan sinangonan Nitinegari,
kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga,
kén mertapa ngilangké,
dos[s]a hingkang luwih hagung,
nulya kés[s]a Nitinegari,
pun lepas lampah[h]ira,
bénjang lenggah hing pun,
hing luwih sahéng punika,
mila bénjang turun[n]é Nitinegari,
tumut dérék hing brandal.

3. Kacarita Kyahi Dalemnéki,
pun lami hanggén mukti negara,
dados Dalem Dramayun[n]é,
mangka sampun sesunu,
26a (58, 877) pan sekawan kathah hire//ki,
pambajeng[ng]é Sutamerta,
Wirapati wahu,
Pan Nyayu Hinten histrinya,
wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin,
kang rama sampun séda.

4. Hingkang gumanti dalem néki,
hingkang putra Radén Wirapatya,
gumanti wahu lungguwé,
dalem han[n]ang Darmayu,
mapan Wiralodra kapi(ng) kalih,
tinggal sen[n]ang karajahan,
dalem hing Darmayu,
garwanya wahu sekawan,
mijil putra tigalas kathah hiréki,
héstri pan miwa(h) priya.

5. Mapan Radén Wirapati,
kagungan sadérék[k]an sang nata,
hing Pulo Mas negarin[n]é,
Werdinata sang prabu,
pan sanget hanggén[n]ipun halih,
kadya hingkang sudara,
silih genti rawuh.
Lami-lami gadah manah,
Werdinata dateng rayi hinten mangkin,
blaka matur hing raka.

6. Kang raka sanget jumurungnéki,
nameng sampun kabakta harinta,
hing nagari rayi mangké
nameng satunggil wahu,
sadérék kahul[l]a kang héstri,
Kang Rayi Werdinata,
dérék karsa wahu,
pan sampun dahup punika,
Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin,
sang[ng]et hanggén sesiniyan.

7. Sareng lami-lami hingkang rayi,
Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an,
tigalas sasih lamin[n]é,
mangka pun babar wahu,
medal kakung pekik hing rupi,
sanget bingah sang nata
27 (59, 878) //han[n]ang putranipun,
lin[n]ingling lingling kang putra,
pan sinareng kakang Dén Wirapati,
kang putra pin[n]aring[ng]an.

8. Hingkang peparab pirempag mangkin,
Bagus Radén Wringin Hanom nama,
gumilang gilang cahyan[n]é,
kuning cahya humancur.
sanget hasih harama kalih,
pan dateng hing kang putra,
humur tigang tahun,
pan kabakta dateng rama,
Werdinata Pulo Mas néki,
pan sampun wicaksan[n]a.

9. Danulya Dén Wirapati mangkin,
dén pinangsraya Dalem Sumedang,
badé nuwun bantu mangké,
sarén[n]ing dipun lurug,
mapan Dalem Cihamis negari,
miwah dalem hing Kuning[ng]an,
balan[n]é lelembut,
sangking honom durubiksa,
tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit,
tan kiyat yudabrata.

10. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin,
dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas,
mapan Radén Wringin Hanom,
kang putra sampun rawuh,
cahos hing ngarsa ramaji,
kang rama hangandika,
bagéya nak[k]ingsun,
humatur kasuwun rama,
muga ram[m]a bekti putra dipun tampi,
sah[h]a wonten dawuh napa.

11. Nulya ram[m]a ngandika haris,
“Héh mas wong bagus nak [k]ingwang,
gancang taktimbal[l]i mangko,
rama tampi srat wahu,
sangking Dalem Sumedang Gusti,
27a (60, 894) dén //pinangsraya rama,
pan litempung mu[ng]suh,
Cihamis miwah Kuning[ng]an,
sarta gawa bala juru biksa kaki,
sing honom durubiksa.

12. Hingsun pasrah musuh para demit,
pan rama hingkang nandang jurit,
Kuning[ng]an Cihamis mangké.”
Sumanggah putra matur,
sampun kuwatos ramaji,
putra hingkang nanggel[l]a,
musuh bala lelembut.
Nulya ram[m]a hangandika,
“Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki,
kang putra dérék kersa.

13. Tyang Sumedang kathah kang ngili,
mapan bibar kénging jurubiksa,
gumarenggeng pan suwaran[n]é,
tiyang ngétan kadulu,
mila sanget hajrih hiréki,
rawuh Dalem Wiralodra,
cahos hanang ngayun,
hing ngarsa Dalem Sumedang,
sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis,
“Duh putra banton[n]an.

14. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis,
mapan balan[n]ipun durubiksa,
datan katingal wujud[d]é,
mung suwara gumuruh,
kadya tiyang baris hing jurit,
sumanggah putra hing karsa,
katur nagri hulun,
nulya RadénWiralodra,
sanget welas karun[n]é dalem mangkin,
sampun kuwatos ram[m]a.

15. Sareng hénjing medal hing ngajurit,
Hingkang putra ngusir jurubiksa,
mapan Radén Wringin Hanom,
lan Dongkara Tumenggung,
hemban[n]ipun hingkang putra mangkin,
28 (61, 895) raméh //tempuh hing yuda,
bala honom satru,
niba tang[ng]i palajengnya,
hasasaran tinggal kancanya lan Gusti,
burbar bala hing Kuning[ng]an.

16. Hanulya tiyang Sumedang mangkin,
sareng ngrahos mulya sadayanya,
prajurit medal sekabéh,
hang rangseg perang pupuh,
samya ngusir tiyang Ciyamis,
kathah prajurit kang pejah,
tyang Cihamis wahu,
pangamulya tyang Sumedang,
Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis,
samya hamapag yuda.

17. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing,
wahu Radén Dalem Wiralodra,
kin[n]arubut hing yudan[n]é,
mapan sanget bungah[h]ipun,
Dalem Darmayu mapan sakti,
nulya Dalem Wiralodra,
tiwikrama wahu,
hantawis sagunung hanak,
méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki,
mlajeng lir kadya kilat.

18. Bubar wadya bala sing Ciyamis,
dén bujeng hing Dalem Wiralodra,
soca lir kembar srang[ng]éngé,
siyung thathit dinulu,
rémah ngrimbyak kéngsér hing siti,
suwaranya kadya gelap,
gégér tiyang melayu,
pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a,
rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis,
dugi hing pawates[s]an.

19. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit,
nulya pethuk kaliyan kang rama,
kalih Jongka réncang[ng]é,
“Loh kabener[r]an kulup,
kaya priyén musuhmu kaki?”
Putra matur hing ram[m]a,
28a (62, 896) berkah …//lumayu,
huga musuh[h]é kang rama,
wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari,
Ciyamis lan Kuning[ng]an.

20. Nulya kang putra haris,
“Men[n]awi wunten hidin jeng rama,
putra bade wangsul mangké,
kalih Paman Tumenggung,
hawit kuwatos hing nagari,
tan prayoga kang jaga.”
Rama hidin sampun,
nulya manembah kang putra,
kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih,
mlesat han[n]ang gegan[n]a.

21. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti,
bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an,
mapan sampun bubar mangké,
hénggal[l] (k)ang rama hamethuk,
sarta bakta putrané héstri,
niti joli lan jempan[n]a,
mangka sampun pethuk,
“Duh putra sareng nganumpak,
kahul[l]I pun rama hibu putra mami,
tyang kalih sareng numpak.

22. Punika putra ram[m]a pribadi,
kanggé jru sapu miwah jru dang,
han[n]ak hukir langkung hawon.
Kang putra matur nuwun,
numpak han[n]ang jempan[n]a haglis,
samargi dados tingal[l]an,
sedeng hayun[n]ipun,
sareng dugi cin[n]awis[s]an,
dipun papag gamel[l]an miwah prajurit,
peng[ng]ulu pun siyaga.

23. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin,
para héstri miwah hibun[n]ira,
hambakta bokor hemas[s],
hisi harta hemas wahu,
cinampur kalih kimtal[l]i,
tinawurna wahu harta.
Raméh tiyang hamburu,
samya rebut[t]an harta,
29 (63, 897) sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni,
lir rengat hing pratal[l]a.

24. Sedayan[n]ipun para prajurit,
miwah san[n]apati hing ngalaga,
sarta kawul[l]a sekabéh,
pan samya hormat wahu,
sangking sanget bungah hiréki,
handhér kawul[l]a hing ngarsa,
Dalem ngandika harum,
hing para kawul[l]a bala.
“Saksén[n]an,
sangking pangandika mami,
langkung sangking sanget katrima.

25. Marang putra Wiralodra mangkin,
lenggah Dalem Darmayu nagara,
bawah[h]an[n]ipun sekabéh,
pasisir Kandang[ng]ahur
sun pasrahaken hanang putra mami,
dadi sawiji nagara,
karo hing Darmayu,
hingsun mapan hora gadah,
sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit,
nyaksén[n]i pan sedaya.”

26. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih,
mundun sangking palinggiyan[n]ira,
“Sarwi hatampi sih[h]é,
héh sanak kadang hulun,
hingkang sareng linggih hing riki,
sangking sih paduka ram[m]a,
mahéwu héwu kasuwun,
kanugrahan sih hing ram[m]a,
Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi.”
Nulya sami sesalam[m]an.

27. Lajeng sadaya[n]ning para mantri,
miwah para ponggawa ngalaga,
suka bungah sedayan[n]é,
samya dahar[r]an wahu,
raméh raméh gé nya bukti,
kantos hantuk pitung din[n]a,
nulya samiya kondur,
handérék[k]aken sedaya,
dateng Dalem Wiralodra,
kondur néki,
dugi hing pawates[s]an.

29a (64, 898) 28. Kang lajeng Lodramayu negari
para kadang-kadang miwah ranggah,
nulya pinethuk rawuh[w]é,
kang garwa putran[n]ipun,
sanget bungah rama prapti,
hantuk kanugraha[n]ning yang,
rah[h]erja hing laku,
sarta pin[n]aring[ng]an garwa,
kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah,
langkung hasih hing garwa.

29. Garwa Sumedang tan kari-kari,
mapan kinanti kanti tan gingga,
sanget hasih hing garwan[n]é,
hing wingking mara maru,
gandék putra sedayéki,
sanget bungah[h]é hing manah,
sedaya pan runtut,
para maru miwah putra,
sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari.
namin[n]ipun kang putra.

30. Kang pambajeng mapan Radén Kowi,
Radén Timur miwah Sawerdinya,
Wirantaka sekawan[n]yané,
Wiratmaja pan wahu,
mapan gangsal kakung [ng]iréki,
hanulya putra héstrinya,
Hastrasuta wahu,
sekalih Raksadiwangsa,
Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki,
Hadiwangsa Nayastra.

31. Puspa Tarun[n]a Patranayéki,
sampun jejeg putra tigalasnya,
sedaya dadi pangkat[t]é,
samya mukti sampun,
para putra sadayan[n]éki,
nulya wapat dalem ram[m]a,
pan ginanti wahu,
Radén Sawerdi putranya,
hingkang sampun gumanti lungguh ramekin,
jumeneng dalem pangkat.

32. Hapan sampun hapeputra mangkin,
sekawan ling putra kathahnya,
30 (65, 899) pambajeng Benggala //Radén
Benggali rayin[n]ipun,
Singawijaya putra héstri,
miwah Nyi Raksawinata,
pan sekawan[n]ipun,
nanging Benggali Benggal[l]a,
putra kakung hingkang sekalih hiréki,
mapan sampun gegarwa.

33. Lajeng rama duging ngajal malih,
hingkang gumanti rebat pangkat,
kang rayi sanget kapéngén,
dadiya dalem lungguh,
Benggal[l]i jeneng niréki,
Singalodra kang pan gagah,
wicaksan[n]a punjul,
kang raka Radén Benggal[l]a,
kaliyan Wiralodra kajenengnéki,
pan handérék pangkersa.

34. Nanging rempaggé para ponggawi,
miwah para pambes[s]ar nagara,
kang ganti kedah rakan[n]é,
nang[ng]ing kang rayi wahu,
lamun kakang hingkang gumanti,
dalem lungguhipun rama,
pasti hingsun ngamuk,
bagjan[n]én tumekang ngajal,
lamun hingsun tan dadi dalem puniki,
gumanti lungguh ram[m]a.

35. Kelangkung sesah para ponggawi,
limang sasih tan[n]ana dalemnya,
nulya wonten hutus[s]an[n]é,
sangking Betawi wahu,
kang dén hutus tuwan[n]iréki,
Pandebos jeneng[ng]an[n]ya,
pangkat kumendur,
hambakta satambur soldat,
hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi,
kang raka kang gumantya.

36. Nanging tigang nahun lamin[n]éki,
dadi dalem pangkat gumantiya,
kang rama wahu lungguh[w]é,
nulya kang rayi matur,
30a (66, 900) Radén Singalodra kan[n]éki,
yén mangkon[n]o nurut hingwang,
raka dérék sampun,
nanging Radén Singalodra,
mapan tumut handérék hing lahut mangkin,
dateng kumendur tuwan.

37. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin,
lamun mentas hanang Batawiya,
ka Bantarhanak bojon[n]é,
kang raka hing Dramayu,
jeneng dadi dalem puniki,
nanging tan hénak hing manah,
hing[ng]et rayin[n]ipun,
siyang dalu ngahos Kurhan,
hanulya dumugi hing watesnéki,
tigang tahun lamin[n]ira.

38. Nulya para mantri dén timbal[l]i,
mapan sampun kesah hander hing ngarsa,
nulya haris pangandikan[n]é,
sanak ponggawan[n]ingsun,
dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i,
sekabéh[h]a hing ponggawa,
mapan pasrah hingsun,
prakara hiki nagara,
kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin,
karun[n]a para ponggawa.

39. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti,
hanulya Mas Patih Hasrasutanaya,
hanyambung[ng]i sabda mangké,
miwah Trun[n]ajaya tumenggung,
yén tan hingething kadang Gusti,
sadaya sangggup hing pejah,
bala hing sang[ng]ulun.
Dalem haris ngandika,
“Sanak mami sadaya nurut hing pasti,
karsan[n]é Yang Maha Mulya.”

40. Nulya sami kondur sedayéki,
pan sami ngambung sukunya,
hanuwun pangaksaman[n]é,
Dalem Wiralodra wahu,
kagung[ng]an putra kathah ing réki,
31 (67, 901) //wolung nunggal hingkang putra
pambajeng Dén Lahut,
Gandur lan Purwadin[n]ata,
Kartawijayastra gangsalnéki,
Gembruk kalih Toyib,

41. Nyahi Moka wuragil néki,
putra saweg rumébed hing dahar,
hasanget sakit manah[h]é,
pan ngahos siyang dalu,
hanuwun hing Yang Maha Suci,
mugiya kandel himan[n]ya,
pitulung Yang Hagung,
kang putra Kartawijaya,
hingkang sanget datan,
hénak hing panggalih,
ngirangi saréh lan dahar.

42. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin,
hing setan[n]a buyut héyang-héyang,
jam papat wangsul wisman[n]é,
karsan[n]é Yang Maha Hagung,
Kang Rama dén timbal[l]i Gusti,
hing Sultan Cirebon Pangéran,
mapan sampun matur,
cahos han[n]ang kasultan[n]an,
hanang Gusti Panembahan Sunan Haji,
nulya Sunan ngandika.

43. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i,
Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang,
hingsun hangrungu wartos[s]a,
paman léréh hing lungguh,
kadalem[m]an hapa sayekti.”
Humatur pan Wiralodra,
“Sahéstu sinuhun,
kersan[n]é Yang Maha Mulya,
kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti,
Singalodra kanama.”

44. Sultan sanget welas haningal[l]i,
dateng paman Dalem Wiralodra,
kalintang sabar manah[h]é,
hanulya ngandika rum,
sultan hing Wiralodra mangkin.
“Paman sahiki jandika,
31a (68, 902) tulungen hingsun,
supaya hing kasultanan,
hangwejanga hing para putra kon ngaji,
kitab kaliyan kurhan.

45. Tajug balong hingsun siyagi,
miwah wisma kasagiyan paman,
hapan wis siyagi kabéh.”
Nulya Kyahi Dalem matur,
“Sumanggah dérék karsa Gusti,
pejah gesang pun hamba,
pasrah hing sinuhun,
nameng nuwun pun hamba,
gadah hanak Kartawijaya puniki,
semutan héca hing manah.

46. Datan saréh miwah datan bukti
prawantunya tiyang maksih tarun[n]a,
man[n]awi manahé wongan,
kaliyan paman[n]ipun,
mila nuwun pitulung Gusti,
hapan[n] hamba pasrah sadaya.”
Ngandika sinuhun,
“Perkara hiku paman,
hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki,
nami Kartawijaya.”

47. Kartawijaya dipun timbal[l]i,
sampun cahos hing Gusti ngarsanya,
handekuh koncem mukan[n]é.
Hing ngarsa sinuhun,
nulya sinuhun ngandika haris,
hanang Kartawijayanya.
“Hé Karta siréku,
sahiki pan hawak[k]ira,
sun hangkat dadi mantri wecalang kaki,
panggon[n]an hanang Panjun[n]an.”

48. Kartawijaya matur hing Gusti,
“Sumanggah habdi doraka hing karsa,
punapa Gusti karsan[n]é.”
Sultan ngandika harum,
“Hiya hingsun hidin[n]i kaki,
pernah hing Pancagahan,
gawanen surat hingsun
32 (69, 903) //kanggo raka hing Panjunan.”
Kartawijaya sampun tampi srat Gusti,
nulya kondur sangking ngarsa.

49. Sampun lepas lampah hiréng margi,
mangka katur hing Gusti Panjun[n]an.
Tinampi wahu serat[t]é,
lajeng winahos sampun.
hanulya hangandika haris,
“Hanang hing Kartawijaya,
sukur pan siréki,
bareng ngapan karo hingwang,
Panjagahan hing Panjunan sira kaki,
kating[ng]al cakep hing karya.”

50. Langkung hasih Pangéran ningali,
hanang Radén Kartawijaya hiking,
nulya kadahup[p]ena mangké,
kaliyan wayahipun,
Ratu Mas Hatma hingkang nami,
jumeneng hana hing Panjunan,
wisman[n]ipun wahu,
manggén wonten hing kajaksan,
lamun jagi hing wates Darmayu nagri,
prajurit kawan das[s]a,
51. Mangka wonten malih kang winarni,
mapan kiyahi Dalem Singalodraka,
lagi pésta raméh raméh,
gamelan mapan gumpul,
raméh- raméh siyang lan wengi,
mantri patih lan dalem,
samya sukang sampun.
Ki Dalem nulya ngandika,
“Hanang para ponggawan[n]ira hiki,
kabéh ponggawan[n]ingwang,

52. Duk dalem mékang hanang riki,
hora pantes dadi dalem kaki,
wong santri cilik hatin[n]é,
wedi dos[s]a hagung,
maturut préntah hing nabi,
sepi kang negara,
hadat santri hiku,
32a (70, 904) sanajan sadulur //tuwa, 32a
pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki,
hinget[t]é hing ngakérat,

53. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin,
lamun hora suka- sukangnya,
hangsar suci pan hatin[n]é.”
Surak mapan gumuruh,
tiyang halit suka n[n]ingal[l]i,
satingkah polah Gustinya,
gagah tur habagus,
lagi sedeng ngatur karya,
lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti,
sodéré cindé kembang.

54. Para mantri sami hangepok[k]i,
nayaga mapan raméh senggak,
yén kirang senggak[k]é mangké,
hanjejeképak wahu,
nayaga dén siram lan wari,
saholah nyahambek pura,
sodér kinipaletu nulya,
sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki,
dedeg sedeng hapideksa.

55. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami,
wahu Dalem Singalodraka,
hanjenengi dalem mangké,
lami pan tigang nahun,
nulya wapat dugi hing jangji,
hingkang gumanti putranya,
pan Radén Semangun,
langkung rusuh rerampoggan,
tiyang halit kalangkung susah hiréki,
kathah tiyang pin[n]atén[n]an.

56. Hingkang sugih banda kayan[n]éki,
rinampog déning para durjan[n]a,
datan kiyat jagan[n]é,
hupacara siyang dalu,
patih Hastrasuta kuliling,
hanggén[n]é jaga durjan[n]a,
kadang misan[n]ipun,
putran[n]é Purwadinata,
langkung susah ribut[t]é hanang nagari,
wunten malih hingkang warta.

57. Tiyang ngeraman sampun siyagi,
33 (71, 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a,
Bantarjati pernah[h]é,
Biyawak Jatitujuh,
tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis,
sesek kathah[h]ipun tiyang,
langkung pitung hatus,
juragan[n]é Bagus kandar,
Bagus Rangin Surapersandanéki,
Bagus Léja lan Sén[n]a.

58. Miwah para sénapati jurit,
para putra putra sadayanya,
pan seling Rangin putran[n]é,
Dén Nuralim wahu,
mapan misan[n]a niréki,
Kyahi Betawi hika,
saking Kandang[ng]ahur,
pangawakan[n]a wangganya,
Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin,
nanggung hang ngalaga.

59. Siyang dalu raméh raméh mangkin,
hanggén[n]ipun pésta tetanggapan,

tyang dugi saban din[n]a,
hangrempug badé nempuh,
pan dateng Darmayu nagari,
mapan rempag sedayanya,
hanempuh Darmayu,
siyagi tumbak bedama,
bedil tulup lan keris,
jolén miwah tumpak[k]an.

60. Lajeng ngaben lampah hiréki,
mapan Radén Kartawijayanya,
jumagi hanang wates[s]a,
datan hénak halungguh,
ngandika hing kanca prajurit,
“Héh sanak kula sadaya,
bénjing hing Darmayu,
hatinjo kadang kula,
rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki,
mapan Radén Wiralodra.

61. Kanca-kanca kang para prajurit,
sarwi matur sumanggah hing karsa,
sareng hénjing budal mangké,
kornélnya hanang ngayun,
pan Kartawijaya hanenggih,
hageng hinggil meden[n]ya,
kulit kuning wahu,
nganggé pakéyan tamtama,
33a (72, 906) hobyok pedang hérmas //sérét kuning,
kathah tiyang ningalan[n]a.

62. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin,
hamireng surak mangambal[l]ambal,
campur kaliyan senjatos,
sinelek lampah hipun,
samya kagét para prajurit,
ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata,
héstri warninipun,
punika Ciliwidara,
putra putri sangking Banten kang nagari,
tias[s]a ngamba gegan[n]a.

63. Para prajurit hing Darmayu mangkin,
miwah putra sarta sénapatya,
datan bis[s]a nyepeng mangké,
kénging wicaksan[n]a nipun,
kathah resak para ponggawi,
miwah para putra putra,
putra sareng dulu(r),
huwa Kartawijaya,
hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki,
lajeng methuk Radén Kerstal.

64. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki,
kalih paman patih Hastrasuta,
karun[n]a dateng harsan[n]é,
“Duh rama huwa nuhun,
langkung resak[k]ipun nagari,
Kartajaya ngandika,
“Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun,
hiki musuh rebut hapa,
wani temen hangrusak hanang nagari,
sapa prajurit nama?”

65. Nyi Ciliwidara kang nami,
ngangken putra Kentanagara,
malah putra rama mangké,
kathah kang sami lampus,
Suryaputra Sruyabrata néki,
miwah raka Suryawijaya,
hangemas[s]i wahu,
dén panah si Ciliwidara,
hingkang rama medal toya waspan[n]éki,
nulya sanget dukanira.

66. Héh Kang Rayi Hastasutra patih,
miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal,
bésuk iki sun candak[k]é,
34 (73, 907) Ciliwidara hiku,
sahiki ram[m]a harep kapanggih,
mapan kambi raman[n]ira,
nulya pangkat wah[h]u,
malebet hing padalem[m]an,
nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi,
Dén Dalem Wiralodra.

67. Nulya ngrangkul kang raka tumuli,
sarwi karun[n]a sesambat[t]ira,
“Duh raka pitulung mangké,
putra raka kathah lampus,
pan kénging musuh han[n]ekan[n]i,
bade hing rebat nagara,
tan kuwawi hulun,
hanadah[h]i yudabrata,
langkung sakti Ciliwadara puniki,
sumanggah raka hing karsa,

68. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i,
kakang tanding hing ngayuda,
sapira habot saktin[n]é,
wong siji wani musuh,
pan kalih wong sanegari,
hananding kadigdayan,
han[n]ang wong Darmayu,
sareng hénjing binaris[s]an,
wadyabala ponggawa putra prajurit,
bendéra tinarik hénggal.

69. Sarta bendéné pinukul haglis,
mangka Ciliwidara miyarsa,
hénggal dangdos busanan[n]é,
gelang kalung kilat bahu,
pan[n]ah miwah bedama keris,
pan cakep yén tiningal[l]an,
prawantu tiyang hayu,
hanulya sesumbar hénggal,
wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami,
lan sa[pa]mapaging yuda.

70. Ketambuwan sira hing mami,
hiki sadulur hingkang tuwa,
Kartawijaya jeneng[ng]é,
wani hangrusak Darmayu,
sira Ciliwadara hanjing,
kadiran wong hayu sira,
34a (74, 908) duméh sira punjul
nganihaya lampah cidra,
manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing,
men[n]awa tambah ta sira.

71. Hanulya mentang panah hiréki,
sarwi hawecan[n]a dén priyatna,
pancén wong sendek humur[r]é,
rasané panah hingsung,
kang haran si Belabar Gen[n]i,
manah datan mindowa,
yén niba hanguyun,
hanang getihyé manus[s]a,
pan hénggal linepas panah ngenan[n]i,
hobah bebalung ngira,

72. Méh san[n]alika tiba hing siti,
hangrahos peteng hing paningal,
hénggal wangking pedang[ng]é.
“Nyata prajurit siréku.”
Ciliwidara dén luket[t]i,
hudreg pedang-pinedang,
sekalih pan punjul,
tan wonten hasor hing yuda,
tiyang surak lir kadya rengat hing bumi,
suka haningalan[n]a.

73. “Héh pan Kartawijaya siréki,
ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang,
kurang tata perang mangké,
maka hangandika hasruh.”
Radén Kartawijaya mangkin,
sundel dayang humbaran,
hapa han[n]ang siréku,
tibakna han[n]ang hingwang,
mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i,
satingkah polah[h]ira.

74. Ciliwidara datan kuwawi,
hanggén[n]é musuh Kartawijaya,
langkung hawrat kasaktén[n]é,
Kartawijaya wahu,
saya gumareget hagalih,
medal tiwik[k]raman[n]ya,
pan cinandak sampun,
35 (75, 909) dén hédek hanang pratal[l]a,
Ciliwidara hambekas hana hing bumi,
sirna datan karuwan.

75. Kartawijaya cuwa hing galih,
samusnané Nyi Ciliwidara,
ngandika hing prajurit[t]é,
kén[n] jumagi wahu,
pernahipun hical Nyi Cili,
mapan samya dén jaga,
siyang miwah dalu,
nulya Dén Kartawijaya,
hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi,
pan miwah putra nonoman.



IX. SINOM

1. Mapan samya pinanggya,
kang raka kalih kang rayi,
miwah putra putra sadaya,
kalih kang rayi pepatih,
Hastrasutra jenengnéki,
sadaya cahos hing ngayun,
ngaturaken kasusah[h]an,
resak[k]é hingkang nagari,
nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka.

2. Kang Raka haris ngandika,
hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki,
miwah putra pan sedaya,
“Duh Yayi Mas [s]asih basuki
karsan[n]é Yang Maha Widi,
hénggal Si Kakang harawuh,
datan huning[ng]a yén susah,
mapan lagi mangun jurit,
héran pisan Ciliwidara digjaya.”

3. Kang rayi matur hing raka,
“Kabegjan makethi-kethi,
kersan[n]é Yang Maha Mulya,
raka hénggal hangrawuh[h]i,
mila kasuwun pun rayi,
sangking berkah raka wahu,
lah kados pundi hing karsa,
menawi kasoh rumihin,
dateng rayi hing dalem katuran lenggah.”

35a (76, 910) 4.Kang raka haris ngandika,
“Tak tarima karsa rayi,
han[n]anging sejaning raka,
bade wangsul pan rumihin,
hawit hanglancang[ng]i Gusti,
tan seja raka habantu,
hing rayi kang yudabrata,
mila bade matur Gusti,
lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara.

5. Prawantu wong wicaksan[n]a,
man[n]awa malebu Rayi,
hing panjagahan kakang,
hanang Garagé nagari,
mung rayi kang hatiyati,
jagan[n]é hilang[ng]é wahu,
han[n]ang pernahé hing musna,
dén jaga ponggawa rayi,
kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya.

6. Sedaya sami rangkul[l]an,
para putra ngabekti sami,
nulya hangiring lumampah,
dumugi han[n]a hing jawi,
hanulya hénggal lumaris,
“Ponggawi dérék sang[ng]ulun,
malebuh[h]ing padalem[m]an.”
Nulya bibar masing-masing,
hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara.

7. Sareng nuju dinten Jumah,
Dalem Wiralodra mangkin,
saweg sinéba kang raka,
patih Hastrasuta mangkin,
jumerogjog hingkang prapti.
Nyi Jaya cahos hing ngayun,
sarwi manembah hing ngarsa,
Kyahi Dalem ngandika haris,
“Duh bagéya janur gunung rayi prapta.

8. Tak kira han[n]a sukarya.”
Nyi Jaya humatur haris,
“Duh Gusti hatur duduka,
katiwas[s]an habdi Gusti,
sanget sampun duka Gusti.
Bade matur kasahéstu,
Kyahi Dalem hangandika,
“Manah rayi sun hidin[n]i,
36 (77, 911) humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira.

9. “Habdi dén pethuk hing raka,
sahiki nembé hadugi,
déréng wangsul wisma habba,
sangking Bantarjati habdi,
kadang kadang habdi Gusti,
kumpul damel tarub hagung,
sampun kathah tiyang prapta,
hantawis sanambang Gusti,
bade ngraman hangresak nagri paduka.

10. Darmayu badé karesak,
pan habdi kaperdi Gusti,
nanging kekah pan kahul[l]a,
tan niyat cidra hing Gusti,
bade tumut nyusup habdi,
dumugi hing hanak putu,
sedaya manggah hing karsa,
jaga pati saksi habdi,
datan seja bade tumut (ka paduka),

11. Kyahi Dalem hangandika,
sukur bagja sira yayi,
mugiya satrun[n]ira,
dadiya sawiji bénjing,
kalih turun-turun mami,
tak tarim[m]a sedyanipun,
wis rayi hénggal mundur[r]a,
hénak[k]a hing wisma rayi,
lan sun halih nama Resik Sira Jaya.”

12. Nulya manembah hing ngarsa,
humatur kasuwun Gusti,
mapan Kiyahi Wiralodra,
ngandika hing kakang patih,
“Kados pundi kakang niki,
hatur[r]é Nyi Jaya wahu,
punapa kakang hing karsa,
humatur pan kakang patih,
kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman.

13. Nanging samakta hing yuda,
siyagi para prajurit,
miwah sesang[ng]oning tiyang,
sasat musuh[h]an dateng[ng]i,
hawit hing wawengkén Gusti,
yén kedah tinangken wahu.
Kang Gusti nulya ngandika,
“Punapa kang raka patih,
36a (78, 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya.

14. Hénjing miyos hing paséban,
lenggah hing paséban jawi,
ngempel[l]aken ponggawa,
sentan[n]a prajurit mantri,
Trun[n]ajaya hingkang rayi,
miwah Wangsatrun[n]a wahu,
pan Tanujiwa kang raka,
Jiwasuta kang prajurit,
Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang.

15. Sutamarta Tum[m]enggung,
kathah kang para prajurit,
mangka hangandika patya,
“Duh kadang-kadang prajurit,
sadaya kang sun timbal[l]i,
dadiya kawruh wan[n]ipun,
sayagi wonten tiyang ngraman,
hing dusun han Bantarjati,
karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa.

16. Kula hatur[r]i pan sedaya,
samakta siyagi jurit,
prawantu mriksa berandal,
sampun kirang pan sayagi,
bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i,
budal[l]é hing Jatitujuh,
pun[n]akang dadi biyas[s]a,
pajun[n]é tiyang ngajurit,
bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal.

17. Nulya kondur ring paséban,
pati(h) Hastrasuta mangkin,
prawantu gagah jatmika,
hing ngiring para prajurit,
konca mawi cindé kuning,
kuluk hérmas hinten murub,
sinonthé keris hing kanan,
hing ngampléh kang wunten kéri,
pancén gagah dedegya mapan sumbada.

18. Bendé muni samya mudal,
hupacara para mantri,
demang rigah para harya,
miwah sakéhéng prajurit,
sedaya niti turanggi,
37 (79, 913) nyangking pedang tumbak//duhung,
pakéyan mawarna-warna,
Gustinya niti turanggi,
hulesna pas gambirah gagah hing yuda.

19. Samargi dadi tongtonan,
kawula samya siyagi,
wédang miwah dadahar[r]an,
tyang dusun hanyiyagéni,
miwah tetabuh[w]an mangkin,
klapa dugan saban pintu,
sadaya tiyang ningal[l]an[n]a,
hing tembé huninga hing Gusti,
raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an.

20. Pan lajeng hingkang lumampah,
kang wunten hing Bantarjati,
saweg sinéba ponggawa,
miwah kadang putra mangkin,
pengagung Ki[ng] Bagus Rangin,
kalih hingkang paman wahu,
kasebat kang pinituwa,
Bagus Serit jeneng néki,
miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar.

21. Sumanding Surapersanda,
miwah para sén[n]apati,
Bagus Seling hingkang putra,
sarta pan Radén Nur[r]alim,
miwah Kyahi Betawi,
gegedén hing Kandang[ng]ahur,
sarta Bagus Pangiwa,
Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari,
sénapatya sedaya putra Mayahan.

22. Sadaya pepek [k]ing ngarsa,
mapan para sén[n]apati,
Bagus Rangin hangandika,
“Hanang paman kadinéki,
kados pundi gelar niki,
sampun cekap bala wahu,
punapa pan kintun serat,
hutawi hinurug mangkin,
tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak.”

23. Bagus Serit hangandika,
“Duh putra sedayan[n]iki,
kula hatur[r]iki kang sabar,
kedah mangké dinten Kemis,
37a (80, 914) Kemis Kaliwon puniki,
kaleres[s]an tanggal[l]ipun,
héca hanggén cacatur[r]an,
pecalang cahos hing ngarsi,
ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a.

24. Hing Jatitujuh pernahnya.”
Bagus Rangin ngandika haris,
“Duh bagja yén mangkonowa,
sukur bis[s]a hanekan[n]i.”
Nulya matur rama mangkin,
“Kados pundi lampah[h]ipun,
Dalem Darmayu rawuhnya,
kinten pangkat dinten pundi,
lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?”

25. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda,
“Leres taya putra mami,
Sing lér dugi ning mingsah,
kados hapes hing ngajurit,
lah gelar[r]é kados pundi,
napa wangun baris hagung,
putra dérék karsa ram[m]a,
pajun[n]é mapag hing jurit,
nanging putra sahé baris kahormat[t]an.

26. Saban sasak jinagiya,
pinangka hormat [t]ing Gusti,
sarta manawi palengkung[ng]an,
janur miwah godong wringin,
gangsal dasa sasak siji,
tin[n]aro prajurit telu,
yén kuda miwah ponggawa,
sampun lintang kinten tebih,
hénggal sasak binubrak[k]an sedaya.

27. Supaya wangsul[l]ing kuda,
hanggeber wonten hing wari,
gampil hingebyak[k]an bala,
sampun bedami pesagi,
nulya kadang-kadang néki,
samya ngatur gelar wahu,
Bagus Serit hatur[r]an[n]ya,
gelar wang rampoggan mangkin,
38 (81, 915) sampun //bibar samakta bala sedaya.

28. Rampung bedami gelar[r]an,
limang puluh balanéki,
hangdalem sasak satunggal,
mapan tiga prajurit néki,
damel tatar[r]uban mangkin,
siyagi pethuk pangagung,
kanan kéri pan bendéra,
gamelan[n]é siyang wengi,
raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an,

29. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan,
kalih paman Bagus Serit,
siyagi tyang kasémahan,
nanging samaktaning jurit,
sakanca berandal mangkin,
ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun,
siyang dalu tetabuh[w]an,
ram[m]éh raméh kang prajurit,
kang sinigeg bala Darmayu punika.

30. Samya damel pasanggrahan,
hing Jatitujuh gén[n]iréki,
samya kempal pirempag[g]an,
hingkang lajeng paman patih,
Hastrasuta pan prajurit,
mapan sakti hing prang pupuh,
kahutuskén mriksanana,
hanang dusun Bantarjati,
pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman.

31. Sareng hénjing samya budal,
hing ngiring para prajurit,
samakta kaprabon[n]ing prang,
bedil tulup lan suligi,
Ki Patih niti turanggi,
hulem cemeng kudan[n]ipun,
sareng dugi pawates[s]an,
raméh gamel[l]an hang Rangin,
palengkung[ng]an bandéra baris hing marga,

32. Sedaya pan hasung hormat,
nulya ngandika Ki Pati,
nulya manembah tur nyaris,
38a (82, 916) “Duh Gusti habdi //puniki,
mapan kén methuk sang[ng]ulun,
rawuh[h]é Gusti jantika,
sumanggah sakarsa Gusti,
habdi sampun siyagi men[n]awi kersa.”

33. Ki Patih nulya ngandika,
“Tak tarima sanak mami,
suka ta [h]hangormatan[n]a,
mung mengko sabalik mami,
kran[n]a hiki lampah gelis,
hing ngendi pernah[h]é wahu?”
Humatur prajurit tiga,
“Punika katingal Gusti,
bandéra bang sérét kuning miwah pethak.”

34. Nulya lajeng hingkang lampah,
patih miwah para mantri,
sampun tebah[h]ing kang lampah,
handeder hingkang turanggi,
hanungsi hing Bantarjati,
han[n]ang pasanggrahan hagung,
nulya sasak binubran[n]an,
hing ngobar tan[n]ana kari,
mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an,

35. Dén papag prajurit kathah,
malebet[t]ing tarub mangkin,
nulya samya lelinggihyan,
salaman sedayanéki,
miwah samya ngormat[t]i,
raméh gamelan tinabuh,
surak kadya hurahan,
prawantu ngormat[t]ing Gusti,
Nulya patih hameriksa munggur ngarsa.


X. PANGKUR

1. “Héh sanak kula sedaya,
hingkang sami makuwon hing riki,
bendéra lan humbul-humbul,
gelar[r]é tiyang ngakathah,
mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun,
ké mriksa béja hing warta,
nulya héstu kang sayekti.

2. “Lah kados pundi gelarnya,
déning pada siyaggi kaprabon jurit,
tumbak perampoggan wahu,
39 (83, 917) //punapa hingkang sinedya.”
Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur,
“Héstu bade hangresak[k]a,
Dramayu hing dalem mangkin,

3. Nulya ki patih ngandika,
“Lamun kénging sadaya pan sanak sami,
sampun dén turut[t]i napsu,
pan seja bade hing resak,
hanang Gusti nagari Dalem Darmayu,
yén kénging kula penggah,
kran[n]a nagari hing mingkin.

4. Sanajan cilik rupan[n]ya,
mapan luwih werat sesanggan[n]éki,
lan mengko[s] sengsara wahu,
sakéh hanak putu[n]nira,
manggih susah kasengsara hing Yang Hagung,
tem[m]ahan pan dadi rusak,
wong musuh han[n]ang negari.”

5. Ki Rangin humatur sugal,
“Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih,
haku tan harep kon mundur,
lan hora gila tumingal,
hanang rupa wong nagara hing siréku,
prawantu kang yan[n]a patya,
taling[ng]an kadya sinebit.”

6. “Loh Rangin celathu[n]nira,
ngisén[n]i sira cangkem berandal babi,
mangsa wediya pan hingsun,
mapan wirang yén mundur[r]a,
tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun,
yén datan kacekel sira.”
Ki Patih medal hing Jati.

7. Para mantri pan jumaga,
ki Rangin werat tanding kaliyan pati,
surung-sinurung pan wahu,
kaliyan Ki Yan[n]a patya,
datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu,
para kadang maju haprang
sedaya kasor hing jurit.

8. Prawantu perang berandal,
pan datan tata paju[n]né hing ngajurit,
ngandika Ki Serit wahu,
“Loh hanak kul[l]a sedaya,
siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku,
39a (84, 918) haja kosi bis[s]a medal,
kira dalu sun hebyak[k]i.

9. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira,
patih Hastrasuta duduwa din[n]éki,
pan kathah musuh nya lampus,
Bantarjati lan Biyawak,
tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu,
sapa marah hasrah pejah,
jam nenem sonten hing wanci.”

10. Nulya Kyahi Serit ngandika,
“San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki,
haja ngrangseg sira maju.”
lawanen hundur-hundur[r]an,
hangantos samangké wanci jam sapuluh,
sedeng peteng tan katingal,
nulya dén hebyuk[k]ing jurit.

11. Sareng sampun jam sedas[s]a,
tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati,
hangebyuk[k]i perang pupuh,
kinepung buwaya mangap,
tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu,
sampun ngrahos datan kiyat,
tiban[n]é tumbak lan keris.

12. Datan huning[ng]a lor wétan,
langkung ribut prawantu prang dug hing wengi,
para mantri pan melayu,
nanging bala Kulinyar,
mapan datan dén praduli mlayuning pun,
namung patih Hastrasuta,
kang dén prih pejah[h]iréki,

13. Nulya ki Serit tumandang,
ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki,
salin bus[s]an[n]a hacampur,
sampun payah Hastrasuta,
hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh,
bade mlajeng tan huning[ng]a,
lor wétan[n]a prawantu wengi.

14. Wecan[n]a sajron[n]ing manah,
“Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi,
jamak[k]é ngawula hingsun,
hambélan[n]i hing nagara,
perang karo brandal kinarubut,
pan hingsun wis hora kuwat.”
40 (85, 919) Ki//Serit medal hing wingking.

15. Sinareng sampun waspada,
dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking,
mapan kénging nulya lampus,
dipun byakta hing tiyang kathah,
mapan sampun hancur kuwandanné wahu,
prawantu tiyang berandal,
surak lir rengat[t]ing bumi.

16. Sareng hénjing nulya bibar,
makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki,
samya nayub raméh wahu,
prawantu tiyang berandal,
kathah malih dugi hing tarub hagung,
mangka mantri kang lumajar,
sampun dugi hingkang Gusti,

17. Humatur hanak[k]ing ngarsa,
sarwi nangis melas sasih hing Gusti,
“Katiwas[s]an habdinipun,
pan raka dalem paduka,
sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus,
kinerocok hing payudan.”
kang Gusti ngandika haris,

18. “Héh mantriningsun sadaya,
yén mangkono becik hingsun pada balik,
sarwi handras mili[h] kang luh.”
Hanulya bibar sadaya,
sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun,
kinepung hing tiyang kathah,
dén sangguh brandal nekan[n]i.

19. Samya prang han[n]ang marga,
dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin,
dén bedil pamayung[ng]ipun,
pejah wonten hing marga,
mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung,
nulya lajeng hing lampahnya,
sampun dugi hing nagari,

20. Duginé han[n]ang nagara,
para garwa miwah kadang-kadang néki,
samya methuk jawi pintu,
sareng malebet hing wisma,
hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun,
40a (86, 920) puniki pan katiwas[s]an,
kakang patih hangemas[s]i.

21. Hingkang garwa miwah kadang,
sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti,
sedaya karun[n]a wahu,
pan sarwi hasesambat,
“Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun,
hora panjang yuswa kakang,
mangka hanang dalem pati.”

22. Gégér gumuruh karun[n]a,
para garwa miwah putra-putran[n]éki,
sarta kadang-kadang[ng]ipun,
pan hing[ng]et hing sengsarahnya,
patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh,
wunten malih kang winarna,
berandal hing Bantarjati.

23. Raméh-raméh gan tayub[b]an,
saban din[n]a matis minda kebo sapi,
hantuk ngrayah saban dusun,
siyang dalu dedahar[r]an,
rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu,
prawantu berandal dés[s]a,
Ki Rangin hangandika haris.

24. Dateng hingkang rama paman,
Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki,
“Duh paman kula nuwun,
miwah kadang-kadang kula,
hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu,
sampun lat lampah kula.”
Sedaya sumanggah ngiring.

25. Sareng hénjing samya budal,
hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin,
masing-masing gaman[n]ipun,
bedil gobang miwah pedang,
tumbak keris miwah komprang sarta penthung,
sagadah-gadah hing tiyang,
sandang[ng]an[n]é mancawarni.

26. Poléng gunung poléng Jawa,
hana hingkang nganggé clana poléng tapih,
hutawi samiya cangcut,
han[n]a kang sarowal[l]an,
conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub,
mikul lanték hisi beras,
41 41(87, 921) miwah bendil lang sasisih.

27. Samargi-margi jogéd[d]an,
surak-surak hing margi samiya ngibing,
satingkah-tingkah pan wahu,
prawantu lampah hing bangsat,
turut marga hangrampog[g]i saban dusun,
hayam manda miwah harta,
kebo sapi néki niring,

28. Sareng duging céléng dés[s]a,
hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi,
hanak rabi hing Darmayu,
mapan samya habénjang,
Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru,
sadaya pan ngajigjaya,
miwah Héng Jin lan Ti Yang li,

29. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a,
hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati,
Cin[n]a babah kalih baru,
nulya berandal hangrempak,
prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun,
bade ngrayah barang harta,
miwah nyonya Cin[n]a néki.

30. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang,
para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki,
lebur brandal kathah lampus,
hing ngamuk para Cin[n]a,
kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun,
dén hamuk hing para Cin[n]a,
hibur palayu ning jalmi.

31. Sedaya miréh berandal,
nulya Bagus Surasa Persanda nepangi,
Bah Kwi Béng sareng handulu,
“Loh kang hurang dadi brandal,
hapa hora hing[ng]et salang wosé batur.”
Wecan[n]a Surapersanda,
“Mangka hingsun hanepang[ng]i,

32. tak jaluk sukan[n]é sobat,
waktu hiki hajala sanak mami,
pan hingsun hora hangrusuh,
41a (88, 922) hatawa seja hanglanat,
han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun,
mung[g]uh bandakaya sobat,
mangsa dén rusak[k]a hiki,

33. Mung sobat waktu samangkya,
hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin,
wah kang hurang cuwa hingsun,
yén hora handeleng dika,
mapan hiki sabatur seja halampus,
nanging hinget sayo sobat,
kang hurang pan sampé becik.

34. Lan kapriyén pikiran dika,
gawé hibur hing negara dika hiki,
Jarih Gan[n]a pada mélu,
pekakas kurang santos[s]a,
harep ngrebut nagara Darmayu hiku,
kang hurang gawé melarat,
hing hawak dika pribadi,

35. Nulya tetabéyan Cin[n]a,
kalih Bagus Surapersanda mangkin,
para Cin[n]a kondur wahu,
bubar hing Dramayu lampah,
nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun,
makuwon hing pamayahan,
damel pasang[g]rahan mangkin.

36. Ki Rangin matek pikirnya,
pengabaran dugin[n]é hing para jalmi,
sadin[n]an[n]é telung puluh,
tiyang hingkang samya prapta,
seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu,
hantawis kathah hing tiyang,
pitung nambang tiyang dugi,

37. Gumuruh han[n]ang Mayahan,
mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin,
sangking kathah tiyang wahu,
siyang dalu tetabuh[w]an,
prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu,
42 (89, 923) hana hingkang hanger//rayah
rerampogan hangrayah duwit.

38. Langkung sesah tiyang perdés[s]an,
rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit,
yén hayu rabi[n]nipun,
samya tinuron[n]an,
yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu,
mila sanget kasengsara,
sesambat[t]é hanang Gusti,

39. Haduh Gusti kawul[l]anya,
hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin,
kawul[l]an[n]é nuwun tulung,
resak kawul[l]a sadaya,
dipun rayah kebo sapi miwah wedus,
berandal para bagus[s]an,
hora wirang gawé sakit,

40. Mangkan[n]a dalem punika,
sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin,
hing mayah[h]an pernah[h]ipun,
hangrerayah saban din[n]a,
langkung resak tiyang kathah saban dusun,
ki Dalem hunjuk lan surat,
guperur jéndral Batawi,
1808,

41. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral,
panjeneng[ng]an Dangles mangkin,
kang ngasta dadi gupenur,
han[n]ang negri Batawiyang,
langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung,
lan suka hambantonara,
susah[h]é saban nagari.

42. Lan benci hanang tiyang jahat,
lamun kénging trus pintén[n]an mangkin,
tan perdul[l]i kancan[n]ipun,
hadat[t]é Dangles punika,
malah kathah soldat[t]é sinebar wahu,
yén tan nurut hajindanya,
mapan pinotong pribadi.

43. Hanulung pertulunganya,
réning brandal langkung kathah hingkang dugi,
42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur
sarta kirim bal[l]a soldat,
tinindiyan kaliyan kumendur lahut,
Tuwan Postur namanira,
sing Hing[g]ris hasal Welanda,

44. Kéng ngéndi bedami brandal,
pura-pura dihangkat dadi bopatih,
ma[ng]pan nagari Darmayu,
pan kagung[ng]ane pun jéndral,
hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu,
supaya dadiya bubar,
bala berandal puniki.

45. Saradadu miwah Tuwan,
sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin,
sarta pun bedami wahu,
dalem pan sampun pasrah,
hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut,
héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an,
tigang[ng]atus soldatnéki,

46. Supaya haningal[l]an[n]a,
para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin,
bedil pedang miwah hangkus,
pinilih rata dedegnya,
hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun,
ginotong mimis pekakas,
miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,
sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin,
supaya brandal handulu,
tingkah polah[h]é tiyang perang,
tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu,
sareng dugi hing Mayahan,
kagét brandal haningal[l]i.

48. Nulya matur hing juragan,
lamun wonten saradadu handugén[n]i,
hambakta samaktan[n]ipun,
pekakas hing ngayuda,
43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun,
kapethak kaliyan Tuwan,
Tuwan Delér bis[s]a Jawi.

49. Tetabéyan Delér Tuwan,
kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit.
Tuwan Delér ngandika rum,
“Héh Bagus Rangin jandika,
sampun hajri mapan kula dipun hutus,
hing Tuwan gupernur jéndral,
kuwas[s]a negri Betawi.

50. Saréhing dalem masrahen[n]a,
negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin,
dadi hingsun dipun hutus,
kang[g]o hambedami kula,
mapan dipun Sowak nami,
dalem wahu,
lamun kersa hajandika,
kula hangkat demang mangkin.

51. Mung[g]uh kadang sadayanya,
kula hangkat dadi mantri jurutulis,
kuwasahan sami wahu,
saperti dalem pangkat.”
Bagus Rangin matur trima kasih hulun,
yén makat[t]en legang manah,
sedaya dipun salin[n]i.

52. Pakéyan laken sadaya,
clana laken krambi laken topin[n]éki,
mawi pasmén mas murub,
Tuwan Delér pan siyaga,
nulya raméh tabuwan humyang gumuruh,
pésta hangéstréni demang,
Demang Rangin para[ng] mantri.

53. Pamayahan kademang[ng]an,
siyang dalu berandal tayubban néki,
ngikat jeneng demang wahu,
suka-suka gé nya pésta,
sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung,
dén hiring mantri sadaya,
pakéyan sangking Betawi.

54. Tiyang kathah ningali Blanda,
43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki,
bedil pedang miwah hangkus,
saban soré hajar perang,
kornél hajidan sersan lan sardadu,
hajar bedil miwah pedang,
berandal kathah kang balik.

55. Lamun dalu pada ming[g]at,
sarta kathah hingkang sami kirang neda,
prawantu tiyang kathah wahu,
badé ngrampog panji nagara,
tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus,
nulya Delér kirim surat,
hing Dalem Darmayu mangkin.

56. Sadiweg gédén tangkeppa,
mapan dalem sampun tampi serat néki,
gelar[r]é Delér puniku,
nulya dalem kintun serat,
dateng raka Kartawijaya puniku,
hing Gragé ponggawa sultan,
serat[t]é sampun dén tampi,

57. Sareng winahos kang serat,
lamun rayi Hastrasuta mangkin,
neng[g]éh paman sampun lampus,
pinejah pan hing berandal,
sapunika berandal jinaga wahu,
dateng Wlandi kumendur Tuwan,
pin[n]angsraya sing Batawi.

58. Hénggal Paduka Jeng Raka,
rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi,
Kartawijaya habendu,
nulya matur hing sultan,
sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun,
Gusti Sultan hamiyarsa,
nulya hangandika haris,

59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya,
hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin,
yén ken[n]a bandan[n]en wahu,
lamun kekah pin[n]atén[n]an,
45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu,
sarta sira Radén Wel[l]ang,
bareng kam[m]i Karta mangkin,

60. Karta miwah Radén Wel[l]ang,
mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti,
sultan hangidin[n]i wahu,
manembah kondur sing ngarsa,
medal jawi bendé tinitir pinukul,
prajurit siyagi nulya,
samakta kaprabon jurit.

61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika,
“Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit,
sahiki pangkat siréku,
karo hingsun raka Karta,
seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh,
hing Mayahan pernah nira.”
hénggal pangkat Radén kalih,

62. Lan gawah kancanira,
hing pinilih sakethaha sapara prajurit,
mapan sampun budal wahu,
pangkat prajurit sedaya,
sampun dugi prajurit hanang Darmayu,
pinang[g]ya rayi lan raka,
kang rayi hangrangkul haglis,

63. Hanangis dateng kang raka,
mapan hingat hingkang sampun lampus pati,
Kang Raka karun[n]a wahu,
sarwi hangandikanya,
“Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu,
wapat Yayi Hastrasuta,
tan mundur kakang ngajurit.”


XI. DURMA

1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang,
pan sampun siyagi jurit,
sadayanya ponggawa,
gambirah mantri sedaya,
pan bade béla hing pati,
hingkang pun séda,
Dén Nastrasuta patih.

2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan,
tumbak pangrampog[g]an mangkin,
45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya,
mapan hingkang ngarsa,
dalem kalih rakanéki,
miwah Dén Wel[l]ang,
putra Panjun[n]an selir,

3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan,
Rangin mapag hamiyarsi,
lamun dalem handugya,
samakta kaprabon[n]ing prang,
hangras[s]a ginelir mangkin,
hing Delér Tuwan,
mapan kinepung mangkin.

4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga,
miwah hing kulon prajurit,
sampun pengkuh barisnya,
berandal hana hing tengah,
hing kidul bala Betawi,
Dén Wel[l]ang neng[ng]ah,
maran[n]i berandal mangkin.

5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya,
hayun-nayun[n]an pinanggih,
kaliyan para brandal,
mapan hangandika sorah,
“Héh Rangin hanjing siréki,
sira berandal,
nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,
sugal hing wecan[n]anéki,
“Héh hingsun dipun gelar,
hing Delér Tuwan punika.”
Hanulya mangsul[l]i mangkin,
hing Radén Wel[l]ang,
“Mapan tan gila hawak mami,

7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira,
mangsa gingsir [r]awak mami,
kadir[r]an sugih bal[l]a,
mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.”
Sén[n]a habandak tumuli,
hing Radén Wel[l]ang,
sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda,
datan ngang[g]é tata mangkin,
prawantun[n]é berandal,
kadya ngepung satoh galak,
pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit,
hang[g]én[n]ing prang,
hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga,
kathah brandal hingkang mati,
kang kénging dén belagbag,
hing para mantri sadaya,
kantos kasaput[t]ing wengi,
hang[g]én[n]ing haprang,
Rangin sakadangnéki,

10. Mapan sampun miruda sangking payudan,
hénjing bendé tinitir,
Rangin sampun tan[n]ana,
sadaya sami miruda,
Dén Welang ngandika mangkin,
“Héh kunyuk berandal,
wedi mati sira hanjing,

11. Mapan sampun binalagbag bala brandal,
hantawis nem hatus mangkin,
mapan kinirimna,
han[n]ang Darmayu mangkya.
binuwi berandal haglis,
datan kamot[t]a,
hanang jeron[n]ing buwi,

12. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala,
sakéhéng berandal mangkin,
miwah kondur sadaya,
hing Darmayu hiku kumpulnya,
sakéh[h]é pengagung mangkin,
bade kintun srat,
“Hanang jéndral Batawi.

13. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral,
perkara berandal mangkin,
hingkang sampun kacandak,
salebet[t]ing buwi hika,
mapan putus[s]an pun dugi,
hing karsan[n]ira,
kadrél hing jero buwi.

14. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna,
han[n]ang Betawi mangkin,
hingkang han[n]ang buwinya,
sampun hing ngedél[l]as sadaya,
berandal kon dén ilar[r]i,
sampe pinang[g]ya,
sedaya kén maténi,

15. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang,
nulya pangkat hangilar[r]i,
saradadu Dén Wel[l]ang,
miwah Dén Kartawijayanya,
46a (96, 930) //pan bubar sedaya mangkin,
hing lampahira,
sareng wonten wartos malih.

16. Mapan sampun baris tugur para brandal,
han[n]ang Kedongdong kang baris,
hantawis sanambang tyang,
Rangin Kandar kepalanya,
hingkang nagel hing ngajurit,
sarta bakta bal[l]a,
brandal Luwi Séhéng mangkin.”

17. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama,
Bagus Hawisem prajurit,
hingkang nanggung hayuda,
pajun[n]é hing hadilaga,
Rangin sanget bungah néki,
pan hitu diyah,
holih prajurit mami,

18. Hangandika Rangin han[n]ang para putra,
Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing,
jaga[n]nen kang waspada,
paju[n]né hing ngadilaga,
prajurit paman[n]iréki,
kang nanggung yuda,
Hawisem lan Radén Wari.

19. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya,
sarta Radén Welang mangkin,
guyu[n]né suka-suka ,
“Haduh hadi datan nyan[n]a,
kakang pinanggih lan rayi,
kelangkung bingah,
pésta pan siyang weng[ng]i.”

20. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa,
panyata yén husul mangkin,
berandal sampun siyaga,
mapan gelar[r]ing baris[s]an,
pinayung[ng]an Bagus Rangin,
prajurit ngarsa,
hapandang Hawisem Wari.

21. Pan kapethuk kalih Kartawijaya,
sapa hiki ngarsa mami,
katambuh[w]an pan hingwang,
prajurit[t]é Rangin hingwang,
kang nanggung mapag saréki,
Dén Wari hingwang,
raméh hanggén[n]é jurit.

22. Kadya brondong bedil mariyem punika,
47 (97, 931) campuh[h]é hing ngajurit ,
kendel manengan hing prang,
pajun[n]é Radén Wel[l]ang,
lan Dén Kertawijayéki,
pethuk hing yuda,
kecandak Radén Wari.

23. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira,
Tumenggung Nitinegari,
Rangin Kandar turun[n]ya,
sing dépok sambeng punika,
pan kathah hingkang kajodhi,
dén[n]ing dén Wel[l]ang,
pan kendel hing ngajurit.

24. Dadya raméh siyang dalu hing payudan,
datan menda hanggén[n]é jurit,
hanadah[h]i hing ngalaga,
rebut mapan tan kating[ng]al,
héng[g]al pan binujung wan[n]i,
baris berandal,
raméh hanggén[n]é jurit,

25. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal,
dateng saradadu mangkin,
Dén Wel[l]ang hawecan[n]a,
“Héh hanjing berandal sari,
Surapersanda pan kénging,
rinanté hénggal,
miwah Sén[n]a dén tal[l]éni,

26. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda,
Léja sakancan[n]éki,
ming[ng]ilén pan lampahnya,
Ki Séna Surapersanda,
rinanté kinirim mangkin,
hing kanca sultan,
han[n]ang Gragé nagari,

27. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya,
Radén Wel[l]ang datan kari,
samya bujeng berandal,
mangilén wahu lampahnya,
hanjog mara Bantarjati,
datan pinanggya,
suwung pan wismanéki,

28. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal,
sadaya tan[n]ana kari,
dén rakrak saban dés[s]a,
perawan hayu binekta,
hanang Darmayu negari,
susah tiyang dés[s]a,
kasmaran kaningal[l]i.


47a (932) //XII. KASMARAN

1. Mangkana hingkang lumaris,
Ki Rangin Serit lan Léja,
miwah Kandar handa mangké,
hambakta han[n]ak bojonya,
rempag hing wana-wana,
sanget kasangsarah hipun,
hanak rabi samya krun[n]a.

2. Samargi-margi hanangis,
Benggala hing luwung dinang,
kantos wan[n]a hing Cikol[l]é,
jamban dalem mingilénya,
hing Purasu Radén Srang,
Pegambir[r]an Legok Siyu,
hanjog han[n]ang Dulang Sontak,

3. Mengilén hanye(b)rang kali,
Cilalanang Cibenuwang,
Cipedang miwah Cilégé,
Cipanculan Ciwidara,
kantos nye(b)rang Kucéyak,
dumugi hing Hung[g]ulung,
hanyabrang Cipunegara.

4. Men[n]awi dén bujeng mangkin,
pan sinelek hing lampahnya,
tigang sasih hing lampahné,
kalintang hanggén sengsara,
ningal[l]i bojo hanak,
hanjog han[n]ang hing Cigadung,
tengah wan[n]a langkung jembar.

5. Nulya hawecan[n]a haris,
hing para putra sadaya,
“Duh putra kula samangké,
langkung senang petanah[h]an,
rawa hageng kathah hulam,
kali deres kang toya,
rama badé damel talun,
supaya pada hasowan,

6. Kerana para pawéstri,
sun tingal[l]i sanget sa(ngsara),
telung sasih lampah mangké,
hanerus hing wana-wana,
jurang péréng lumampah,
nulya sami damel tarub,
jembar pelataran[n]ira,
48 (99, 933) 7. //Hananem mangkin,
sarta damel sawah hamba,
sampun tiyar kebon[n]an[n]é,
kang Rangin pan saban din[n]a,
malebet han[n]ang wan[n]a,
hantuk kidang lamun wangsul,
miwah kaliyan menjangan.
8. Raméh-raméh gé nya bukti,
hanang satengah hing wan[n]a,
kalangkung tebih pernah[h]é,
Ki Léja pan saban din[n]a,
tawu ngilar[r]i hulam,
haseneng[ng]an[n]ipun wahu,
han[n]ang rawa nami Citra.

9. Kantos damel dukuhnéki,
winastanan dukuh Citra,
kantos samikén namin[n]é,
Ki Rangin hadamel,
pernah mang[g]ih telatah jembar,
sakilén kali Cigadung,
Jatigémbol kang satunggal.

10. Winastanan sapuniki,
Jatilima kang nama,
tilas[s]é Ki Rangin mangké,
lamun kempel[l]an punika,
hanang Cigadung pernah,
pan dén wastan[n]é Cihakur,
katela sampé punika,

11. Hing wates Pegadén distrik,
kalih distrik Pamanuk[k]an,
kalih nahun hing lamin[n]é,
nulya sami rempag[g]an,
bade damel taluk[k]an,
Ki Gedé han[n]a hing Pecung,
Kyahi Wangsakerti nama.

12. Nulya sampun rempag mangkin,
kalih kadang miwah rama,
seja ngilar[r]i papan[n]é,
hingkang haprayogi hajembar,
pan mingidul paranya,
bakta kanca telung puluh,
mapan manggih papan jembar,

13. Tur rata tanah hiréki,
hing bang lér kulon ing Suba(ng),
Tegal Selawi naman[n]é,
halang hujur[r]ipun jembar,
48a (100, 934) pan damel…. gratan
sampun datos Citarum hagung,
tempat tiyang ngeraman.

14. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin,
hingkang haji pengabar[r]an,
pikir[r]é pan sampun dados,
saban dinten tiyang prapta,
ningal[l]i pesang[g]rahan,
nulya tiyang panghatumut,
badé ngaben kadigjayan.

15. Dalah sampun kathah jalmi,
hingkang bade tumut perang,
hantawis tiyang kathahhé,
langkung sangking sanambang,
pésta hadedaharan,
raméh-raméh siyang dalu,
kelangkung mandi sikirnya.

16. Nulya Rangin ngandika haris,
hing kanca miwah hing kadang,
“lh kad0s pundi karsan[n]é,
kadang miwah kanca-kanca,
hingkang dadi sinedya,
napa pun ngungkul[l]i wahu,
hanggempur hing Pecung Wangsa.”

17. Sedaya pan matur mangkin,
“Punapa karsa sampéyan,
mapan handérék karsan[n]é,
dinten pundi majeng yuda,
sedaya pun siyaga,
mapan kantun tunggu dawuh,
becik gawé surat hingwang,

18. Panangtang mangun hing jurit,
tanda hingsun wicaksan[n]a,
supaya siyagi mangké,
kang[g]é mapag hing ngayuda,
sampun damel sengsara.”
Nulya damel surat sampun,
kang kirim hing Pecung dés[s]a.

19. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti,
mapan sampun hamiyarsa,
wonten tiyang ngraman mangké,
hing tegal selat(an) Subang,
harep ngayon[n]i hingwang,
brandal wétan hasal[l]ipun,
pelariyan wong nagara.

49 (101, 935) 20. Nulya hangumpulna mangkin,
hing kadang miwah hing putra,
para sén[n]apati mangké,
Ki Wangsakerti ngandika,
héh ya Krudug sira,
sarta putra Sindanglaya.

21. Hutawi nak putra mami,
sira Jaka Patuwak[k]an,
hapa sanggup yuda mangké,
kambi berandal sing wétan,
sedaya matur sumanggah,
sanggup hing ngaben pukulun,
kaliyan berandal wétan.

22. Héca hanggén gunem cangkin,
sraptan[n]é hingkang hutus[s]an,
Dulang Saréh hing wastan[n]é,
pandakawan wicaksan[n]a,
jumerogjog hing ngarsanya,
ngaturaken serat sampun,
serat nulya tinampanan.

23. Winahos serat tumuli,
kasukmésa jroning driya,
Jajabang Grudug tingal[l]é,
sarwi hawecan[n]a sugal,
breh hanjing siya wétan,
Jawa Wétan te puguh,
dék ngayon[n]én hurang Sunda.

24. Jawa Wétan ngasahan kami,
kandel hipis hurat tulang,
kana jampé sikir manéh,
kula hanjing siya mérad,
haturken juragan siya,
powé mana hanu puguh,
hurang mapag[g]en siyaga.

25. Nulya Dulang Saréh hamit,
sarwi mésem hawecan[n]a,
hanjing Sunda malotot[t]é,
panon pan pucicilan,
Grudug ngadéngé glendengan,
hanjing gelis siya mampus,
hulah réya homong siya.

26. Dulang Saréh wangsul nuli,
gegancang[ng]an lampah[h]ira,
sampun dugi hing ngarsan[n]é,
han[n]ang tempat pesanggrahan,
nulya pangandikanya,
49a (102, 936) hapa (Dulang) Saréh wahu,
kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang.,

27. Dulang Saréh matur haris,
Ki Gedéng Pecung punika,
sampun siyagi balan[n]é,
malah kathah prajuritnya,
tur gagah hasentos[s]a,
ngajeng-ngajeng rawuh hipun,
dateng paduka sampéyan.

28. Nulya humatur Ki Rang[ng]in,
dateng Kyahi Serit nama,
miwah kadang-kadang kabéh,
sadaya sang[g]em hing yuda,
dados pamucuk[k]ing haprang,
hananding Ki Gedéng Pecung,
nulya siyagi sedaya.

29. Gumuruh kang bala Rang[ng]in,
siyagi hing yudabrata,
bendéra tinarik hagé,
suraknya mangambal lambal,
prawantu perang berandal,
bendé tinitir pinukul,
bala Rangin pun siyaga.

30. Mangka sampun kapiyarsi,
baris[s]é berandal wétan,
hing bala Pecung baris[s]é,
nulya majeng prajuritnya,
Patuwakan Majanglaya,
miwah Kyahi Gedéng Grudug,
hambeknya lir Singalodra,

31. Hing papan tegal Selawi,
kawengku hing distrik Subang,
campuh prang berandal mangké,
bala Rangin kathah pejah,
Léja maju hing haprang,
pinethuk Ki Gedéng Grudug,
Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya.

32. “Héh sapa Sunda siréki,
wani mapag yuda ningwang,
hapa Wangsakerti kowé,
ketambuwan Jawa Wétan,
hurang sén[n]apatin[n]a,
nama hurang Gedéng Grudug,
nu baris naliyan siya.

33. Palariyan jelma negri,
di wétan heker ditéyang,
Ki Léja hanrajang mangké,
samya surung sinurung[ng]an,
50 (103, 937) raméh surak[k]ing bala,
bala Rangin mawih Pecung,
nemu tanding hing ngayuda.

34. Jaka Patuwakan mangkin,
ningali kang raka perang,
tan wonten hasor hunggul[l]é,
nulya pin[n]aran hénggal,
ginanti hanggén yuda,
Léja hatetanya wahu,
“Héh sapa kang ganti yuda.

35. Paksa wan[n]i sira babi,
Jaka Patuwakan hingwang,
hora tlatén handulun[n]é,
wong yuda hudag-hudag[g]an,
payoh gentén lawan hingwang,
péngén hangrasan[n]i hingsun,
gitik[k]i sira wong wétan.”

36. Hanulya nerajang wani,
Ki Léja hamedang sigra,
datan pasrah pan medang[ng]é,
tinitir hanggén[n]ya medang,
“Héh Patuwakan sira,
nyata prajurit pinunjul,
tur sira maksih tarun[n]a.”

37. Patuwakan sabda lirih,
“Duh paman Léja (ja)ndika,
kaya wong kemaruk mangké,
hanggén medang hora tata,
sor duwur pandén pedang,
dudu prajurit siréku,
nyata hurak[k]an berandal.”

38. Jaka Patuwakan mangkin,
sayang hanggreget tingalnya,
Léja dinesek perang[ng]é,
kasilib hing pan[n]ingal,
hénggal cinandak nulya,
dén hikal pinuluh bayu,
Léja tan bis[s]a hobah,

39. Sarwi hasesambat nangis,
“Hampun Patuwak[k]an paman,
hora wan[n]i paman mangké,
hénggal cinanda(k) hing bala,
Kandar mapag hing yuda,
wong tarun[n]a sakti punjul,
hiki Kandar sadulurnya.

40. Coba sun tanding lan mami,
pan sampun hayun hayun[n]an,
50a (104, 938) kalih Patuwakan //mangké
hang ngasta bendhak bedama.”
Tan kiyat Bagus Kandar,
sinabet penjalin wulung,
gumuling han[n]a hing kisma.

41. Sarwi krun[n]a sambat néki,
“Haduh Bagus hampun paman,
hora wan[n]i paman mangké,
héng[g]al tinalanén Kandar,
nulya surup baskara,
hakondur bala hing Pecung,
sarwi hambakta bebandan.

42. Ngandika Ki Wangsakerti,
“Héh hanak kul[l]a sedaya,
bésuk niki sun pajun[n]é,
Jigjakerti Majalaya,
supaya mapag yuda,
hananding Rangin siréku.”
Jigjakerti matur manggah.

43. Jam nenem béndé tinitir,
bala Pecung saya kathah,
pun sirang baris Rangin[n]é,
Kyahi Serit hangandika,
kaya hapa tingkah hingwang,
Ki Rangin nulya humatur,
“Rama sampun cilik manah.

44. Siniking putra nun pamit,
bade majeng hing payudan.”
Ki Serit ngrangkul putran[n]é,
karun[n]a sesambat[t]ira,
“Duh putra welas hing wang,
sun pasrah[h]aken yang hagung,
muga mental[l]a hing yuda.

45. Nulya majeng Bagus Rangin,
hasesumbar hing payudan,
“Héh hiki Rangin haran[n]é,
papag[g]en han[n]ang payudan,
pada rebut[t]en hing yuda,
wis jamak[k]é hingsun lampus,
saba paran handon lan[n]ang.”

46. Nulya majeng Jigjakerti,
Ki Gedé hing Majalaya,
pan sami sampun pethuk[k]é,
nulya Rangin hatetanya,
“Héh sapamapag yuda,
sumbada gedé tur duwur,
kami Jigjakerti ngaran.

51 (105, 939) 47. //Majalaya pernah kami,
Pan nu baris nanding siya,
kasaktén nanding paguh man[n]éh,
tin[n]a kulit huras tulang.”
Nulya campuh hing ngayuda,
Ki Rangin hanyandak sampun,
binanting nulya kantaka.

48. Majalaya dén talén[n]i,
hing bala Rangin hika,
ki Grudug mapag yudan[n]é,
surung sinurung hing yuda,
Grudug nulya dén candak,
binanti(ng) kantaka wahu,
nulya tinalén[n]a héng[g]al,

49. Bala Pecung miwah Rangin,
surak lir rengat[t]ing wiyat,
kasaput kabujeng sore,
budal baris sedaya,
hanulya mesanggrahan,
ki Serit nulya hamethuk,
sapratapané hingkang putra.

50. Mangkan[n]é ki Wangsakerti,
kelangkung susah [h]ing man[n]ah,
kajodi putra kalih yé,
kantun satunggal putran[n]ya,
kang putra Patuwak[k]an,
“Duh mas putra ningsun kulup,
kaya priyén polah ningwang.

51. Hapes tan mental [l]ing jurit,
Rangin sakti mandragun[n]a,
langkung melang hawak[k]é,
karan[n]a masih tarun[n]a,
musuh Rangin digdaya,
hécagén[n]é cinatur,
gégér[r]é tiyang hing jaba.

52. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i,
sangking lér kelangkung kathah,
ki Wangsakerti hakagét,
dipun kinten musuh teka,
“Duh putra ningsun nyawa,
bakal priyén tingkah hingsun,
nulya wonten mantri prapta.

53. Ngaturken srat tinampi,
dumarogdog tampi serat,
51a (106, 940) dikinten //musuh praptan[n]é,
nawal winahos sigra,
hungel[l]é wahu kang surat,
binuka nulya dén dulu,
semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah.

54. “Katur layang pun rayi,
hingkang saweg mangun yuda,
raka Wangsakerti mangké,
sampun hangdadosken manah,
rayi dugi gegancang[ng]an,
boten mawi kabar wahu,
kabujeng hamireng warta.

55. Yén Kang Raka mangun jurit,
kalih pelariyan wétan,
hingkang rayi jagi mangké,
serat[t]é kadang kahul[l]a,
sing Darmayu pun[n]ika,
mila sanget rayi nuwun,
tumut nyambung hing ngayuda.

56. Nuwun kabar surat rayi,
hateng[g]ah hidin[n]é kakang,
bekti rayi hingkang ngantos,
Setrokusuma harinta.”
Dalem Pegadén harinta,
Ki Wangsakerti gumuyu,
“Haduh bagja putran [n]ingwang.

57. Sira Patuwakan mangkin,
marah hénggal hingsun mapag,
rayi Dalem sing Pegadén.”
Lajeng budal sakancanya,
methuk wahu hingkang sém[m]ah,
pinanggya suka kelangkung,
sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah.

58. Nulya matur Wangsakerti,
“Duh bagéya sarawuhnya,
rayi Dalem sing Pegadén,
kasuwun kakang pinanggya,
katrima nuwun rinta,
kados pundi yuda[n]nipun,
pelariyan sangking wétan?”

59. Wangsakerti matur haris,
langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang,
sarawuh[w]é rayi mangké,
kranten kang maju yuda,
kepalan[n]é hingkang medal,
52 (107,941) dalah putra kalih hulun,
sami kénging tinalén[n]an.

60. Sumanggah rayi hatur[r]i,
hénggal tinangkep berandal,
nulya dangdos dalem mangké,
hanganggé raja busan[n]a,
cakep gagah pideksa,
nganggé kuluk sutra wungu,
tinarétés hinten mirah.

61. Dén hampléh duhung ngiréki,
sinonjé kang hanang kanan.
angandika hing mantrin[n]é,
“Héh mantri ningsun sadaya,
hénggal matur[r]a baris[s]an,
kang pengkuh gegaman[n]ipun,
hingsun hameton[n]i yuda.

62. Karo pelariyan Rangin,
kaya hapa hing rupanya,
gawé rusak hing wong hakéh,
hingkang sugih dipun rayah,
mapan Jaka Patuwakan,
hamajeng hing ngarsa wahu.”
Manembah hana hing ngarsa.

63. Nulya humatur haris,
“Hanuwun matur deduka,
rama sampun medal mangké,
hawit putra déréng medal,
hananding Rangin yudanya,
gampil lamun putra sampun,
kasoran hing yudabrata.”

64. Wangsakerti hanyambung[ng]i,
“Duh rayi leres putranta,
hawit déréng majeng mangké,
kedah dén turut[t]i rinta,
sangking panuwun putranta,
dalem hangandika harum,
héh kulup sakarsan[n]ira,

65. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki,
tak pasrah[h]aken yang sukma,
jaya haputra yudan[n]é.”
Nulya Patuwakan nembah,
sangking harsan[n]ipun rama,
badé majeng hing prang pupuh,
kang putra mundur sing ngarsa.”


XIII. DURMA

1. Nulya medal hing Jawi hamapag yuda,
bendé tinabuh nitir,
52 (108, 942) balasan siyaga surak kadya hampuwan,
Jaka Patuwak[k]an mangkin,
hapan sesumbar,
“Rebut[t]en bala Rangin,

2. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang,
Wangsakerti putranéki,
mangka sampun kapiharsa,
hanang Rangin prawira,
hanulya mapag Ki Rangin.
hayun[n]ayun[n]an,
nulya tanya Ki Rang[ng]in.

3. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda,
héman maksi(h) tarun[n]i,
Wangsakerti nama,
kon mapag yuda[n]ningwang,
haja sira mapag jurit,
musuh lan hingwang.”
Patuwakan hamangsul[l]i.

4. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang,
sapira saktin[n]iréki,
nulya Rangin nyandak,
hing Jaka Patuwakan,
Rangin sinépak nuli,
tiba kasingsal,
raméh surak[k]ing baris.

5. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda,
manggih tanding hing jurit,
Rangin Patuwak[k]an,
mapan sami saktin[n]ya,
tyang kalih hangagem keris,
hujung bedama,
Patuwak[k]an nadahi.

6. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda,
dalem hangganti mangkin,
sarwi pangandikan[n]ya,
hing putra Patuwakan,
“Héh putra lirén[n]a dingin,
rama kang mapag,
yudan[n]é musuh Rangin.”

7. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat,
dalem majung jurit.
Rangin hatetan[n]ya,
“Sapa hanggenten[n]an[n]a,
wong gagah sira prajurit,
kaya bé…patya?”
Dalem nulya mangsul[l]i.

8. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang,
harep nangkep hing siréki,
kang dadi berandal,
52a (109, 943) Setrokusuma hingwang
kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in,
buron nagara,
sangking Darmayu dingin.

9. Mapan hingsun masih pernah nak sanak,
Dalem Darmayu mami,
jeneng Wiralodra,
haku kang jaga sira,
hing tembé katemu hiki,
sukur subagja,
mungkur[r]a sun talén[n]i,

10. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira,
sahumur hangrusuh[h]i,
gawé lan[n]a ting tiyang,
saban des[s]a rinayah,
kanggo mangan hanak rabi,
ngaku bagus[s]an,
hanjing berandal babi.”

11. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal,
“Dalem Sunda siréki,
harep nalén[n]i hingwang,
Rangin pan hora gil[l]a,
haningal[l]i hing siréki,
coba majuwa,
hingsun pan hora wedi.”

12. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira,
nulya nerajang wan[n]i,
surung-sinurung sira,
mapan pada saktin[n]ya,
bala Pecung kalih Rang[ng]in,
raméh tiyang surak,
ningal[l]i hingkang Gusti.

13. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda,
nulya watek kang haji,
pan Setrokusuma,
kang wasta tiwik[k]rama,
hantara hatmaja redi,
hénggal hangnyandak,
binanting hical Rang[ng]in,

14. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a,
Wangsakerti ngedal[l]i,
“Sapa mapag yuda,
Wangsakerti pan hingwang,
mapag jurit hing siréki,
lan sira sapa,
hingsun haran ki Serit.

15. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang,
Wangsakerti siréki,
bener mapan sira,
hanggon[n]é mapag yuda,
tuwa karo kaki-kaki,
hayuh majuwa,
53 (110, 944) //pan kaki sami kaki.”

16. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda,
Wangsakerti lan ki Serit,
“Héh Serit pan sira,
ngadu pucuk[k]ing bedama,
yén héstu sira prajurit,
hénggal mangjuwa,
ruket pucuk[k]ing keris.”

17. Nulya campuh perang ngadu bedama,
runcing-rinuncing mangkin,
Serit pan sring tiba,
gumuling han[n]ang hing kisma,
nulya malajeng ngoncat[t]i,
Ki Serit musna.
“Héh Serit wedi mati,

18. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma,
sami kuwel[l]ing jurit,
hang[ng]adu bedama,
Ki Rang[ng]in hasring niba,
perang pan mébéding baris,
semu sesambat,
bala Rangin hangebyaki.

19. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal,
hibur kathah hing jalmi,
Rangin ngoncat[t]an[n]a,
musna datan karuwan,
Bagus Rangin ninggal baris,
ngungsi hing Krawang,
balan[n]é hakéh mati,

20. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira,
kalih Patuwak[k]an mangkin,
samya numpes bal[l]a,
Rangin bala berandal,
Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i,
dén talén[n]ana,
balan[n]é tiyang Rang[ng]in,

21. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an,
kempel dados sawiji,
Gintung Patuwak[k]an,
Wangsakerti lan dalemnya,
Grudug Majalaya mangkin,
dados satunggal,
suka bungah kang [ng]ati.

22. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra,
“Putra kaliyan kang rayi,
perkara berandal,
Ki Serit lan Rangin[n]ya,
53a (111, 945) pan datan kacandak mangkin,
hilang tan kruwan,
hing ngendi paran[n]éki?”

23. Putra matur duka rama hing purugnya,
hi[ng]cal Serit lan Rangin,
kados campur sétan,
habdi gong saktén[n]ira,
Kyahi Dalem ngandika haris,
héh kakang Wangsa,
Léja sun kirim mangkin.

24. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal,
gup[p]enur jéndral mangkin,
menurut hing préntah,
kran[n]a buron nagara,
rinanté hingkang sekalih,
Léja lan Kandar,
kinirim hing Batawi.

25. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara,
hing[ng]iring[ng]aken mantri,
Bagus Léja [nn] ika,
nyabrang hing Citarumnya,
sinebrak rantén[n]iréki,
nulya malempat,
silem han[n]ang jaladri,

26. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra,
Bagus Kandar larih[h]i,
hical jero wana,
kang bakta langkung susah,
badé wangsul langkung hajrih,
han[n]ang Gustinya,
bebandan mlajeng wanadri,

27. Langkung susah bebandan hical sadaya,
saparan-paran mantri,
mantri kang sekawan,
sang Pegadén nagara,
Jigjakarya,
Surakerti Jayamanggala,
miwah Jayakareti,

28. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an,
kathah hingkang lén mangkin,
pan sarta hing wétan,
sangking turun bagus[s]an,
Rangin Kandar Léja Serit,
turun[n]an[n]ira,
pelariyan duk dingin.




XIV. SINOM

1. Mangka lampahnya Dén Karta,
kaliyan Dén Ngelan mangkin,
duginya hanang nagara,
54 (112, 946) //hing Darmayu kumpulnéki,
berandal halarih[h]i,
miruda sadayan[n]ipun,
Dén Karta hangandika,
“Hing kadang-kadang[ng]iréki,
muga rayi kahidin kondur kakang,

2. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang,
miwah sadaya prajurit,
pan kakang bakta sadaya,
hatiyati yayi kari.”
Ngrangkul wahu kang rayi,
karun[n]ang sesambat[t]ipun,
“Kakang wangsul léntas[s]a,
sareng rayi mukting riki,
hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal.

3. Kakang patih mapan séda,
sinten raka kang ngemban[n]i,
nagari Darmayu raka.”
Hangrangkul karun[n]an[n]éki,
putra pan garwa rayi,
sadaya karun[n]a wahu,
Dén Karta lan Dén Wel[l]ang,
toya waspahan dres mijil,
lir sinebrak linolos pulung[ng]ing manah.

4. “Duh rayi Dalem hangrinta,
haja nangis hari mami,
papali dadi bopatya,
mengko kakang jaluk hidin,
hanang sinuhun Gusti,
hing Gragé kanjeng sinuhun,
duh yayi dén lilan[n]ana,
bade kondur sapuniki,
samya ngiring putra garwa miwah kadang.”

5. Dumugi hing pintu jaba,
nulya lajeng lampah néki,
mengidul margi lampahnya,
duging Palimanan mangkin,
Kartawijaya hakampir,
miwah Radén Welang wahu,
hanang soldat kang hajaga,
nulya hatetan[n]ya haris,
tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan.

6. Membales kumendan pes[s]an,
54 (113, 947) Radén //hingkang dugi,
“Pan bade karsa punapa,
Radén samya hangrawuh[h]i?”
“Kula bade ningal[l]i,
hingkang dipun jagi wahu,
dateng kumpen[n]i pun[n]ika,
kados pun[n]apa kang werni.”
Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang.

7. “Radén niki kang dijaga,
sumur tinutup pantes[s]i,
duka his[s]in[n]é punapa,
tan hun[n]ing hisin[n]é niki.”
Radén wecan[n]a haris,
“Sobat permisi puniku,
pan bade kahul[l]a buka,
pun[n]apa hisi niréki,
haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a.

8. Karana lar[n]ang[ng]an hika,
timbalan gupenur mangkin,
pan datan wanton hambeka,
yén tan wonten hidin Gusti,
Dén Welang sabdanéki,
héh sobat pan maksa hingsun.”
Sersan mangsul[l]i sabda,
kula tahan sobat mangkin,
yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang.

9. Radén Welang badé maksa,
hambuka tutumping wes[s]i,
pan soldat hanahan sigra,
hanyandak Dén Welang mangkin,
sinurung medaling jawi,
Radén Karta nyandak sampun,
hing soldat dén balangna,
hibur gégér hing prajurit,
héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya.

10. Sadinten gén yudabrata,
kathah soldat hingkang mati,
nulya tinutup bénténgnya,
bala Radén Karta mangkin,
ngangseg hing kuthan[n]éki,
ngandika Radén Welang wahu,
“Héh sanak prajurit hingwang,
54a (114, 948) wis haja sira //temen[n]i,
becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal.

11. Pan lajeng hing lampah[h]ira,
dugi hing Gragé nagari,
lajeng cahos Gusti Sultan,
Jeng Gusti ngandika haris,
“Sedaya hatur mangkin,
lampah[h]é berandal wahu,
Sén[n]a Surapersanda,
hical sangking jero buwi,
Radén sang kakang bujeng wahu sakitan.”

12. Mangkana sersan kumendan,
han[n]ang Palimanan loji,
sanget getun[n]é hing manah,
nulya wangun serat mangkin,
repot han[n]ang Betawi,
mapan srat binakta sampun,
soldat hingkang bakta,
gegancang[ng]an lampah néki,
kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral.

13. Mangka sampun cahos ngarsa,
srat sampun katur[r]ing Gusti,
hanulya hénggal binuka,
serat binanting tumuli,
“Loh babi Cirebon hanjing,
mahén kurang ngajar hiku,
nulya damel srat hénggal,
kang[g]é Sultan Cirebon mangkin,
mapan jaluk katangkep[p]é parusuh[w]an.”

14. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang,
kang wisma nihaya mangkin,
hanang loji Palimanan,
hakéh soldat pada mati,
tiningkem sratiréki,
sarta hangandika wahu,
hing hajid[d]an lan létnan,
héh hajid[d]an litnan mangkin,
hapan hiki gawanen pan surat hingwang.

55 (115, 949) 15. Kanggo hing Cirebon Sultan,
lan gawa malitér mangkin,
patang puluh kang pipilih[y]an,
samakta kaprabot jurit,
nangkep ponggawan[n]éki,
hing Cirebon Sultan wahu,
hingkang ngrasak Palimanan,
srat mapan sampun tinampi,
“Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat.”

16. Sampun medal han[n]ang jaba,
ngempel[l]aken kang prajurit,
samakta kaprabon yuda,
hénggal[l]é pan sampun prapti,
serat tinampakna haglis,
dateng Gusti sultan wahu,
serat[t]é sampun winaca,
ngandika jeng sultan mangkin,
lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya.

17. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral,
hanang nagara Betawi,
karana dadi san[n]unggal,
pan karo sinuhun Gusti,
hing Metaram nagari,
ngukuh[h]i tan jisa hingsun,
malah nagara hingwang,
hing Carebon mapan hiki,
pan dén paksa seja dén jaluk Metaram.

18. Hananging yén sultanan[n]a,
hora kuwat nagri mami,
nadah[h]i hing yudabrata,
malah srat sampé sahiki,
pan durung tak bales[s]i,
wis pinasti hing yang hagung,
Karta miwah sira Wel[l]ang,
nurut[t]a pasti yang widi,
sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa.

19. Bésuk tekang Batawiya,
pin[n]ariksa ngarsan[n]éki,
Gupenur Jéndral kang neda,
lan hiki kasung paring[ng]i,
karo wasiyat mami,
Si Kléwang karo Si Dumung,
55a (116, 950) //Nulya tinampan[n]é hénggal,
pun kadada sajron[n]ing galih,
pan ti hingsun hangamuk hambral nagara.”

20. Tumurun sing palinggih[y]an,
hangrangkul ponggawa kalih,
handres mijil toya waspa,
hametik taling[ng]an[n]éki,
ngamuk[k]a hanang Batawi,
holiya béla siréku,
Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta,
“Sumanggah nuwun hidin Gusti.”
Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an.

21. “Héh ponggawa Batawiya,
gupenur pamundut néki,
mapan ningsun durungna,
ponggawan[n]ipun sekalih,
kang dén dakwah saréki,
nulya matur sersan wahu,
dén sampun tutas timbal[l]an,
Gusti nuwun dén hidin[n]i,
nulya kondur ponggawa binekta hénggal.


22. Gagancang[ng]an lampahnira,
tan kawuwus sahaning margi,
lampah[h]é kang bala hambral,
sampun dugi hing Betawi,
sinelek lampahnéki,
manjing han[n]ang dalem hagung,
hanulya cahos hing ngarsa,
hing Jéndral Gupenur mangkin,
sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa.


XV. PANGKUR

1. Sampun cahos han[n]ang ngarsa,
datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi,
hanulya hénggal ngandika hasru,
“Litnan miwah sares[s]an,
kaya hapa hanggon ningsun sira hutus,
pan berkah Gusti paduka,
puniki ponggawin[n]éki.

2. Loh hanjing binatang gil[l]a,
hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami,
Gupenur Jéndral pan haku,
kuwas[s]a Pulo Jawa,
56 (117, 951) hapa kowé hora miring hing pangrungu.”
Karta miwah Radén Welang,
gumujeng humatur néki.

3. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral,
hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi,
Paduka kuwas[s]a hagung,
hamengku tanah Jawa,
pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun,
murbéng rat han[n]ang Metaram,
kalipatul[l]ah pan hadil,

4. nanging sembran[n]é hing karma,
kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda,
jeneng ponggawa pukulun,
lan duging Batawiyah,
mapan kul[l]a bade handon lampus hulun,
sembran[n]a ratuning hambral,
hora nganggo tata titi.

5. Durung kawula dén priksa,
dedukan[n]é lir kadya tiyang baring,
dipun suguhi pepisuh,
ngisén[n]i ratuning hambral.”
Langkung lingsem gupenur jéndral sang[ng]ulun,
hanuruti darah panas,
hangras[s]a pan kurang titi.

6. Nulya jéndral hangandika,
“Héh ponggawa haku trima salah hiki,
tapi tan hadil pan[n]ingsun,
krana kowé melang[g]ar,
wani ngrus[s]ak sampamati saradadu,
han[n]ang bénténg Palimanan,
perlu hapa kowé (wa)n[n]i,

7. Sahiki kowé nrimaha,
hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi,
pan ningsun drél sampé lampus.
Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang,
kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun,
sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i.

8. Nulya dipun bakta medal
….(halun-halun) hing Batawi,
nulya binaris[s]an hagung,
56a (118, 952) //”Hé bangsa Welanda,
pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus,
nulya tyang kalih pinas[s]ang,
limang los[s]in mriyem néki.”

9. Pan peteng kénging sundawa,
tan katingal hingkang dipundrél mangkin,
Kyahi kuwu welas handulu,
nulya ngrasuk manukma,
dateng wayah kang sekalih dipun hukum,
kran[n]a pasti bakal pejah,
sekalih ngamuk Welandi.

10. Baris malitér sadaya,
hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i,
hing Betawi langkung hibur,
héwed pan bala habral,
hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun,
musuh kathah wicaksan[n]a,
datan terang haningal[l]i.

11. Kathah resak para hambral,
mapan perang kaliyan kanca pribadi,
nulya medal kaki kuwu,
sangka panukma nira,
“Héh wayah ku sekalih mapan siréku,
pan cukup pun bél[l]anana,
luwih séwu hingkang mati.

12. Pinasti hingkang salira,
hajalira han[n]a hing Betawi mangkin.”
Hanulya Jéndral Gupenur,
ningal[l]i rusak[k]ing bala,
langkung susah balan[n]ipun kathah lampus,
nulya mendhet senapan[n]ya,
mimis hinten jimatnéki,

13. “Loh wong Cirebon hanjing sira,
temahan gawé rusak hing nagara,
tan nulya pin[n]asang wahu,
sing pungkur kang dén harah,
Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu,
katerangan bakar pis[s]an,
dumugi pejah[h]ing siti.”

14. Dén Karta haningal wahu,
pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin,
57 (119, 953) dén candak kuwandanipun,
hing para bala hambral,
nulya mburu dén[n]ing ..k hambral[l]é wahu,
gupenur hamasang sigra,
kénging nulya hangemas[s]i.

15. Wasiyat keris pan musna,
Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin,
nulya kuwandan[n]é wahu,
Kartawijaya hika,
nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun,
musna hical kuwandan[n]ya,
mundur malitér kang baris.

16. Hanging gupenur Tuwan,
sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi,
hanulya ngandikan[n]ipun,
“Hangajid[d]an sares[s]an,
haku hora trim[m]a resak[k]é balaku,
sahiki kowé dangdan[n]a,
samakta kaprabon jurit.

17. Hanggawa hatelung kapal,
bala soldat malitér hingkang pinilih,
nagri Cirebon hingsun jaluk,
wewengkon kasultan[n]an,
kanggo ganti resak[k]é pan bala haku,
péndék haku hora trima,
ponggawan[n]é ngresak mami.”

18. Sares[s]an hajidan medal,
litnan kornél seres[s]an nulya baris,
hantawis sapitung ngéwu,
baris lahut baris darat,
mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh,
sampun mentas hing darat[t]an,
wangun pesang[g]rahan mangkin.

19. Samya gégér tiyang kathah,
mapan sultan sampun hamiyarsa warti,
hanulya siyagi wahu,
kacrebon[n]an siyaga,
Mertasinga para pangéran[n]é rawuh,
Panjunan cahos hing ngarsa,
bala pangéran hambaris.

20. Sareng hambral ningal[l]an[n]a,
lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i,
nulya humatur gupenur,
wong Cirebon hanglawan,
57a (120, 954) sanget gupenur jéndral handulu,
nulya maréntah baris[s]an,
nén majeng hanempuh jurit.

21. Raméh hanggén ning yudabrata,
bala hambral kaliyan Cirebon mangkin,
pangéran maju hing pupuh,
Pangéran Surya Kusuma,
Martakusum[m]a,
Radén Pekik miwah Dul,
sarta Pangéran Logawa,
sedaya sabil hing jurit.

22. Samya burbar bala hambral,
numpak kapal babar layar hing jaladri,
mapan nengah kapal[l]ipun,
sampé silem darat[w]an,
samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun,
nulya mentas pelabuwan,
hang[ng]ungsi sinuhun Gusti.

23. Sareng pethuk kalih sultan,
tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti,
sultan nulya ngandika rum,
“Héh kadang kul[l]a jéndral,
wonten napa sampéyan karun[n]a wahu,
humatur Gupenur Jéndral,
hatur pan sedayan[n]éki,

24. Sanget dukan[n]é jeng sultan,
hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin,
nulya mréntah hing tumeng[g]ung,
kén ngembel[l]aken bala,
sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu,
Natabumi Buminata,
Metaram Broboya mangkin.

25. Sadaya samiya budal,
mapan ngulug hing Carbon negari,
hing margi sampun kapungkur,
sampun dugi negara,
hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun,
pan kagét sultan tumingal,
sing Metaram handugén[n]i.

26. Jeng Pangéran Purobaya,
Kanjeng Pangéran Natabumi,
lajeng ngandika prabu,
“Bagéya kadang kul[l]a,
58 (121, 955) sing Metaram sedaya kang samya//rawuh
kados hangemban sukarya.”
“Habdi matur kang sayekti.

27. Gegancang[ng]an cahos ngarsa,
hantuk dawuh Gusti sangking Metawis,
ngemban timbal[l]an sanghulun,
mung[g]uh negri paduka,
pan pinundut sedaya dateng sanghulun,
nameng Gusti kalanggeng[ng]an,
maksih jeneng sultan Gusti.

28. Sarta pansiyun paduka,
tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti,
tampin[n]ipun saban santun,
sarta kaparing[ng]an tanah,
mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu,
bulu bektin[n]é punika,
kanggé kadang-kadang Gusti.

29. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a,
dawuhipun Gusti sinuhun Metawis,
habdi hanglados[s]i wahu,
sagending bala paduka,
mapan habdi siyagi hing perang pupuh,
sultan tan bis[s]a ngandika,
hantara ngandikan[n]éki,

30. “Duh kadang-kadang kahul[l]a,
sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis,
tan hangkat kul[l]a pan katur,
kran[n]a negari kul[l]a,
mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun,
mugiya dén hatur[r]en[n]a,
handérék karsan[n]ing Gusti,

31. Sareng dawuhipun sultan,
hing Cirebon masrah[h]aken negari,
Pangéran Probaya matur,
“Yén makat[t]en Gusti kul[l]a,
nuwun hidin bade kondur Gusti hulun,
pan sangking dawuh paduka,
badé katur hing Jeng Gusti.”

32. Lampahnya budal sadaya,
kondur han[n]ang Metaram kang negari,
sampun katur hing sanghulun,
pasrah[h]é hingkang nagara,
sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur,
nulya sukan nampéken[n]a,
hing Gupenur Cirebon nagari.


58a (122, 956) //XVI. KASMARAN

1. Lajeng gupenur hatampi,
pasrah[h]é Sinuhun Sultan,
perkawis nagri Cirebon,
sesampun[n]é sesiniyan,
gupenur kalih sultan,
nulya sami pamit kondur,
wangsul han[n]ang Batapiya.

2. Sampun rawuh hing Betawi,
hanimbal[l]i Wiralodra,
hing Darmayu negarin[n]é,
sampun rawuh Batawiya,
hénggal cahos hing ngarsa,
dateng paduka gupenur,
nulya hangandika jéndral.

3. “Slamet dateng Dalem rayi,
kabendan hantuk kamulyan,
kasuwun sarébu mangké,
sangking sih pitulung Tuwan,
ngarabbi hing kamulyan,
sanget hanuhun Yang Hagung,
muga lulus[s]a hamurba.

4. Hamengku hing Pulo Jawi,
dugi hanak putu Tuwan,
dipun jagi hing Yang Manon,
ya trimakasih harinta,
sangking panjunjung rinta,
mugi dén jurung Yang Ngagung,
hanak putu sareng mulya.

5. Lan kakang ngatur[r]i huning,
mung[g]uh sangking perbantuwan,
hanangkep berandal mangké,
hing rekoning dedahar[r]an,
kanggé hangrangsom soldat,
sedayan[n]é kul[l]a hétung,
miwah sakéhéng pekakas.

6. Gunggung sadayaning duwit,
sawelas nambang kang harta,
tigang das[s]a rupiyah[h]é,
kumeduh rayi habayar.”
Dalem datan wecan[n]a,
hawit datan gadah wahu,
harta hingkang nenambang[ng]an.

7. Hanulya humatur haris,
“Duh Paduka jeng[ng] Atuwan,
héstu habdi datan duwé,
harta hingkang nenambang[ng]an,
nameng katur sedaya,
tanah habdi hing Darmayu,
punapa karsa paduka.”

59 (123, 957) 8. //Gupenur ngandika haris,
“Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a,
nameng dalem tetep bahé,
hanglungguh hing kadalem[m]an,
hapa hingkang biyasa,
mung dalem nékina hiku,
mapan tanah gaduh hingwang.”

9. Nulya dalem néken mangkin,
hanang surat tanda tang[ng]an,
salesih tanah tan darbé,
hing Darmayu kagungannya,
Tuwan Gupenur Jéndral,
nulya pamit dalem wahu,
hing Tuwan Jéndral punika,

10. 1610,
pan wangsul han[n]ang negari,
babar layar hing bahita,
nulya dugi negaran[n]é,
hing Darmayu pan negara,
pinapag hing ponggawa,
dugi han[n]ang dalem[m]ipun,
kadang putra taken warta.

11. Nulya Dalem ngandika ris,
“Hah kadang pan putra ningwang,
wis karsan[n]é hing Yang Manon,
pan datan lang[g]eng ring bénjang,
hing hanak putu sedaya,
lungguh dadi dalem wahu,
pan negara dipun rampas.

12. hing Tuwan Jéndral Betawi,
pan kanggé hongkos[s]i perang,
nanging dalem pan samangké,
maksih kateteppan nya nama,
hora robah biyas[s]a,
nami[n]nipun dalem wahu,
pan kadang putra karun[n]a.

13. Nulya dalem kénging sakit,
dalah dumugi hing ngajal,
hingkang gumanti putran[n]é,
hingkang kantun Radén Brestal,
Wiralodra peparab,
hanulya sesunu wahu,
pitu tunggal hingkang putra.

14. Pambajeng Radén Marngali,
nulya Nyi Wiradibrata,
Nyayu Hempuh katigan[n]é,
Nyayu Pungsi sekawan[n]ya,
miwah Nyayu Lotam[m]a,
Hanjani wuragil[l]ipun,
60 (124, 958) Bagus Kalis Bagus Yogya,

15. Dalem mapan sampun lami,
gadah mertuwa durjan[n]a,
hangrerampog panggotan[n]é,
langkung susah hing kawul[l]a,
hingkang gadah rinampog[g]an,
Patih Singtrun[n]a wahu,
sanget wel[l]as hing kawul[l]a.

16. Tan menda saban bengi,
pan durjan[n]a hangrerayah,
Patih Singtrun[n]a mangké,
pan humatur hingkang raka,
“Duh kakang Mlayakusum[m]a,
kados pundi lampah[h]ipun,
tiyang dados dalem nika.

17. Tan héman kawul[l]anéki,
rerampog[g]an perayahan,
datan dén pradul[l]i mangké,
punapa rempug jeng kakang,
rayi bade ngrekos[s]a,
hing Tuwan Presidén wahu,
hing Cirebon pan negara.

18. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin,
bener yén mangkon[n]o rinta,
mélu néken kakang mangké,
nulya damel serat hénggal,
konjuk Presidén Tuwan,
pan satingkah polah hipun,
dén hunjuk lebet[t]ing surat.”

19. Nulya kakirimna haglis,
hantawis dinten Jeng Tuwan,
rawuh hing Darmayu mangké,
dipun rakrak sedan[n]am[m]an,
tinangkep hingkang barang,
dén kumpul[l]aken pan wahu,
hingkang dén rampog durjana.

20. Cécég kathah barangnéki,
kang dén haku déning tiyang,
cécég salebet dén rekés,
nulya dalem kikirimna,
hing Cirebon nagara,
sanget susah manah hipun,
dipuntahan tigang wulan,

60a (125, 959) 21. Tunggu putus[s]an negari
sareng dugi kang putus[s]an,
Dalem Disowak namin[n]é,
jeneng jaksa hingkang nama,
hingkang rayi hirén[n]ya,
Wiradibrata pan wahu,
dén hangkat dadi ranggah.

22. Singatrun[n]a Dalem patih,
dén hangkat dadi wedan[n]a,
Jatibarang hing distrik[k]é,
Mas Malaya Kusuma[nnya],
hantuk pangkat punika,
pan jeneng kalékturipun,
gupernemén hang kagung[ng]an.

23. Wedan[n]a hangrangkep patih,
han[n]ang Darmayu nagara,
para durjan[n]a sekabéh,
samya hajri(h) ningal[l]in[n]a,
hing kawicaksan[n]anya,
wedan[n]a miwah kaléktur,
durjan[n]a kathah kacandak.

24. Langkung gemah pan negari,
tan[n]ana sakéng durjan[n]a,
datan[n]an[n]a perkaran[n]é,
Darmayu hingkang nagara
Patih Singatrun[n]anya,
pan kagung[ng]an putra wahu,
kathah[h]ipun gangsal nunggal.

25. Pambajeng Patimah mangkin,
hanulya Nyayu Julék[k]a,
Brataleksan[n]a kakung[ng]é,
Mas Demang Bratasentan[n]a,
wuragil Bratasuwita,
sedaya pan putranipun,
jumeneng pangkat sedaya.

26. Radén Rang[g]ah putranéki,
kawan nunggal hingkang putra,
pambajeng jeneng putran[n]é,
pan Radén Wiramadengda,
Radén Mardu harinta,
Nyi Sumbaga putranipun,
wuragil Radén Madada.

27. Kaléktor putraniréki,
mapan gangsal hingkang putra,
Hardiwijaya hasistén,
hingkang héstri Nyahi Muda,
miwah Sudirah nama,
Nyahi Junéd héstri wahu,
wuragil Nyahi Jumin[n]ah,

28. Radén Kartawijayéki,
pan sanunggal hingkang putra,
Radén Karta Kusuman[n]é,
hiku nipun Ratu Hatma,
kagungan putra tiga (?),
61 (126, 960) //pambajeng Biskal puniku,
Cirebon Prayawigun[n]a.

29. Hingkang rayi putra héstri,
Kertadipran[n]a hingkang nama,
hinggih punika kang tigan[n]é,
hulu-hulu hingkang pangkat,
hanang Darmayu kota,
nurun[n]aken putra wahu,
pambajeng Kertahudaka.

30. Mas Demang Lobener mangkin,
Kang Rayi pan mangundriya,
Demang Bangaduwa mangké,
Muhada pan tukang timbang,
Nyayu Jeni kuwu héman,
Kertahudara pun[n]iku,
hupas bom hingkang pangkat.


31. Kertahatmaja wuragil,
Darmayu pan dipun hérpa,
1813,
Tuwan Pri jeneng[ng]é,
Kyahi jaksa sampun séda,
kang gumanti kang putra,
dé Marngali puniku,
peparab Wirakusum[m]a.

32. Dadi demang pangkatnéki,
han[n]ang Sindang Kademang[ng]an,
distrik Paséban naminé,
Balu…Kalid hingkang nama,
Wiradaksan[n]a demang,
hanglenggah[h]i demang wahu,
hing Lobener kademangan.

33. Nyayu Sungsi lakin[n]éki,
mlaya haja dadi demang,
hing Palumbon duk dingin[n]é,
satunggal[l]é lakinya,
Hé…Subrata nama,
jumeneng pangkat wahu,
dadi demang Luwungmalang,

34. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki,
hulu-hulu hingkang pangkat,
Hanjani lakin[n]é mangké,
Wirajatmika nama,
dadi mantri pangkatnya,
Bagus Yogya jeneng[ng]ipun,
peparab Kertawil[l]as[s]a.



61a (128,961) Hasal-Husul Wiralodra

Sangking dalem kang damel nagari, Darmayu sabrang kulon,
lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran.
Haran Jaka Kuwat. Trus peputra nami.
Mangkuyuda Tumenggung Metaram.
Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Peputra nami Wiraseca. Ngabéhi
Wiraseca ngabébre peputra nami
Kartawangsa Tumenggung Metaram. Sampé hanak putu Kyahi Belara
Kyahi Belara peputra nami.
Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén
Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén peputra nami
1. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén
2. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén
3. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal
4. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya
5. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati

Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra
1. Radén Wirapati
2. Radén Wiraseca
3. Radén Wirakusuma
4. Radén Singalodraka
Radén Singalodraka peputra
1. Radén Jaka Kuwat
2. Radén Kumbabocor
3. Bayu Mangkuyuda

Radén Wiraseca peputra
1. Héstri Nyayu Wangsanegara
2. Héstri Nyayu Wangsayuda
3. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. 1 waktu hiki … Bagelén
4. Kakung Radén Tanujaya
5. Kakung Radén Tanujiwa
Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. 1 ngelandrah ngolé…
kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan
sabrang kulon Kali Cimanuk. Lan katemu klawa Nyi Darma. Trus se…
Nyi Darma kalih. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. dadi nagara diharan[n]i Darmayu
Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk.
// sawis[s]é lawas Wiralodra no. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128, 962)
1. Kakung Radén Sutamerta
2. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é
3. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata
4. Kakung Radén Driyantaka
Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra
pangkat dalem no. 2
2. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13
1. Kakung Radén Kowi
2. Kakung Radén Timur
3. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem
4. Kakung Radén Wirantaka
5. Kakung Radén Wiratmaja
6. Héstri Hajeng Raksawiwangsa
7. Héstri Hajeng Sutamerta
8. Héstri Hajeng Nay Wangsa
9. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a
10. Héstri Hajeng Hadiwangsa
11. Héstri Hajeng Wilastro
12. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a
13. Héstri Hajeng Patranaya

Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra
pangkat dalem no. 3
Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami
1. Kakung Radén Benggal[l]a
2. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar
3. Héstri Hajeng Singawijaya
4. Héstri Hajeng Raksawinata

Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra
pangkat dalem no. 4

4. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé
lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami
1. Kakung Radén Lahut
2. Kakung Radén Ganar
3. Héstri Hajeng Parwawinata
4. Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya
5. Héstri Hajeng Nahiyasta
6. Héstri Hajeng Gembrak
7. //Héstri Hajeng Tayub 62a (129, 963)
8. Héstri Hajeng Moka
sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén
Benggal[l]i. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. 5
5. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra
1. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. 6
6. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami
1. Kakung Radén Suryapati
2. Kakung Radén Suryabrata
3. Kakung Radén Suryawijaya
4. Kakung Radén Kerstal

Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. 7.
7. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus
kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é
nami
1. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang
2. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah
3. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon
4. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan
5. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu
6. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah
7. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a
8. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener
9. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari

Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4
1. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener
2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber
3. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling
4. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya

Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2
1. Radén Madi Wirasomantri
2. Nyayu Cilik
Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3
1. Radén Wirasaputra dadi demang
2. (Radén) Wirahatmaja
3. (Hés)tri Nyayu Sumbadra
Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2
1. Héstri Nyayu Wiradiwangsa
2. Radén Prawirakusuma
(Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4
1. Radén Wiramadengda
2. héstri Nyayu Sumaga
3. Radén Mardada Wiradibrata
4. Radén Marsada
Nyayu Malayakusuma demang peputra 2
1. Radén Perdata Wirahastabrata
2. Radén Sumarga Wirasudirga

3.4 Terjemahan

I. SINOM
1. …saya menulis,
pada malam Jum’at legi
sedang senang hati saya,
jam dua malam …
waktunya …sebulan,
sedang senang hati saya,
pada tanggal sepuluh,
tahun seribu sembilan ratus.

2. Tiada lain (cerita) ini dikarang,
(untuk) membuka bagian …,
dari sejarah kuna,
turun-temurun [ini]
anak …,
Ki Wiralodra …,
bermula …,
ada di Indramayu…,
terus-menerus hingga putra ….

3. … dikarang nyanyian,
sudah …langka,
supaya sama-sama mengetahui,
Kartadipranna,
… dari mantri Haris,
supaya ….alur (cerita),
anak cucu Wiralodra,
besok (sampai) akhir,
serta sanak saudara ….

4. Alasan saya menulis,
buku sejarah bupati,
…rusak,
…hilang …,
…sejarah dahulu,
memaksakan saya mencari,
minggu saya bepergian,
pemakaman pun dilihat,
…sedih (melihat) rusak kuburan.

5. Lalu saya,
melihat sejarah,
keturunan Wiralodra,
Larakelar asalnya,
laki-laki …
putra Raja Pajajaran,
mempunyai anak …,
tumenggung dari Mataram,
berputra Ngabehi Wirasecapa.

6. Wirasecapa mempunyai (anak),
(bernama) Kartadiwangsa..
tumenggung Mataram,
…pernah datang (ke Majapahit).
…tumenggung,
Panembahan Kiai Belara,


7. …
ia memiliki anak,
(Kang)Jeng Pangeran Hadi…,
Itu nama lainnya,
Rangga Bagelen ..,
berputra lagi,
Tumenggung Gagak Pernala,
..mengantikan,
lalu ..
(berputra) empat orang.

8. …Pringgandipura,
diganti para bupati,
oleh Gagak Wirahandaka,
…negara.
asal negrinya Karangjati,
putra dari …,
karena Raden Gagak Kumitir,
[ia] berputra…,
Dari Banyuhurip Kedu …,
oleh Gagak Wirakusuma
berputra lagi
Gagak Singalodra ….

9. Yang sulung Wangsanagara,
Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan
Wiralodra ketiganya
Tanujaya adiknya,
Tanujiwa bungsunya
di Bagelen keratonnya
Wiralodra
karena sangat sedih
(ia) sering bertapa.

10. Tinggal … di gunung,
tempatnya sepi sekali,
tidur di tempat tinggalnya,
meminta kepada yang kuasa,
sareat serta hakekat,
hakekat dan marifat,
selalu yang terlihat
melihat wujud tunggal
.... di dalam supaya menjadi satu.

11. (Tidak) tidur serta makan,
tiga tahun lamanya,
..Bagelen…,
telah menghilang wujudnya,
…cahya yang bening,
tanda diterima oleh Yang Agung,
memohon kepada Yang Sukma,
semoga akhirnya mulia,
turunannya semoga mendapatkan kemulyaan.

12. Pada malam Jum’at,
melihat (cahaya) di atas langit,
terang seperti bintang,
serta terlihat di timur,
…terang-benderang,
yaitu cahaya bola api,
cahaya… tapa,
menghilang di tempat terang,
lalu … kinanti tembangnya.


II. KINANTI
1. (Su)kma Yang Agung,
suara yang terdengar,
…. Wiralodra,
bila ingin mulia dirimu,

bukalah hutan ini.

2. Pindahlah ke barat,
ke hutan Cimanuk,
hutan besar itu nyawa,
karena akan menjadi …
untuk keturunanmu,
hingga tujuh keturunan.

3. …tuamu,
lalu cepat bangun ..
Wiralodra,
terbangun memakai …,
sama-sama … ayahnya,
… bercerita,
… kepada ayahmu,
anakku ….

4. Saya serahkan kepada Yang Agung,
karena (sudah) kehendakNya,
anakku mari …,
dipeluk serta ditangisi.
putranya mencium kaki ayahnya,
serta bangkit …

5. Sudah diizinkan pergi,
dari hadapan ayah serta ibunya,
sama-sama keluar air mata,
(air mata) ke luar deras (dan) menangis,
bersama penakawan,
Ki Tinggil .

6. Menuju arah selatan kaki gunung,
memasuki hutan,
lupa tidur serta makan,
karena belum ….
di Sungai Cimanuk tempatnya,
di mana tempatnya ini.

7. Lamanya tiga tahun,
berada di hutan belantara,
mendapat pertolongan,
pertolongan Yang Maha Widi.
lalu melanjutkan perjalanannya,
sehingga sampai di sebuah sungai.

8. Sungai besar [di] Citarum.
ia duduk di pinggir kali,
…tiba di air besar
lalu berbicara perlahan,
kepada pelayannya,
yang bernama Kiai Tinggil.

9. Paman saya merasa bingung,
sungai (ini) sangat besar,
bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa.
berkata Kiai Tinggil,
….
sabar Tuanku …,

10. Setelah Bendara (Wiralodra),
istirahat menyenangkan pikiran,
dan [ini] Tuanku,
banyak jembatan di sini,

11. Saya kira ada perkampungan,
atau kebun orang,
serta …
ada seorang kakek datang,
yang seperti lelaki tua,
Buyut Sidum orang dulu,

12. Raden Wiralodra melihat,
ada kakek-kakek datang,
sangat gembira (hatinya),
“Duh saya bahagia sekali,
saya akan mendapat berita,
dari orang tua ini.

13. Lalu di(tarik) dipeluk,
bersalaman dengan kedua tangan,
serta sama-sama duduk,
berbicara lemah lembut.
aduh kakang tolonglah saya,
(saya) minta perolongan kakek.

14. Telah lama perjalanan saya,
dari negeri Bagelen,
tiga (tahun) perjalanannya,
di mana kali Cimanuk,
saya ingin mendapat berita,
semoga kakek dapat menolong.

15. Kyahi Dum berbicara manis,
Sambil terbata-bata (dan) perlahan,
…berbicara,
“Duh cucuku yang kusayangi,
kamu…ku,
mengatakan jalan ini.

16. …sungai Citarum,
yang merupakan bagian dari Karawang,
sudah harus kembali…
menelusuri pesisir,
… berada di sebelah timur.

17. Lalu menghilang orang tua itu,
terkejut [tadi] melihatnya,
Raden Wiralodra dongkol,
belum menanyakan namanya,
serta dari mana asalnya,
ia keburu menghilang.

18. Lalu berbicara manis,
“Duh Paman Kiai Tinggil,
di manakah kakek tua?”
Ki Tinggil berkata perlahan,
gugup ia menjawab,
belum ditanyakan namanya,

19. atau negaranya,
tapi saya gembira Tuanku,
lekas mendapat pertolongan,
pertolongan Yang Maha Kuasa,
maka cepat-cepat,
saya lalu berangkat, Paduka.

20. Inilah sebabnya,
meneruskan perjalanan besok,
melihat matahari terbit,
lalu segera berjalan,
Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan,
ke timur dan utara jalannya.

21. Menelusuri hutan rimba,
berjalan siang dan malam,
tidak tidur serta makan,
serta sampai di Pasir Ucing,
istirahat di hutan ini,
terdapat air mengalir.

22. [sumber] (air) keluar dari sumur,
hutan (tempat) datang Ki Tinggil.
“Duh paman Tinggil ,
nanti (setelah) istirahat (kita) mandi,
lihatlah air ini,
(air ini) sangat (bagus) dan bening.”

23. Kiai Tinggil berkata,
jika (tuan) hendak mandi,
saya ingin tidur-tiduran,
di sebelah hulu (sungai) ini,
sejuk tertiup angin semilir.
Lalu tidur Kiai Tinggil.


24. Lamanya hingga dua minggu,
terdapat air di tengah hutan.
Lalu berangkat Wiralodra,
menuju arah utara perjalanannya.
Lalu bertemu orang (yang menanam) padi,
membuat kampung di hutan.

25. Wirasetra namanya,
berasal dari (daerah) timur,
kelak bakal menurunkan,
Dalem Pegaden.
Kiai Wiralodra bertanya,
sambil keduanya bersalaman.

26. “Duh Kanda Tuanku,
dengan kanda baru bertemu,
dan siapakah nama kanda,
Wiralodra namaku.”
Adapun nama kanda,
Wirasetra.

27. Dinda siapakah namamu,
serta hendak pergi ke mana,
serta aslinya dari mana?”
Wiralodra nama dinda,
berasal dari Bagelen,
(sedang) mencari kali Cimanuk.

28. Menangis sambil memeluk,
“Duh gembira sekali dinda,
bertemu dengan kanda.
Kanda berasal dari timur,
Banyuhurip saudara sepupu(ku),
Dipati Wirakusuma”

29. Lalu dibawa pulang,
ke pondokannya,
disuguhi makan,
sama-sama gembira,
makan bersama-sama,
(sudah lama) tidak makan,
tetangga sama makanannya.

30. Kiai (Tinggil) berkata,
“Duh Tuan baru (sekarang) saya,
makan dengan ikan,
selama ini tidak (ada) makanan,
hanya dedaunan,
yang saya makan.

31. Aduh Tuanku saya memohon,
lama tinggal di sini,
(saya) mau mengistirahatkan badan,
sampai besar daging saya
daging saya banyak (yang) hilang,
…perut buncit.

32. Menginginkan …dari…,
kaki tangan kecil-kecil,
bila berjalan terseok-seok,
saya sering jatuh bangun,
tersenggol oleh …
maka (akan) lama di sini.

33. Keduanya sama tertawa,
mendengar ucapan Tinggil.
“Ya paman sudah bahagia,
bertemu dengan saudaraku,
serta rejekimu paman,
bisa makan dengan kenyang.”

34. Kiayi Wirasetra
menyambung ucapan (dengan) manis,
“Duh kebahagiaan paman,
bertemu di tengah hutan (dengan)ku,
bertemu dengan saudara,
Melimpah …

35. Sangat gembira diriku.”
Berkata Kiai Tinggil,
“Duh saya bahagia Tuan,
karena saya bertamu di sini,
sudah saya rasakan,
makan dua kali sehari.”

36. Raden Wiralodra tadi,
setelah sebulan lamanya,
lalu ia berkata kepada kakaknya,
“Duh kanda, dinda berterima kasih,
semoga saya diijinkan,
mau berangkat hari ini.

37. Di manakah tempatnya,
letak Sungai
Cimanuk menurut wangsit?”
Wirasetra berkata perlahan,
saya mengiringi dengan doa,
semoga cepat ditemukan.

38. Serta dijaga oleh Yang Agung.
Lalu (keduanya) bersalaman,
Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah,
serta berkata dengan perlahan,
“ Tuan saya meminta
daging saya bertambah lagi.”

39. Ki Wirasetra terbahak,
tertawa saking gembira.
“Hai Tinggil saya doakan,
kamu segera menemukan,
keinginan tuanmu,
gampang nanti mampir lagi.”

40. Keduanya berangkat menuju
arah timur …,
masih di hutan belantara,
lalu menemukan sungai.
(Ia) gembira sekali,
“Duh paman Tinggil ,

41. saya kira ini sungai Cimanuk.
Ki Tinggil berkata perlahan,
“Duh Tuan mudah-mudahan betul,
tapi saya masih takut,
tidak ada perkampungan,
untuk meyakinkannya.”

42. Lalu keduanya berjalan,
menelusuri pinggir kali,
dua bulan lamanya,
di pinggir (kali) ini.
Kiai Sedum merasa kuatir,
melihat tempat (mereka) berdua.

43. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan.
Kemudian Kiai mencipta
kebun palawija luas,
terlihat sangat bagus,
tanamannya macam-macam,
terung serta cabai dan kecipir.

44. Ubi emas serta jagung,
padi gajih sangat putih,
mentimun serta lobak,
sangat senang melihat(nya),
kebun palawija luas,
Tinggil melihat dari sebelah timur.

45. Di pinggir kali (letak) pondokannya,
dikelilingi bunga seruni,
tongkeng terjurai di gerbang,
kanan kiri bunga mandakaki,
sedap malam berhadapan.
Ki Sedum duduk dalam rumah.

46. Raden Wiralodra melihat,
melihat kebun.
Wiralodra berbicara,
“Duh Tinggil gembira diriku,
kebun bagus tidak ada (duanya),
di (sebelah) timur seperti ini (juga).

47. Semua tanaman di kebun subur.
Lalu menengokkan kepala,
di dalam rumah ada orang duduk,
duduk (sambil) meraut bambu,
untuk (membuat perangkap ikan.
Lalu berkata lirih.

48. “Kiai saya memohon,
semoga mau memaafkan,
hendak bertanya pemilik
kebun yang begitu indah ini,
serta sungai apa
namanya ini Kiayi?”

49. Ia menjawab membentak,
“Mau apa kamu,
baru tiba (sudah) bertanya-tanya,
dari manakah kamu ini,
apakah akan merampokku,
kamu datang ke pondokku.

50. Ini kan sungai Cimanuk,
aku pemilik kebun ini,
mau apa kamu bertanya.”
Petani yang berubah wujud.
Namaku yang dipanggil,
tidak takut sambil duduk.

51. Kiai Wiralodra kesal. (Ia lalu berkata)
“Kasar sekali kamu Kakak,
saya bertanya malah dibentak.”
Berkata Kiai Tinggil,
“Betul sekali Tuanku,
saya baru pertama melihat.

52. Tetapi wataknya begitu,
tentu karena orang kampung Tuan,
tidak punya tatakrama,
harus dimaklum Tuan,
apalagi orang (yang tinggal di) hutan.
Lalu perlahan-lahan dihampiri.

53. “Duh Kiai tolonglah saya,
sesungguhnya saya Kiai ,
jauh dari negeri Bagelen,
tidak lain saya mencari
Sungai Cimanuk, karena saya
barusan melihat sungai.

54. Inikah Sungai Cimanuk,
bagaimana kalau saya ikut berkebun?”
temannya berkata,
semoga saya ditempatkan Kiai,
saya ikut kepada tuan,
kasihanilah saya.

55. Kiai yang menyamar berkata,
aku tidak akan menolong,
karena aku banyak rakyat,
jangan harap aku menolong,
cepatlah kamu mati,
tidak suka aku melihat.”

56. Raden Wiralodra marah,
raut muka seperti api,
didekatinya orang tua itu,
sambil berkata dengan suara keras,
“Hai kamu orang apa,
tidak bisa diajak berunding!

57. Saya kan sudah meminta,
masalah kebun anda,
apakah harus dipaksa memberi,
kakek … bertani,
memalukan kamu orang kampung,
tidak bisa diajak berbicara lembut.

58. Lalu berpindah kakek itu,
berdiri (lalu) duduk di kursi,
lebih keras berbicara,
walang kerik menuduhku,
karena aku tidak silau,
melihat kamu ini.

59. Mulanya hutan diminta,
lalu kebunku,
kamu betul-betul berandal.”
Raden Wiralodra ,
menubruk orang tua itu,
(lalu) saling mendorong keduanya.
60. Tempatnya di kebun tadi,
mengadu kesaktian,
dibanting lalu menghilang,
lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut),
menghilang menjadi hutan,
tapi ada (suara) terdengar …

61. “Hai Wiralodra cucuku,
jika kamu tidak tahu aku,
Buyut Sidum namaku,
ini bukan Sungai Cimanuk,
sudah dipastikan kehendakku,
kelak (tempat) ini jadi desa.

62. Pamanukan (nama) kampungku,
Cipunegara sungainya,
cepat kamu menyeberang,
berbelok, apabila menemukan,
kijang mas yang matanya intan,
cepat buru kijang itu.

63. Di mana menghilang (kijang tersebut),
itulah Sungai Cimanuk
kelak bila kamu membuka (hutan),
ingatlah nasihatku,
bertapalah jangan tidur
pasti kamu menjadi kaya.”

64. Keduanya sudah menyebrangi,
Sungai Cipunegara,
berjalan dengan cepat,
matahari sudah terlihat,
jika pagi tentu (terbit) di timur,
jika sore terbenam di barat.


65. Lalu memasuki (hutan) lebat ,
melihat macan besar,
menghalangi jalan.
Terkejut Kiai Tinggil,
“Duh tolong Tuanku
di mana aku bersembunyi.

66. (Karena) ada macan besar.”
Lalu berkata lirih,
.. Raden Wiralodra,
“Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini,
sekarang aku ingin bertanya,
macan apa namanya ini?”

67. Macan menggeram di depan(nya),
lalu menubruk
Raden Wiralodra menghindar.
Macan lalu ditempeleng,
lalu macan menghilang,
muncul ular besar sekali.

68. Lalu ular mengejar,
Ki Tinggil mengambil pemukul,
Dipukul(nya) kepala ular.
Hilang ular jadi sungai.
Raden Wiralodra heran,
melihat sungai besar sekali.

69. Lalu ia menemukan ular tadi,
kemudian dilepaskan
oleh Raden Wiralodra
sungai menghilang tanpa bekas
muncul perempuan cantik
masih begitu muda.


III. SINOM
1. (Menghampiri) kepada Raden Wiralodra
minta dikasihani.
“Duh Raden Bagus tuan
Orang yang tampan bertemu di sini,
di dalam hutan.
Aduh saya kasihan sekali,
hendak mencari apa,
serta apa yang dituju?
[Silahkan] Raden terimalah salamku.

2. Kan saya masih gadis,
belum pernah bersuami,
Larawana namaku,
akan mengikuti,
apa yang diinginkan Tuan,
saya sanggup menolong,
kekayaan kejayaan,
asal saya dinikahi,
[silahkan] Raden turutilah kesediaanku.”

3. Ki Tinggil maju ke depan,
sambil berkata lirih
“Duh Tuanku ingatlah,
ini di tengah hutan.”
Wiralodra berkata perlahan,
“Saya tidak takut paman,
sebentar akan saya periksa
pintar sekali berbicaranya,
maaf saya hendak balik bertanya.

4. “Anda ada di hutan,
tidak pantas seorang perempuan,
berada di tengah hutan,
mengaku gadis belum bersuami,
kan saya tidak percaya,
tadi (minta) aku nikahi,
meskipun (kamu) wanita cantik,
tidak akan mau (diajak) menikah,
sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.”

5. “Menjawab Nyi Larawana,
… bagus,
… menanti hasil kemuliaan,
cepatlah jadi kakek-kakek,
gigi ompong pipi kempot,
kuping tuli pinggang bungkuk,
sekarng saya meminta,
jika kamu tidak menurut,
pasti mati berdua bersamamu,

6. Menghalangi di depan,
Raden menghindar ke kanan (dan) kiri,
lalu menangkap Larawana,
Wiralodra menghampiri,
lalu disingkirkan,
(jatuh) tertelentang lalu menubruk,
Ki Wiralodra menubruk,
dikejar lalu bertarung,
mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta.

7. Wiralodra waspada,
tidak kena aku,
lebih baik aku mati,
jika tidak bersatu,
kemudian saling menangkap,
(sambil) menuju arah timur.
Wiralodra waspada,
senjatanya berupa rantai,
tidak ada orang setampan kamu.

8. Lalu menggunakan senjata,
Wiralodra menahannya.
senjata rantai mengenai,
tetapi tidak menyerah,
makin susah melihatnya,
….. karena orang tampan,
heran sekali Wiralodra,
orang tampan … .sakti,
silahkan Raden anda membalas kepadaku.

9. Lalu Raden Wiralodra,
tangannya memegang cakra,
Ki Tinggil cepat mendekati,
“Duh Raden hati-hatilah,
kira-kira Tuan kalah,
karena …,
lalu Den Wiracabra menanti,
Nyi Larawana menadahi,
terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas.

10. Lalu Raden melihat(nya),
badannya berkilau,
tidak salah kijang mas.
Lalu berkata perlahan,
“Paman Kiai Tinggil,
paman lihatlah dengan teliti,
itu kan kijang mas
ayo paman jangan tertinggal,
aku kejar kemana arah (larinya) kijang.

11. Keduanya lalu memburu kijang,
dicegat (di) kanan dan kiri,
dicoba ditangkap (tapi) tidak kena,
jika jauh kijang menunggu,
sehingga sudah jauh perjalanannya,
kijang berlari ke arah timur,
kedua orang itu tidak melihat(nya),
terus mengikuti kijang,
siang malam memburu kijang mas.

12. Lalu berjalan sampai di,
…………. tinggi,
kijang mas menghilang,
terlihat alur sungai,
airnya deras mengalir,
yaitu Sungai Cimanuk,
lalu istirahat di bawah.
lalu keduanya melihat di bawah,
menuju pohon kiara besar,
lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara.

13. Terdengar (seperti) dalam mimpi,
“Nak, ini kan Sungai
Cimanuk yang dicari,
berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua,
sampai keturunanmu,
(sudah) kehendak Yang Maha Agung
memperoleh kemuliaan,
sudah diterima oleh Yang Widi.”
Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra.

14. Sangat gembira hatinya,
dalam mimpinya yang terdengar,
nampak nyata memberi kabar.
Raden Wiralodra,
berkata kepada paman Tinggil,
“Duh paman bahagia diriku,
saya tidur pada hari ini,
bermimpi (ada yang) memberitahu,
ternyata inilah Sungai Cimanuk .

15. Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.”
Ki Tinggil berkata perlahan,
“Duh Tuanku jika demikian,
bagaimana kehendak tuan
untuk tempat tinggal saya?”
Raden Wiralodra
lalu mencari lokasi,
mencari (di) pinggir kali,
menemukan tempat yang luas dan datar.

16. Lalu membuat pondokan,
Ki Tinggil yang membuatnya,
lalu membersihkan badan,
kemudian Raden Wiralodra,
membabat hutan,
serta badak (dan) banteng,
semua melarikan diri berhamburan,
pembawaannya panas dingin,
setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar.

17. Begitu juga Raja Budipaksa,
dengan Patih Bhujarawis,
berkumpul dengan pasukannya,
serta prajuritnya,
dan para senapati.
Ki Gede Muara Cimanuk,
sangat bersedih sekali,
semua pasukan menjadi bubar,
karena Wiralodra membabat hutan.

18. Lalu mennyerang Raden Wira,
bertemu di pondoknya,
Budipaksa berkata,
“Hai satria manusia tampan,
kenapa lancang dan berani,
siapa kamu ini,
merusak anakbuahku,
cepatlah pergi kamu ini!”
Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

19. “Hai setan siapa kamu,
penghuni persembunyian iblis,
beraninya mengusirku,
dikiranya aku takut,
berlagak di hadapanku,
dasar gandarwo bulus,
ke sini majulah kamu
sebab aku tidak akan lari.”
Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya.

20. Seluruh (Ki) Gedeng Muara,
sama sama mendatangi,
heboh pertarungan Raden Wira,
Ki Tinggil memanjatkan doa,
doa Srabad Sulaeman,
duruwiksa banyk (yang) lumpuh,
lalu ada utusannya,
dari Tunjung Bang,
(yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat.

21. Sampai tiba Sultan Mas,
(yang mengatakan) jangan saling mengganggu,
Raden Wiralodra itu,
karena keturunan Majapahit,
(lebih) baik dijaga,
sesama saudara (harus) akur,
karena masih bertalian darah
Rara Kidul ratunya.”
Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah.

22. Sambil menyembah di hadapannya,
meminta dikasihani,
(ia berkata), “Duh Raden Tuanku,
prajuritku salah sasaran,
semoga Tuanku mau memaafkan.”
Berkata Den Wira,
sekarang sipa tuan(mu),
tidak kenal rajaku,
Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas.

23. “Duh diminta Paduka berkata,
adik sultan berbicara denganku,
saya bersukur Dinda sultan,
beserta anak dan saudara,
sampai keturunan Dinda,
kan kanda bekerja …
wangsit (dari) Yang Maha Tinggi.
Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus.

24. Lalu siang malam membabat,
Ki Tinggil menjadi koki,
serta menanam palawija
ubi jalar jagung serta kecipir,
macam-macam palawija,
(tanaman) gundem jawawut tumbuh subur,
tidak ada kekurangan.
Ki Tinggil berkata perlahan,
“Duh bendara baru sekarang saya senang.

25. Tidak ada kekurangan,
palawija tidak habis dimakan,
terkenal kebunnya,
karena bagus tanahnya
banyak orang berdatangan,
ikut (membuat) rumah di situ,
sejak tanaman subur,
bergantian orang yang datang,
sama subur bermacam-macam tanaman.

26. Banyak orang yang membuat rumah,
sampai ke negara tetangga,
Ki Tinggil menjadi lurah,
tidak ada orang yang kekurangan makan,
di sungai Cimanuk.
Setelah tiga tahun
Lama(nya) membuat perkampungan,
Raden berkata perlahan,
“Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama,

27. (saya) sangat ingin bertemu
dengan ayah ibuku
paman akan ditinggalkan,
tinggal di sini dulu,
bila ada yang pulang berperang,
terimalah (dan) suruh masuk,
jangan dielakan,
Tinggil ditinggal sendiri,
Lalu berangkat Raden menuju negara.

28. Diceritakan perjalanannya,
sampai ke Banyuhurip,
menuju ke keraton,
Bagelen negaranya,
ayah ibunya sama-sama sedang duduk,
berkumpul dengan ketiga anak(nya),
ibu dan ayahanya terkejut,
melihat putranya datang,
lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira.

29. “Aduh anakku belahan jiwa,
tidak disangka sekali,
siang malam terbayangkan,
ibu sampai bengkak matanya,
menangis siang dan malam,
karena ingat kepada anak,
bagaimana anakku belahan jiwa,
perjalanan putraku,
ceritakan kepada ibu dan ayah.”

30. Putranya berkata kepada ayahnya,
mengenai perjalanannya,
ayah ibu mendengarkan,
serta saudara-saudaranya,
semua sama menangis,
kasihan mendengar pengalamannya.
“Duh anakku belahan jiwa,
berkat pertolongan Yang Widi,
semoga tercapai yang diinginkan.”

31. Si Tinggil diangkat,
menjadi lurah di sini,
empat orang putraku,
salah seorang (di antaranya) kamu,
pimpinlah negri Bagelen,
supaya menjadi tahu,
aturan mengurus negara,
dengan saudaramu,
Wangsayuda dengan Tanujaya,

32. serta Wangsanagari,
dan Tanuhjiwa,
gampang besok kalau sudah jadi,
di barat jadi negara,
ayahnya ikut berkata,
terserah kehendak kalian,
pesan ayahanda,
semua siap bekerja dengan baik,
para saudara pekerjaannya mengurus negara.

33. (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal,
lebih banyak orang datang,
yang ikut membuat perkampungan,
jumlahnya lima ratus orang
menjadi kaya Kiai Tinggil,
seperti pangkat tumenggung,
Sukubahu (dan) Jungjang Krawat,
diangkat oleh Kiai Tinggil,
Bayantaka, Jayantaka, Surantaka,

34. Wanaswara, Puspahita,
serta Ki Pulana,
pintar membuat siasat perang,
karena luas tempatnya,
dibuat seperti negara,
gardu tempat menjaga,
setiap lorong dijagai,
orang kecil senang hatinya,
setiap hari yang datang membuat rumah

35. Kemudian ada yang datang,
cantiknya tiada tara,
Hindang Darma namanya,
serta masih gadis,
diiringi dua pengawal,
memikul gandum dan padi,
pengawal(nya) itu petani
menuju wisma Ki Tinggil
ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk.

36. Ki Tinggil lembut bertanya,
“Saya mohon maap yang sebesar-besarnya,
kepada tamu yang baru tiba,
apa maksudmu Nyai,
dan siapakah namamu,
aslinya dari mana ?”
Nyi Hindang menjawab,
“Duh paman tidak kenal padaku,
Hindang Darma (namaku) saya mengembara.
37. Saya akan menumpang,
ikut membuat pondokan,
saya senang melihatnya,
saya hendak berkebun,
atau saya bersawah,
semoga saya diberi izin.”
Ki Tinggil menjawab,
“Silahkan ikut saya
di mana yang akan dipilih.

38. Di barat atau timur,
silahkan memilih,
tanah yang agak luas,
Nyi Hindang (boleh) memeriksa,
memilih tanah yang cocok,
untuk ikut bertani.”
Sudah keluar dari rumah,
Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam),
baru kali ini aku melihat wanita

39. Cantik dan mulus tubuhnya,
apa pertimbangan junjunganku,
untuk istri tuanku,
tapi nanti tuanku,
jika datang ke sini
tentu aku lalu akan menyampaikan,
alangkah gembira tuanku
melihat wanita sangat cantik
karena Hindang Darma sudah membuat rumah.

40. Karena subur kebunnya,
murid-muridnya itu,
Hindang Darma kembali jaya,
sebab bermanfaat kesaktiannya,
begitu pula semua muridnya,
menanti bertemu musuh,
seluruh murid-muridnya,
terkenal ke negara lain,
terdengar kepada Pangeran Palembang.

41. Pangeran sangat sedih,
ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki,
(lalu) berkata kepada muridnya,
karena puluhan (murid) Pangeran,
“Hai murid- muridku,
aku sudah mendengar,
ada wanita kembali,
pemberani namanya,
berguru ilmunya seperti aku.

42. Sekarang muridku semuanya,
cepat-cepat berdandan,
kalian pergi ke Pulau Jawa,
tangkaplah untukku,
aku tidak mau mendengar.”
(Lalu semua) sudah menaiki perahu,
lalu cepat memasang layar,
sudah sampai perahunya,
di muara lalu semua menyeberang.

43. Karena Pangeran sangat pandai,
dalam sekejap sudah tiba
di pondokan Hindang Darma.
Terkejut Nyi Hindang melihat
Kedatangan orang banyak,
lalu berbicara lembut,.
“Saya berbahagia kedatangan tamu
(apalagi) pembesar yang datang,
silahkan paduka duduklah semua.”

44. Pangeran terpesona melihat(nya),
berpikir di dalam hati,
wanita ini cantik sekali,
sayang sekali kelakuannya,
perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki.
Lalu Nyi Hindang berkata,
“Duh mohon beribu maaf
karena paduka,
bersama-sama datang ke tempatku.

45. Saya sangat terkejut,
saya berasal dari dusun,
serta ada perlu apa,
siapa nama (tuan),
asal tuan dari mana,
sepertinya ada pekerjaan besar
datang dengan senjata lengkap,
dengan pasukan sekerajaan,
seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan.”

46. Pangeran menjawab,
“Sayang sekali anda ini,
wanita secantik anda,
tidak mendengar berita,
yang sedang berguru ilmu,
di negeri Palembang,
keturunan Sultan Aryadillah,
Pangeran Guru namanya,
jadi guru semua para Pangeran.

47. Inilah murid saya,
yang ikut dengan saya,
aku perlu memeriksa kamu,
jika kamu (telah) berguru ilmu,
jangan mungkir anda,
ingin menyamai namaku,
(agar) terkenal di seluruh negara,
pangeran taat kepadaku,
banyak yang berguru kepadaku.

48. Tinggal kamu Hindang Darma
lancang memaksa (dan) berani,
menjadi guru seperti saya,
sombong kamu ini,
wanita cantik serta kulit kuning,
tiada tandingannya
seperti kecantikanmu Hindang Darma
pelacur murahan kamu ini,
tidak memakai tatakrama seorang wanita.

49. Seperti kamu orang yang sakti.
seperti yang lebih unggul,
lancangnya keterlaluan,
tidak tentu negaranya,
tidak ada manusia,
seperti kelakuanmu itu.”
Nyi Hindang menjawab,
“Duh sayang sekali rupa seperti Tuan,
rupa tuan sangat tampan (dan) gagah.

50. Tetapi ucapannya kasar,
tidak bisa berkata pelan,
sungguh perkataan Pangeran,
berbicaralah yang sesungguhnya,
hendak apa Tuan,
kan sudah mempersilahkan,
atau menyisakan pekerjaan,
bertanya kepadaTuan,
mau apa, silahkan (saya) mengikuti keinginanmu.

51. Hindang Darma tidak silau,
atau segan melihat,
di depan di halangi,
tamu meminta disuguhi,
senjata ujung keris,
atau kesaktian guru,
silahkan sekehendak Tuan,
semuanya akan dilayani,
kalau kalah saya tidak akan malu.”

52. Cepat pangeran menyerang,
Wisanggeni namanya,
Bramakendali keduanya,
Bratakusuma adiknya,
kemudian keluar,
mencari tempat yang luas,
pertarungan diperkirakan lama,
sambil menantang bertarung,
“Duh Pangeran di sini tempat yang luas.

53. Sudah kacau perkataanmu,
sayang wajah tampan(mu),
pertarungan mengadu kesaktian
bertarung mengadu senjata,
banyak pangeran yang tewas,
Nyi Hindang sangat sakti
susah menghindarinya,
semua pangeran tewas,
dimakamkan di pekuburan Darmayu.

54. Ki Tinggil sangat takut,
Ki Pulaha diperintahkan,
sudah menghadap,
“Kang Pulaha saya merasa bingung,
9takut) dimarahi paduka,
“Diizinkan membuat tempat tinggal,
serta tempat untuk bertani,
kesenangannya bertani,
ternyata malah dipakai tempat bertarung.

55. Semua pangeran
yang berperang tewas,
dari negara Palembang,
tak disangka masih saudara,
dengan paduka.
semua teman-teman
menunggu tempat ini,
saya akan menghadap paduka,
sudah pernah mendapat marah dari paduka.

56. Lalu berangkat secepatnya,
berjalan siang dan malam,
karena Ki Tinggil berjalan,
meskipun (seorang) pelayan,
bijaksana serta sakti,
sebentar saja sudah sampai,
di negeri Bagelen,
lalu menghadap Paduka,
semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil

57. Ditubruk Ki Pandakawan,
kemudian dirangkul,
“Duh paman yang saya kasihi,
dahulu saya tinggalkan.
Air mata bercucuran,
menangis memanggil-manggil,
dahulu sama-sama menderita.
Ki Tinggil menangis tersedu,
serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah.

58. Lalu ayahnya berkata,
“Aduh anakku.”
Keduanya berdiam diri.
“Sudahlah tidak apa,
saya doakan kepada Yang Widi,
semoga ananda berdua menjadi kaya.
Keturunan si Tinggil,
makmur sampai nanti,
nanti si Tinggil akan saya tanya.

59. Aduh mas junjunganku,
Duduklah, istirahat dulu,
lega hatinya,
serta katakan kepadaku,
karena (kamu) ditinggal sendiri,
Tinggil di tempat tuanmu,
apa mendapat kesenangan,
temanmu pada selamat,
Tinggil berkatalah padaku.

60. Sesungguhnya Tuanku,
ditinggalkan (sendiri) di negara,
mendapat kasih sayang dari Yang Sukma,
diberi kesejahteraan,
lagi pula kejadian,
subur makmur di dusun,
serta dibangun negara,
mengatur siasat perang dan bawahannya,
berkat tuan semuanya terjadi.

61. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan,
celaka saya tuan,
kedatangan Nyi Hindang Darma,
masih gadis (dan) sangat cantik,
berjajar membuat pondokan,
Hindang Darma (punya) kelebihan,
serta banyak orang yang datang,
Hindang Darma kembali dari berguru,
terdengar oleh Pangeran Palembang.

62. Mengajarkan kebajikan,
Nyi Hindang semakin berani,
lalu diserang Nyi Hindang,
Pangeran Guru beserta Kiai,
dibantu prajurit istana,
karena tadinya hendak menangkap,
Nyi Hindang Darma didakwa,
menjadi guru pulang mencari ilmu,
sambil membawa murid pangeran.

63. Karena sama-sama berperang,
mengadu kesaktian di medan perang,
Nyi Hindang sangat sakti,
semua pangeran tewas,
tak kuat bertarung.
setelah setahun lamanya,
maka saya secepatnya,
memberitahukan tuan,
seperti apa kehendak tuan.

64. Itu Tuan Singalodra,
tumeggung di negara Bagelen.
“Hai anakku Wiralodra,
itu kan kakekmu,
dari Palembang mencari ilmu,
kalian turunan Majapahit,
hati-hati menangkapnya,
Hindang Darma seorang perempuan,
menangkapnya harus secara halus.

65. Bawalah saudaramu,
Si Wangsanagara,
Wangsayuda, Tanujaya,
Tanujiwa beserta adiknya,
Hindang Darma sangat sakti,
kakekmu (juga) sama tewas,
anandamengikuti kehendakmu,
mohon izin ayahanda
ayahanda ikut iklas mendoakan.”

66. Semuanya menghaturkan sembah,
kepada ibu dengan ayahanya,
dipati membaca doa,
dipasrahkan kepada Yang Widi.
Ki Tinggil berkata perlahan,
“Duh paduka junjunganku,
saya minta didoakan,
saya meminta berkah Paduka
Insyaallah, Ki Tinggil didorong kemuliaan.”

67. Tidak dikisahkan di jalannya,
semuanya sudah sampai di pondokannya,
tempatnya di rumah Ki Tinggil,
Jungjang Krawat datang menghadap,
demikian jugaBayantaka ada,
serta Ki Pulaha,
Puspahita (dan) Wanasara
semua lengkap menghadap.
Raden berkata kepada Ki Pulaha.

68. “Paman Kiai Pulaha,
sertai Ki Tinggil pergi,
untuk mempersilahkan Nyi Hindang,
kiranya (harus) terbawa,
dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan,
silahkan saudaraku
sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra)
menetap di pondoknya,
secepatnya berganti tembang.




IV. KINANTI

1. Telah tiba yang diutus,
ke tempat tinggal Nyi Hindang.
Nyi Hindang terkejut melihat
kedatangan Ki Tinggil.
“Duh selamat datang paman,
lama sekali tak terlihat.”

2. Ki Tinggil berkata perlahan,
Raden Ayu sesungguhnya saya
salah tidak memberitahukan,
sesungguhnya hati saya,
melihat orang(-orang) berperang,
saya takut Raden Ayu.

3. Saya lalu bersembunyi,
terlunta-lunta saya pulang,
tiba di tempat (asal) saya di timur,
serta kembali lagi ke rumahku,
Tuanku ikut dengan saya,
serta saudara kakak dan adiknya.

4. Lalu saya diutus,
mengundang Raden Ayu,
datang ke rumah saya,
harus terbawa oleh saya
dan Junjang Krawat.”
Segera Nyi Mas menjawab,

5. Nyi Hindang berkata lembut,
“Baiklah tapi saya harus berdandan dulu.”
Nyi Hindang secepatnya berpakaian,
dihiasi deretan sisir,
kancing berwarna hitam,
kulit kuning langsat

6. Perawakannya sangat ayu,
tiada ada pada wanita lain,
paras seperti Hindang Darma.
dengan kawan-kawan Ki Tinggil,
saudara Hindang Darma,
seperti bidadari.

7. Setibanya lalu menghaturkan sembah,
semuanya mendekat,
semua (ingin) melihatnya,
permisi untuk melihat
kepada Hindang Darma,
cantiknya tiada tara.

8. Raden lalu berkata lembut,
“Selamat yang baru datang,
silahkan masuk,
saya tamu baru tiba,
ingin sekali cepat bertemu.”
Nyi Hindang berkata perlahan.

9. Raden mohon beribu (maaf),
juga Raden baru tiba,
di pedukuhan ini,
karena Paduka,
saya ingin menumpang
kepada Paduka.”

10. Maka saya disuruh,
Oleh Paman Kiai Tinggil,
cepat-cepat perjalanan saya,
karena saya sangat hormat,
(dan) saya merasa menumpang,
kepada Paduka.

11. Juga Raden saya memohon,
semoga diterima bakti saya,
dari kecerobohan saya,
apalagi saya perempuan,
karena miskinnya saya,
hendak ikut selamat.”


12. Wiralodra berkata manis,
“Tidak menjadi apa Nyai,
karena saya memerintahkan,
kepada Kiai Tinggil,
siapa yang hendak membuat pondokan,
saya perintahkan untuk diberi izin.

13. Tetapi saya Nyai perlu (tahu),
(tempat ini) jauh dari negri Bagelen,
serta saudara-saudaraku,
perlu memeriksa perkara ini,
karena kewajibanku,
semoga berkata padaku.

14. Menurut Pangeran Guru,
yang berperang dengan Nyai,
coba jawab Nyi Hindang,
bagaimana asal mulanya,
saya ingin mendengarkan,
yang menjadi asal-mulanya.”

15. Nyi Hindang lalu berkata,
“Duh Raden saya (akan) mengisahkan,
bersumpah di hadapan Paduka,
tidak berani melebih-lebihkan,
atau mengurangi,
(akan) diceritakan yang sesungguhnya.


16. Awal mulanya saya,
sedang berada di pondokanku,
terkejut (karena) kedatangan pangeran,
bersama-sama muridnya sampai
ke rumahku,
lalu marah tiada tara.

17. Perintah Pangeran saya turuti,
karena saya banyak orang,
bisa membuat sawah,
atau saya berkebun,
karena saya perempuan.
saya mencari akal Raden.

18. Saya memberi pelajaran bertani,
orang(-orang) membantunya,
bersawah dan berkebun,
saya diperintahkan, saya berani
mengajarkan ilmu dan
(ada yang) hendak menangkap saya.

19. Saya akan dibunuh,
(saya) dikepung oleh para murid(nya),
semua pangeran.
(Berkat) pertolongan Yang Maha Widi,
pangeran sial dalam pertempurannya,
semuanya sama-sama tewas.”

20. Wiralodra berkata manis,
“Kalau begitu keadaannya,
kakek guru yang salah,
menuruti hawa napsu,
meskipun saya orang kuat,
saya tidak (akan) mengikuti.

21. Jadi yang hendak kukerjakan,
hendak meminta kerelaan Nyai,
karena saya membawa jagoan,
hendak mencoba bertarung dengan Nyai,
taruhannya jiwa dan raga,
(bila) Nyai kalah menjadi istri(ku).

22. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu,
karena laki-laki kalah oleh perempuan,
itu permintaanku,
supaya saya tahu.
segala tingkah-laku Nyi Hindang,
saya yang menyaksikan.

23. Hindang Darma dengan memelas
berkata dengan sangat takut,
“Duh Tuanku jungjunganku,
saya sangat takut
saya memohon hidup, Paduka,
maafkanlah saya.”

24. Wiralodra perlahan berkata,
“Nyai jangan takut begitu,
karena sudah saya izinkan,
saya hendak melihat,
jadi termasuk mengadu nasib,
saya izinkan untuk berpikir.

25. Perang tanding memperebutkan kemenangan,
Hindang Darma dengan adik (Wiralodra),
jika demikian kehendaknya,
harus maju bertarung,
tetapi dengan sangat saya memohon,
sudah jadi perasaan paduka.

26. Hindang Darma menyembah,
mundur dari hadapan gusti,
lalu Raden ke luar,
berdua berdandan keprajuritan,
Tanujiwa (dan) Tanujaya,
ke luar berperang tanding.

27. Raden keluar berteriak,
Tanujaya namaku,
kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang,
mari sama-sama mengadu kesaktian,
bila kalah Nyi Hindang,
pasti bakal kunikahi.

28. Kan jadi istriku.
Nyi Hindang menyambut perang perlahan,
saling mengadu kesaktian
Raden lalu ditebas,
Tanujaya pingsan,
terguling di atas tanah.

29. Ki Tinggil telah membawanya,
Tanujiwa lalu maju,
bertarung berhadap-hadapan.
“Aduh Nyai Hindang cantik,
betul-betul sakti mandraguna,
wanita cantik (yang) sangat menarik hati.

30. Jangan menghindar Cantik,
(saya) ingin memangku Nyai.”
Nyi Hindang lalu menggebrak,
(Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh
di hadapan Wiralodra,
(dia) tersenyum melihat adiknya.

31. Membelalak matanya,
tersengal-sengal napasnya,
memanggil, kakang tidak kuat,
Hindang Darma sangat (sakti),
saya mengaku kalah,
(pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik

32. Wiralodra berkata manis,
“Bagaimana adik rasanya,
maju bertarung,
apa merasa senang hati,
orang muda mashur jika makan,
bersenang-senang minum kopi.

33. Mentang-mentang ayah dan ibu,
sangat kaya harta benda,
putra pembesar negara,
gagah seperti adik,
mulai mengatur pakaian,
(malah) bertarung kalah oleh perempuan.

34. Bila seperti diriku,
malu banyak yang melihat.”
Tanujaya berkata kasar,
“Coba kanda keluar,
aku ingin melihat,
Hindang Darma sangat sakti.

35. Lalu ia mempersilahkan,
(Raden) Wangsayuda,
“Silahkan apa keinginanmu,
bertarung berdua (dengan),
Nyai Hindang Darma.”
Wangsayuda berkata perlahan,

36. “Duh Dinda kanda tak sanggup,
gerakan Nyi Hindang,
seperti burung sikatan menyambar belalang,
adik berdua kalah,
mendapat malu (di) pertempuran.
Kanda jangan memulai.

37. Jadinya sangat susah,
malu oleh ayahanda,
diperintahkan menangkap,
Nyai Hindang cantik,
sudah kalah jagoannya.
kanda pasrah adikku.

38. Adiknya lalu berkata,
Hindang cantik bukan musuh,
sungguh kanda malu oleh ayahanda.”
(jika) sudah kembali ke negeri,
berkelana ke setiap (negeri?)
bahagia (jika) pergi ke gunung.

39. Raden Wiralodra berkata,
sambil tersenyum berkata lembut.
“Biasa orang yang kalah bertarung,
malu untuk kembali pulang.”
Wangsayuda menyela,
“Tidak berguna kamu ini.

40. Bawa kedua jagoan ini
menyerang sepanjang jalan,
tidak disangka tumbang tarungnya,
…. saya adu kemampuan(mu)
ternyata tidak berguna,
bertarung keroyokan.”

41. Tanujaya dan adiknya
Tanujiwa membentak.
“Kok kanda Wangsayuda bisa,
Memerintah adik berdua,
silahkan kanda bertarung,
nanti dinda akan melihat.

42. Bila unggul bertarung,
melawan Hindang Darma,
saya bernazar untuk menggendong kanda,
dari sini hingga (ke) negara
Bagelen kepada ayahanda.
bergantian berdua.”

43. Wangsayuda tertawa,
terbahak-bahak keras.
“Adik berdua berbicara (demikian),
kanda tidak berani,
waktu melotot takut sekali.”
Lalu berkata berlahan,

44. Raden Wiralodra,
dengan saudara-saudaranya,
“Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan,
nanti kanda maju bertarung,
berperang dengan Hindang.
Nyi Hindang saya panggil.”

45. Kemudian dipanggil(nya).
Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra),
lalu Nyi Hindang menyembah.
Wiralodra berkata perlahan,
“Duh Mas Nyai Hindang Darma,
jadinya saya panggil,

46. jangan diambil hati,
wajarlah orang yang bertarung,
siapa kalah siapa menang,
ternyata unggul berperang,
karena bertanding di pertarungan.
Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti

47. Tinggal saya sendiri,
[bahwa meminta] ingin merasakan,
manis legitnya
Nyai Hindang berkata perlahan,
“Duh Tuanku,
jadi apa yang harus kulakukan?”

48. Jangan Nyai …
harus dituruti ….”
Lalu Nyai ke luar ……,
……Nyi Hindang menyembah perlahan,
ke luar hendak bertarung,
karena merasa sayang.


V. DURMA

1. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung,
Raden dengan Hindang cantik,
sudah saling berhadapan,
mengadu kesaktian,
oleh karena keduanya sama sakti,
mandraguna,
sama-sama seimbang.

2. Lalu saling mendorong,
tarik menarik.
Wiralodra berkata,
kepada Nyai Hindang Darma,
“Ternyata betul prajurit (sejati),
kamu Nyi Hindang,
lalu ditangkap dengan berani.

3. Nyi Hindang lepas dari tangannya,
lalu diburu,
Nyai Hindang berlari,
oleh Raden cepat diburu,
diikuti Hindang cantik,
ke manapun,
menghilang menjadi hutan.

4. Menjadi taman yang airnya sangat bening,
yang bertarung ini,
menghilang menjadi ular,
mengejar Raden Wira,
yang kemudian menjadi burung.
(yaitu) burung garuda,
ular lalu menghilang.

5. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air,
karena Raden menjadi burung,
kutilang hendak makan,
makan buah jambu itu,
lalu jambu menghilang,
serta berkata,
“Susah sekali diriku.

6. Karena Raden sakti tiada tara,
saya bersembunyi ditemukan.
Nyi Hindang bingung hatinya.
Raden terus mengikuti,
Kemanapun,
lalu yang bertarung di pinggir gunung.

7. Menjadi batu sebesar anak gunung
bercampur … gunung,
tetapi tidak samar Den Wira.
Bingung sekali Nyi Hindang,
menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat,
Nyi Hindang meloncat,
mencebur ke dalam air.

8. Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon,
semakin Nyai cemberut,
(semakin nyata) kecantikannya,
bersama-sama mulia denganku,
menjadi bunga di istana
bersamaku.
Saya tidak bisa

9. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia,
masih penjang perjalananku ini,
tetapi saya mohon,
sudah hilang(kan) namaku,
yang menjadi burung ini,
dengan ceritanya,
Raden dengan negara(nya).

10. Bila kelak sudah menjadi negara,
di sebelah barat kali Cimanuk,
semoga diberi nama,
Darmayu namanya nanti,
Hindang adalah nama di air,
karena ada mata airnya
sampai di Cimanuk dari gunung.

11. Raden Wira menyesal dalam hati,
Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik,
kasmaran melihatnya,
lalu berjalan menuju barat,
Pegaden yang dituju,
yang…
(setelah) bertemu (lalu) saling peluk.

12. “Aduh Dinda baru bertemu,
dari mana Dinda,
seperti apa perjalanannya,
membuat negara,
di (pinggir) hutan Cimanuk,
(apa) keinginanmu tercapai?”
Adiknya berkata lembut.

13. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya,
kakaknya mengamini.
“Sukur bahagia untukmu,
semoga lancar nanti,
menjadi negara,
untuk keturunan,
anak cucu[nya] Dinda.

14. Di Pegaden Wiralodra tiga hari,
Setelah keduanya melepaskan rindu,
lalu berkata kepada kakaknya,
“Hendak meminta izin kanda.”
Kakaknya mengizikan,
lalu berangkat,
kembali ke negaranya.

15. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur,
terkejut ada ……,
(terdengar) sorak-sorai,
bercampur dengan suara senapan,
ketika Raden mendekati,
kepada pasukan,
pasukan yang akan berperang.

16. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan,
hendak memeriksa,
hutan di sebelah barat Cimanuk,
(karena) ada yang membuat negara,
Asalnya dari sebelah timur,
lalu pasukannya tiba.

17. Kemudian bertemu (di tepi) kali,
Wiralodra bertanya lembut,
“Duh mencari apa,
ini pasukan siapa,
siap sedia berperang.”

18. ………
mengiringi Paduka,
hendak memeriksa
yang membangun negara,
dan siapa namanya,
berani membabat (huta),
Garage nama daerahnya.”

19. Jika berkata kebetulan diriku,
bagaimana jika sudah waktunya,
besar negaraku,
siapa yang layak bertarung,
negara ini masih bakal,
tentu akan rusak.”
Lalu berkata lembut.

20. Adapun yang membangun bakal negara (ini),
sebetulnya saya ini
Wiralodra nama saya,
yang berani membangun negara.
nanti saya menghadap Paduka
Kangjeng Sultan,
(karena) telah menjadi negara.

21. Karena waktu itu
masih bakal, Dipasara lalu menjawab,
“Kebetulan sekali saya,
sukur (dan) bahagia bisa bertemu,
silahkan menghadap Paduka,
Dalem Kuningan
kedua orang itu lalu menghadap.

22. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan,
lalu ia berkata,
cepatlah Dipasara,
menghadap kepadaku,
membawa teman kamu ini,
itu siapa?”
Lalu berkata lembut,

23. “Sebabnya saya menghadap Paduka,
(hendak memberitahukan kepada) Gusti,
Bahwa yang membangun negara,
Inilah (Wiralodra).
Berkata (Arya) Kumuning,

24. Perkenalkan saya Arya Kuningan,
datang dari hadapan Paduka,
Wali Sunan (Jati) di Gerage,
diperintahkan maju berperang,
baru selesai berperang
dengan Dalem Kiban,
prajurit dari Galuh.

25. Saya ini diutus Sultan,
disuruh memeriksa ini,
(orang yang) berani membangun negara,
(yang berada di) wilayah sultan,
Garage nama negaranya,
dizinkan oleh siapa?”
Wiralodra menjawab,

26. Saya mengaku salah kepada tuan,
belum berkata kepada paduka
Sultan Wali,
saya merasa bersalah,
tetapi saya meminta keadilan,
terserah anda,
saya orang yang bersalah.”

27. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar,
“Jika demikian kamu ini,
tidak meminta izin Gusti Sultan,
bila prajurit itu
dari negara Kuningan ,
bijaksana,
aku adalah Arya Kumuning.

28. Wiralodra adalah putra dari timur
turunan dari Majapahit.”
Lalu berkata
“Memangya kenapa (arya) Kuningan?
aku sudah minta maaf,
sampai menyembah,
(kamu) prajurit sombong.

29. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda,
tidak punya sopan santun,
orang Sunda kan sembrono,
mengakunya prajurit tangguh,
dikiranya aku takut,
olehmu.
Kemuning aku tidak takut.”

30. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra,
“Coba lawanlah aku,
rupa seperti kamu,
Dipasara tangkap aku.”
Wiralodra mengingatkan,
lalu ditendang,
Dipasara terguling.

31. Dipasara tertelungkup di atas tanah,
Kemuning menyerang (dengan) berani,
bertarung saling mendorong,
untuk mengadu kesaktian,
karena (keduanya) prajurit
tidak ingat belum memperoleh izin Paduka.

32. Tindakan Arya Kumuning,
keinginan pribadi,
Sinuhun tidak mengizinkan,
perang atau mengusir,
orang yang membangun negara,
bersukur (karena) bertambah
wilayah jajahan.
Kemuning melangkahi (Sinuhun).

33. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang,
ditendang berguling,
lalu merayap menuju kuda,
Si Windu nama tunggangannya,
lalu ditunggangi,
ia tidak berdaya,
pasti dia mati.

34. Si Windu menendang karena kuda pusaka,
ia masih kuat,
karena banyak pengalamannya,
orang Galuh banyak yang mati,
(karena) Si Windu yang menendangi,
terus maju,
lalu ditangkap dengan berani.

35. Oleh Raden Wiralodra,
lalu ditangkap,
kendalinya dipegang,
tidak bisa bergerak
kekuatannya sudah hilang,
ketika perang Galuh dulu,
waktu Dalem Kiban,
memerciki gunung.

36. Maka si Windu tidak kuat bertarung
terkejut badannya,
Den Wira (merasa) sangat kasihan
Si Windu menyeringai,
lalu Si Windu mengucap,
“Aduh Raden
lepaskan saya Paduka.

37. Karena saya tidak berani bertarung,
melawan Raden.”
Windu berdiri di atas lutut kakinya,
pertanda sujud kepada Paduka.
Raden kasihan melihatnya,
lalu dilepas,
(lalu) berjalan mundur kuda (itu).

38. “Kurangajar!” Kumuning berkata,
heran sekali Si Windu ini,
padahal dia sering berperang,
menggempur manusia satu negara,
perang ini kan melawan satu orang,
ia kalah bertempur.”
Si Windu segera melesat .

39. Semakin kencang majunya,
karena Windu sangat marah,
seperti agak melawan
berperang ditarik dengan cepat,
tidak kuat Arya Kumuning,
menahannya,
(karena) bagaikan kilat majunya.

40. Serta sampai di perbatasan negaranya,
negara asal
Gusti Kuningan
sedih (hingga) tidak sadarkan diri,
Paduka berguling di atas tanah,
Windu berlari,
menghilang di dalam hutan.

41. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan,
karena kuda (ini) dulunya,
keturunan Budaprawa,
dari kuda Harba Puspa.
Oleh karena itu Wiralodra semakin …
bertemu
dengan Patih Dipasara.

42. kDipasarah lalu
cepat menyembah,
kepada Wiralodra,
serta memasrahkan diri,
jiwa raga hamba.
Wiralodra berkata lembut,
kepada Dipasarah,
“sudahlah Dinda sekarang

43. cepat pulang menuju tuanmu
kan sudah ada negara.”
Dipasarah menyembah
kepada Kiai Wiralodra,
sangat gembira hatinya,
(beliau) sangat sabar,
betul-betul prajurit sejati.

44. Sudah bubar semua tentara Kuningan,
lalu Raden Wira,
hendak melanjutkan perjalanannya,
di mana ke mana pun sedia,
ke negara Garage,
kepada Gusti Sultan,
sudah tiba di hadapan Paduka.

45. Lalu menyembah mencium kaki Sultan,
lalu dipegangnya.
“Duh kamu Wiralodra,
kebetulan bertemu,
(para) wali sedang berkumpul,
bahagia sekali kamu ini,
meminta restu Paduka.

46. Mohon ampun beribu ampun,
mati hidup saya,
diserahkan kepada Paduka,
semuanya terserah Sultan,
serta takdir Yang Widi,
(atas) kelancangan hamba,
(karena)saya (telah) membuat negara,

47. untuk keturunan Wiralodra,
serta anak cucu ,
karena anda keturunan sultan,
keturunan Majapahit,
dari Brawijaya dulu,
keturunannya dahulu,
orang yang menggantikan.


VI. DANGDANGGULA
1. Wiralodra berkata kepada Paduka,
memohon berkah dari para wali,
sekarang hendak kembali.
Semuanya sudah mengizinkan,
Wiralodra mundur dari hadapan Paduka,
cepat-cepat perjalanannya,
sampai di Cimanuk,
lalu [sama-sama] bertemu,
(dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan,
berpelukan semua saudara.

2. “Duh kanda sangat kuatir sekali,
semua saudara yang ditinggalkan,
tidak mendapat kabar berita.
Hindang Darma menang,
seperti apa Nyi Hindang Darma,
tertangkapnya itu?”
Kakandanya lembut berkata,
“Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali,
Tidak suka menikah.

3. Ada sumber air di kali Cimanuk, dinda,
tetapi Hindang terdengar suaranya,
jika nanti menjadi negara,
namailah Darmayu.
Tetapi dinda menurut,
karena Nyai Hindang Darma,
betul-betul orang yang mumpuni,
tidak licik bertarungnya,
Hindang Darma bahasanya lembut,
setia serta bijaksana.

4. Serta sudah takdir Yang Widi,
meskipun kanda yang memulai,
membuat negara,
kan Hindang Darma ikut,
memperluas negara,
menjadi campur dengan wanita,
kebiasaan orang Dermayu,
kelak hingga anak cucu,
jika bepergian tidak memberi wasiat,
keris atau pedang.

5. Kelak negara Dermayu ini,
menjadi tujuan seluruh bangsa,
(orang dari) sebrang nanti tiba,
dari timur barat datang,
karena perbawa wanita,
sama-sama berumah tangga,
ada di Darmayu,
negerinya sangat ramai,
tetapi susah nanti anak cucuku,
banyak yang sengsara.

6. Tetapi kanda (serta) adik-adik,
aku persilahkan semua saudara,
membuat pasukan,
moga-moga semua membangun,
katumenggungan dinda,
tempat[nya] mengatur pekerjaan,
serta perkemahan besar,
untuk meresmikan negara,
semua oarang suruh berkumpul,
(untuk) menjadi pejabat di negara.

7. Semua saudaranya ini,
berkata silahkan bagaimana kehendak kanda,
permisi dinda hendak ke luar sekarang.
Kakaknya mengizinkan,
berdua keluar dari pintu,
bertemu di tempat upacara,
dengan Ki Tinggil.
Kiai Pulaha, Bayantaka,
Surantaka, dengan mantri Wanasara,
lengkap berjejer di depan.

8. Sudah berunding semuanya,
hendak mendirikan negara lain,
semua sudah sedia,
berbentuk perkemahan besar,
karena untuk tempat berpesta nanti,
berkumpul para kawula,
sampai seminggu lamanya,
suami istri berkumpul,
menyembelih kijang memotong sapi,
hadiah untuk (para) kawula.

9. Gamelannya angklung calung suling,
serta nyanyian gembira,
bergantian menari,
Ki Tinggil juga menari,
lenggak-lenggok (dengan) perut buncit,
disoraki oleh temannya,
mulutnya berbicara terus,
oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak,
yang sebagian tertawanya jatuh bangun,
bersorak bagaikan prahara..

10. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil,
tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu,
suara oarang-orang gemuruh,
(karena orang) besar dan kecil berkumpul,
Lalu keluar (yang punya) hajat,
semua berkumpul di tempat pesta,
lalu berkata manis,
yaitu Raden Wiralodra.
“Hai semua saudaraku yang ada di sini,
semoga semua berkenan.

11. Bekerja bersama-sama membangun negara
karena sudah terwujud,
negara berkat kehendak Yang Manon,
negara sudah jadi,
serta kamu semua menyaksikan,
dan negeri ini diberi nama,
negara Demayu.
Semua orang berkata
“(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu)
kami semua senang.”

12. Para orang tua sama-sama mengamini,
serta membaca doa (memohon) keselamatan,
bergemuruh orang banyak mengatakan amin.
Yang membaca doa sudah selesai,
lalu Raden berkata perlahan,
“Duh saudaraku semua,
(yang) sama-sama hadir,
saya mempersilahkan semua untuk bersantap.”
Kemudian semuanya membbaca bismillah,
(lalu) makan beramai-ramai.
13. Sesudah (menyantap) makanan,
lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan,
“Duh saudaraku semua,
(kepada) semuanya saya memohon,
setiap bulan seperti ini,
iuran semua saudara,
(agar) saya ikut gendut
sambil menari berlenggak-lenggok.
Semua orang tertawa (dan) menyoraki,
sambil membawa hidangan.

14. Semuanya bubar,
semua saudara bersama-sama makan-makan.
Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya,
bersantap (dan) bergembira sudah selesai,
gamelannya celempung suling,
rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi,
senggak(1) penuh irama,
yang bersantap gembira hatinya,
suara celempung (dan) suling terbawa ngin,
bercampur dengan nyanyian.

15. Adik-adik(nya) sudah menyalami,
lalu berkata bagaimana kanda,
oleh karena sudah lama,
ayahanda menginginkan,
kepada dinda semua,
jika kanda Paduka mengizinkan
dinda hendak pulang (ke Bagelen).
Kakaknya lembut berkata
sambil memeluk.
“Dindaku semuanya
apa yang harus kulakukan,

16. karena ditinggalkan oleh adik-adik.
Tetapi adik katakanlah,
kepada ayah (dan) ibu nanti,
apa yang terlihat,
(katakanlah) adinda semua berada di sini
(mengadakan) pagelaran di kadaleman,
besar kecilnya,
tidak salah diundang,
karena kanda tidak bisa pulang sekarang,
masih membereskan negara.”

17. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat,
kembali ke negara Bagelen,
kakaknya mengantar,
sampai ke perbatasan.
Lalu bersalaman,
dan Wangsanagara itu
adalah iparnya.
“Duh Dinda semoga selamat,
mendapat anugrah Yang Widi.
Diganti (dengan tembang) Durma.


VII. DURMA

1. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara,
ada musuh (yang) datang,
(akan) merebut negara.
Karena negara akan mulia,
sampai di akhir nanti,
anak cucunya,
menurunkan tujuh bupati.

2. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara,
diiringi [dengan] teman-temannya,
menjadi pejabat di negara ini,
Watuhaji kakaknya,
sampai menjadi bupati sekarang ini,
(oleh) Den Wiralodra,
lalu diperiksa.

3. “Kamu ini datang kepadaku,
tanpa sopan santun,
karena negara belum jadi,
masih setengah hutan,
sebab menjadi pintu gerbangnya,
(itu) menghina.”
Watuhaji membalas,

4. “Percumah saya berkelana,
tanpa tujuan,
jadinya saya tiba,
di negara ini.
Ini kan bakal negara,
akan saya minta,
aku tidak suka berperang.”

5. Wiralodra mukanya seperti api.
Lalu menoleh mengerikan,
Kiai Pulaha berdiri,
bersama teman(-teman)nya,
dibawa ke pintu gerbang,
riuh rendah,
ramai yang berperang.

6. Kiai Tinggil lagi senang perang,
lagaknya sangat berani,
jika menebaskan senjata,
melompat seperti kilat,
sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh)
ramai yang berperang
musuh banyak yang kalah.

7. Ki Pulaha maju bertempur,
baksanya (tarian perang) lembut dan manis
keris disandang,
pedang dipegang di tangan,
pantas sekali maju perang,
maju dengan penuh sopan santun,
(Membuat) heran yang melihat.

8. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha,
Prajurit Watuhaji,
Nitinegara heran,
orang yang berada di tengah hutan,
ternyata bisa bertarung,
seperti orang(-orang) kerajaan,
tidak disangka bisa perang.

9. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung,
sambil berteriak (menantang) bertarung,
“Hai kamu Wiralodra,
jangan (terlalu) lama mengadu prajurit,
ayolah (kamu) maju berperang.
Ayo sambutlah!”
Raden Wira ke luar,

10. Sudah menyambut, (lalu) berhadap-hadapan di medan perang.
“Hai Wiralodra (kamu)
ayo gunakanlah
keris atau pedang,
akan aku tahan.”
Berkata Wiralodra,
“(Aku) tidak biasa mendahului.

11. Ayo tebaslah dengan senjatamu!”
Cepat Nitinegara,
memegang senjata,
menusuk Wiralodra.
Nitinegara dibanting,
terguling di atas tanah,
(kemudian) diikat oleh Ki Tinggil,

12. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa,
lalu maju perang lagi.
Sesumbar Raden Wira
di tengah medan perang.
“Hai prajurit Watuhaji,
majulah berperang,
lawanlah aku!

13. Kerahkanlah prajuritmu,
bila kamu prajurit sejati,
yang kuat di medan perang,
jangan ragu untuk memukul,
karena kamu prajurit sejati.”
(lalu) berhadap-hadapan,
Bertengkar (dan) saling menyerang.

14. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata,
karena Raden bertarung,
bertemu tandingannya dalam berperang.
Watuhaji dan Den Wira,
bertarung saling mendorong,
Wiralodra (lalu)
mengeluarkan ilmunya.

15. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung.
Watuhaji meloncati,
melarikan diri dari pertempuran,,
menuju arah selatan,
yang ditujunya itu ,
tempat untuk bertapa,
(kemudian) menjadi pendeta.

16. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung
(yang bernama) Ki Gedeng Depok,
letaknya yaitu di Cisambeng.
Menurut cerita ini,
berganti nama,
Ki Gedeng Sambeng namanya.
Kelak keturunannya

17. mengacau di negara Dramayu
(membuat) susah orang kecil
dijarah kerbau (dan) sapinya
beras padi dan harta
banyak orang dibunuh
yang diserang melarikan diri
ke luar dari Bantarjati

18. ………
Drayantaka (dan) Wanasara
mengamuk di medan perang,
lalu den Wiralodra
mengalahkan banyak tentara,
pasukan[nya] tumenggung
tunduk semua,
diserahkan kepada Ki Tinggil

19. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang),
pasukannya kira-kira seratus orang,
masing-masing berkeluarga,
gembira semuanya,
negara tambah ramai,
kedatangan orang(-orang),
(semua) membuat rumah.

20. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah,
Wiralodra diangkat,
menjadi Kiai Dalem,
(lalu) mengangkat demang (dan) rangga,
tumenggung dserta patih,
semua lengkap,
ponggawa (dan) para mantri

21. Watuhaji dan Nitinagara,
menawarkan tanah.
kepada bangsa Belanda,
tanah (di) Bogor dan Karawang,
tentara admiral bertambah banyak,
sudah berdiri (pasukan) jendral,
serta banyak serdadunya.

22. Lolos menuju Dramayu,
(dengan) membawa harta (benda),
beberapa gotongan,
harta beribu juta.
Raden Wiralodra kaya,
menyerahkan harta(nya),
kepada kedua tumenggung.

23. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya,
melarikan diri (pada) malam hari,
dari keratonnya,
(karena) berbuat (telah) salah,
sebab hendak menghancurkan
Darmayu [itu],
(kelakuan) seperti itu tidak baik.

24. Menjadi negara (yang) subur makmur,
orang(-orang) kecil merasa senang.
Terkenal ke seluruh negeri,
merasa takut yang melihatnya,
kesaktiannya tiada tara,
Wiralodra,
menjadi macan negara.

25. Disayangi Sultan Mataram,
oleh karena paling sakti di dalam negeri,
banyak orang-orang,
dari negara lain,
membawa harta bendanya,
ke negeri Dramayu,
diganti lagi (oleh) dangdang(gula).


VIII. DANGDANGGULA
1. Penyebab Nitinegara menangis,
karena ada keinginan Raden Wira,
jika nanti hendak dikirim ,
kepada Sinuhun Mataram.
(Nitinegara) meminta belas kasihan,
Seharusnya Tuanku,
memotong leher saya.
(Tapi)saya memohon agar tetap hidup.”
Wiralodra sangat kasihan melihat[nya],
Watuhaji yang berdosa.


2. (Lalu) dibekali Nitinegari,
disuruh menuju gunung,
diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan,
dosa yang sangat besar.
Lalu berangkat Nitinegari,
telah jauh perjalanannya,
nanti kedudukannya
sangat dibedakan dari yang lain
oleh karena nanti turunan Nitinegari,
mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal.

3. Dikisahkan Kiai Dalem,
semakin lama negara semakin kaya,
Dalem Darmayu,
(diceritakan) sudah mempunyai anak,
sebanyak empat orang,
yang sulung (bernama) Sutamerta,
Wirapati selanjutnya,
Yang perempuan bernama Nyayu Hinten,
bungsunya Raden Drayantaka,
ayahandanya sudah meninggal.

4. Dalem yang mejadi penggantinya,
putranya (yang bernama) Raden Wirapati,
mengganti kedudukannya,
menjadi dalem Darmayu.
Wiralodra yang kedua,
tinggal menjadi senang dan raharja,
dalem di Darmayu,
permaisurinya empat (orang)
lahir putra tiga belas banyaknya,
perempuan dan laki-laki.

5. Raden Wirapati,
memiliki saudara seorang raja,
di Pulo Mas negaranya,
bernama Werdinata.
Karena sangat saling menyayangi,
seperti dengan saudara,
(selalu) saling mengunjungi,
lama-lama jatuh hati,
Werdinata kepada (Nyai) Hinten,
terus terang kepada kakaknya.

6. Kakaknya sangat setuju,
tetapi (jangan) dibawa,
ke negara adiknya nanti,
karena hanya satu,
adikku yang perempuan,
Dinda Werdinata,
(bila) saudara mau,
setelah menikah nanti.
Werdinata dengan Nyayu Hinten,
sangat saling mengasihi.

7. Serta lama kelamaan adiknya
Nyayu Hinten mengandung,
tiga belas bulan lamanya,
lalu melahirkan.
Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan,
gembira sekali Paduka.
Adapun (untuk nama) putranya,
berunding
dengan kakaknya Den Wirapati,
putranya diberi

8. nama yang disepakati,
Bagus Raden Wringin Anom namanya,
gemilang cahayanya,
kuning cahyanya bersinar,
kedua ayahnya sangat sayang
kepada anaknya,
(ketika) berumur tiga tahun,
dibawa mengunjungi ayahnya.
Werdinata di Pulo Mas,
karena sudak bijaksana.

9. Kemudian Den Wirapati,
dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang,
hendak meminta bantuan,
karena diserang,
oleh Dalem Ciamis,
serta Dalem Kuningan,
pasukannya siluman,
onom dan mahluk halus,
(pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit,
(sehingga) tidak kuat berperang.

10. Lalu ayahnya berkata,
kepada putranya Sultan Pulo Mas,
sebab Raden Wringin Anom,
putranya sudah tiba,
menghadap ayahandanya.
Ayahandanya berkata,
“Selamat datang anakku,
memenuhi permintaan ayahanda.”
“Semoga bakti ananda diterima.
Ada keperluan apa?”

11. Lalu ayahandanya berkata perlahan,
“Hai anakku yang tampan,
cepat(-cepat) aku memanggil(mu),
(karena) ayahanda menerima surat,
dari Dalem Sumedang,
(yang) meminta tolong ayahanda,
karena dikepung musuh,
(dari) Ciamis dan Kuningan,
dengan membawa tentara makhluk halus,
onom dan mahlukhalus.

12. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman,
karena ayahanda akan bertarung
(melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti.
“Baiklah, kata anaknya.
(jangan) khawatir ayahanda raja,
putra yang menanggung,
(melawan) musuh para siluman.”
Lalu ayahandanya berkata,
Jika demikian saya berangkat hari ini,
ananda harus ikut.

13. Orang Sumedang banyak yang ikut,
lalu bubar menyerang para siluman,
menggeram suaranya.
Orang(-orang dari) timur melihat,
karena itu mereka sangat hormatinya.
Dalem Wiralodra datang,
sudah berada di depan.
Paduka Dalem Sumedang,
menghampiri serta memeluk sambil menangis.
“Duh putra tolonglah,

14. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis,
karena pasukannya siluman,
tidak terlihat wujudnya,
hanya suaranya yang bergemuruh,
seperti orang berbaris hendak berperang.
Silahkan ananda (apa) tindakanmu,
saya serahkan negeri (ini).
Raden Wiralodra,
sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang),
(dan) khawatir (pada) ayah(nya)

15. Serta keesokan harinya pergi berperang,
putranya mengusir para siluman,
karena Raden Wringin Anom,
dan Tumenggung Dongkara,
mengemban (tugas itu).
Ramai yang berperang,
musuhnya pasukan onom,
jatuh bangun pasukannya,
yang diincar tinggal kawannya dan raja,
berlarian pasukan Kuningan.

16. Lalu orang(-orang) Sumedang,
dan semuanya merasa bahagia.
Prajurit keluar semua,
merangsek (ke medan) perang,
sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis.
Banyak prajurit tewas,
(ialah) orang(-orang) Ciamis.
Orang(-orang Sumedang gembira.
Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis,
sama-sama ikut bertempur,

17. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning.
Raden Dalem Wiralodra,
dikeroyok bertarungnya,
karena sangat gembiranya,
karena Dalem Darmayu sakti.
Lalu Dalem Wiralodra,
berubah wujud,
menjadi sebesar anak gunung.
hampir tertimpa kedua dalem ini,
maju bagaikan kilat.

18. Bubar pasukan dari Ciamis,
dikejar oleh Dalem Wiralodra,
matanya (menyala) bagaikan matahari kembar,
gigi taringnya terlihat bersinar,
jari-jemarinya menyentuh tanah,
suaranya bagaikan halilintar.
Orang-orang ramai melarikan diri,,
terpisah raja dan rakyatnya,
menyelamatkan diri pasukan Ciamis,
sampai di perbatasan.

19. Den Wringin Anom mengejar siluman,
lalu bertemu dengan ayahandanya,
berdua dengan Jongkara pelayannya.
“Kebetulan sekali anakku,
bagaimana musuhmu?”
Putranya berkata kepada ayahnya,
“(Banyak yang) melarikan diri,
juga musuh ayahanda,
sudah bubar tidak ada yang tertinggal,
Ciamis dan Kuningan.

20. Lalu anaknya berkata lembut,
“Jika mendapat izin ayahanda,
ananda hendak kembali sekarang,
berdua dengan Paman Tumenggung,
sebab khawatir akan negara,
tidak ada yang layak menjaga.”
Ayahnya sudah mengizinkan,
lalu putranya menyembah
Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu,
melesat ke angkasa.

21. Kemudian ayahnya mendengar yang berita,
(bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan,
telah bubar sekarang.
Cepat ayahanda menjumpai
serta membawa putranya yang perempuan,
naik joli dan tandu.
Lalu sudah bertemu,
“Mari anakku sama-sama menaiki,
ayah dan ibu bernadzar anakku,
kita berdua bersama menaiki(tandu).

22. Ini putra ayahanda seorang,
untuk menyapu dan memasak nasi,
anak gunung sangat buruk” (1).
Putranya mengucapkan terima kasih,
segera menaiki tandu,
sepanjang jalan jadi terlihat
sedang berhadap-hadapan,
setelah sampai (makanan) disajikan,
diiringi gamelan serta prajurit
penghulunya siap.

23. Bersama-sama turun dari tandu,
para wanita serta ibunya,
membawa bokor mas,
berisi uang mas,
dicampur dengan uang talen.
Ditaburkan uang tersebut,
ramai orang(-orang) menagkap,
sama-sama berebut uang,
serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam,
bagaikan bumi terbelah.

24. Semua para prajurit,
dengan panglima perang,
serta para pelayan,
sama-sama menghormati,
karena gembira sekali mereka,
para pelayan berhamburan ke depan.
Dalem berkata manis,
“Hai para prajurit,
saksikanlah ucapanku (ini),
(saya) sangat berterima kasih

25. kepada putra Wiralodra,
yang tinggal di negara Darmayu,
bawahannya semua,
pesisir Kandanghaur,
saya serahkan kepada anakku,
menjadi satu negara,
dengan Darmayu ini.
Aku tidak memiliki (lagi),
kawula dengan prajurit,
saksikanlah oleh semua.

26. Lalu putra Dalem Wirapatih
turun dari tempat duduknya
serta menerima baktinya.
“Hai sanak saudaraku,
yang bersama-sama duduk di tempat ini,
(atas) kasih sayang ayahanda,
(saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih,
mendapat anugrah dari ayahanda
Kandanghaur pesisir utara saya terima.”
Lalu sama-sama bersalaman.

27. Kemudian semua mantri,
dengan para ponggawa,
bergembira semuanya,
makan bersama,
ramai-ramai makan-makan
hingga tujuh hari.
Lalu sama-sama pulang,
semua saudara (pamit)
kepada Dalem Wiralodra,
untuk kembali,
sampai ke perbatasan.

28. Selanjutnya (di) negeri Dermayu,
para saudara dan rangga,
lalu datang dan menemui,
istri dan putranya,
sangat gembira (karena) ayahnya datang,
mendapat anugrah dari Yang Kuasa,
sejahtera dalam kehidupannya,
serta diberi istri,
serta tinggal di pesisir Kandanghaur,
(dia) sangat menyayangi istrinya.

29. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan,
Karena dinanti-nanti tiada henti,
di belakangnya para madu,
semua pengawal putranya,
sangat gembira hatinya,
semuanya akur,
para madu dengan para putra,
sangat makmur tinggal di negeri (ini),
Adapun nama putranya

30. yang paling besar ialah Raden Kowi,
Raden Timur dan Sawerdiya,
Wirantaka keempatnya,
Wiratmaja (yang kelima)
karena lima orang anak laki-lakinya.
Lalu putra perempuan,
Hastrasuta,
kedua Raksadiwangsa,
Nayawangsa, Wiralaksana,
Hadiwangsa, Nayastra.

31. Puspa Taruna, Patranaya.
sudah lengkap tiga belas (orang) putranya.
Semuanya jadi pejabat,
sama-sama kaya,
para putra semuanya.
Lalu wapat ayahandanya,
(kemudian) diganti,
(oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi,
yang telah mengganti kedudukan ayahnya,
menjadi bupati.

32. Karena sudah memiliki putra,
sebanyak empat orang [putra],
paling besar Raden Benggala,
Benggali adiknya,
Singawijaya putranya (yang) perempuan,
dan Nyi Raksawinata
yang keempat,
tetapi Benggali Benggala
anak laki-laki ini,
sudah beristri.

33. Lalu ayahnya tiba ajalnya,
penggantinya berebut jabatan,
adiknya menginginkan,
menduduki jabatan bupati,
Benggali namanya,
Singalodra yang gagah,
sangat bijaksana,
kakaknya Raden Benggala,
dengan Wiralodra namanya,
mereka bersaudara.

34. Tetapi persetujuan para ponggawa,
serta semua para pembesar,
yang menggantikan harus kakaknya.
Tetapi adiknya (berkata),
kalau kakanda yang menggantikan,
kedudukan ayahanda,
pasti saya mengamuk,
akibatnya bakal ada kematian,
kalau aku tidak menjadi bupati,
mengganti kedudukan ayahanda.

35. Sangat bingung para ponggawa,
(sehingga)lima bulan tidak ada bupati,
lalu datang utusan,
dari Betawi,
utusan dari Tuan,
van de Boss namanya,
pangkatnya komandan,
membawa pasukan serdadu,
membawa serdadu satu kompi,
utusan Gubernur Jendral Betawi,
kakandanya yang menggantikan.

36. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya,
menjadi bupati menggantikan
kedudukan ayahnya,
lalu adiknya berkata,
“Raden Singalodra kakandaku,
jika demikian menurutku,
kakanda sudah (menjabat),
tetapi Raden Singalodra,
ikut ke laut,
kepada Tuan Komandan.

37. Berlayar di lautan,
bila menyebrang ke Betawi,
istrinya ke Bantaranak,
kakaknya di Darmayu,
menjadi bupati,
tetapi tidak enak hati,
mengingat adiknya,
siang malam mengaji Qur’an,
lalu tiba di perbatasan,
tiga tahun lamanya.

38. Lalu para mantri menjawab,
sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka).
Kemudian berkata lembut,
saudara (dan) ponggawaku,
jadinya saya katakan,
semua ponggawa,
saya sudah pasrah,
mengenai negara ini,
karena sudah sampai pada janji terdahulu.
Menangis para ponggawa,

39. melihat dengan kasih sayang kepada paduka.
Lalu mas patih Hastrasutanaya
dan Tumenggung Trunajaya
menjawab,
bahwa tidak mengingat saudara paduka,
semua sanggup (membela) sampai mati,
pasukan dari Paduka.”
Bupati berkata lembut,
saudaraku semua menurut kepastian,
keinginan Yang Maha Mulya.

40. Lalu semua mengundurkan diri,
sama-sama mencium kakinya,
memohon maaf.
Dalem Wiralodra tadi
memiliki anak banyak,
delapan orang putranya,
yang sulung Den Laut,
Gandur dan Purwadinata,
Kartawijayastra yang keempat?,
Gembruk serta Toyib.

41. Nyai Moka bungsunya,
putra sedang susah makan,
(karena)sangat sakit hatinya,
mengaji siang dan malam,
meminta kepada Yang Maha Suci,
agar kuat imannya.
Berkat pertolongan Yang Agung,
putranya (yang bernama) Kartawijaya,
yang sangat tidak
enak hatinya,
mengurangi tidur dan makan.

42. Bila malam tidur di makam,
di makam para leluhur,
jam empat kembali ke rumahnya,
takdir Yang Maha Agung,
ayahandanya dipanggil
oleh Sultan Cirebon,
karena sudah disampaikan,
persembahan kepada sultan,
yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji.
Lalu sunan berkata,

43. “Jadinya paman aku panggil
Wiralodra ke hadapanku,
aku mendengar berita
(bahwa) paman berhenti dari jabatan
kebupatian, apa betul?”
Wiralodra menjawab,
“Sesungguhnya Tuanku,
takdir Yang Maha Mulya,
yang mengganti adik saya sendiri Paduka,
Singalodra namanya.

44. Sultan sangat kasihan melihat,
Dalem Wiralodra,
sangat sabar hatinya.
Lalu berkata
sultan kepada Wiralodra,
“Paman, anda ini
(agar) menolong saya,
supaya di kesultanan (ini),
mengajar para putra mengaji,
kitab serta Qur’an.

45. Tajug (dan) kolam aku sediakan,
serta rumah tempat tinggal paman,
semuanya sudah sedia.
Lalu Kiai Dalem berkata,
“Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka,
mati hidup saya,
pasrah kepada Paduka,
tetapi permohonan hamba,
anak hamba (yang bernama) Kartawijaya,
sepertinya sedang tidak enak hati.

46. Tidak tidur serta tidak makan,
padahal ia masih muda,
barangkali hatinya terbuka
serta paman
memohon pertolongan Paduka,
saya menyerahkan semuanya.”
Berkata Sinuhun,
“Perihal masalah itu,
aku terima diserahi putramu,
(yang)namanya Kartawijaya.”

47. Kartawijaya dipanggil,
sudah menghadap kepada Paduka,
berlutut dan menundukkan mukanya,
di hadapan Sinuhun.
“Lalu Sinuhun berkata perlahan,
kepada Kartawijaya.
“Hai Karta kamu ini,
Sekarang kamu ini,
saya angkat jadi mantri polisi desa,
tempatnya di Panjunan.

48. Kartawijaya berkata kepada Paduka
“Saya memang berdosa kepada Paduka
apa yang Paduka inginkan?”
Sultan berkata manis,
aku mengangkat kamu,
tempatnya di penjagaan,
bawalah suratku,
untuk Kakanda di Panjunan.”
Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka,
lalu mundur dari hadapannya.

49. Sudah jauh perjalanannya,
lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan.
Suratnya sudah diterima,
lalu berkata perlahan,
“(Ternyata) ada Kartawijaya (datang),
sukur kamu ini,
bersama-sama denganku,
di Pajagalan Panjunan,
tampaknya terampil dalam pekerjaan ini.”

50. Pangeran melihat dengan rasa sayang,
kepada Raden Kartawijaya ini,
Kemudian kelak dinikahkan
kepada cucunya,
Ratu Mas Atma namanya,
Naik tahta di Panjunan,
adapun rumahnya,
berada di Kejaksaan,
bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu,
(bersama) empatpuluh orang prajurit.

51. Lalu dirubah lagi ceritanya,
yaitu Kiai Dalem Singalodraka,
sedang pesta beramai-ramai,
gamelan dibunyikan,
ramai-ramai siang malam,
mantri patih dan bupati,
semua bersuka ria.
Ki Dalem lalu berkata,
di sini ada para ponggawa,
semuanya ponggawaku.

52. Ketika bupatinya ada di sini,
tidak pantas menjadi bupati,
santri kecil hatinya,
takut dosa besar,
menurut perintah nabi,
(sehingga) sepi di negara,
kebiasaan santri (seperti)itu,
meskipun saudara (atau) orang tua,
[karna] aku tidak menyetujuinya,
(bila hanya) mengingat akhirat.

53. Untuk apa banyak harta,
bila tidak bersuka-suka,
harus suci hatinya,
bersorak gemuruh,
orang(-orang) kecil suka melihatnya,
semua tingkah laku bupatinya,
gagah serta tampan,
sedang mengatur pekerjaan,
bila menari [sepertinya] bergoyang disertai
selendang kain berbunga.

54. Para mantri sama-sama bersorak,
nayaga ramai senggak,
bila kurang senggaknya
menendang dan menyepak,
nayaga disiram oleh air,
seolah-olah marah,
lalu selendang disingkirkan,
semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya,
badannya sedang (dan) gagah.

55. Setelah bubar semua,
Dalem Singalodra,
dilantik mejadi bupati,
tiga tahun lamanya,
sampai pada ajalnya,
diganti oleh putranya,
(yang bernama) Raden Semangun.
(Kemudian) banyak terjadi perampokan,
(sehingga) orang kecil sangat susah,
(karena) banyak orang yang dibunuh.

56. Orang yang banyak harta-bendanya,
dirampok oleh para durjana,
yang menjaga tidak kuat,
[upacara] siang malam
Patih Hastrasuta berkeliling,
menjaga para durjana,
kadang-kadang saudara sepupunya,
putranya Purwadinata,
sangat susah (selalu) ada keributan di negeri.
Ada lagi berita (demikian) ini:

57. Perusuh sudah bersiap,
Orang-orang berkumpul di desa,
tempatnya di Bantarjati,
Biyawak, Jatitujuh,
orang Kulinyar dan Pasiripis,
penuh sesak (karena) banyak orang,
lebih dari tujuh ratus.
Pimpinannya Bagus Kandar,
Bagus Rangin, Surapersanda,
Bagus Leja dan Sena.

58. Serta para panglima perang,
para putra semuanya,
adapun Seling Rangin putranya,
Den Nuralim
adalah saudara sepupunya.
Kiai Betawi itu
dari Kandanghaur,
pribadinya pemberani.
Bagus Wari semua (dari) Mayahan,
bertanggungjawab di pertempuran.

59. Siang malam beramai-ramai.,
oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan,
mereka sampai tiap hari.
(Kemudian) berunding hendak menyerbu
ke negeri Darmayu.,
Semuanya sudah setuju
menyerang Dermayu,
sedia tumbak senjata,
senapan dan keris,
tandu dan kendaraan tunggangan.

60. Lalu mereka bertarung.
Raden Kartawijaya,
menjaga di perbatasan,
tidak enak duduk,
berkata kepada teman sesama prajurit.
“Hai saudaraku semua,
besok (akan pergi) ke Darmayu,
melihat saudaraku,
adik-adik serta sepupu bupati,
Raden Wiralodra.”

61. Teman-teman para prajurit
menjawab,”Baiklah, (mengikuti) kehendak tuan.”
Keesokan harinya berangkat,
komandannya paling depan,
yaitu Kartawijaya,
(badannya) besar tinggi menakutkan,
kulitnya kuning,
memakai pakaian tamtama,
berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning,
banyak orang yang melihat.

62. Serta sampai di Dermayu,
mendengar sorak beramai-ramai ,
bercampur dengan (suara) senjata,
diperhatikan kelakuannya.
Semua para prajurit terkejut,
melihat yang bertarung ,
(karena) terdapat perempuan,
yaitu Ciliwidara
putri dari negeri Banten,
(serta) bisa terbang di angkasa.

63. Para prajurit dari Darmayu,
dengan putra serta senapati,
tidak bisa menangkapnya,
mendapat kebijaksanaan,
para ponggawa banyak yang rusak,
serta para putra,
putra bersama saudara,
Uwa Kartawijaya,
datang dengan para prajuritnya,
lalu bertemu dengan Raden Kerstal.

64. (Ia melarikan diri), katanya tandingannya
dengan Paman Patih Hastrasuta,
menangis di hadapannya.
“Duh ayahanda
sangat rusak negara.”
Kartawijaya berkata,
“Duh anakku,
musuh ini menginginkan apa,
berani sekali merusak negeri ini,
siapa nama prajuritnya?”

65. Nyi Ciliwidara namanya,
mengaku putra Kentanagara,
malah putra ayahanda,
banyak yang tewas.
Suryaputra, Suryabrata,
dan kakak Suryawijaya,
gugur tadi,
oleh panah si Ciliwidara.
ayahnya mengeluarkan air mata,
karena sangat berduka.

66. “Duh adinda Patih Hastrasuta,
serta putraku Kerstal,
besok (akan) saya tangkap,
Ciliwidara itu,
sekarang ayahanda ingin bertemu.
Kemudian dengan ayahnya
berangkat,
masuk ke keraton,
lalu bertemu dengan adiknya,
(yaitu) Den Dalem Wiralodra.

67. Lalu kemudian memeluk kakaknya,
Sambil menangis memanggil-manggil,
“Duh kanda tolonglah sekarang,
putra kanda banyak yang tewas,
karena didatangi oleh musuh,
yang hendak merebut negara.
Tidak kuat saya,
mengimbangi pertempuran,
sangat sakti Ciliwidara ini.
Silahkan, apa tindakan kanda.

68. Ya besok adinda saya (akan) lihat,
kanda bertanding di medan perang,
seberapa berat kesaktiannya,
musuh satu orang tentu berani,
dengan orang senegara,
menandingi kegagahan,
(kita) orang Dermayu.
Serta besok menyiapkan pasukan,
pasukan ponggawa putra prajurit.
Bendera lalu dikibarkan.

69. Serta bendenya dipukul,
Ciliwidara mendengarnya,
cepat berganti pakaian,
gelang kalung kilat bahu ,
senjata panah serta keris,
terlihat sangat serasi,
apalagi ia cantik.
Lalu [cepat] menantang,
“Hai orang Darmayu masihkah berani,
menghadapi peperangan?”

70. Kamu tidak tahu (siapa) aku,
(aku) ini saudara yang tertua,
Kartawijaya namanya,
berani(-beraninya) merusak Darmayu,
kamu Ciliwidara anjing,
sombong kamu wanita cantik,
karena kamu unggul,
menganiaya (dan) berlaku curang,
karena itu cepat menyerang kamu anjing,
kalau kamu merasa lebih!”

71. Lalu ia mementang panah,
sambil berbicara, “Bersiaplah!
usiamu tak kan lama (lagi),
rasakan panahku,
yang bernama Si Belabar Geni,
memanah tidak akan sampai kedua kali,
kalau mengenaimu,
haus akan darah manusia.”
Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena,
tulangnya yang kena.

72. Jatuh seketika di atas tanah,
merasa gelap penglihatannya,
cepat diletakkan di pinggang pedangnya.
“Kamu betul-betul prajurit
Ciliwidara didekati,
seru saling pedang,
keduanya unggul,
tidak ada yang kalah bertarung.
Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah,
senang melihatnya.

73. “Hai kamu Kartawijaya,
kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki,
kurang trampil dalam berperang.”
Lalu berkata lantang,
Raden Kartawijaya,
“Dasar pelacur murahan,
apa yang dilakukan kamu ini,
menjatuhkan diriku,
karena aku tidak takut melawanmu,
semua kelakuanmu.

74. Ciliwidara tidak kuat,
menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya,
sangat berat kesaktiannya,
Kartawijaya,
sambil menggerutu (di dalam) hatinya,
dikeluarkan kesaktiannya,
lalu [sudah] diambil,
menghentakan (kakinya) di atas tanah,
Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi,
menghilang tidak tentu.

75. Kartawijaya hatinya benci.
Setelah Ciliwidara menghilang,
berkatakepada prajuritnya
Aku perintahkan menjaga,
tempat menghilangnya Nyi Cili,
harus sama-sama dijaga,
siang dan malam.”
Lalu Den Kartawijaya,
menemui adiknya Wiralodra,
bersama putranya.


IX. SINOM

1. Karena sama-sama bertemu,
kakaknya dengan adiknya,
dengan semua putranya,
serta adik patih,
Hastrasuta namanya.
Semuanya berkumpul,
menceritakan rasa susahnya,
rusak negaranya,
tetapi bahagia ditolong oleh kakanya.

2. Kakaknya lembut berkata,
kepada saudara-saudaraku,
serta para putra nya,
“Duh Dinda untung selamat,
takdir Yang Maha Widi,
cepat Kanda datang,
tidak tahu kesusahan,
karena kan lagi berperang,
heran sekali Ciliwidara gagah .

3. Adiknya berkata kepada kakaknya,
beribu-ribu kebahagiaan,
ditakdirkan Yang Maha Mulia,
kakanda cepat datang,
maka permohonan adinda,
karena berkah kakanda,
seperti apa keinginan (kanda).
Barangkali beristirahatlah dulu,
dinda persilahkan duduk di dalam

4. Kakaknya lembut berkata,
diterima permohonan Dinda,
tetapi keinginan Kakanda,
hendak pulang lebih dahulu,
mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka,
tidak berniat hendak membantu
adinda dalam berperang,
Maka hendak melaporkepada Paduka,
dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara.

5. Oleh karena orang yang bijaksana,
jika Dinda masuk,
ke penjagaan kanda,
di negeri Garage,
[tetapi] Dinda (harus) hati-hati,
menjaga tempat menghilangnya.
Di tempat menghilangnya,
(harus) dijaga ponggawa, Dinda.
Kanda hendak berangkat pulang hari ini.

6. Semuanya berpelukan,
begitu pula para putra,
lalu berjalan mengiringi
sampai di pintu gerbang,
kemudian berjalan cepat(-cepat).
Ponggawa (dan) saudaranya
masuk ke padaleman.
Lalu masing-masing bubar,
(setelah) mendapat izin dari Paduka.

7. Saat itu hari Jum’at,
Dalem Wiralodra,
sedang menghadap kakaknya,
(yaitu) Patih Hastrasuta.
Tiba-tiba datang
Nyi Jaya menghadap,
sambil menyembah.
Kiai Dalem berkata lembut
“Duh selamat datang Dinda,

8. tak disangka berhasil baik.”
Nyi Jaya menjawab pelan,
“Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk,
celaka Paduka,
sangat susah Paduka
hendak mengatakan yang sesungguhnya.”
Kiai Dalem berkata,
“Keinginan Dinda silahkan sampaikan,
mengatakan kesalahan apa, Dinda?”

9. “Saya (ingin) menemui Kakanda,
sekarang baru kesampaian,
(saya) belum pulang ke rumahku.
Saya dari Bantarjati,
saudara-saudara saya
berkumpul mendirikan tenda besar,
sudah banyak orang datang,
sekitar seribu orang,
hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku.

10. Darmayu hendak dirusak,
memang saya di bawah kekuasaan Paduka,
tetapi saya tetap,
tidak berniat mengingkari Paduka,
saya akan menikuti
sampai anak cucu,
semua kehendak Paduka,
kelak kematian saya bersaksi,
hendak menurut (kepada paduka).

11. Kiai Dalem berkata,
“Syukurlah bahagia Dinda,
semoga keturunanmu,
kelak menjadi bersatu,
serta keturunanku
diterima semuanya.
Sudahlah Dinda cepat mundur
beristirahat di rumah Dinda,
dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya.”

12. Lalu menyembah kepada Paduka,
dan mohon (pamit).
Kiai Wiralodra
berkata kepada patih,
“Bagaimana kanda
laporan Nyi Jaya tadi,
apa yang akan kanda perbuat?”
Patih menjawab,
“Paduka harus mengawasi para perampok.”

13. Tetapi siap berperang,
para prajurit siaga
serta perbekalannya,
sepertinya musuh (akan) mendatangi,
jika (mungkin musuh) harus ditangkap.”
Paduka lalu berkata,
“Karena itu Kanda Patih,
pagi-pagi para senapati harus berkumpul.

14. Pagi berangkat dari paseban,
menunggu di pintu gerbang paseban,
mengumpulkan ponggawa,
santana, prajurit, (dan) mantri,
Trunajaya adiknya,
serta Wangsataruna,
karena Tanujiwa kakaknya,
Jiwasuta prajuritnya,
Tanujaya dengan Demang Wangsanaya,

15. (dan) Tumenggung Sutamarta.
(Setelah) seluruh prajurit (berkumpul),
kemudian patih berkata,
“Duh saudaraku para prajurit,
semua yang saya sampaikan,
supaya timbul keberanian,
(untuk) bersiaga menghadapi perampok,
dari kampung Bantarjati,
keinginan paduka hendaknya diawasi.

16. Semuanya saya yang mengatur,
bersiap untuk bertarung,
oleh karena menghadapi perampok,
(jangan) kurang persiapan,
pagi-pagi aku tunggu,
berangkat ke Jatitujuh,
kanda menjadi biasa,
memajukan banyak prajurit.”
Bende berbunyi menandakan semua bubar,

17. lalu kembali dari paseban.
Patih Hastrasuta,
oleh karena gagah perkasa,
diiringi prajurit, (memakai)
konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning,
mahkota berwarna mas berhiaskan intan,
tergantung keris di kanan,
tergantung juga ada di kiri,
terlihat gagah perkasa badannya serta sembada.

18. Bende berbunyi semuanya berkumpul,
para mantri,
demang, rigah, para arya,
serta semua prajurit.
Semuanya menaiki kuda,
membawa pedang tumbak keris,
pakaiannya macam-macam.
Paduka menunggangi kuda,
bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang.

19. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan,
para abdi semua sedia,
minuman serta makanan,
orang kampung yang menyediakan,
serta tetabuhan,
kelapa muda (disediakan) di setiap pintu,
(mereka) semua baru melihat Paduka,
beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan.

20. (Tundalah) yang berangkat,
(tersebutlah) yang ada di Bantarjati,
para ponggawa sedang menghadap,
serta saudara dan putranya,
Ki Bagus Rangin,
serta pamannya
yang dituakan,
Bagus Serit namanya,
serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar,

21. didampingi Surapersanda,
serta para senapati,
Bagus Seling putranya,
serta Raden Nuralim,
dengan kiai (dari) Betawi,
pejabat di Kandanghaur,
serta Bagus Pangiwa,
Gana Wanggana dan Jari,
semua senapati putra Mayahan.

22. (Setelah) semua lengkap berkumpul,
yaitu para senapati,
Bagus Rangin berkata,
“Paman bagaimana sekarang,
seperti apa pertarungannya?
Telah cukup para prajurit,
apakah mengirim surat,
atau langsung diserang?
Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan.

23. Bagus Serit berkata,
“Duh putraku semuanya,
aku harap bersabar,
harus nanti hari Kamis,
Kemis Kaliwon ini,
kebetulan tanggalnya,
pembicaraan terhenti,
(karena) polisi desa datang menghadap Paduka,
mengatakan kedatangan orang Darmayu,

24. tempatnya di Jatitujuh.
Bagus Rangin berkata pelan,
“Duh Raden bahagia bila demikian,
sukur (mereka) datang.”
Lalu ayahanya berkata,
“Bagaimana perjalanannya,
Dalem Darmayu datangnya,
kira-kira hari apa,
perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?”

25. Ayahnya kembali berkata,
“Betul tidak ada (halangan) anakku,
dari utara hingga berpisah,
sepertinya sial (para) prajurit,
peperangannya bagaimana,
kenapa mambawa pasukan besar?
Keinginan ayahanda, anak (dan) saudaraku,
maju menghadapi pertarungan,
tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan.

26. Setiap jembatan dijaga
sebagai penghormatan kepada Paduka,
serta dipasang umbul-umbul,
janur serta daun beringin,
limapuluh jembatan (jumlahnya), setiap jembatan
dijaga tiga orang prajurit,
kuda serta ponggawa,
kira-kira telah jauh,
lalu jembatan dihancurkan semuanya.

27. Supaya kuda kembali (lagi),
dipasang tirai penghalang di air,
gampang menghancurkan pasukan,
senjata telah disiapkan.
Lalu para saudaranya,
bersama-sama mengatur siasat perang,
Bagus Serit yang mengaturnya,
(yaitu) siasat merampok.
Lalu bubar, semuanya siap sedia.

28. Usai merencanakan (siasat) penyerangan,
lima puluh prajuritnya,
pada setiap jembatan,
(dijaga) tiga orang prajurit.
(Kemudian) membuat tenda,
untuk pertemuan para pejabat,
kanan kiri bendera,
gamelannya (ditabuh) siang dan malam,
ramai orang menjaga perbatasan.

29. Ki Rangin di pasanggrahan,
bersama Bagus Serit,
bersiap untuk kedatangan tamu,
tetapi siap sedia prajurit,
dengan temannya sesama perampok,
menunggu kedatangan (tamu),
Siang malam menabuh (gamelan),
prajurit beramai-ramai.
Tundalah pasukan Darmayu itu.

30. Sama-sama membuat pesanggrahan,
tempatnya di Jatitujuh,
semua berkumpul (untuk) bermusyawarah,
lalu paman patih,
prajurit Hastrasuta,
karena sakti dalam berperang,
diutus untuk memeriksa,
dusun Bantarjati,
tempatnya berkumpulnya perampok.

31. Serta keesokan harinya bubar,
diiringi para prajurit,
siap sedia perlengkapan perang(nya),
bedil mimis dan seligi
Ki Patih menaiki kuda,
hitam legam warna kudanya,
serta sampai di perbatasan,
ramai (suara) gamelan Ki Rangin,
umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan.

32. Semua menghaturkan hormat.
Lalu berkata Ki Patih,
sambil menyembah serta berkata,
“Duh Paduka saya ini
Karena diperintahkan menemui Paduka,
kedatangan Paduka …,
silahkan sekehendak Paduka,
saya sudah sedia barangkali diinginkan.

33. Ki Patih lalu berkata,
“Diterima saudaraku,
gembira atas penghormatannya,
tetapi nanti setelah aku pulang,
karena ini perjalanan terburu-buru,
di mana tempatnya itu?”
Berkata prajurit (yang) tiga (orang),
itu terlihat Paduka,
bendera merah kuning dan putih.

34. Lalu perjalanannya dilanjutkan,
patih dengan para mantri,
telah jauh perjalanannya,
sudah dipacu kudanya,
menuju ke Bantarjati,
terdapat pesanggrahan besar,
kemudian jembatan dihancurkan,
dibakar tidak ada yang tersisa,
sudah tiba di pasanggrahan.

35. Disambut (oleh) banyak prajurit,
masuk ke dalam tenda,
lalu sama-sama duduk,
bersalaman semuanya,
serta menghormati,
ramai (suara) gamelan yang ditabuh,
bersorak hingar-bingar,
karena menghormat Paduka,
lalu patih memeriksa ke belakang.



X. PANGKUR

1. “Hai saudaraku semua,
yang sama-sama tinggal di sini,
bendera dan umbul-umbul,
pasukan sebanyak-banyaknya,
karena aku menanti perintah,
hendak menanyakan berita
lalu sampaikan yang sesungguhnya.

2. Seperti apa pasukannya,
sudah sedia untuk berperang,
tumbak perampok,
apa tujuannya?”
Bagus Rangin lalu menjawab,
Sebetulnya hendak merusak,
Dalem Dramayu.”

3. Lalu Ki Patih berkata,
“Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara.
Sudah, (jangan) menuruti napsu,
karena bermaksud ingin merusak
negeri Darmayu,
kalau boleh saya mencegah,
karena negeri ini (akan hancur).

4. Meskipun kecil wilayahnya,
tetapi lebih berat menjaganya,
dan nanti membuat sengsara
semua anak cucu,
menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung,
akibatnya jadi rusak,
karena musuh ada di dalam negara.

5. Ki Rangin berkata kasar,
“Kiai Patih Hastrasuta,
aku tidak mau disuruh mundur,
dan tidak takut melihat,
rupa oarang-orang di negaramu itu.”
Oleh karena itu Rakryan Patih merasa
telinganya seperti disebit.

6. Loh Rangin ucapanmu itu
memalukan, (jaga) mulutmu berandal babi,
masa aku takut,
karena malu kalau mundur,
akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu,
bila kamu tidak tertangkap.
Ki Patih keluar dari Jati.”

7. Para mantri menjaga,
Ki Rangin berat bertanding melawan patih,
mereka saling dorong mendorong,
dengan Rakryan Patih,
Ki Rangin tidak kuat berperangnya,
para saudaranya maju perang,
semuanya kalah di pertempuran.

8. Karena perang dengan perampok,
tidak memakai aturan berperang.
berkata Ki Serit,
“Hai prajuritku semua,
bersiap mengepung saja,
jangan sampai bisa keluar,
kira-kira (tengah) malam saya bukakan.

9. Karena Patih Hastrasuta
mengamuk selama dua hari ini,
banyak musuhnya yang tewas,
(orang dari) Bantarjati, Biawak,
dan Kulinyar bubar melarikan diri,
siapa marah pasrah tewas,
waktunya jam enam sore.

10. Lalu Ki Serit berkata,
“Saudaraku semuanya, sekarang
jangan mendesak majulah,
lawanlah (sambil) terus mundur,
menunggu waktu jam sepuluh,
ketika gelap tidak terlihat,
lalu serentak bertarung.

11. Dan setelah jam sepuluh,
orang(-orang) Kulinyar, Pasiripis, Bantarjati,
serentak menyerang,
dikepung buaya mangap ,
seribu orang lebih tidak terlihat,
sudah merasa tidak kuat,
jatuh terkena tumbak dan keris.

12. Tidak tahu arah utara-timur,
sangat ramai karena perang sampai malam,
para mantri melarikan diri,
tetapi pasukan Kulinyar,
karena tidak peduli (lalu) melarikan diri,
hanya Patih Hastrasuta,
yang diinginkan tewas.

13. Lalu Ki Serit maju,
membawa tumbak [dipikul] di pundaknya,
berganti pakaian beraneka,
Hastrasuta sudah payah,
meladeni pertempuran,
hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu,
utara timur karena malam.

14. (Ia) berbicara di dalam hati,
sekarang pasti sudah sampai saatnya,
sudah sewajarnya saya berbakti,
membela negara,
bertarung melawan perampok yang mengeroyok,
aku sudah tidak kuat,
Ki Serit keluar dari belakang.

15. Serta sudah waspada
lalu Ki Patih ditumbak dari belakang,
kena (sasaran) lalu tewas,
kemudian dibawa oleh orang banyak,
badannya sudah hancur,
oleh karena itu para perampok,
bersorak seperti bumi terbelah.

16. Serta keesokan harinya bubar,
berkumpul di pesanggrahan mereka,
sama-sama berpesta ramai-ramai,
oleh karena para perandal,
(lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar,
karena itu mantri melarikan diri,
sudah tiba di hadapan Paduka.

17. Berkatalah di hadapan (paduka)
sambil menangis sedih,
“Celaka hamba,
karena Kakanda Paduka,
saat ini karena sudah tewas,
dikeroyok di medan pertempuran.”
Paduka berkata pelan,

18. “Hai mantriku semuanya,
jika demikian lebih baik kalian pulang semua.”
Sambil air mata mengalir deras,
lalu semua bubar.
serta sudah sampai di kampung Bangoduwa,
dikepung banyak orang,
tidak disangka perampok datang (lagi).

19. Sama-sama bertarung di jalan,
serta ada yang tewas,
ditembak pamayungnya (pemimpinnya),
tewas di (tengah) jalan,
maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung.
Lalu melanjutkan perjalanannya,
sudah sampai di negeri.

20. Sesampainya di negara,
para istri serta saudaranya,
sama-sama bertemu di pintu gerbang,
lalu masuk ke rumah,
berkata Dalem kepada istrinya,
“Saat ini mendapat musibah,
Kanda Patih terbunuh.”

21. Istri serta saudaranya,
bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka,
semuanya menangis,
sambil memanggil-manggil,
“Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku,
kanda tidak panjang umur,
padahal (kanda seorang) patih.”

22. Ramai gemuruh (yang) menangis,
para istri dan putra-putrinya,
serta saudara-saudaranya,
mengingat kesengsaraannya,
meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan,
ganti lagi yang (diceritakan),
berandal dari Bantarjati.

23. (Mereka) beramai-ramai tayuban,
setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi,
hasil merampok di setiap kampung,
siang malam makan-makan,
macam-macam tingkah lakunya,
oleh karena perampok kampung.
Ki Rangin berkata pelan

24. kepada pamannya
Kiai Serit serta saudaranya,
“Duh paman saya mohon,
serta saudara-saudaraku
cepat berangkat besok pagi ke Dermayu
sudah telat perjalananku.”
Semuanya menyanggupi.

25. Serta keesokan harinya semuanya bubar,
jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok,
masing-masing (membawa) senjata,
senapan, gobang, serta pedang,
tumbak, keris dan komprang serta pentungan,
masing-masing yang dimilikinya,
pakaiannya macam-macam.

26. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa,
ada yang memakai celana poleng jarik,
atau sama-sama mengenakan celana pendek,
ada yang (memakai) celana panjang,
selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan,
memikul karung berisi beras,
dengan senapan di sebelahnya.

27. Sepanjang jalan berjoget,
bersorak di jalan sambil menari,
segala kelakuannya,
oleh karena kelakuan pencuri,
sepanjang jalan merampok setiap dusun,
ayam serta harta benda,
kerbau sapi juga ikut,

28. sampai babi hutan.,
Di Lobener para Cina sedia,
anak-istrinya di Dermayu,
karena sama-sama gagah,
Babah Kwi Beng, Heng San, Heng Li Cina baru
semuanya berani,
serta Heng Jin dan Tiyang Li.

29. Orang Cina (berjumlah) dua puluh,
(mereka) sudah sedia berani mati,
Cina babah dengan baru,
lalu berandal merusak,
oleh karena jumlahnya banyak jadi berani,
hendak merebut barang (dan) harta,
serta Nyonya Cinanya.

30. Serta merusak ….,
para Cina bertarung melawan penjahat,
hancur penjahat (dan) banyak yang mati
diserang oleh para Cina,
banyak penjahat pecah kepalanya,
diserang oleh para Cina,
ramai orang melarikan diri.

31. Semua berandal menyingkir,
lalu Bagus Surasa Persanda menemui
Bah Kwi Beng serta melihat(nya),
“kok kamu menjadi berandal,
apa tidak ingat inti tali persahabatan?”
Berkata Surapersanda,
“Karena itu saya menemui,

32. Hendak meminta kerelaan teman,
sekarang ini jangankan saudaraku,
kan saya tidak mengacau,
atau berniat jahat,
ada Cina bersahabat denganku,
banyak harta-bendanya,
masa hendak dirusak.

33. Hanya sahabat waktu sekarang,
cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu,
aku benci sekali padamu,
jika tidak melihat kamu,
sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh,
tetapi mengingat (kamu) sahabat saya,
saya (berbuat) lebih baik.

34. Dan bagaimana pikiranmu
membuat kekacauan di negaramu ini,
Jarih (dan) Gana ikut-ikutan,
perlengkapan kurang lengkap,
hendak merebut negara Dermayu ini,
kamu membuat (orang) sengsara
(dan) dirimu sendiri.

35. Lalu Cina memohon diri,
dengan Bagus Surapersanda,
para Cina lalu mundur,
bubar (dan) berangkat ke Darmayu,
lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya
membuat perkampungan di Pamayahan,
membuat pesanggrahan.

36. Ki Rangin berpikir keras,
bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini,
sehari tiga puluh
orang yang sama-sama datang
maksudnya hendak merusak Darmayu,
jumlah orang(-orang) itu,
sampai tujuh ribu orang

37. Bergemuruh di Mayahan,
karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok,
karena banyak orang,
siang malam membunyikan tetabuhan,
tingkah laku berandal itu,
ada yang menjarah,
merampok (dan) mencuri uang.

38. (Penduduk) desa itu sangat susah,
orang kecil dirampok setiap hari .
Jika istrinya cantik,
lalu ditiduri,
bila tidak mau lalu dibunuh,
karena itu (mereka) sangat sengsara,
memanggil-manggil Padukanya.

39. “Aduh Tuanku panutanku,
Kiai Dalem Darmayu.
hamba meminta tolong,
rusak hamba semua,
kerbau, sapi, serta kambing dicuri,
para berandal (kaum) bangsawan,
tidak malu menyakiti.”

40. Dengan demikian Paduka,
sudah mendengar bahwa banyak berandal
di daerah Mayahan,
(yang) menjarah setiap hari,
di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak.
Ki Dalem menyampaikan surat,
(kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia.
1808,

41. Nama[nya] gubernur jendral (itu),
(adalah) Daendels
yang berpangkat gubernur
berkedudukan di Betawi
sangat gagah perkasa, sembada, (dan tinggi) besar,
dan suka menolong
kesusahan setiap negara

42. dan benci kepada orang yang jahat
bila tertangkap terus dibunuh,
tidak perduli teman sendiri,
watak[nya] Daendels itu (demikian).
Karena itu banyak serdadunya disebar,
kalau ajudannya tidak menurut,
maka dihukum olehnya.

43. Memohon pertolongannya,
Karena penjahat yang datang sangat banyak,
memohon gubernur memerintahkan,
serta mengirim pasukan serdadu,
bersama dengan komandan laut,
Tuan Postur namanya,
dari Inggris asal Belanda.

44. Yang mana penjahat (diajak) berunding,
pura-pura diangkat jadi bupati,
di negeri Dermayu,
karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi,
bupati tidak kuat sendirian,
supaya bubar
gerombolan penjahat ini.

45. Serdadu dengan tuan,
sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati,
serta mereka berunding.
bupati sudah menyerah(kan),
kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut.
Lalu berangkat diiringi
tiga ratus serdadunya.

46. Supaya terlihat,
(oleh) para berandal tampangnya para serdadu
(yang membawa) senapan, pedang serta berkuasa,
dipilih yang perawakannya sama,
besar tinggi bergodeg dan berkumis.
perlengkapan (dan) peluru digotong,
dengan makanan serta uang.

47. Seratus oarang yang menggotongnya,
serta meriam ditarik kerbau,
supaya berandal melihat,
tatacara berperang,
bertanding atau belajar perang,
serta sampai di Mayahan,
terkejut berandal melihatnya.

48. Lalu berkata kepada pimpinannya,
bahwa ada serdadu datang,
membawa perlengkapannya,
perlengkapan perang.
Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya,
bertemu dengan Tuan,
Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa.


49. Tuan Deler menghormat
kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit.
Tuan Deler berkata manis,
“Hai Bagus Rangin
dengan hormat karena saya diutus,
oleh Tuan Gubernur Jendral,
(yang) berkuasa di [negeri] Betawi.

50. Karena bupati menyerahkan,
negaranya kepada Gubernur Jendral,
jadi aku diutus,
untuk berunding,
namaku Zwak.
(Menurut) bupati,
bila anda bersedia,
diangkat demang olehku.

51. Nanti semua saudara(mu)
kuangkat menjadi mantri, jurutulis,
kekuasaannya sama,
seperti pangkat bupati.”
Bagus Rangin menghaturkan terima kasih,
jika demikian lega hatinya.
Semuanya berganti pakaian.

52. Semuanya mengenakan laken,
celana laken, baju laken (dan) topi (laken),
membawa pasmen mas berkilauan,
Tuan Deler bersiaga.
Lalu ramai tetabuhan bergemuruh,
pesta melantik demang,
Demang Rangin (dan) para mantri.

53. Di Kademangan Pamayahan,
siang malam penjahat tayuban,
menghibur yang menjadi demang,
suka-suka berpesta.
Ki Rangin sangat gembira sekali,
diiring semua mantri,
(mengenakan) pakaian dari Betawi.

54. Banyak orang yang melihat Belanda,
sangat takut melihat persenjataannya,
senapan, pedang serta berkuasa,
setiap sore mengajarkan perang,
kolonel ajudan sersan dan serdadu,
mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang,
penjahat banyak yang kembali.

55. Bila malam melarikan diri
oleh karena banyak yang kurang makan,
oleh karena mereka berjumlah banyak,
hendak merampok bendera negara,
jumlah penjahat sekitar tujuh ratus.
Lalu Deler mengirim surat,
kepada bupati Darmayu.

56. Baru pejabat yang ditangkap
pasukan Deler, karena bupati sudah menerima surat itu.
Lalu bupati mengirim surat,
kepada Kartawijaya
ponggawa sultan di Grage,
suratnya telah diterima.

57. Serta dibaca surat itu,
(memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta,
yaitu pamannya sudah tewas,
dibunuh oleh berandal,
saat ini berandal dijaga.
Kepada tuan komandan Belanda di Betawi,
minta pertolongan.

58. Cepatlah kakanda,
dinda minta menangkap berandal yang dijaga.
Kartawijaya marah,
lalu berbicara kepada sultan,
semuanya sudah disampaikan kepada sultan.
Paduka sultan berbicara,
lalu berkata (dengan) lembut.

59. “Jika Kartawijaya,
secepatnya harus menangkap penjahat.
Bila berhasil cepat diborgol,
bila melawan (harus) dibunuh,
potong leher para berandal itu,
serta anda Raden Welang,
(berangkat) bersama Karta(wijaya).”

60. Karta dengan Raden Welang,
karena sudah dipersilahkan menyertai paduka.
Sultan member izin,
menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya,
keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende.
Lalu prajurit bersiaga,
menyiapkan perlengkapan perang.

61. Lalu Den Welang berkata,
“Hai semua prajurit saudaraku,
sekarang kalian berangkat,
bersamaku (dan) kanda Karta,
hendak menyerang panjahat yang mengacau,
di Mayahan tempatnya.
Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu).

62. Dan membawa temannya,
seluruh(nya) para prajurit terpilih.
semuanya sudah keluar,
prajurit semuanya berangkat.
Prajurit sudah sampai di Darmayu,
bertemu adik dan kakak(nya),
adiknya memeluk (sambil) menangis.

63. Menangis kepada kakaknya
karena teringat ia sudah tewas
kakaknya menangis,
serta katanya,
“Duh dinda mas sudahlah tenang dinda,
dinda Hastrasuta sudah meninggal,
tidak akan mundur kanda berperang.

XI. DURMA

1. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang,
sudah siaga (untuk)bertarung,
semua[nya] ponggawa,
gembira mantri semuanya,
karena hendak membalas kematian,
yang sudah wafat,
(yaitu) Patih Hastrasuta.

2. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar,
(ingin segera) menumbak perampok,
sangat semangat pasukannya,
karena yang di depan,
bupati dengan kakaknya,
serta Den Welang,
putra selir (Pangeran) Panjunan.

3. Lalu sudah tiba di Pamayahan,
Rangin menyambut (karena) mendengar
bahwa bupati telah tiba,
lengkap dengan peralatan perang,
merasa dikhianati
oleh Tuan Deler,
karena sudah dikepung.

4. Utara selatan timur sudah dijaga,
serta barat (oleh para) prajurit,
sudah kokoh barisannya,
penjahat berada di tengah,
di selatan pasukan Betawi,
Den Welang (ada di) tengah,
mendekati berandal.

5. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya,
berhadap-hadapan bertemu
dengan para penjahat.
Kemudian berteriak,
“Hai Rangin anjing kamu ini,
kamu penjahat,
menurutlah akan kuikat.”

6. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja,
berkata dengan kasar.
“Hai aku (sudah) diangkat (demang)
oleh Tuan Deler .”
Lalu dijawab
oleh Raden Welang,
”Aku tidak takut,

7. meskipun aku dikepung olehmu,
aku tidak takut,
sombong (karena) banyak pasukan,
aku tidak akan lari.”
Sena lalu diikat,
oleh Raden Welang,
ditendang (lalu) terguling.

8. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang,
tidak memakai siasat perang,
oleh karena berandal
seperti mengepung binatang buas,
setiap prajurit
di tempat perang,
(berandal) yang ke luar ditembak

9. oleh serdadu yang sedang berjaga.
Banyak penjahat tewas
yang ditangkap (dan) dibrogol
oleh para mantri.
Perang tertunda (karena hari) berganti malam.
Di tempat perang,
Rangin dengan saudaranya.

10. melarikan diri dari medan pertempuran.
Pagi-pagi bende ditabuh,
Rangin sudah tidak ada,
semuanya melarikan diri.
Den Welang berkata,
“Hai kunyuk penjahat,
takut mati kamu anjing.

11. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol,
(jumlahnya) sekitar enam ratus (orang),
karena akan dikirim
ke Darmayu nanti.
Berandal (itu) lalu dipenjara,
(saking banyaknya) tidak tertampung
di dalam penjara.

12. Kelebihannya dibawa ke kapal
semua penjahat itu.
Serta sudah mundur semuanya,
semua pembesar
berkumpul di Darmayu.
(Mereka) akanmengirim surat,
(kepada) jendral yang ada di Betawi.

13. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral,
mengenai penjahat
yang sudah tertangkap
(dan) dimasukkan ke dalam penjara itu.
Keputusan pun sampai,
keinginannya,
(semua) disekap di dalam penjara.

14. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim
ke Betawi,
yang ada penjaranya,
sudah disekap semuanya.
Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari,
sampai ketemu,
semuanya diperintahkan dibunuh.

15. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki,
lalu berangkat mencari.
Balatentara Den Welang
dan Den Kartawijaya,
sudah bubar semuanya.
Dalam perjalanannya,
ada berita lagi,

16. sebab gerombolan berandal sudah menunggu,
di Kedongdong,
Jumlahnya sekitar seribu (orang),
Rangin Kandar pemimpinnya,
yang kembali dari pertempuran,
serta membawa gerombolan
panjahat dari Luwiseheng.

17. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin,
prajurit Bagus Hawisem,
yang memimpin pertempuran,
maju berperang,
Rangin sangat gembira hatinya,
“Nah itu dia,
Prajuritku berhasil.”

18. Rangin berkata kepada para putra(nya),
Gana, Jarih, dan Seling
bersiaplah dengan waspada,
maju ke medan perang.
Prajurit paman
yang memimpin pertempuran,
Hawisem dan Raden Wari

19. Di tempat pertahanan Kartawijaya
dan Raden Welang,
tertawa bersuka ria,
“Aduh dinda tidak disangka,
kanda bertemu dengan dinda,
sangat gembira,
berpesta siang dan malam.


20. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam,
ternyata ada yang menyusul,
penjahat sudah siaga
mengatur pasukan
dipimpin (oleh) Bagus Rangin,
prajurit di depan,
memandang Hawisem (dan) Wari.

21. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya,
“Siapa ini di hadapanku,
karena aku tidak kenal.”
“Prajuritnya Rangin
yang menyambut kamu ini,
Den Wari nama(ku).”
Di tempat pertempuran ramai,

22. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong,
Pertempuran di medan jurit,
berani ke medan perang.
Raden Welang maju,
dengan Den Kartawijaya,
bertemu di medan perang,
Raden Wari tertangkap.

23. Prajurit Luwiseheng pun turun,
Tumenggung Nitinegari,
Rangin Kandar turun,
dipegang …….
karena banyak yang kalah
oleh Den Welang
karena berani bertarung.

24. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran,
tidak patuh dalam pertempuran,
bertahan di medan perang,
keroyokan karena tidak terlihat,
lalu dikejar dengan berani,
gerombolan berandal,
ramai oleh yang berperang.

25. Banyak berandal yang mati ditembak
oleh serdadu.
Den Welang berkata,
“Hai anjing penjahat,
Surapersanda sudah tertangkap.”
Segera dirantai,
dan Sena diikat.

26. Rangin, Kandar, Handa, (dan) Hawisem lari,
Leja dengan kawan-kawannya,
berlari ke barat.
Ki Sena (dan) Surapersanda,
dirantai (dan) dikirim,
kepada teman sultan,
(yang) ada (di) negeri Garage.

27. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya,
(serta) Raden Welang tidak ketinggalan,
sama-sama mengejar penjahat,
menuju arah barat,
tiba di Bantarjati,
tidak menemukan (siapa-siapa),
pondokannya kosong.

28. Pondokan para penjahat dibakar,
semuanya tidak ada yang tertinggal,
diborak-barik setiap perkampungan,
gadis cantik dibawa,
ke negeri Darmayu,
orang(-orang) desa kesusahan,
kasmaran yang melihat.

XII. KASMARAN

1. Tersebutlah yang melarikan diri
Ki Rangin, Serit, dan Leja,
dengan Kandar Handa kelak
membawa anak istrinya,
berkelana di hutan-hutan,
sangat sengsara hidupnya,
anak istri sama-sama sedih.

2. Menangis sepanjang jalan,
Benggala di Luwung Dinang,
dan di hutan Cikole,
pemandian bupati di sebelah barat,
di Purasu, Radensrang,
Pengambiran, Legok Siyu,
tiba di Dulang Sontak.

3. Sebelah barat menyeberang kali
Cilalanang, Cibenuwang,
Cipedang, dengan Cilege,
Cipanculan, Ciwidara,
pernah menyeberang Kuceak,
sampai Gumulung,
menyeberang Cipunegara.

4. Bila diburu (lagi),
berbelok-belok perjalanannya,
tiga bulan perjalananannya,
sangat sedih,
melihat anak- istri(nya),
tiba di Cigadung,
di tengah hutan (yang) luas.

5. Lalu berkata perlahan,
kepada semua anaknya,
“Duh anakku nanti,
sangat subur tanahnya,
rawa besar banyak ikan,
sungai yang deras airnya.
Ayah akan membuat ladang
supaya didatangi (orang).

6. Karena para istri,
terlihat sangat sengsara,
tiga bulan perjalanannya,
berjalan terus di hutan-hutan,
berjalan di pinggir jurang,
lalu bersama-sama memasang tenda,
luas halamannya.

7. Menanam pepohonan,
serta membuat sawah,
sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya,
Rangin setiap hari,
memasuki hutan,
membawa kijang bila kembali,
serta menjangan.

8. Beramai-ramai membawa makanan,
dari tengah hutan,
sangat jauh letaknya,
Ki Leja setiap hari,
menguras ( sungai) mencari ikan,
kesenangannya itu,
di rawa yang bernama Citra.

9. Pernah membuat perkampungan,
dinamai Dukuh Citra,
dan disamakan namanya,
dengan yang dibuat Ki Rangin,
Kemudian menemukan pelataran luas,
sebelah barat sungai Cigadung,
sebuah (yang bernama) Jatigembol.

10. Dinamai demikian,
Jatilima namanya,
kelak bekas Ki Rangin
bila berkumpul,
letaknya di Cigadung,
dinamai Cihakur,
disebut (demikian) sampai sekarang.

11. Di perbatasan distrik Pegaden,
keduanya distrik Pamanukan,
dua taun lamanya,
lalu sama-sama setuju,
hendak mencari negeri jajahan,
Ki Gede yang berada di Pecung
Kiai Wangsakerti namanya.

12. Lalu semua sudah setuju,
dengan saudara serta ayahnya,
hendak mencari tempatnya,
memerlukan tempat luas,
menuju selatan arahnya,
membawa teman tiga puluh,
karena menemukan tempat luas,

13. serta datar tanahnya,
di sebelah barat laut Suba(ng),
Tegal Slawi namanya,
panjang lebarnya luas,
membuat ...
sudah tiba di Citarum besar,
tempat para penjahat.

14. Lalu Ki Rangin membaca mantra,
yaitu Aji Pengabaran,
pikirannya sudah nekat,
setiap hari orang datang,
melihat pesanggrahan,
lalu ada yang mengikuti,
hendak mengadu kekuatan.

15. Serta sudah banyak orang,
yang akan ikut berperang,
di antara orang banyak,
lebih dari seribu orang,
pesta makan-makan,
beramai-ramai siang (dan) malam,
sangat mujarab sihirnya.

16. Lalu Rangin berkata lembut,
kepada teman dan saudaranya,
seperti apa keinginannya,
saudara serta teman-teman,
yang menjadi tujuan,
apa ingin mengungguli
menggempur orang keturunan Pecung.

17. Semuanya menjawab,
apa keinginanmu,
karena saudara keinginannya,
hari apa maju bertempur,
karena tinggal menunggu waktu semuanya siap,
lebih baik aku membuat surat.

18. Menangtang perang,
tanda saya bijaksana,
supaya siaga sekarang,
untuk menyambut perang,
sudah membuat sengsara.
Lalu membuat surat,
dikirimkan ke Desa Pecung.

19. Demikianlah Ki Wangsakerti,
karena sudah mendengar,
ada penjahat,
di tegal (sebelah) selatan Subang,
hendak melawannnya,
berandal berasal dari timur,
buronan negara.

20. Lalu berkumpul,
dengan saudara (dan) anaknya,
para senapati juga.
Ki Wangsakerti berkata,
“Hai kamu Krudug,
serta putra Sindanglaya.

21. Atau kamu anakku
Jaka Patuwakan,
apakah sekarang sanggup bertarung,
dengan penjahat dari timur?”
Semuanya menyanggupi,
sanggup mengadu (kekuatan),
dengan penjahat (dari) timur.

22. Ketika sedang berbincang-bincang,
dalam sekejap datang utusan itu,
Dulang Sareh namanya,
pelayan yang bijaksana,
tiba di hadapannya,
sudah menyampaikan surat,
surat lalu diterima.

23. Surat lalu dibaca,
dibaca di dalam hati,
Jajabang Grudug terlihat,
serta berkata kasar,
“Kamu anjing timur,
Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya,
hendak melawan orang Sunda

24. Jawa Timur rasakan aku,
tebal tipis urat tulang,
akan mantra sihir (pada) kamu,
anjing kamu, pergi,
sampaikan pada tuanmu,
hari apa yang pasti,
saya siap menyambutmu.

25. Lalu Dulang berpamitan,
serta tersenyum (dan) mengumpat,
anjing Sunda membelalaki,
matanya jelalatan.
Grudug mendengar (yang) mengumpat,
“Anjing cepat kamu mati,
jangan banyak bicara kamu.”

26. Dulang Sareh lalu pulang,
cepat-cepat berjalannya,
sudah tiba di hadapan Paduka,
yang berada di [tempat] pesanggrahan,
lalu katanya,
“Bagaimana Dulang Sareh,
bagaimana suratku?”

27. Dulang Sareh berkata pelan,
Ki Gedeng Pecung iti,
sudah siaga (dengan) pasukannya,
malah banyak prajuritnya,
serta gagah sentosa,
menanti kedatangan
paduka.

28. Lalu berkata Ki Rangin
kepada Kiai Serit
serta saudara-saudaranyanya,
semuanya menyanggupi perang,
menjadi pemimpin perang,
melawan Ki Gedeng Pecung,
lalu semua sedia.

29. Bergemuruh pasukan Rangin,
sedia untuk berperang,
bendera cepat dinaikan,
bersorak bergemuruh,
karena perang penjahat.
Bende dipukul terus-menerus,
prajurit Rangin pun siap.

30. Lalu sudah terdengar,
barisan penjahat (dari) timur,
dengan barisan pasukan Pecung.
Lalu maju prajuritnya,
Patuwakan Majalaya,
serta Kiai Gedeng Grudug,
perasaannya seperti Singalodra.

31. Di daerah Tegal Selawi,
termasuk distrik Subang,
ramai perang dengan penjahat,
pasukan Rangin banyak yang mati.
Leja maju bertarung,
bertemu dengan Ki Gedeng Grudug.
Ki Leja lalu bertanya.

32. “Hai siapa (orang) Sunda ini,
berani melawan bertarung denganku,
apakah kamu Wangsakerti,
tidak kenal (orang) Jawa Timur,
aku senapatinya,
namaku Gedeng Grudug,
yang akan mengikatmu.

33. Buronan negara,
di timur sedang dicari.
Ki Leja menyerang,
sama-sama saling mendorong,
ramai pasukan yang bersorak,
pasukan Rangin dengan Pecung,
bertemu lawan di pertempuran

34. Jaka Patuwakan,
melihat kakaknya bertempur,
tidak ada yang kalah dan menang,
lalu cepat maju,
menggantikan berperang.
Leja bertanya,
“Hai siapa yang menggantikan perang,

35. berani kamu babi?”
Aku Jaka Patuwakan
tidak teliti melihatnya.
yang bertarung saling mengejar,
ayo gantian lawan aku,
aku ingin merasakan,
mencambuk kamu orang timur.”

36. Lalu menyerang (dengan) berani,
Ki Leja cepat mengayunkan pedang,
tidak berhenti memedangnya,
terus menerus menggunakan pedang.
“Hai kamu Patuwakan,
betul-betul prajurit tangguh,
serta kamu masih muda.”

37. Patuwakan berkata perlahan,
“Duh Paman Leja
seperti orang serakah anda,
memakai pedang tanpa aturan,
ke bawah ke atas gerakan pedang,
kamu itu bukan prajurit,
betul-betul penjahat urakan.

38. Jaka Patuwakan,
merasa tidak sabar melihatnya,
Leja didesak perangnya,
tertutupi penglihatannya,
lalu cepat ditangkap,
digendong tidak berdaya,
Leja tidak bisa bergerak.

39. Sambil menangis memanggil-manggil,
“Ampuni paman, Patuwakan,
sekarang paman tidak berani.”
Lalu dibawa oleh prajurit,
Kandar maju perang,
pemuda yang sakti dan unggul
ini Kandar saudaranya.

40. Cobalah lawan aku,
sudah saling berhadap-hadapan,
dengan Patuwakan,
di tangannya terpegang senjata.
Tidak kuat Bagus Kandar,
terpukul rotanwulung,
terguling di atas tanah.

41. Sambil menangis memanggil-manggil,
“Aduh Bagus ampuni paman,
sekarang paman tidak berani,”
lalu Kandar diikat.
Matahari pun terbenam,
mundur pasukan Pecung,
sambil membawa tawanan.

42. Berkata ki Wangsakerti,
“Hai anakku semua,
besok saya maju,
Jigjakerti Majalaya,
supaya maju perang,
melawan Rangin kamu ini.”
Jigjakerti menyanggupi.

43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu,
pasukan Pecung banyak,
demikian juga pasukan Rangin.
Kiai Serit berkata,
“Apa yang harus kulakukan?”
Ki Rangin lalu berkata,
ayahanda jangan kecil hati.

44. Sekarang ananda pamit,
hendak maju bertempur.
Ki Serit memeluk putranya,
menangis sambil berkata,
“Duh anakku yang kusayang,
kita serahkan kepada Yang Agung,
semoga unggul di medan perang.

45. Lalu Bagus Rangin maju,
menantang di medan perang.
“Hai ini Rangin namanya,
sambutlah di pertempuran,
sambil berebut bertempur,
tidak apa aku tewas,
itulah tujuan hidup laki-laki.

46. Lalu maju Jigjakerti,
Ki Gede dari Majalaya,
sama-sama sudah bertemu.
Lalu Rangin bertanya,
“Hai yang maju bertempur,
gagah besar serta tinggi,
namaku Jigjakerti.

47. Dan ini Majalaya
yang akan melawan kamu,
kesaktian(ku) sepadan denganmu,
terbuat dari kulit (dan) tulang keras.
Lalu bertempur seru,
Ki Rangin sudah menangkap,
dibanting lalu (dicekik) lehernya.

48. Majalaya diikat(nya)
oleh tentara Rangin,
Ki Grudug maju perang,
saling mendorong perangnya,
Grudug lalu ditangkap,
dibanting lalu (dicekik) lehernya,
lalu cepat diikat.

49. Pasukan Pecung dengan Rangin,
bersorak seperti bumi terbelah,
tertunda karena malam,
semuanya pasukan bubar,
lalu membuat pesanggrahan,
Ki Serit lalu menemui,
setelah putra(nya) datang.

50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti,
sangat susah hatinya,
putra keduanya kalah,
tinggal seorang putranya,
putra (yang bernama) Patuwakan,
“Duh anakku,
apa yang harus kulakukan?

51. Sial terkapar di medan jurit,
Rangin sangat sakti
sangat kuatir diriku,
karena masih muda,
Rangin gagah perkasa.
Tunda yang dikisahkan,
(terdengar) ramai di luar.

52. (Karena) ada pasukan yang datang,
dari utara sangat banyak,
Ki Wangsakerti terkejut,
(karena) tidak disangka musuh datang.
“Duh anakku (belahan) jiwa,
apa yang harus aku akukan.”
Kemudian ada mentri datang

53. memberikan surat, (lalu) diterima,
menggigil (tangannya ketika) menerima surat,
disangka musuh yang datang.
Surat segera dibaca,
isi suratnya,
dibuka lalu dilihat,
jadi gembira hatinya.

54. “Surat dikirimkan kepada adik,
yang sedang bertarung.
Kanda Wangsakerti sekarang,
sudah (jangan) dijadikan pikiran,
dinda tiba secepatnya,
tidak dengan kabar tadi,
(karena) keburu mendengar berita.

55. Bahwa kakanda menghadapi perang,
dengan buronan dari timur.
Dinda nanti menjaga.
Surat (dari) keluarga
di Darmayu,
oleh karena dinda memohon
ikut meneruskan perang.

56. Dinda mohon kabar
menunggu izin kanda,
sungkem Dinda yang menanti,
Setrokusumah,
Dalem Pegaden.”
Ki Wangsakerti tertawa,
“Aduh gembira sekali anakku.

57. Kamu Patuwakan,
cepat bersamaku ikut menyambut,
Adinda Bupati Pegaden.”
Lalu bubar dengan kawan-kawannya,
(untuk) menemui tamu itu,
bertemu gembira sekali,
bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk.

58. Lalu berkata Wangsakerti
“Duh selamat datang,
Adinda Dalem dari Pegaden,
kanda memohonan (agar) bertemu,
diterima permohonan(ku).
Bagaimana pertarungan
(dengan) buronan dari timur?”

59. Wangsakerti berkata perlahan,
“Sangat gembira hati kanda,
kedatangan dinda sekarang
karena (hendak) maju berperang.
pemimpinya yang ke luar,
malah aku dan anakku,
sama-sama ditangkap (lalu) diikat.

60. Silahkan dinda maju,
cepat tangkap penjahat.”
Lalu bupati berdandan,
mengenakan pakaian kebesaran,
tampan gagah perkasa,
memakai tutup kepala dari sutra ungu,
dihiasi intan (dan batu) mirah.

61. Kerisnya tergantung,
terlihat ada di kanan.
(Ia) berkata kepada mantrinya,
“Hai mantriku semua,
cepat atur barisan,
pegang dengan kuat senjatanya,
aku akanke luar untuk berperang.

62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin.
Seperti apa rupanya,
pekerjaannya merusak orang banyak,
orang kaya dicuri.”
Karena Jaka Patuwakan,
maju ke depan,
menyembah ke hadapan Paduka.

64. Lalu berkata perlahan,
”Mohon maaf menyampaikan berita duka.
ayahanda sudah keluar sekarang,
mulanya ananda belum berangkat,
menandingi Rangin bertempur,
mudah bila ananda sudah
kalah di pertempuran.”

65. Wangsakerti menyambung (pembicaraan),
“Duh Dinda betul (kata) ananda,
Sementara jangan dulu maju sekarang,
harus dituruti,
permintaan ananda.”
Bupati berkata manis,
“Hai anakku sekehendakmu.

66. Karena aku mengizinkanmu,
kuserahkan kepada Yang Sukma,
(mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang.”
Lalu Patuwakan menyembah,
ke hadapan ayahanya,
hendak maju ke medan perang.
Anaknya mundur dari hadapannya.


XIII. DURMA

1. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang,
bende ditabuh bertalu-talu,
pasukan bersiaga bersorak seperti prahara,
Jaka Patuwakan
menantang.
“Lawanlah (aku), prajurit Rangin.

2. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan,
anaknya Wangsakerti.”
Demikianlah sudah terdengar,
oleh perwira Rangin.
Kemudian Ki Rangin menyambut(nya),
(dan) berhadap-hadapan.
Lalu Ki Rangin bertanya,

3. “Kamu siapa anak muda maju perang?
Sayang sekali masih muda,
Wangsakerti
Yang harus disuruh melawanku,
jangan kamu yang maju ,
bermusuhan denganku.”
Patuwakan menjawab

4. Nanti dulu, lawan saja aku,
seperti apa kesaktianmu?”
Lalu Rangin menangkap,
Jaka Patuwakan.
Rangin lalu menendang,
jatuh terpelanting,
ramai pasukan yang bersorak.

5. Karena ramai yang saling dorong, yang berperang
mendapatkan lawan bertarung,
Rangin (dan) Patuwakan,
karena sama saktinya,
keduanya memegang keris,
ujung senjata,
Patuwakan melawan.

6. Patuwakan agak letih bertarung,
Dalem menggantikan,
serta berkata
kepada putranya Patuwakan.
“Hai anakku berhenti dulu,
ayahanda yang maju,
bertempur dengan musuh Rangin.

7. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang.
Dalem maju berperang,
Rangin bertanya,
“Siapa yang menggantikannya
kamu prajurit yang gagah
seperti …patih.”
Dalem lalu menjawab

8. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden,
hendak menangkap kamu ini,
yang menjadi penjahat,
aku Setrokusuma,
yang mencari buronan Rangin,
buronan negara,
dari Darmayu dahulu.

9. Karena aku masih saudara
Dalem Darmayu,
namanya Wiralodra,
aku yang menjaganya
yang baru bertemu ni,
syukur (aku) gembira.
Mundurlah akan kuikat.

10. Tidak malu (punya) muka seperti kamu,
seumur hidup mengacau,
pekerjaan(mu) mengganggu orang,
setiap desa dijarah,
untuk memberi makan anak istri,
mengakunya ningrat,
anjing penjahat babi.”

11. Lalu membentak Rangin berkata kasar,
“Dalem Sunda kamu ini,
hendak mengikatku,
Rangin kan tidak gila,
melihat kamu ini.
Cobalah maju,
aku tidak takut.”

12. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden,
lalu menerjang dengan berani,
ereka saling mendorong,
karena sama saktinya.
Pasukan Pecung dan Rangin
ramai yang bersorak,
melihat pemimpinnya,

13. Tidak ada yang kalah bertarung.
Lalu membaca mantra,
Setrokusuma,
yang bernama triwikrama,
berubah menjadi anak gunung.
Lalu menangkap (Rangin),
Rangin dibanting meghilang.

14. Lalu maju Ki Serit pertempuran,
Wangsakerti ke luar.
“Siapa yang maju bertempur?”
“Akulah Wangsakerti,
(yang akan)melawanmu,
dan kamu siapa?”
“Namaku Ki Serit.”

15. “Kebetulan Serit bertarung denganku.”
“Wangsakerti kamu ini,
betul kamu,
untuk apa maju perang,
tua dan kakek-kakek,
ayo maju,
sama-sama kakek.”

16. Lalu maju saling menangkap yang berperang,
Wangsakerti dan Ki Serit.
“Hai Serit,
mari mengadu senjata,
jika kamu prajurit sejati,
cepat maju,
tusukkan ujung keris(mu)!”

17. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata,
mengadu senjata tajam.
Serit sering terjatuh,
terguling di atas tanah.
Lalu melarikan diri,
Ki Serit menghilang.
“Hai Serit takut mati!”

18. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma,
sama-sama bergumul bertarung,
mengadu senjata.
Ki Rangin sering terjatuh,
perang sendirian (tanpa)pasukan,
seperti memanggil-manggil,
pasukan Rangin menyerang.

19. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu,
kacau orang banyak.
Rangin melarikan diri,
musnah tidak menentu.
Bagus Rangin meninggalkan pasukan,
melarikan diri ke Karawang,
pasukannya banyak yang tewas.

20. Dalem Setrokusuma mengamuk,
dengan Patuwakan,
berssama-sama menumpas tentara Rangin,
gerombolan penjahat,
Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal),
(lalu) diikat
balatentara Rangin.

21. Serta sudah sama-sama bertemu,
kumpul menjadi satu,
Gintung (dengan) Patuwakan,
Wangsakerti dan dalemnya,
Grudug Majalaya,
menjadi satu,
gembira hatinya.

22. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya,
“Ananda dengan adinda,
masalah berandal,
Ki Serit dan Rangin,
kan tidak tertangkap,
menghilang tiada tentu,
ke mana arahnya?”

23. Anaknya berkata, “Entah ayahanda ke mana mencarinya,
menghilang Serit dan Rangin,
seperti bercampur (dengan) setan,
sangat besar kesaktiannya.”
Kiai Dalem berkata lembut,
“Hai Kanda Wangsa,
Leja akan dikirim.

24. Saya kirim ke Betawi dua berandal,
(kepada) Gubernur Jendral,
berdasarkan perintah,
karena buronan negara.”
Keduanya diikat dengan rantai ,
Leja dan Kandar,
dikirim ke Betawi.

25. Sudah berangkat buronan negara,
disertai mantri,
Bagus Leja,
(ketika) menyebrangi Citarum,
diputuskan rantainya,
lalu melompat,
menyelam di laut.

26. Dikisahkan hilang di dalam laut,
Bagus Kandar berlari,
menghilang di dalam hutan,
yang membawa sangat bingung,
hendak kembali sangat takut,
terhadap paduka,
tahanan masuk hutan dan laut.

27. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua,
mantri berjalan tak tentu arah,
empat orang mantri,
dari negara Pegaden,
(yang bernama) Jigjakarta,
Surakerti, Jayamanggala,
dan Jayakerti.

28. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut,
banyak yang menuju barat.
Adapun yang ke timur,
keturunan para ningrat,
(dari) Rangin, Kandar, Leja, (dan) Serit
keturunan,
buronan dahulu.


XIV. SINOM

1. Begitulah perjalanan Karta,
dengan Dén Ngelan.
Sesampainya di negara,
di Darmayu berkumpul,
penjahat yang lari,
melaridiri semuanya.
Den Karta berkata,
kepada saudara-saudaranya,
“Semoga dinda mengizinkan kanda pergi,

2. dengan dinda Den Welang,
serta para prajurit,
kanda bawa semuanya,
hati-hati dinda ditinggal.”
(Sambil) memeluk adiknya,
menangis memanggil-manggil.
“Kanda kembali bukan …
dan dinda mulia di sini.”
Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan.

3. “Kanda patih (telah) wafat,
kanda yang memerintah di sini
di negeri Darmayu”.
(Sambil) memeluk (dan) menangisi,
anak dan istri adiknya,
semuanya menangis,
Den Karta dan Den Welang,
air matanya keluar,
seperti terbuka hatinya mendapat wahyu.

4. “Duh Dinda bupati,
jangan menangisi kami,
tidak baik (karena) menjadi bupati,
nanti kanda meminta izin,
kepada Gusti Sinuhun,
Kangjeng Sinuhun di Grage.
“Duh Dinda betapa lamanya,
hendak pergi sekarang ini,
Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi

5. sampai di pintu gerbang,
lalu melanjutkan perjalanannya.
Berjalan menuju arah selatan,
sampai ke Palimanan.
Kartawijaya diajak singgah,
dengan Raden Welang.
Ada serdadu yang menjaga,
lalu bertanya lembut,
“Permisi kawan yang menjaga di Palimanan.

6. Menurut pesan komandan,
Raden sudah tiba,
apa maksudmu.
Raden bersama-sama datang,
saya hendak melihat,
yang menjaga tadi,
kepada kompeni itu,
seperti apa rupanya.?
Lalu masuk den Karta dengan Den Welang.

7. Raden ini dijaga,
sumur ditutup rapat,
entah apa isinya,
tidak ada yang tahu isinya ini.”
Raden berbicara lembut,
Permisi sahabat (sumur) itu,
hendak saya buka,
apa isinya ini.”
“Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan.

8. Karena ini dilarang,
perintah dari gubernur,
tidak berani melanggar,
bila tidak ada izin Paduka.”
Den Welang berkata
“Hai teman aku memaksa
Sersan menjawab,
“Aku menahanmu sobat,
jika demikian percumah aku menjaga.”

9. Raden Welang hendak memaksa,
membuka tutup besi.
Serdadu segera menahannya,
menangkap Den Welang,
didorong keluar dari pintu gerbang.
Raden Karta sudah menangkap,
yang dilemparkan oleh serdadu.
Kacau para prajurit,
semua serdadu cepat memasang meriam.

10. Seharian bertempur,
banyak serdadu yang tewas.
Lalu ditutup bentengnya,
pasukan Raden Karta,
bergerak (mendekati) benteng.
Berkata Raden Welang
“Hai saudara (dan) prajuritku,
sudah kamu jangan menemani,
lebih baik segera pergi.

11. Lalu melanjutkan perjalanannya,
hingga tiba di negeri Grage.
Lalu menghadap Gusti Sultan.
Gusti (Sultan) berkata pelan,
semuanya disampaikan,
perjalanan para penjahat,
(mengenai) Séna Surapersanda,
menghilang dari penjara.
kanda yang memburu tahanan itu.

12. Karena itu sersan kumendan,
yang berada di loji Palimanan,
sangat kesal hatinya.
Lalu menulis surat,
lapor ke Betawi.
suratnya telah dibawa,
serdadu yang membawa,
cepat-cepat berjalannya,
untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral.

13. Sudah tiba di hadapannya,
surat sudah disampaikan kepada Paduka,
lalu cepat dibuka,
kemudian surat dibanting.
“Loh babi Cirebon anjing,
kurang ajar kalian!”
Lalu cepat membuat surat,
untuk Sultan Cirebon,
meminta supaya pengacau ditangkap.

14. Raden Karta dan Den Welang,
berada di rumah Nihaya.
Di loji Palimanan,
serdadu banyak yang tewas.”
Dibungkus suratnya,
serta beliau berkata,
kepada ajudan dan letnan,
“Hai ajudan (dan) letnan,
bawalah suratku ini,

15. kepada Sultan Cirebon,
dan bawalah tentara,
empat puluh (orang) yang terpilih,
sediakan pekakas perang(nya),
tangkap ponggawa itu,
dari sultan Cirebon,
yang merusak Palimanan.”
Suratnya karena sudah diterima,
permisi Paduka saya hendak berangkat.

16. Sudah ke luar dari pintu gerbang,
mengumpulkan prajurit,
(dan) sedia pekakas perang.
Secepatnya sudah tiba,
surat lalu diterima,
oleh Paduka Sultan.
Suratnya sudah dibaca,
berkata Kangjeng Sultan.
“Den Welang dan Kartawijaya,

17. Aku tidak berani (kepada) jendral,
(yang) ada (di) Betawi,
karena berkomplot,
dengan sultan
di Mataram,
memperkokoh aku tak bisa,
malahan negaraku,
Cirebon ini,
dipaksa supaya taluk kepada Mataram.

18. Tetapi jika kesultanan,
negeri kami tidak kuat
melawan peperangan.
Malahan surat sampai sekarang,
belum dibalas,
sudah pasti (takdir) dari Yang Agung,
Karta dengan kamu Welang,
menuruti Yang Widi,
kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu.

19. Besok datanglah ke Betawi,
tanyakan keinginannya.
Gubernur Jendral yang meminta,
dan ini berikanlah
bersama wasiatku,
Si Klewang dengan si Dumung,
Lalu cepat diterima,
dengan tulus di dalam hati,
memang dariku (timbul) kemarahan jendral

20. (Sultan) turun dari tempat duduk,
merangkul kedua ponggawa,
deras keluar air matanya,
dijewer telinganya,
mengamuklah di Betawi
wali membela kalian.
Den Welang dengan den Karta (berkata),
“Baiklah, mohon izin Paduka.”
Lalu sultan berkata kepada sersan,

21. “Hai ponggawa Betawi
permintaan gubernur ini,
karena aku belum (menuruti),
kedua ponggawa ini,
mereka yang didakwa.
Lalu sersan berkata,
“Sudah selesai perintah,
Paduka (saya) minta izin,”
lalu keluar ponggawa cepat dibawa.

22. Cepat-cepat di perjalanannya,
tidak dikisahkan di jalannya,
perjalanannya pasukan jendral,
sudah tiba di Betawi.
Diceritaan perjalanannya,
hingga tiba di Dalem Agung.
Lalu menghadap [Paduka],
kepada Gubernur Jendral,
sudah dikisahkan dahulu.


XV. PANGKUR

1. Sudah ada di hadapan Paduka,
datang Tuan Gubernur Jendral Betawi.
Lalu cepat berkata,
“Letnan dengan sersan,
Bagaimana perintahku padamu?”
Berkat Tuanku,
ini ponggawanya.

2. “Lho anjing binatang gila,
apakah kamu berani kepadaku?
Akulah Gubernur Jendral,
(yang) berkuasa di Pulau Jawa,
apa kamu tidak kurang pendengaran?”
Karta dengan Raden Welang
tertawa (sambil) berkata.

3. “Hai Tuan Gubernur Jendral
permisi saya hendak menjawab,
kekuasaan Paduka besar,
meliputi tanah Jawa,
(itu) karena berkat Sinuhun
Mataram,
khalifatullah yang adil.

4. Tetapi kelakuanmu ceroboh,
kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda,
diangkat ponggawa olehmu,
dan sampai Betawi,
karena aku hendak menyerahkan nyawaku,
sembrono pimpinan jendralnya,
tidak memakai tatakrama.

5. Sebelum aku periksa
kemarahannya seperti orang gila,
disuguhi makian,
memalukanucapan pimpinan jendral.”
Gubernur Jendral sangat malu,
(ingin) menuruti emosi,
(tetapi) dirasakan kurang etis.

6. Lalu Jendral berkata,
“Hai ponggawa aku ini terima salah,
tetapi kamu tidak adil,
karena kamu melanggar,
berani membunuh serdadu sampai mati,
di benteng Palimanan,
apa keperluanmu berani berbuat itu.

7. Sekarang kamu terima,
hukuman militer bangsa Belanda,
aku pukul hingga mati.
Den Karta dengan Den Welang,
aku terima [dadi] kehendak Paduka,
silahkan apa yang hendak dilakukan.

8. Lalu dibawa ke luar,
(tepatnya ke alun-alun) Betawi,
lalu pasukan berbaris.
(Prajurit) bangsa Belanda,
berpangkat ajudan sersan memburu.
Lalu kedua orang itu dipasangi,
lima lusin meriamnya.

9. Karena bingung menjadi terdakwa,
tidak (mau) melihat mereka ditembak.
Kiai Kuwu kasihan melihatnya,
lalu merasuki jiwanya,
sampai tiba waktu keduanya dihukum,
karena pasti bakal mati,
keduanya mengamuk kepada Belanda.

10. Semua pasukan militer,
diserang (sehingga) banyak yang tewas.
Di Betawi sangat kacau,
bingung balatentara jenderal,
banyak temannya yang bertarung,
musuh bijaksana,
tidak jelas melihatnya.

11. Banyak yang rusak pasukan jendral,
karena perang dengan teman sendiri.
Lalu keluar kakek kuwu,
dari (raga keduanya).
“Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini,
sudah cukup dibela,
lebih (dari) seribu (orang) yang mati.

12. Sudah menjadi kepastian,
kematianmu ada di Betawi”
Lalu Gubernur Jendral,
melihat pasukannya rusak,
sangat susah balatentaranya banyak yang mati.
Lalu mengambil senapannya,
(beris) peluru intan pusakanya.

13. “Hai orang Cirebon anjing kamu,
hasil pekerjaanmu merusak negara ini.”
Lalu dipasangkan,
dari belakang yang dituju,
Raden Welang pemimpinnya,
terlihat dibakar,
sampai mati di atas tanah.

14. Den Karta melihat,
tewasnya Raden Welang,
diambil mayatnya
oleh para pasukan jendral,
lalu memburu pasukan jenderal itu,
Gubernur cepat memasang (senapan),
terkena lalu tewas.

15. Keris pusaka menghilang,
Si Kelewang dengan Si Dumung,
lalu mayat
Kartawijaya itu
diburu (oleh) jenderal,
mayatnya menghilang musnah,
pasukan militer mundur.

16. Tetapi Tuan Gubernur,
sangat susah balatentaranya rusak,
lalu ia berkata
kepada ajudan (dan) sersan.
“Aku tidak terima balatentaraku rusak,
sekarang kamu bersiap,
persiapkan perlengkapan perang.

17. Bawalah tiga kapal,
serdadu militer yang terpilih,
(akan) kuminta
daerah Kasultanan Cirebon,
untuk mengganti kerusakan tentaraku,
pendeknya aku tidak terima,
balatentaraku rusak.

18. Sersan ajudan keluar,
letnan kolonel ajudan lalu berbaris,
kira-kira tujuh ribu (jumlahnya),
pasukan laut (dan) pasukan darat.
Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon,
sudah menyeberang ke daratan,
(kemudian) membuat pesanggrahan.

19. Orang-orang geger,
karena Sultan sudah mendengar berita,
lalu bersiaga,
(pasukan) Kacirebonan bersiap,
Pangeran Mertasinga dengan
(Pangeran) Panjunan menghadap Sultan,
balatentara pangeran berbaris.

20. Serta Jendral melihatnya,
bila balatentara pangeran berbaris.
Lalu gubernur berkata,
“Orang Cirebon lawanlah,
Gubernur Jenderal (ingin) melihat.”
Lalu memerintahkan pasukan,
untuk maju berperang.

21. Ramai yang bertarung,
pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon.
(para) pangeran maju perang,
(yaitu) Pangeran Suryakusuma
Martakusuma,
Radén Pekik dengan Dul,
serta Pangeran Logawa,
semua maju ke medan pertempuran.

22. Balatentara jenderal bubar,
menaiki kapal berlayar di lautan,
sampai ke tengah (laut) kapalnya,
(sehingga) daratan tidak terlihat.
semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram),
lalu menyebrangi pelabuhan,
mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram).

23. Serta bertemu dengan Sultan,
menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun.
Sultan lalu berkata manis,
“Hai saudaraku Jendral,
ada apa anda menangis?”
Berkata Gubernur Jendral,
diceritakan seluruh (kejadian)nya.

24. Kanjeng Sultan sangat sedih,
mendengar cerita gubernur,
lalu memerintahkan tumenggung,
untuk mengumpulkan pasukan,
senapati, tamtama, pangeran,
Natabumi (dan) Buminata,
Metaram Broboya.

25. Semuanya bubar,
karena hendak menyerang negeri Cirebon,
hingga tiba di jalan belakang,
sudah tiba di negara
Cirebon, datang di hadapan (sultan).
Terkejut sultan melihat,
orang Mataram tiba,

26. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya
(dan) Kanjeng Pangéran Natabumi.
Lalu sultan berkata,
“Selamat datang saudaraku,
dari Mataram semmuanya sudah tiba,
sepertinya membawa perintah.”
“Saya berkata yang sesungguhnya,

27. secepatnya menghadap Paduka
(karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram.
Saya mengemban tugas sinuhun,
adapun negeri paduka,
diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram),
karena paduka sudah lama,
menjadi sultan.

28. Serta paduka turun tahta,
tiga ribu pemuda dengan paduka,
menerima santunan
serta diberi tanah,
karena setiap luas (tanah) tadi,
(merupakan) upetinya itu,
untuk saudara-saudara paduka.

29. Jika paduka tidak menerima,
perintah dari Paduka Sinuhun Mataram,
saya melayani,
seluruh prajurit Paduka,
saya siap berperang.
Sultan tidak bisa berkata,
(lalu) berkata perlahan-lahan.

30. “Duh saudara-saudaraku,
perintah sultan Mataram,
saya tidak akan mengingkari,
karena negeriku
Cirebon wilayanya kecil,
(saya) akan serahkan,
menuruti kehendak paduka.

31. Serta haturkan (kepada) sultan,
Cirebon menyerahkan negara.”
Pangéran Probaya berkata,
“Jika demikian Paduka,
(saya) permisi hendak kembali ,
(apa) yang disampailan Paduka,
akan disampaikan kepada Jeng Gusti.”

32. (Lalu) bubar semua, berangkat
kembali ke negeri Mataram,
sudah disampaikan kepada sinuhun
mengenai penyerahan negara itu.
Sangat gembira Tuan Besar Gubernur,
lalu dengan gembira menerima
negeri Cirebon.

XVI. KASMARAN

1. Lalu gubernur menerima,
penyerahan (dari) Sinuhun Sultan,
masalah negeri Cirebon,
sesudah bercengkrama,
Gubernur dengan Sultan,
lalu sama-sama berpamitan
(untuk) kembali ke Batavia.

2. Sesudah tiba di Betawi,
(lalu) memanggil Wiralodra,
dari negara Darmayu
Setelah tiba di Betawi,
segera menghadap
kepada tuan gubernur.
Lalu Jendral berkata,

3. “Selamat datang Dinda Dalem,
(saya) banyak mendapat kemuliaan,
beribu-ribu terima kasih,
berkat pertolongan Tuan
(saya) mendapat kemuliaan,
berdoa kepada Yang Agung,
semoga selamat (dalam) memimpin.

4. Memimpin di Pulau Jawa,
hingga anak cucu Tuan,
dijaga Yang Maha Melihat,
terima kasih banyak
atas pengangkatan ini,
semoga diridoi Yang Agung,
anak cucu sama-sama mulia.

5. Serta Kanda memberi tahu,
karena (atas) bantuan (dinda)
(bisa) menangkap penjahat itu,
sekarang hendak makan-makan,
untuk memberi makan serdadu.
Semuanya (telah) saya hitung
serta semua perlengkapan,

6. termasuk uang
sebelas ribu jumlahnya,
(ditambah) tiga puluh rupiah,
harus dibayar (oleh) dinda.”
Bupati tidak bicara,
karena ia tidak punya,
harta yang beribu-ribu (jumlahnya).

7. Lalu berkata pelan
“Duh Paduka Tuan,
sebetulnya saya tidak punya,
harta beribu-ribu (jumlahnya),
tetapi saya serahkan semua,
tanah saya di Darmayu,
apakah Paduka mau?”

8. Gubernur berkata perlahan,
“Jika demikian aku terima,
tetapi kedudukan Dalem tetap saja,
memerintah kabupaten,
seperti biasa,
tetapi Dalem (harus) menandatangani,
karena tanah (itu) milikku.

9. Lalu bupati menandatangani
surat (perjanjian),
(bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun,
Darmayu kepunyaan,
Tuan Gubernur Jendral.,
Lalu bupati pamit,
kepada Tuan jendral.

10. (Tahun) 1610,
kembali ke negerinya,
berlayar (menaiki)eperahu.
Lalu tiba di negaranya,
negeri Darmayu,
disambut para ponggawa,
hingga sampai di kabupaten,
para saudara menanyakan berita.

11. Lalu Dalem berkata perlahan,
“Hai saudara dan anakku,
sudah takdir Yang Maha Melihat,
semua tidak ada yang abadi,
hingga anak cucu semua.
(demikian pula) kedudukan bupati.
Negara dirampas,

12. oleh Tuan Jendral Betawi,
untuk mengongkosi perang.
Tetapi (kedudukan) bupati sekarang
masih tetap,
tidak berubah (masih seperti) biasa,
bupatinya tetap aku.
(Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis.

13. Lalu bupati jatuh sakit,
hingga wafatnya.
(Kemudian) diganti oleh putranya,
yaitu Raden Krestal.
Wiralodra gelarnya.
Ia mempunyai anak,
berjumlah tujuh orang.

14. Yang sulung Raden Marngali
lalu Nyi Wiradibrata,
ketiga Nyayu Hempuh,
keempatNyayu Pungsi,
dan Nyayu Lotama
Hanjani bungsunya,
(Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya.

15. Bupati sudah lama,
mempunyai mertua jahat,
merampok pekerjaannya.
Sangat susah rakyatnya,
(harta) miliknya dirampok,
Patih Singatruna,
sangat kasihan kepada rakyatnya.

16. Setiap malam tidak berhenti ,
penjahat (itu) menjarah.
Patih Singatruna,
berkata kepada kakaknya
“Duh kanda Mlayakusuma,
apa yang harus saya lakukan,
mau jadi apa dalem ini?

17. Tidak menyayangi rakyatnya,
(yang) dirampok (dan) dijarah,
(dalem) tidak peduli sekarang.
bagaimana saran kanda,
dinda hendak memohon,
kepada Tuan Residen,
di Cirebon.

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela),
betul jika demikian,
nanti kanda ikut menandatangani (surat).
Kemudian segera membuat surat,
ditujukan (kepada) Tuan Residen,
(mengenai) semua yang terjadi,
ditulis di dalam surat.

19. Lalu segera dikirimkan.
Selang beberapa hari Tuan (Residen),
tiba di Darmayu,
dihancurkan semuanya,
disita benda-bendanya,
(lalu) dikumpulkan,
yang dirampok penjahat.

20. .Cocok banyak barangnya,
(dengan) yang diaku oleh rakyat,
cocok dengan yang dimita,
lalu bupati mengirimnya,
ke Cirebon.
Sangat susah hatinya,
ditahan selama tiga bulan.

21. Menunggu keputusan negara,
dan sampai kepada keputusan,
Dalem Disowak namanya,
yang menjadi jaksa itu,
sedangkan adiknya,
Wiradibrata (namanya)
diangkat menjadi rangga.

22. Patih Singatruna
diangkat menjadi wedana,
di distrik Jatibarang,
Mas Malaya Kusuma
mendapat pangkat,
diangkat (menjadi) kalektur,
di gupernemen.

23. (Singatruna) wedana merangkap patih,
di negara Darmayu,
para penjahat semua,
sama-sama hormat melihatnya,
karena kebijaksanaannya,
(oleh) wedana dengan kalektur,
penjahat banyak (yang) ditangkap.

24. Negara sangat makmur,
tidak ada penjahat,
tidak ada masalah,
di nageri Darmayu .
Patih Singatruna,
mempunyai anak,
banyaknya lima orang.

25. Yang sulung Patimah,
lalu Nyayu Juléka,
Brataleksana yang laki-laki,
Mas Demang Bratasentana,
bungsunya Bratasuwita,
semua anaknya,
menjadi orang yang berpangkat.

26. Raden Rangga putranya,
empat orang,
putra yang sulung bernama
Radén Wiramadengda,
Radén Mardu,
Nyi Sumbaga,
bungsunya Radén Madada.

27. Kalektor putranya itu,
lima orang jumlahnya,
Asisten Hardiwijaya,
yang perempuan Nyai Muda
dan Sudirah namanya,
Nyahi Junéd perempuan,
bungsunya Nyai Juminah.

28. Radén Kartawijaya,
putranya hanya seorang,
Radén Karta Kusuma,
yaitu Ratu Hatma,
mempunyai anak tiga (orang),
yang sulung Biskal
Cirebon (ialah) Prayawiguna.

29. Adiknya perempuan,
Kertadiprana namanya,
yang ketiga
pangkatnya ulu-ulu,
tinggal di kota Darmayu,
menurunkan putra,
yang sulung Kertahudaka

30. (yaitu) Demang Lobener,
adiknya Mangundria,
Demang Bangoduwa,
Muhada tukang timbang,
Nyayu Jeni kuwu,
yaitu Kertahudara,
upas bom pangkatnya.

31. Kertahatmaja bungsunya.
Darmayu …,
Taahun 1813,
Tuan Pri namanya,
Kiai Jaksa sudah meninggal
yang menggantikan anaknya,
yaitu Marngali,
gelarnya Wirakusuma.

32. Menjadi demang pangkatnya,
tinggal di kademangan,
distrik Paseban namanya,
Balu Kalid namanya,
Demang Wirasaksana,
menjabat demang,
di kademangan Lobener .

33. Suami Nyayu Sungsi
mengembara, tidak menjadi demang,
dahulunya dari Palumbon.
Mempunyai seorang (anak) laki-laki,
He… Subrata namanya,
menduduki pangkat,
menjadi demang Luwungmalang.

34. Suami Nyayu Lotama
berpangkat ulu-ulu.
Suami Hanjani
Wirajatmika namanya
berpangkat mantri.
(Lalu) Bagus (Bag)ya namanya,
gelarnya Kitawilasa.


Asal-usul Wiralodra
Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai.
Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.
Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara.
Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén
Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra:
6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén
7. Gagak Kumitir di Bagelén
8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal
9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya
10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati

Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra:
5. Radén Wirapati
6. Radén Wiraseca
7. Radén Wirakusuma
8. Radén Singalodraka
Radén Singalodraka berputra:
4. Radén Jaka Kuwat
5. Radén Kumbabocor
6. Bayu Mangkuyuda

Radén Wiraseca berputra:
6. perempuan Nyayu Wangsanegara
7. perempuan Nyayu Wangsayuda
8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén
9. laki-laki Radén Tanujaya
10. laki-laki Radén Tanujiwa

Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu
Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama:
5. laki-laki Radén Sutamerta
6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati
7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata
8. laki-laki Radén Driyantaka
yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II
Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu):
1. laki-laki Radén Kowi
2. laki-laki Radén Timur
3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati
4. laki-laki Radén Wirantaka
5. laki-laki Radén Wiratmaja
6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa
7. perempuan Hajeng Sutamerta
8. perempuan Hajeng Nayawangsa
9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a
10. perempuan Hajeng Hadiwangsa
11. perempuan Hajeng Wilastro
12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a
13. perempuan Hajeng Patranaya

(Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III.
Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama
8. laki-laki Radén Benggala
9. laki-laki Radén Benggali kembarannya
10. perempuan Hajeng Singawijaya
11. perempuan Hajeng Raksawinata

Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang:
9. laki-laki Radén Lahut
10. laki-laki Radén Ganar
11. perempuan Hajeng Parwawinata
12. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya
13. perempuan Hajeng Nahiyasta
14. perempuan Hajeng Gembrak
15. perempuan Hajeng Tayub
16. perempuan Hajeng Moka
sesudah 3 tahun diganti lagi, (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. 5
12. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra:
2. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI
Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang:
5. laki-laki Radén Suryapati
6. laki-laki Radén Suryabrata
7. laki-laki Radén Suryawijaya
8. laki-laki Radén Kerstal

Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII
13. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. (Dalem ini) memiliki banyak putra, bernama
10. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang
11. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga
12. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon
13. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan
14. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu
15. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah
16. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa
17. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener
18. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari

Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4
5. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener
6. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber
7. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling
8. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya

Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang, yaitu):
3. Radén Madi Wirasomantri
4. Nyayu Cilik
Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang, yaitu):
4. Radén Wirasaputra menjadi demang
5. (Radén) Wirahatmaja
6. perempuan Nyayu Sumbadra
Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang
3. perempuan Nyayu Wiradiwangsa
4. Radén Prawirakusuma
(Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang
5. Radén Wiramadengda
6. perempuan Nyayu Sumaga
7. Radén Mardada Wiradibrata
8. Radén Marsada
Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang
3. Radén Perdata Wirahastabrata
4. Radén Sumarga Wirasudirga