Jumat, 26 Februari 2010

PENEMUAN NASKAH MANAKIB SYEH ABDUL QADIR JAELANI DI SELAAWI GARUT

oleh Reza Saeful Rachman
ini adalah hasil temuan saya dua tahun yang lalu.
Identifikasi Naskah:

NASKAH MANAKIB SYEH ABDUL QADIR JAELANI

Bhs.Sunda Aks.Pegon Prosa/Wawacan
176 hlm Kertas


Judul : Manakib Syeh Abdul Qadir Jaelani (tidak ada pemberian judul pada sampul)
Ukuran : Hal 21cmx17cm ,Tulisan 17cmx16cm
Halaman : 176 hlm, kosong 2hlm, sobek 1hlm
Penomoran : Penomoran halaman terletak di sudut kanan atas menggunakan angka arab. Penomoran halaman baru sampai halaman 151. sisanya tidak diberi penomoran.
Tinta : Hitam
Keadaan fisik : Masih sangat jelas dibaca, cukup terawat, akan tetapi penjilidan sudah agak longgar.
Asal Naskah : Hasil penyalinan pada tahun 1966

Ukuran Huruf : Sedang

Pemakaian : setiap larik dipisahkan 2 garis miring kecil
tanda baca

Kejelasan : Masih sangat jelas
tulisan

Kertas : kertas bergaris seukuran buku tulis

Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : masih putih tetapi sebagian pinggiran sudah ada yang berwarna kuning.
Cara penulisan: Bolak balik

Nama : Bpk.H.Asep Saepudin
Pemilik

Tempat : Kampung panyiungan Desa Samida Kec. Sela Awi Garut
Penyimpanan

Naskah ini merupakan naskah manakib yang dibaca dengan cara di dangding atau dinyanyikan. Biasanya naskah ini dibacakan pada acara-acara seperti syukuran munggah haji, aqiqahan, dan acara-acara lain yang masih bernafaskan agama islam. Pemegang naskah merupakan generasi kedua dalam penyalinan naskah. Sebelumnya adalah ayah beliau yang menyalin dari naskah yang asli. Saat ditanyakan tentang dimana naskah asli dan salinan pertama, beliau tidak mengetahuinya.
Naskah ini terdiri dari pupuh-pupuh yang menceritakan kehidupan Syeh Abdul Qadir Jaelani. Diawali dengan pupuh asmarandana, diteruskan pupuh sinom, dan seterusnya.
Asmarandana
kapihatur nu jadi pepeling
ka sadaya ahli kolawarga
kanu sepuh kanu anom
ka sobat sanak sadulur
ka pameget sareng ka istri
saha-saha anu seja
anu estu maksud
aya pangarah paneda

Naskah ini menceritakan tentang kisah hidupan syeh abdul qadir jaelani sejak lahir sampai dengan meninggal dunia. Dalam naskah ini beliau diceritakan sebagai sosok yang sangat jujur sejak kecil beliau sudah diajarkan perihal kejujuran oleh sang ibu. Dalam satu kutipan pupuh disebutkan bahwa saat itu syeh yang masih kecil disuruh ibunya untuk pergi menuntut ilmu. Oleh ibunya, beliau diberi uang 40 dinar. Ibunya berpesan kepada beliau agar selalu berkata jujur, bertndak jujur selama di perjalanan apapun yang terjadi. Suatu ketika di tengah perjalanan beliau di cegat oleh gerombolan perompak gurun. Pimpinan perompak itu kemudian menodongkan pedang yang amat tajam ke perut syeh. Dia bertanya kemanakah tujuan syeh berkelana. Lalu dia meminta semua benda yang dibawa syeh. Saat ditanya apakah ada benda lain yang yang di bawa, syeh kecil menjawab bahwa ia memiliki uang sebesar 40 dinar. Pemimpin perompak itu pun tertawa mendengar jawaban syeh. Dia tidak percaya bahawa ada anak kecil membawa uang dengan jumlah sebanyak itu. Lalu syeh mengeluarkan uang 40 dinar itu dari balik pakaiannya. Setelah benar-benar melihat sejumlah uang yang dikeluarkan syeh kecil pemimpin itu bukan senang, dia malah menangis sambil berlutut di hadapan syeh. Dia merasa amat malu, hatinya amat teriris melihat kejujuran seorang anak yang masih kecil ini. Pemimpin perompak ini pun akhirnya bertaubat dan syeh pun diperkenankan untuk pergi melanjutkan perjalanan.

Pada halaman-halaman terakhir, terdapat bacaan solawat-solawat. Naskah ini sering dibaca oleh pemiliknya yang seorang ahli manakib.

Gambaran Fisik Naskah



Naskah Pembanding

WAWACAN SYEH ABDUL QADIR JAELANI

Bhs.Sunda Aks.Pegon puisi:wawacan
128hlm Kertas

Judul : luar teks : Manakib Sultan Aulia Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Ukuran : sampul: 21,5 x 17,5 cm, hlm : 21,5 x 16cm, tulisan :18 x 13,5cm
Jilid : 1 dari 1; jenis alas naskah kertas mengkilap;sampul :kertas

Penomoran : 1-128 dengan angka arab di bagian tengah
Halaman
Tinta : Hitam
Keadaan Fisik : kertas masih baik, penjilidan ketat sehingga kertas agak melengkung
Karangan : tahun 1929;tempat: Soreang Bandung
Salinan : penyalin: H.Tajudin
Asal Naskah : Lurah Hormat Bojong
Tempat : H.Sulaeman ; Panyiarapan-Soreang , Bandung
Penyimpanan

Teks ini sebenarnya berupa hasil fotokopi. Setiap lembaran naskah terdiri atas satu halamanteks. Naskah aslinya diperkirakan sudah pindah kepada pemilik lain. Mungkin dengan cara tukar menukar. Teks sudah suram, mungkin karena berupa naskah fotokopi dan sering dibaca oleh pemiliknya yang seorang ahli manakib.





CERITA SYEH ABDUL QADIR JAELANI MENURUT PANDANGAN KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA BERCORAK ISLAM.

Abdul kadir jaelani atau gilani adalah seorang ahli sufi yang dilahirkan pada tahun 1077 dan meninggal dunia pada tahun 1166. berbagai riwayat hidupnya telah dituliskan orang, tetapi riwayat hidupnya banyak dimasuki bahan-bahan yang bercorak fiksi. Beliau dianggap sebagai pemimpin aliran tasawuf yang dipanggil kadiriah.

Sebuah hikayat tentang riwayat hidup syekh abdul kadir jaelani itu telah dituliskan dalam bahasa indonesia. Salah satu versi hikayat ini tersimpan di jakarta bertanggal tahun 1892. hikayat dalam bahasa indonesia ini dikatakan dikutip dari sebuah buku yang bernama kitab Kitab khalasyat al-Mufakhir.


Sinopsis hikayat syekh abdul kadir jaelani

Hikayat ini menceritakan riwayat hidup syekh yang dikatakan berasal dari anak seorang yang bernama abu saleh, ia dibesarkan di kalangan ahli-ahli sufi. Keturunannya dirujuk kepada hasan dan ali bin abi thalib. Hikayat ini juga melaporkan tentang perkara ajaib yang telah berlaku dalam kehidupan syekh tersebut ; tentang kebesarannya dan martabatnya di sisi allah s.w.t. Hikayat ini melaporkan dengan terperini tentang riwayat. Abdul kadir sejak dia dilahirkan oleh ibu sampai akhir hayatnya.

Daftar Pustaka :
JAWA BARAT : KOLEKSI LIMA LEMBAGA: Edi S. Ekajati dan Undang A. D
KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA BERCORAK ISLAM: Dr.Ismail Hamid

3 komentar:

  1. tolong diberi teks arabnya, terima kasih

    BalasHapus
  2. Di kapungku masih ada yang punya bukunya. kalo ada yg mau saya kasih tau alamatnya.... saya jg pernah belajar cuma susah ngelaguinnya.

    BalasHapus
  3. yg aslinya ada di suryalaya tasikmalaya ... :)

    BalasHapus

Silahkan Komentari