Senin, 22 Februari 2010

Sedikit Tentang Strukturalisme Genetik

Struturalisme-genetik

Goldmann menyebut teorinya dengan strukturalisme-genetik. Ia percaya bahwa sebuah karya adalah struktur yang hidup, merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal sebuah karya. Untuk mempermudah kajiannya, Goldmann membagi kedalam beberap kategori seperti fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
Fakta kemanusiaan
Goldmann menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Fakta-fakta kemanusiaan dikatakan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya. Goldmann menganggap perilaku tersebut alamiah. Manusia dan lingkungan sekitarnya selalu ada dalam proses strukturasi timbal balik yang bertentangan namun saling mengisi. Akan tetapi terkadang usahanya itu terhalang rintangan-rintangan seperti:
1. sektor tertentu tidak menyandarkan dirinya pada integrasi struktur,
2. semakin sukarnya strukturasi dunia eksternal,
3. individu mentransformasikan lingkungan sosial atau fisiknya sehingga mengganggu keseimbangan
Dalam suatu proses strukturasi dan akomodasi yang terus-menerus itulah suatu karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, sebagai hasil aktifitas kultural manusia, memperoleh artinya. Proses tersebut sekaligus merupakan genesisdari struktur karya sastra.

Subjek kolektif
Goldmann menganggap tidak semua fakta kemanusiaan berasal dari subjek individual. Banyak hal yang tak bisa dilakukan oleh subjek individual. Yang dapat melakukannya adalah subjek trans-individual. Subjek trans-individual adalah subjek yang mengatasi individu, yang didalamnya individu hanya merupakan bagian. Subjek trans-individual merupakan subjek yang majemuk yang hidup secara berkolektif.
Subjek tersebutlah yang menjadi subjk karya sastra yang besar sebab karya sastra semacam itu merupakan hasil aktifitas objeknya sekaligus alam semesta dan kelompok manusia. Akan tetapi, subjek kolektif atau trans-individual merupakan konsep yang masih kabur. Subjek kolektif itu dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok kerja, kelompok territorial, dan sebagainya. Untuk memperjelasnya, Goldmann menspesikasikannya sebagai kelas sosial dalam pengertian marxis sebab baginya kelompok itulah yang terbukti dalam sejarah sebagai kelompok yang telah menciptakan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan dan yang telah mempengaruhi perkembangan sejarah umat manusia (Goldmann, 1977: 99; 1981: 41)

Pandangan dunia: strukturasi dan struktur
Menurut goldmann, pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks dari gagasan, aspirasi, dan perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama angota suatu kelompok sosial tertentu. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya.
Proses panjang itu disebabkan oleh kenyataan bahwa pandangan dunia itu merupakan kesadaran yang mungkin tidak setiap orang dapat memahaminya. Kesadaran yang nyata adalah yang dimiliki oleh individu-individu yang ada dalam masyarakat. Sebaliknya, kesadaran yang mungkin adalah kesadaran yang menyatakan suatu kecenderungan kelompok kea rah suatu koherensi menyeluruh, persepektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semestanya. Kesadaran yang demikian jarang disadari pemiliknya kecuali dalam momen-momen krisis dan sebagai ekspresi individual pada karya kultural yang besar.

Struktur karya sastra
Goldmann mengatakan bahwa novel merupakan suatu genre sastra yang bercirikan keterpecahan yang tidak terdamaikan dalam hubungan antara sang hero dengan dunia. Keterpecahan itulah yang menyebabkan dunia dan hero menjadi sama-sama terdegradasi dalam hubungannya dengan nilai-nilai yang otentik berupa totalitas di atas. Sesuai dengan teori Lukacs, goldmann membagi novel menjadi idealisme abstrak, romantisme keputusasaan, dan novel pendidikan.
Novel idealisme abstrak adalah novel yang menampilkan tokoh yang masih ingin bersatu dengan dunia, novel itu masih memperlihatkan suatu idealism. Akan tetapi karena pandangannya subyektif, idealismenya menjadi abstrak. Novel yang kedua adalah romantik-isme keputusasaan. Novel jenis ini menampilkan kesadaran hero yang terlampau luas. Kesadarannya lebih luas daripada dunia. Itu sebabnya sang hero cenderung pasif dan cerita berkembang menjadi analisis psikologis semata. Menurut Lukacs, kenyataan itulah yang menjadi dasar perbedaan antara novel jenis yang pertama dengan kedua.
Novel pendidikan berada diantara kedua jenis tersebut. Dalam novel pendidikan, sang hero di satu pihak mempunyai interioritas, tetapi di lain pihak juga ingin bersatu dengan dunia, hero itu mengalami kegagalan. Lukacs menyebut novel ini sebagai novel “kematangan yang jantan”.
Dialektika Pemahaman-Penjelasan
Menurut goldmann sudut pandang dialektik mengukuhkan perihal tidak pernah adanya titik awal secara mutlak sahih, tidak adanya persoalan yang secara final dan pasti terpecahkan. Setiap fakta atau gagasan individual mempunyai arti hanya jika ditempatkan dalam keseluruhan. Sebaliknya, keseluruhan hanya dapat dipahami dengan pengetahuan yang bertambah mengenai fakta-fakta parsial atau yang tidak menyeluruh yang membangun keseluruhan itu.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, goldmann memandang karya sastra sebagai produk strukturasi pandangan dunia sehingga cenderung mempunyai struktur yang koheren. Sebagai struktur yang koheran, karya sastra merupakan satuan yang dibangun dari bagian-bagian yang lebih kecil. Akan tetapi, teks karya sastra itu sendiri merupkan bagian dari keseluruhan yang lebih besar yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. Sampai disini telah dapat dilihat konsep pemahaman-penjelasan Goldmann. Pemahaman adalah usaha pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha menggabungkannya kedalam struktur yang lebih besar.
Menurut Goldmann, teknik pelaksanaan metode dialektik yang melingkar serupa itu berlangsung sebagai berikut. Pertama peneliti membangun sebuah model yang memiliki nilai probabilitas, kedua melakukan pengecekan terhadap model tersebut. Metode semacam itu tak hanya berlaku untuk analisis teks sastra tetapi juga untuk struktur yang telah mengatasi teks sastra itu, struktur yang menempatkan teks sastra itu secara keseluruhan hanya sebagai bagian. Goldmann (1977: 15) mengatakan bahwa pandangan dunia sebagai hipotesis kerja yang konseptual, suatu model, bagi pemahaman mengenai koherensi struktur teks sastra.




Hidden God: sebuah terapan
Hidden god adalah buku karya Goldmann yang membahas karya-karya pascal dan drama racine. Dalam bukunya ia memaparkan teorinya, lalu membahas konsep yang dipaparkan tokh-tokoh tersebut lalu memaparkan hubungan antara dunia tragik dan kelompok sosial tertentu, yaitu yang ada di prancis pada pertengahan abad ke-17.

Pandangan dunia tragik
Menurut Goldmann, pandangan dunia tragik mengandung tiga elemen yaitu pandangan mengenai tuhan, pandangan mengenai dunia, dan pandangan mengenai manusia. Konsep tuhan menurut racine, pascal, dan kant merupakan sesuatu yang khas. Konsep tersebut adalah tuhan yang paradoksal, sehingga Goldmann menyebutnya sebagai tuhan yang bersembunyi atau Hidden god.
Manusia yang mempunyai pandangan dunia tragik mengetahui keterbatasan dunia dank arena itu menolaknya. Oleh sebab itu manusia tragik menolak dunia sambil tetap berada di dalamnya.
Menurut Goldman nada dua ciri hakiki dari manusia tragik. Pertama, manusia itu menuntut secara mutlak dan ekslusif nilai-nilai yang tidak mungkin. Kedua, karena tuntutannya bukan apa-apa, ia secara total tidak peduli terhadap tingkat dan usaha pendekatan serta konsep yang mengandung gagasan relativitas.
Dalam momen yang abdi atau atemporal dari konversi itu manusia tragik tetap sendirian. Akan tetapi dalam kesendirian itu ia dapatkan satu-satunya nilai yang bisa membuatnya menjadi besar. Pengertian itu menunjukan adanya perbedaan antara penderitaan yang dialami oleh manusia yang tidak sanggup melalui level binatang yang kasar dengan penderitaan yang sekaligus diinginkan dan diterima oleh manusia-tuhan. Manusia tuhan menyelamatkan nilai-nilai dan harkat kemanusiaan.
Menurut Goldmann, hubungan antara manusia tragik dengan sesamanya bersifat ganda dan paradoksal pula. Di satu pihak ia berharap dapat menyelamatkan mereka, akan tetapi di lain pihak ia menyadari adanya jurang yang memisahkannya. Dengan demikian ia sesungguhnya tetap membiarkan mereka tertidur sebab mereka sungguh-sungguh merupakan bagian dari dunia yang tidak pernah mereka sadari meskipun dapat menghancurkan mereka.

Subjek kolektif dan lingkungan sekitarnya
Menurut Goldmann di dalam masyarakat prancis pada sekitar tahun 1637 terdapat gejala-gejala sosial yang menarik yakni perkembangan absolutism kerajaan beserta instrumennya. Dengan mendasarkan diri pada pendapat Monsier E. Maguis, Goldmann berpendapat bahwa monarki perancis berkembang melalui tiga tahap. Yang pertama adalah raja adalah orang yang benar-benar lebih sehingga terkesan feodal, kedua raja secara pasti menuntut kekuasaan atas bangsawan lain dengan mendasarkan dirinya pada kelas menengah, ketiga raja merupakan sosok yang bebas tak tergantung kelas.
Menurut Goldmann, kelahiran jansenisme sejajar dengan proses kelenyapan kekuasaan dan tumbuhnya konflik antara raja dengan parlemen. Meskipun demikian, diantara kedua pihak itu hanya pihak kedua yang menyokong dari jansenisme. Goldmann mengatakan bahwa sesungguhnya sikap permusuhan secara terbuka hanya dapat dilakukan oleh suatu kelompok sosial yang sepenuhnya memilki otonomi dalam kehidupan ekonominya.
Kenyataan serupa itu tidak berarti bahwa konflik itu tidak berkaitan dengan kelompok sosial yang sejati dalam pengertian diatas. Menurut Goldmann, terjadinya pergeseran bukanlah merupakan fenomena sosial yang terisolir. Dari uraian diatas jelas bahwa Goldmann menganggap subjek kolektif pandangan dunia tragik adalah kelas sosial tertentu yaitu kelas menengah. Pergeseran itu menempatkan officiers dalam situasi paradoksal antara penolakan terhadap kebijaksanaan raja dengan ketergantungan yang tidak terelakkan padanya. Situasi itulah yang kemudia melahirkan suatu kelompok religious jansenisme yang secara ideologis memproduk pandangan dunia tragik.

Novel Malraux: terapan lanjut
Setelah menerbitkan hasil penelitian sebelumnya, Goldmann diminta untuk memimpin sebuah penelitian sosiologi sastra tentang novel-novel Malraux.
Sebelum memaparkan hasil penelitiannya, Goldmann terlebih dulu memaparkan dua hal penting. Yang pertama adalah jenis novel dan yang kedua adalah masalah struktur. Goldmann melakukan penelitiannya dengan satu hipotesis bahwa terdapat homologi anatara struktur novel klasik dengan struktur pertukaran dalam ekonomi liberal di datu pihak dan adanya kesejajaran dalam evolusi antara keduanya.

Jenis-jenis Novel
Goldmann mendefinisikan novel sebagai cerita suatu pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai otentik yang dilakukan oleh seorang hero yang problematik dalam sebuah dunia yang juga terdegradasi. Yang dimaksud nilai otentik adalah nilai yang mengorganisasikan dunia novel secara keseluruhan meskipun implisit.
Menurut Lukacs, totalitas adalah realitas utama yang formatif terhadap setiap fenomena individual yang menyiratkan bahwa sesuatu yang tertutup dalam dirinya sendiri dapat menjadi lengkap karena sesuatu terjadi dalam dirinya sendiri. Atas dasar definisi itulah kategorisasi novel yang dipinjam Goldmann dari Lukacs dibuat. Reduksi nilai-nilai otentik atau kelenyapannya sebagai realitas yang berwujud itu disebut Goldmann sebagai “mediatisasi”. Dengan konsep yang terakhir itulah menurutnya, homologi antara bentuk novel dan masyarakat yang melahirkannya dapat dipahami.

Nilai-Nilai Masyarakat Pasar
Dalam pembicaraannya mengenai hubungan manusia dengan komoditi, Goldmann mengemukakan dua konsep penting yang berguna untuk memahami jenis-jenis hubungan itu. nilai gua suatu objek atau hasil produksi berkaitan langsung dengan kebutuhan subjek penciptanya. Orang berproduksi atau memroduksi suatu barang tak lagi untuk memenuhi kebutuhan secara langsung, melainkan untuk mendapatkan uang atau nilai tukar barang itu. pada gilirannya, uanglah yang digunakan untuk membeli barang yang dapat memuaskan kebutuhannya itu.
Hal tersebut merupakan keadaan yang diciptakan oleh sistem ekonomi pasar. Sistem ini membangun pandangan mengenai keterasingan manusia dari benda-benda di sekitarnya serta sesamanya, dan pandangan mengenai perbedaan manusia.
Pandangan mengenai pengasingan manusia dari lingkungannya tercipta karena hilangnya hubungan manusia dengan benda ciptaannya sendiri. Pada gilirannya, benda itu bahkan menjadi berdiri sendiri dan mengatur manusia. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan mekanisme pabrik yang semula sesungguhnya merupakan pelayan bagi kebutuhan manusia itu sendiri.

Subjek kolektif
Identifikasi subjek karya sastra yang dilakukan Goldmann dalam penelitiannya terhadap karya pascal dan Racine mendapti persamaan dan perbedaan. Kalau sebelumnya Goldmann melihat subjek sebagai kelas sosial, dalam penelitiannya mengenai karya Malraux ia melihatnya hanya sebagai kelompok menengah yang berada di luar kelas sosial.
Teori umum mengatakan bahwa masyarakat modern yang kapitalis terbangun dari oposisi antara kelas kapitalis dengan kelas proletar. Menurut Goldmann, pembagian itu tak akan mampu untuk memahami karya modern seperti Malraux karena konteksnya telah berbeda. Masyarakat sosial disini berposisi lebih kecil sehingga masih berpikir mengenai nilai-nilai otentik. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah seniman, filosof, teolog, dan sebagainya.

Analisis Karya-Karya Malraux
Sesuai dengan judul penelitiannya, Goldmann anya meneliti karya Malraux yang berupa novel saja. Karya yang lain, ia anggap hanya sebuah karya fanatic dan alegoris. Goldmann mengatakan bahwa tiga karya Malraux yaitu Le Royoum Ferfelu, Lunes en Papier dan La Tentaion del’Ocident les Conquerants merupakan hasil karya Malraux yang masih berada dalam tahap belajar dan mencari.
Meskipun semuanya tergolong dalam novel, karya Malraux yang berjudul La Voie Royale, La Condition Humaine berbeda dengan karya yang lain yaitu novel Le Temps du Mepris. Dalam dua novel yang disebutkan pertama, hero adalah subjek individual, sedangkan yang disebutkan terkahir adalah subjek kolektif. Le Temps du Mepris bukan merupakan novel melainkan puisi epic. Di dalamnya tak ada lagi hero problematik. Karya lainnya, L’Espoir termasuk karya post-epik. Karya yang terakhir yaitu Noyers del’Alternberg merupakan essai.
Dalam hubungannya dengan intelektual kiri perancis, nilai-nilai universal itu adalah gerakan komunisme internasional. Karena komunisme ternyata bukan nilai-nilai universal, melainkan hanya ideology yang membawa kepentingan Negara itu sendiri, kelompok intelektual kiri perancis menjadi kecewa dan kehilangan kepercayaannya. Hal ini terungkap dalam Les Noyers del’Altenburg.

Novel Baru: Terapan Ketiga
Goldmann mengategorikan karya-karya Malraux menjadi tiga kategori. Yang pertama novel dengan hero problematic, yang kedua hero dengan karakter non-biografis, yang ketiga novel yang lahir dari matinya dasar ekonomi dan sosial. Goldmann cenderung menggolongkan novel baru ke kategori kedua dan ketiga.
Latar Belekang Sosial-Ekonomi
Kenyataan yang melatarbelakangin khususnya bentuk novel khusunya bentuk baru adalah struktur pertukaran yang refiksional. Perkembangan itu berkaitan pula dengan perkembangan bentuk novel.

Karya-karya Novel Baru
Dua periode besar dalam sejarah bentuk novel menurut Goldmann dibagi menjadi dua. Yang pertama bercirikan kehancuran karakter seperti dalam karya kafka, joyce, musil, Sartre, dan camus. Sedang yang kedua adalah kemunculan objek yang otonom. Karya seperti ini dipelopori oleh Robert Grillet. Karya Grillet bercerita tentang suatu peristiwa pembunuhan. Pembunuhan dalam novel tersebut telah menjadi bagain dari hukum alam dan semesta, sehingga menghapuskan kemungkinan perubahan yang terjadi akibat elemen yang tak terduga dari watak pribadi.

Beberapa Kritik
Dibanding dengan tradisi sosiologi sastra marxis, Strukturalisme genetik memperlihatkan kemajuan seperti memperlihatkan kecenderungan untuk tidak menghubungkan secara langsung struktur sosial dengan karya sastra, kedua, teori itu tidak menempatkan karya sastra hanya sebagai cermin pasif dari struktur sosial. Meskipun begitu, strukturalisme genetik masih memiliki beberapa kelemahan.
Swingewood mengatakan teori Goldmann setidaknya masih memiliki tiga kelemahan. Pertama, homologi antara perkembangan novel dengan perkembangan struktur sosial yang kapitalistik. Kecenderungan positivistik itu, jelas mengahncurkan sekaligus memungkinkan karya sastra sebagai sesuatu yang relatif otonom. Menurut Swingewood, pengaruh kesusastraan harus dipertimbangkan kedalam metode kesusastraan. Hal itu membangkitkan pertanyaan mengenai seberapa sadar penulis itu sendiri sekaligus terhadap tulisannya baik dalam konteks tradisi sastra maupun masyarakat yang spesifik.
Swingewood juga mengatakan bahwa dalam hal-hal tertentu pandangan dunia memang signifikan dalam menentukan sebuah struktur karya sastra. Akan tetapi ia meragukan kemungkinan dalam masyarakat modern yang semaikin majemuk dan kompleks.
Tidak hanya itu yang membuat Swingewood meragukan pandangan dunia Goldmann, melainkan juga gagasan totalitas yang terdapat dalam konsep tersebut. Swingewood menemukan banyak karya besar yang tidak mengandung totalitas dalam dirinya melainkan hanya menggambarkan hubungan-hubungan sosial yang dasar dengan sagala nilai-nilainya. Oleh karena itu, Swingewood cenderung menempatkan sastrawan tidak sebagai representasi dari suatu kelompok sosial tertentu, melainkan hanya sebagai individu byang menjadi anggota masyarakat.
Wolff tidak menolak gagasan mengenai karya sastra sebagai ekspresi dari pandangan dunia kelompok sosial tertentu. Yang ditolaknya adalah keyakinan tokoh tersebut pada kelas ekonomik sebagai satu-satunya sumber atau objek dari pandangn dunia itu. wolff mengatakan setiap individu merupakan seorang anggota dari banyak pengelompokkan yang berbeda ekonomik, sosial, ideologis, rasial, agama. Memang benar seperti yang dinyatakan Goldmann bahwa kelompok-kelompok non-ekonomik jarang sekali membentuk suatu pandangan yang global mengenai manusia. Akan tetapi tokoh tersebut selanjutnya cenderung mengeluarkannya dari sosiologi pengetahuan dan kesusastraan. Wolff justru menyarankan agar dibentuk suatu sosiologi sastra yang lebih canggih yang akan mampu memperhitungkan berbagai macam peneglompokan sosial dan ekspresinya dalam ideologi dan seni dan sekaligus mampu mengacu kepada masyarakat yang total dengan kelompok-kelompoknya yang saling bertumpang tindih dan bertentangan. Menurutnya, kesusastraan amungkin merupakan ekspresi konflik kelompok, hasil dari keanggotaan dalam lebih dari satu kelompok dengan ketertarikan yang berbeda.
Eagleton tidak menolak gagasan Goldmann mengenai pandangan dunia dan hubungan yang terpadu. Yang dipersoalkannya adalah sifat hubungan tersebut. Menurutnya teks sastra bukanlah fenomena dari suatu esensi ideologis, mikrostruktur dan makrostruktur. Baginya, ideologi di dalamnya tidak membentuk dirinya sebagai struktur dalam di hadapan struktur permukaan. Dalam hal itulah Goldmann cenderung salah.
Goldmann menurutnya menganggap karya sastra adalah karya yang murni mentransposisikan ke dataran kreasi imajiner struktur pandangan dunia suatu kelompok atau kelas sosial. Teks di tangan Goldmann secara kasar direnggutkan dari materialitasnya. Bagi Eagleton, yang salah tidak hanya anggapan bahwa karya pengarang akan mengekspresikan pandangan dunia yang sama, melainkan juga anggapan bahwa teks-teks yang termasuk dalam satu ideologi yang sama akan mengekspresikan dengan cara yang sama. Suatu teks akan mengekspresikan suatu ideologi dengan cara yang beragam sehingga dapat terbentuk ideologi teks tersebut sebagai suatu dunia representasi yang dibentuk secara unik. Jauh dari sekedar mencerminkan ideologi dalam bentuk miniatur, suatu dunia teks yang demikian secara aktif memperluas dan mengelaborasikannya menjadi elemen kostitutif dari reproduksi dirinya.
Dengan kata lain, Eagleton tak mau terperangkap dalam anggapan bahwa hubungan antara teks dengan ideologi bersifat ekstrinsik. Baginya persoalan bukanlah persoalan hubungan antara dua fenomena yang secara eksternal berhubungan, melainkan suatu hubungan diferensi yang dibangun oleh teks dalam ideologi. Suatu hubungan yang mempunyai otonomi relatifnya, sehingga menempatkan teka menjadi konstituen yang inheren dalam reproduksi ideologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentari