Senin, 22 Februari 2010

Fitoterapi dalam Khazanah Naskah Melayu: Sebuah Kajian Antropologi Kesehatan

Asep Yudha Wirajaya
Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret - Surakarta
E-mail: asepyuda@uns.ac.id atau asepyuda@yahoo.com
Abstracts
According to history data, known that our ancestors have many create and have real masterpiece at various areas, including among others in drawing up ingredient medicines and conduct medication traditionally. But growth use of phytotherapy in this time newly gyrate is just 18 %. From the number, Indonesia newly exploit about 180 species from 950 plant species medicines standard upon which traditional drug industry and phytopharmacology. Though properties potency involve this country is very extraordinary to industrial development of drugs, beauty product and food. Our forest of have about 30.000 plant species medicines from totalizing 40.000 species exist in whole world. Properties involve this register nusantara as one of the state owning complete drug plant species in world after Brazil. Matter this means still that way wide of area which can be dug, to be checked and developed from plant resource medicines in Indonesia. Meanwhile, caring to uncared phytotherapy development oftentimes because assumed is irrational. Proven, many omission written in the form of manuscripts conversing phytotherapy concept, is not documented better even lose off hand. Of course this matter cause at less expanding traditional drug industry it and phytopharmacology.
Keyword: phytotherapy, drug and manuscripts
1. Pendahuluan
Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, namun belum sepenuhnya manfaat potensi yang dimiliki dapat dirasakan oleh masyarakat. Kekayaan hayati yang diperlukan bagi industri obat-obatan, makanan dan produk kecantikan tersimpan di hutan-hutan Indonesia. Indonesia memiliki 30.000 spesies tumbuhan obat dari total 40.000 spesies yang ada di seluruh
dunia. Kekayaan hayati ini mencatatkan nusantara sebagai salah satu empunya spesies tumbuhan obat terlengkap di dunia setelah Brasil. Indonesia sendiri baru memanfaatkan sekitar 180 spesies dari sekitar 950 spesies tumbuhan obat sebagai bahan baku industri obat tradisional dan firofarmaka. Hal ini berarti masih demikian luas area yang bisa digali, diteliti dan dikembangkan dari sumber daya tumbuhan obat di Indonesia (http://www.lipi.go.id, 2006).
Terlebih lagi dengan fenomena ‘’Back to Nature’’ (kembali ke alam) yang semakin digencarkan oleh negara-negara maju tentunya hal ini dapat dimanfaatkan menjadi peluang dan pangsa pasar yang menjanjikan. Sebagai ilustrasi, impor tumbuhan obat oleh negara-negara maju pada tahun 1990 mencapai angka senilai US$ 824,6 juta. Negara pengimpor terbesar tumbuhan obat adalah Hong Kong senilai US$ 360,8 juta, kemudian disusul Jepang (US$ 157,6 juta), Amerika Serikat (US$ 103,6 juta), Jerman (US$ 81,4 juta), Singapura (US$ 72,1 juta), dan Perancis (US$ 49, 1 juta) (Rahmat Rukmana, 1995: 11). Kecenderungan impor ini diperkirakan akan terus meningkat sebesar 20% per tahun sehingga pada tahun 2004 diketahui bahwa omset penjualan obat alami secara global mencapai: US$ 50 miliar. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia baru mampu membukukan omset penjualan sekitar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,5 triliun saja (http://www.bexi.co.id/artkel, 2006).
Untuk itulah diperlukan terobosan baru dalam sejarah perkembangan pemanfaatan tumbuhan obat. Berdasarkan data-data sejarah diketahui bahwa nenek moyang kita telah banyak berkreasi dan berkarya nyata pada berbagai bidang, termasuk di antaranya dalam mempersiapkan ramuan obat dan melakukan pengobatan secara tradisional. Namun perkembangan penggunaan tumbuhan obat (fitoterapi) saat ini yang baru bisa diketahui pemanfaatannya hanya berkisar 18% saja. Sementara itu, kepedulian terhadap pengembangan fitoterapi seringkali diabaikan sehingga banyak bukti peninggalan tertulis berupa naskah yang tidak terdokumentasi dengan baik, hilang atau rusak begitu saja.
Adanya terobosan pemikiran intelektual yang melibatkan multidimensi ilmu, diharapkan dapat membuka cakrawala dan wacana baru mengenai konsep fitoterapi yang selama ini telah dikembangkan oleh para tabib, ulama dan cendikiawan Nusantara pada masa lalu. Dengan demikian, diharapkan terjadi apresiasi dan sikap positif terhadap para tabib, ulama dan cendikiawan terdahulu sehingga dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan dunia industri obat tradisional yang sumber daya hayatinya begitu melimpah di wilayah Nusantara.
2. Fitoterapi dan Antropologi Kesehatan
2.1. Fitoterapi
Sejak lama manusia menggunakan tumbuhan dan bahan alam lain sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit, menyembuhkan dan mencegah penyakit tertentu, mempercantik diri serta menjaga kondisi badan agar tetap sehat dan bugar. Dari catatan sejarah diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan tumbuhan telah dikenal masyarakat sejak masa sebelum masehi. Hingga saat ini penggunaan tumbuhan atau bahan alam sebagai obat tersebut dikenal dengan sebutan obat tradisional. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (http://www.litbang.depkes.go.id/bpto/museum. html, 2006). Pada kenyataannya bahan obat tradisional yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan untuk obat tradisional hampir selalu identik dengan tumbuhan obat karena sebagian besar obat tradisional bahan bakunya berasal dari tumbuhan obat.
Berdasarkan data WHO Juli 2002, disebutkan bahwa perkembangan pemanfaatan penggunaan obat-obat tradisional di beberapa negara dapat terlihat dalam daftar di bawah ini.
* Perancis, 75% penduduknya menggunakan pengobatan alternatif, paling tidak satu kali.
* Jerman, 77% dari klinik terapi menggunakan akupunktur.
* Amerika, pasar untuk pengobatan alternatif, mencapai sebesar 60 juta dolar AS per tahun.
* 95% rumah sakit di Cina punya klinik tradisional.
* India, obat tradisional digunakan sekitar 70% penduduknya.
* Indonesia, 40% penduduk menggunakan pengobatan tradisional serta 70 % di pedesaan.
* Jepang, pasar obat tradisional mencapai sekitar 2,5 juta dollar AS.
* Thailand, punya sistem terpadu untuk pengobatan tradisional di 1.120 health centre.
Dari data di atas tampak bahwa tingkat kepercayaan dunia terhadap tanaman obat sebenarnya begitu besar. Masyarakat kini seolah menyadari bahwa obat tradisional yang telah dikenal dan dipraktikkan sejak beribu tahun lalu itu tidak kalah hebat dari obat modern. Kalau dulu, kesembuhan suatu penyakit hanya bergantung dari pengobatan dokter dan seolah-olah kata-kata dokter seperti sebuah "aturan yang tak terbantahkan serta mutlak harus dituruti," maka kenyataan itu kini mulai bergeser.
Sebagai ilustrasi, dapat kita bandingkan dengan data tentang situasi pasar obat kimia di Indonesia. Disebutkan, pasar obat kimia di Indonesia mengalami kenaikan 20 persen, tetapi sayangnya bahan baku 90 persen masih berupa bahan impor dari Cina dan India. Meski sudah memiliki 2.250 distributor, 5.670 apotek, dan 5.500 toko obat, ternyata konsumsi obat farmasi masih sangat rendah, yakni Rp 60 per kapita per tahun. Hal lain yang menghambat berkembangnya pasar obat kimia adalah aturan dan birokrasi yang berbelit-belit serta pajak berganda atas bahan baku sehingga mengakibatkan melambungnya harga obat (Tempo, Agustus 2003).
Dari data di atas, tampak bahwa perkembangan obat farmasi begitu banyak hambatannya. Apalagi untuk dikembangkan oleh industri kecil. Dengan demikian, perlu adanya sebuah terobosan baru untuk lebih meningkatkan serta mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia sebagai produk obat alami khas Indonesia. Karena hal ini sejalan dengan saran WHO yang mengharapkan agar setiap negara menggali dan mengembangkan pengobatan tradisional masing-masing secara integratif bahkan memasukkannya ke dalam sistem pelayanan kesehatan modern (Azwar Agoes dan T. Jacob, 1992: viii).
2.2. Antropologi Kesehatan
Antropologi kesehatan adalah cabang ilmu antropologi yang mulai berkembang setelah berangkhirnya Perang Dunia II. Ilmu ini membahas sistem kesehatan secara transkultural. Masalah lain yang dibahas adalah adalah faktor bioekologi dan sosial budaya yang berpengaruh terhadap kesehatan, timbulnya penyakit. Para dokter memandang antropologi kesehatan sebagai biobudaya, yakni ilmu yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi tentang keduanya yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit (Foster dan Anderson, 1986: 3). Jadi, antropologi kesehatan adalah sebuah kajian interdisiplin antara ilmu kesehatan dan budaya.
Etnomedisin adalah cabang antropologi kesehatan yang membahas tentang asal mula penyakit, sebab-sebab, dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu. Aspek etnomedisin merupakan aspek yang muncul seiring perkembangan kebudayaan manusia. Di bidang antropologi kesehatan, etnomedisin memunculkan termonologi yang beragam. Cabang ini sering disebut pengobatan tradisionil, pengobatan primitif, tetapi etnomedisin terasa lebih netral (Foster dan Anderson, 1986:62).
Menurut kerangka etnomedisin, penyakit dapat disebabkan oleh dua faktor. Pertama penyakit yang disebabkan oleh agen (tokoh) seperti dewa, lelembut, makhluk halus, manusia, dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan personalistik.
Penyakit juga dapat disebabkan karena terganggunya keseimbangan tubuh karena unsur-unsur tetap dalam tubuh seperti panas dingin dan sebagainya. Kajian tentang ini disebut kajian natural atau nonsupranatural. Di dalam realitas, kedua prinsip tersebut saling tumpang tindih, tetapi sangat berguna untuk mengenai mengenai konsep-konsep dalam etnomedisin (Foster dan Anderson, 1986:63-64).
Khusus untuk pengobatan penyakit naturalistik, biasanya digunakan bahan-bahan dari tumbuhan (herbalmedicine) dan hewan (animalmedicine), atau gabungan kedua. Sementara untuk penyakit personalitik banyak digunakan pengobatan dengan ritual dan magi.
2.3. Konsep-konsep pengobatan naturalistik
Dewasa ini ada 3 konsep penyakit dan pengobatan naturalistik yang mendominasi etnomedisin dunia. Konsep tersebut ialah:
1. Patologi humoral dari Yunani
2. Ayurveda India
3. yin dan yang dari Cina
Konsep ini berdasarkan konsep humor (cairan) dalam tubuh manusia yang muncul sejak abad ke-6 Sebelum Masehi (Chadwick dan Mann, 1950:5). Adapun konsep pengobatan Ayurveda dari India memiliki beberapa kesamaan dengan konsep patologi humoral. Menurut paham Ayurve, penyakit dapat disembuhkan dengan makanan. Makanan mempunyai khasiat memanaskan dan mendinginkan (Jellife, 1957:135). Menurut konsep Ayurveda, alam terdiri dari 5 unsur, yaitu api, tanah, air, udara, dan eter. Terganggunya keseimbangan kelima unsur akan mengganggu kesehatan. Kesehatan juga terganggu akibat terganggunya keseimbangan 3 cairan tubuh yang disebut konsep tridhosa (Beck, 1969:562).
Konsep pengobatan tradisional kuna Cina didasarkan pada konsep yin dan yang. Yin dan yang adalah dua kekuatan yang berinteraksi secara seimbang dan terus menerus di dalam alam. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka alam akan tergoncang. Bila ketidakseimbangan terjadi dalam tubuh,maka tubuh akan sakit. Konsep ini berkembang sejak abad 2-3 sebelum Masehi. Jadi, konsep yin dan yang adalah konsep harmoni alam (Croizier, 1968:17).
2.4. Kajian Etnomedisin Orang Melayu
Uraian berikut akan menjelaskan tentang kajian etnomedisin dalam masyarakat Melayu, khususnya dari model teori naturalistik sebagaimana diungkapkan oleh Foster dan Anderson (1986).
Kasniyah (1997) membahas sitem medik tradisional. Menurutnya, Sistem-sistem medik tradisional dalam kenyataannya masih tetap hidup, meskipun praktek-pratek biomedik kedokteran makin berkembang pesat di negara kita dengan munculnya pusat-pusat layanan kesehatan; baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh swasta. Hal tersebut menunjukkan bahwa healthcare merupakan fenomena sosial budaya yang kompleks (Kasniyah, 1997:71). Karena itu, dewasa ini para ahli antropologi kesehatan banyak mencurahkan perhatian pada konsep pengobatan dan obat-obat tradisional.
Yitno (1985) membahas tentang konsep penyakit menurut tradisi Jawa. Setidaknya, dalam konsep pengobatan tradisional Jawa yang memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit, memandang penyakit tidak saja pada apa yang menyebabkan sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit. Sakit sebagai akibat rangkaian hubungan antara individu dan lingkungan, yang memandang adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis (Yitno, 1985:109). Akibat konsep tersebut, berbagai penyakit yang dipercaya sebagai akibat guna-guna, misalnya, tidak akan dibawa ke dokter modern.
Djoyosugito (1985) pernah memberikan dasar-dasar pemikiran umum tentang pengetahuan obat-obatan Jawa tradisional, namun juga belum menyebutkan obat-obatan di primbon. Namun demikian, setidaknya tulisan Djoyosugito tersebut memberikan kerangka pemikiran tentang obat-obat tradisional Jawa. Menurutnya obat tradisional menyagkut 2 hal: 1) obat atau ramuan obat tradisional dan 2) cara pengobatan tradisional (1985:115). Definisi obat tradisional adalah obat yang turun temurun digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit tertentu dan dapat diperoleh secara bebas (DitPom, Depkes RI dalam Djoyosugito, 1985:118). Yang perlu dilakukan saat ini terhadap obat-obat tradisional, yang kadang tampak tidak rasional, ialah observasi. Kalau observasi ini menghasilkan keyakinan adanya fenomena yang berulang-ulang, maka dengan deduksi kita berusaha menerangkan fenomena tersebut atau secara induktif kita coba membuat hipotesa atau spekulasi yang harus dibuktikan. Dalam hal ini kita ada pada ujung tombak pengetahuan (frontier of knowledge ) (Djoyosugito, 1985:120).
Suatu usaha dokumentasi obat-obat tradisional dilakukan oleh Mardisiwojo dan Harsono melalui buku seri yang berjudul Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang Buku ini terdiri dari 3 jilid. Buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang I menyajikan nama, tempat tumbuh, dan jenis keadaan, kegunaan dari bebrmacam-macam tubuh-tumbuhan yang biasa dipergunakan dalam ramuan obat-obatan di Indonesia. Dalam hal ini disajikan nama tumbuhan secara umum, nama dalam berbagai bahasa daerah, nama Latin, ciri-ciri tumbuhan, dan kegunaannya. Selanjutnya juga diuraikan nama berbagai jenis penyakit dan mana-nama tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengobatinya. Buku ini tidak menyajikan asal dari khasiat bahan-bahan obat tradisional tersebut (Mardisiwojo dan Harsono, 1975).
Buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang II menyajikan deskripsi berbagai macam penyakit secara alpabetis. Dalam hal ini diberikan penjelasan tentang sebab-musabab timbulnya suatu penyakit, gejala dan tanda-tandanya, perawatan dan pengobatannya, pengobatan yang dapat dilakukan dengan ramuan-ramuan dari tumbuhan. Sebagai pelengkap, buku ini menyajikan daftar nama-nama Latin bahan-bahan tumbuhan yang dijadikan obat (Mardisiwojo dan Harsono, 1987). Buku ini tidak menyajikan asal resep-resep yang disusun. Tampaknya buku ini berusaha memadukan pengetahuan kedokteran modern dengan obat-obat tradisional sebagai salah satu terapi terhadap munculnya suatu penyakit.
Buku yang ketiga berupa atlas yang yang berisi lukisan berbagai tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat (Mardisiwojo dan Harsono, 1975:5). Namun sayang, dari penelitian etnomedisin Jawa tersebut tidak ada pembicaraan mengenai animalmedicine.
2.5. Animalmedicine
Salah satu cabang etnomedisin adalah animalmedicine. Model pengobatan ini dapat dibagi menjadi dua jenis.
1. Pengobatan dengan memanfaatkan bagian tubuh hewan, seperti mengambil empedu kobra, penis kuda, cula badak, fetus (bayi) kijang, dan sebagainya.
2. Pengobatan dengan memanfaatkan aktivitas atau produksi hewan, misalnya menggunakan susu, madu, telur, lintah untuk menyedot darah, sengatan labah. Pengobatan ini tidak menyakitkan hewan.
Kajian model pengobatan ini di Indonesia masih sangat langka. Kajian ini pernah menjadi bagian dari kajian folkor yang termasuk dalam konteks pembicaraan mengenai hewan
sebagai makanaan manusia (bukan obat) (baca Danandjaya, 1996:185-187). Karena langkanya kajian tentang animalmedicine ini, maka perlu kirannya hal tersebut segera diteliti sehingga informasi tentang animalmedicine yang terdapat dalam naskah tidak hilang begitu saja.
3. Fitoterapi dalam Khazanah Naskah Melayu
3.1. Khazanah Naskah yang Mengandung Konsep Fitoterapi
Berikut ini beberapa koleksi naskah yang diperkirakan mengandung konsep fitoterapi.
a. Katalog Amir Sutaarga
No
Judul
Kode
Σ Hal
Kelompok
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
-
-
-
-
-
-
Buku Resep
Doa dan Kutika
Doa dan Obat-obatan
Doa-doa, Lapal, dan Mantra-mantra
Kitab Tibb II
Kitab Tib I
Primbon III
Primbon II
Primbon I
Ml. 851 (dari Br. 197)
Ml. 369
Ml. 342
Ml. 337
Ml. 338
Ml. 464
Ml. 492
Ml. 353
Ml. 335
Ml. 334
Ml. 883 (dari CS. 94)
Ml. 832 (dari W. 227)
Ml. 493
Ml. 477
Ml. 232
34
152
194
162
24
21
365
45
95
259
111
342
38
44
664
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Kutika, Ramalan, Ajimat, dll
Aneka Ragam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
Pustaka Agama Islam
b. Katalogus Naskah Melayu Bima II
No
Judul
Kode
Σ Hal
Kelompok
1.
2.
3.
Jimat dan Lain-lain
Tubuh dan Penyakit
Ilmu Tua
clxiii
clxiv
clxvi
28
2
4
Ilmu Tua
Ilmu Tua
Ilmu Tua
c. Katalog Naskah Buton
No
Judul
Kode
Σ Hal
Kelompok
1.
2.
3.
4.
Hayāt al-Hayawān
Kitab Mujarabāt
Obat-obatan
Jampi-jampi Mujarrabāt
OB/1/AMZ
OB/2/AMZ
OB/3/AMZ
PR/8/AMZ
120
96
97
52
Naskah-naskah Obat
Naskah-naskah Obat
Naskah-naskah Obat
Naskah-naskah Primbon
d. Katalog E.P. Wieringa
No
Judul
Kode
Σ Hal
Kelompok
1.
2.
3.
Kitāb Tib
Kitāb Tib
Kitāb Tibb
Cod. Or. 1714
Cod. Or. 1715
Cod. Or. 1769
502
957
10
The Delft Collection
The Delft Collection
The Delft Collection
4.
5.
Qur’ān fragment
Kitab Obat
Cod. Or. 1918 (4)
Cod. Or. 1968
ff. 116v-153v
265
Collection S. Keyzer
Collection Cornets de Groot and Rijks-Instelling
e. Katalog Joseph. H. Howard
No
Judul
Kode
Kelompok
1.
2.
3.
4.
5.
6.
A work concerning healing through the use of the Koran and Islam
Ilmu Tabib Ubat
Ilmu mendukun
Kitab Tabib
Primbon
Primbon
Microfilm 222
(Manuscripts 12a.)
Microfilm 387
(3936)
Microfiche 22
(Oph..29)
Microfiche 74
(Cod. Or. 1968)
Microfilm 394
Mss.(Cod. Or. 7637)
Microfilm 399
Mss.(Cod. Or. 7262)
Univ. of Malaya Library
School of Oriental and African Studies Library-London University
Rijksuniversiteits-Bibliotheek Leyden
Rijksuniversiteits-Bibliotheek Leyden
Rijksuniversiteits-Bibliotheek Leyden
Rijksuniversiteits-Bibliotheek Leyden
3.2. Jenis Obat Tradisional
Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Dengan berkembangnya teknologi, kini industri jamu mampu memproduksi jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayangnya hal ini belum diikuti dengan pembuktian uji klinis melalui penelitian sehingga semakin menambah rasa aman dan yakin pada konsumen bahwa obat tradisional memang berkhasiat.
Berdasarkan proses pembuatannya, obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.
a. Jamu (Empirical based herbal medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah secara uji klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.
b. Ekstrak Bahan Alam (Scientific based herbal medicine)
Obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas baik akut maupun kronis.
c. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)
Obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinis pada manusia. Oleh karena itu, dalam proses pembuatannya memerlukan peralatan berteknologi modern, tenaga ahli dan biaya yang besar (Dzulkarnain. B, Wahjoedi. B, Sjamsuhidayat. S., dkk, 1990).
3.3. Sumber Perolehan Obat Tradisional
Obat tradisional dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai pembuat atau yang memproduksi obat tradisional, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a. Obat tradisional buatan sendiri
Obat tradisional jenis ini merupakan akar dari pengembangan obat tradisional di Indonesia saat ini. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita mempunyai kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional yang digunakan untuk keperluan keluarga. Cara ini kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah dalam bentuk program TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Dengan adanya program TOGA diharapkan masyarakat mampu menyediakan baik bahan maupun sediaan jamu yang dapat dimanfaatkan dalam upaya menunjang kesehatan keluarga. Program TOGA lebih mengarah kepada self care untuk menjaga kesehatan anggota keluarga serta penanganan penyakit ringan yang dialami oleh anggota keluarga.
Program TOGA bertujuan untuk menyediakan obat dalam rangka penanganan kesehatan sendiri. Dengan kemampuan pengetahuan serta pendidikan mayarakat yang bervariasi, program ini mengajarkan pengetahuan peracikan jamu serta penggunaannya secara sederhana tetapi aman
untuk dikonsumsi. Sumber tanaman diharapkan disediakan oleh masyarakat sendiri, baik secara individu, keluarga, maupun kolektif dalam suatu lingkungan masyarakat. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahan baku dibeli dari pasar tradisional yang banyak menjual bahan jamu yang pada umumnya juga merupakan bahan untuk keperluan bumbu dapur masakan asli Indonesia. Pelaksanaan program TOGA diharapkan melibatkan peran aktif seluruh anggota masyarakat yang terwakili oleh ibu rumah tangga, dibimbing dan dibina oleh puskesmas setempat (Depkes RI, 1991).
b. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu /Herbalist
Membuat jamu merupakan salah satu profesi yang jumlahnya masih cukup banyak. Salah satunya adalah pembuat sekaligus penjual jamu gendong. Pembuat jamu gendong merupakan salah satu penyedia obat tradisional dalam bentuk cairan minum yang sangat digemari masyarakat. Jamu gendong sangat populer. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga dapat ditemui di berbagai pulau lain di Indonesia. Segala lapisan masyarakat sangat membutuhkan kehadirannya meskipun tidak dapat dipungkiri lebih banyak dari masyarakat lapisan bawah yang menggunakan jasa mereka. Selain jamu gendong yang umum dijual seperti kunir asam, sinom, mengkudu, pahitan, beras kencur, cabe puyang, dan gepyokan, mereka juga mampu menyediakan jamu khusus sesuai pesanan. Misalnya, jamu habis bersalin, jamu untuk mengobati keputihan, dan lain-lain. Akhir-akhir ini, dengan adanya jamu-jamu industri seringkali kita jumpai penjual jamu gendong menyediakan jamu serbuk buatan industri untuk dikonsumsi bersamaan dengan jamu gendong yang mereka sediakan.
Selain pembuat jamu gendong, peracik tradisional masih dapat dijumpai di Jawa Tengah. Mereka berada di pasar-pasar tradisional menyediakan jamu sesuai kebutuhan konsumen. Bentuk jamu pada umumnya sejenis jamu gendong, namun lebih mempunyai kekhususan untuk pengobatan penyakit atau keluhan kesehatan tertentu. Peracik jenis ini tampaknya sudah semakin berkurang jumlahnya dan kalah bersaing dengan industri yang mampu menyediakan jamu dalam bentuk yang lebih praktis.
Tabib lokal masih dapat kita jumpai meskipun jumlahnya tidak banyak. Mereka melaksanakan praktik pengobatan dengan menyediakan ramuan dengan bahan alam yang berasal dari bahan lokal. Ilmu ketabiban seringkali diperoleh dengan cara bekerja sambil belajar kepada tabib yang telah berpraktik. Di beberapa kota, telah dapat dijumpai pendidikan tabib berupa kursus yang telah dikelola dengan baik dan diselenggarakan oleh tabib tertentu. Pada umumnya,
selain pemberian ramuan, para tabib juga mengkombinasikannya dengan teknik lain seperti metode spiritual/agama atau supranatural.
Sinshe adalah pengobat tradisional yang berasal dari etnis Tionghoa yang melayani pengobatan menggunakan ramuan obat tradisional bersumber dari pengetahuan negera asal mereka, yaitu Cina. Pada umumnya mereka menggunakan bahan-bahan yang berasal dari Cina meskipun tidak jarang mereka juga mencampur dengan bahan lokal yang sejenis dengan yang mereka jumpai di Cina. Obat tradisional Cina berkembang dengan baik dan banyak diimpor ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan obat yang dikonsumsi, tidak saja oleh pasien etnis Tionghoa tetapi juga banyak dikonsumsi oleh pribumi. Kemudahan memperoleh bahan baku obat tradisional Cina dapat dilihat dari banyaknya toko obat Cina yang menyediakan sediaan jadi maupun menerima peracikan resep dari Sinshe. Selain memberikan obat tradisional yang disediakan baik sendiri maupun yang disediakan oleh toko obat, Sinshe pada umumnya mengkombinasikan ramuan dengan teknik lain seperti pijatan, akupresur, atau akupungkur (Yuanzhi, 2005: 389—426).
c. Obat tradisional buatan industri.
Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, industri obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi industri kecil dan industri besar berdasar modal yang harus mereka miliki. Dengan semakin maraknya obat tradisional, tampaknya industri farmasi mulai tertarik untuk memproduksi obat tradisional. Tetapi, pada umumnya yang berbentuk sediaan modern berupa ekstrak bahan alam atau fitofarmaka. Sementara industri jamu lebih cenderung memproduksi jamu sederhana, meskipun akhir-akhir ini cukup banyak juga industri besar yang memproduksi jamu dalam bentuk sediaan moderen (tablet, kapsul, sirup dll) dan bahkan fitofarmaka.
3.4. Komposisi Obat Tradisional yang Rasional
Komposisi obat tradisional/yang biasa diproduksi oleh industri jamu dalam bentuk jamu sederhana pada umumnya tersusun dari bahan baku yang sangat banyak dan bervariasi. Sementara bentuk obat ekstrak alam dan fitofarmaka pada umumnya tersusun dari simplisia tunggal atau maksimal 5 macam jenis bahan tanaman obat. Keterbatasan yang dijumpai dalam penyusunan komposisi jamu adalah takaran baik dari masing-masing simplisia maupun dosis sediaan. Penelitian ilmiah dalam hal ini masih sangat kurang sehingga seringkali penetapan
takaran maupun dosis hanya mengacu pada pengalaman peracik obat tradisional yang lain dan atas dasar kebiasaan penggunaan terdahulu.
Pengetahuan tentang kegunaan masing-masing simplisia sangat penting. Dengan diketahui kegunaan masing-masing simplisia, diharapkan tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan tanaman obat serta dapat mencarikan alternatif pengganti yang tepat apabila simplisia yang dibutuhkan ternyata tidak dapat diperoleh.
Indonesia yang terletak di katulistiwa sangat kaya akan jenis tanaman. Di antara puluhan ribu jenis tanaman, yang telah diketahui mempunyai khasiat obat baru sekitar 950 jenis, sedangkan dari jumlah tersebut yang sudah dimanfaatkan dalam industri jamu baru sekitar 180 jenis. Dari jenis simplisia yang umum digunakan oleh industri jamu, ada beberapa tanaman yang mempunyai kegunaan yang mirip satu dengan lainnya meskipun pasti juga terdapat perbedaan mengingat kandungan bahan berkhasiat antara satu tanaman dengan lainnya tidak dapat sama. Bahkan, untuk jenis tanaman yang sama, masih ada kemungkinanan kadar bahan berkhasiat yang terkandung tidak sama persis mengingat adanya pengaruh dari tanah tempat tumbuh, iklim, dan perlakuan, misalnya pemupukan (Lestari Handayani dan Suharmiati, 2002).
4. Penutup
4.1. Kesimpulan
Indonesia yang terletak di katulistiwa sangat kaya akan jenis tanaman. Di antara puluhan ribu jenis tanaman yang telah diketahui mempunyai khasiat obat baru sekitar 950 jenis, sedangkan dari jumlah tersebut yang sudah dimanfaatkan dalam industri jamu baru sekitar 180 jenis. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap khasiat tanaman obat sehingga dapat membantu dalam pemilihan bahan baku obat tradisional. Dengan penelitian yang bersifat multidipliner diharapkan dapat menguak misteri khazanah hayati yang selama ini masih tersimpan dalam naskah-naskah kuna peninggalan nenek moyang kita. Selain itu, akan meningkatkan pengembangan industri jamu baik tradisional maupun modern, karena prospek bisnis fitoterapi dan fitofarmaka sangat menjanjikan. Terbukti, negara Indonesia baru mampu membukukan omset penjualan per tahun sekitar Rp 3,5 triliun dari total omset penjualan obat alami secara global: US$ 50 miliar.
4.2. Saran
Terbatasnya buku-buku fitoterapi dan fitofarmaka mengakibatkan kajian ini masih sebatas telaah ringkas atau baru sebatas studi awal dalam kajian fitoterapi. Tetapi paling tidak, kehadiran fitoterapi dapat membuka cakrawala dan peluang baru bagi dunia ilmu pengetahuan pada umumnya, dan filologi pada khususnya untuk terus melakukan ekplorasi keilmuan. Untuk itu perlu dikembangkan kerja sama antara pakar bahasa-sastra (filologi), pakar biologi, pakar kimia, dan pakar kesehatan untuk dapat mengupas tuntas kajian fitoterapi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Achadiati Ikram, dkk. 2001. Katalog Naskah Buton: Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Manassa – Yayasan Obor Indonesia.
Azwar Agoes dan T. Jacob. 1992. Antropologi Kesehatan Indonesia Jilid 1: Pengobatan Tradisional. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran – EGC.
Beck, Brenda. 1969. Colour and Heat in South India Ritual. dalam Majalah Man Edisi 4
Chadwick, John dan w.N. Mann. 1950. Medical Works of Hipocrates. Oxford: Blackwell Scientific Publication.
Croizier, Ralph. 1968’ Traditional Medicine in Modern China: Science, Nationalism, and the Tension of Cultural Change. Cambridge: Harvard University Press.
Danandjaja, James. 1996. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1991. Pedoman Kader: Pemanfaatan Tanaman Obat untuk Kesehatan Keluarga.. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.
____________________________________. 1993. Pedoman Rasionalisasi Komposisi Obat Tradisional. Edisi 1993. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.
Djamaris, Edwar. 2003. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Monasco.
Djoyosugito, Ahmad Muhammad. 1985. "Pengetahuan Obat-obatan Jawa Tradisional" dalam Soedarsono dkk. (Editor). Celaka, Sakit, Obat, dan Sehat Menurut Konsepsi Orang Jawa . Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.
Dzulkarnain. B, Wahjoedi. B, Sjamsuhidayat. S., dkk, 1990. Hasil Penelitian Tanaman Obat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan R.I 1974 – 1989. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan R.I.
Foster, George M dan Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Terjemahan. Jakarta: UI Press.
Handayani Lestari. 2002. Pemanfaatan Obat Tradisional dalam Menangani Masalah Kesehatan. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan R.I.
Handayani Lestari dan Suharmiati. 2002. ‘’Meracik Obat Tradisional secara Rasional’’ dalam http://www.tempo.co.id/medika/arsip/102002/pus-2.htm.
Howard, Joseph. H. 1966. Malay Manuscripts: A Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: University of Malaya Library.
Jellife, Derrick B. 1957. “Social Culture and Nutrition: Cultural Blockks and Protein Malnutrion in Early Childhood in Rural west Bengal” dalam Majalah Pediatrics Edisi 20.
Kasniyah, Naniek. 1997. "Etiologi Penyakit Secara Tradisional dalam Alam Pikiran Orang Jawa" makalah dalam Sarasehan Rutin Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.
Harjoprawiro, Kunardi, Bani Sudardi dan Miftah Nugroho. 2007. Etnomedisin Jawa. Surakarta: Laporan Penelitian.
Koentjaraningrat.1983. Pengantar Ilmu Antropologi . Jakarta: Aksara Baru.
Mardisiwojo Sudarman dan Harsono Rajakmanngunsudarso. 1975. Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang I . Jakarta: P.T. Karya Wreda.
Mardisiwojo Sudarman dan Harsono Rajakmanngunsudarso. 1987. Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang II . Jakarta: Balai Pustaka.
M. Amir Sutaarga, dkk. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional – Direktoral Jendral Kebudayaan.
Ning Harmanto. 2003. ‘’Obat Tradisional Tembus Pasar Dunia’’ dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/10/ilpeng/728521.htm.
Rahmat Rukmana. 1995. Temulawak: Tanaman Rempah dan Obat. Yogyakarta: Kanisius.
S.W.R. Mulyadi dan H.S. Maryam R. Salahuddin. 1992. Katalogus Naskah Melayu Bima II. Bima: Yayasan Museum Kebudayaan ‘’Samparaja’’ Bima.
Whitten, Tony and Jane Whitten. 2002. Indonesian Heritage: Tetumbuhan. Jakarta: Grolier International.
Wieringga, E.P. 1998. Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts: in The Library of Leiden University and Other Collections in The Netherlands-Vol. 1. Leiden: Legatum Warnerianum in Leiden University Library.
Wirajaya, Asep Yudha dan Miftah Nugroho. 2007. Konsep Fitoterapi dalam Hikmat Obat Melayu: Sebuah Kajian Filologis. Surakarta: Laporan Penelitian.
Yitno, Amin. 1985. "Kosmologi dan Konsep Kesehatan pada Orang Jawa" dalam Soedarsono dkk. (Editor). Celaka, Sakit, Obat, dan Sehat Menurut Konsepsi Orang Jawa . Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.
Yuanzhi, Kong. 2005. Silang Budaya Tiongkok – Indonesia. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

1 komentar:

Silahkan Komentari