Benjang gulat ujung berung, gulatna urang sunda.

Oleh Reza Saeful Rachman


Benjang adalah salah satu kesenian tradisional Sunda yang berasal dari di sekitar Ujungberung, bandung timur. Dalam pertunjukannya, selain “ngibing” yang mirip dengan pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat. Menurut salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, ia menyebutkan bahwa benjang berasal dari desa Ciwaru Ujungberung. Akan tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa benjang berasal dari Cibolerang Cinunuk. Ternyata kedua pendapat ini bukan hanya isapan jempol belaka. Sampai sekarang kedua daerah ini merupakan basis atau pusat berkumpulnya kesenian benjang. benjang hampir mirip seperti Gedou – gedou di aceh, Marsurangut di tapanuli, Atol di daerah rembang, di daerah Jawa Timur ada Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas. dan sedangkan di jawa barat disebut Benjang

Seperti pada olah raga gulat, dalam kesenian benjangpun dikenal berbagai teknik dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah dogong. Dogong adalah gerakan saling mendorong antar pemain benjang dengan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah lingkaran atau arena. Yang terseret ke luar garis lingkaran dalam dogong itu dinyatakan kalah. Biasanya gerakan dogong diiringi lagu Rincik Manik dan Ela-Ela.

Dari gerakan dogong, kemudian berkembanglah gerakan seredan. Seredan yaitu gerakan saling desak dan dorong seperti permainan sumo Jepang tanpa alat apa pun. Seperti dalam permainan sumo, yang terdorong ke luar lingkaran dinyatakan kalah. Gerak seredan berkembang menjadi gerak adu mundur. Dalam gerakan ini yang dipergunakan adalah pundak masing-masing, tanpa bantuan tangan atau alat bantu apapun. Selain itu, ada pula yang disebut babagongan, yaitu gerakan atau ibingan pemain yang mempertunjukkan gerakan mirip bagong (babi hutan), dan dodombaan yaitu gerakan atau ibing mirip domba yang sedang berkelahi adu tanduk.

Dalam melakukan gerakan babagongan, dogong, seredan maupun adu mundur dan dodombaan, pemain diharamkan menggunakan tangannya. Namun, karena sering terjadinya pelanggaran, terutama oleh pemain yang terdesak, penggunaan tangan pun tak terhindarkan. Oleh karena itu, dalam peraturan selanjutnya tangan boleh dipergunakan dan terciptalah gerakan baru yang disebut genjang.

Tidak ada aturan khusus mengenai lawan atau pemain, berat badan, tinggi pemain dan lain sebagainya. Yang digunakan sebagai pertimbangan hanyalah keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan dalam bertanding. satu-satunya peraturan paling penting adalah apabila lawan tidak dapat membela diri dari himpitan lawannya dalam keadaan terlentang maka pemain tersebut dinyatakan kalah. Selanjutnya permainan terus berjalan dengan silih berganti pasangan. Si pemenang akan ngibing sambil menunggu lawan berikutnya. Dan seiring perkembangannya akhirnya, istilah genjang berubah menjadi benjang.

Dalam perkembangannya, pertunjukan benjang dilengkapi dengan kesenian lain seperti badudan, kuda lumping, dan topeng benjang. Seni benjang kemudian berkembang luas hingga ke Desa Cisaranten Wetan, Desa Cisaranten Kulon, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Majalaya, dan Kecamatan Cicadas.

Benjang seperti kesenian sunda lainnya selalu diiringi oleh musik atau lagu tradisional. Waditra atau alat musik yang dipergunakan adalah terebang, kendang, bedug, tarompet, goong, dan kecrek. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya Kembang Beureum, Sorong Dayung, dan Renggong Gancang. Pertunjukan diselenggarakan di tempat terbuka seperti lapangan. Pertunjukan biasanya dilakukan malam hari dimulai pada pukul 20.00.


kesenian benjang hampir mirip seperti olah raga gulat atau sumo. Sehingga dapat disebut pula jika benjang dapat dijadikan sebagai salah satu cabang olah raga. Karena selain melakukan kontak fisik yang amat membutuhkan kekuatan fisik seperti sumo dan gulat, Sifat sportif juga amat dijunjung tinggi dalam melakukan kesenian ini. Sehingga dapat disebut bahwa bejang adalah salah satu cabang olah raga sunda yang mempunyai nilai plus. Karena selain berupa olah raga, benjang juga memiliki nilai budaya yang amat tinggi.

Ada suatu keistimewaan dalam permainan benjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang juga mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Melihat bahwa dalam melakukan kesenian benjang hampir sama dengan gulat, tidak ada salahnya apabila benjang dijadikan salah satu cabang olah raga baru yang dapat di pertandingkan dalam beberapa event olah raga lokal maupun nasional. Seperti hal nya yang terjadi pada pencak silat, sebuah cabang olah raga yang asalnya merupakan suatu kesenian yang berkembang menjadi cabang olah raga.


seperti dibahas pada pengantar bahwa benjang berasal dari daerah ujung berung. sebuah daerah yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaannya. Meskipun arus modernisasi dan globalisasi semakin mengikis nilai-nilai kebudayaan, masyarakat ujung berung masih dengan sekuat tenaga mempertahankan kelangsungan kesenian ini. Sehingga dapat disebut bahwa benjang merupakan identitas masyarakat dan wilayah ujung berung. Dan tak dapat dipungkiri benjang pun dapat disebut sebagai jati diri pasundan.

Animo masyarakat terhadap kesenian ini amat sangat tinggi. Apabila terdengar kabar bahwa di suatu daerah akan diadakan pertunjukan gulat benjang maka masyarakat pun akan berbondong-bondong untuk menyaksikan acara tersebut. Sekitar tahun 2000, di daerah cikoang ujungberung pernah dibangun sebuah padepokan benjang gulat. Hampir setiap hari minggu di tempat itu diadakan festival benjang gulat. Masyarakat tak pandang usia, jenis kelamin, pekerjaan semua amat sangat senang menyaksikan pertarungan demi pertarungan.

Tokoh-tokoh pendiri dan pembaharu perkembangan seni benjang antara lain adalah Mama H. Hayat (alm) dan Abah Asrip (alm), keduanya dari Desa Cibiru, kemudian Abah Alwasih (alm) dari Desa Ciporeat, Kampung Ciwaru, Kecamatan Ujungberung, lalu Mama H. Enjon (alm), seorang tokoh pencak silat yang melengkapi benjang dengan unsur-unsur pencak silat, dan terakhir Nunung Aspali, seorang tokoh yang masih hidup dan memimpin perkumpulan seni benjang “Putra Pajajaran” di Kecamatan Ujungberung.


pada tanggal 3 sampai dengan 6 juli 2008 di wilayah ujung berung akan diadakan acara ujung berung festival. Ini adalah salah satu dukungan masyarakat dan birokrat ujung berung dan pemerintah kota dalam mendukung program yang dicanangkan yaitu bandung sebagai kota wisata dan kota idaman tahun 2008, visit west java2008, serta visit indonesia 2008. kebetulan salah satu kesenian yang dijadikan sebagai primadona adalah kesenian benjang.
kegiatan ini amat berperan penting dalam upaya untuk mempromosikan kesenian ini kepada para wisatawan. Baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Karena dengan dikenalnya kesenian ini oleh khalayak banyak, kelangsungan kesenian ini akan sangat terbantu. Selain itu, dengan terlestarikannya kesenian ini, taraf ekonomi atau nilai ekonomi nya akan terasa bagi kelangsungan si pemainnya. Dapat dikatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat. Baik bagi kesenian benjangnya dan juga bagi si pelakunya. Karena pada hakikatnya yang diharapkan dari program-program pariwisata bukan hanya kelangsungan nasib keseniannya saja, akan tetapi kelangsungan nasib si pemain juga harus diperhatikan. Dalam kata lain semua program pariwisata selain untuk mempromosikan juga harus sebagai sarana untuk memperbaiki taraf ekonomi suatu masyarakat di daerah sekitar tempat wisata itu.


benjang adalah kesenian turun temurun yang harus dilestarikan sampai anak cucu kita. Jangan sampai mereka hanya tahu kesenian benjang dari buku saja karena kesenian nya telah musnah. Maka upaya -upaya untuk tetap menjaga eksistensi nya harus benar-benar dilakukan. Sosialisasi benjang serta regenerasi pelaku benjang harus ada. Hal-hal ini harus dilakukan untuk tetap menjaga kesenian benjang agar tetap terjaga. Serta yang sangat diharapkan adalah benjang dapat dijadikan sebuah cabang olah raga yang layak di pertandingkan dalam berbagai even-even olah raga.

Reza Saeful Rachman. Mahasiswa sastra indonesia universitas pendidikan indonesia.