Batik Sunda Heubeul

oleh
Reza Saeful Rachman

Masyarakat sunda telah ternyata telah mengenal batik sudah sejak sekian lama. Tepatnya pada abad ke 12, saat zaman kerajaan sunda dipimpin oleh darmasiksa prabu sanghyang wisnu. Jika dihitung, usia nya sudah cukup tua. Yakni sudah 900 tahun.

Sampai zaman prabu siliwangi (1482-1521 M) jumlah banyaknya batik yang sudah dikenal ada sekitar 37 macam. Ini bersumber dari yang disebutkan naskah siksakandang karesian. Sebuah naskah yang ditulis tahun 1518 M. naskah ini sudah dianggap sebagai ensiklopedi orang sunda karena didalamnya terdapat pandangan-pandangan dan tata cara kehidupan masyarakat sunda kuno.

Kira-kira beginilah bunyinya : sarwa lwira ning boeh ma : kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat saruhun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, cecempaan, paparanakan, mangin haris sili ganti, boeh siang, bebernatan, papakanan, surat awi, parigi nyesoh, gaganjar, lusian besar,kampuh jayanti, hujan riris, boeh alus, ragen panganten ; sing sawatek boboehan ma pangayeuk tanya. (segala macam kain, seperti: kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat saruhun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, cecempaan, paparanakan, mangin haris sili ganti, boeh siang, bebernatan, papakanan, surat awi, parigi nyesoh, gaganjar, lusian besar,kampuh jayanti, hujan riris, boeh alus, ragen panganten ; segala macam kain, tanyalah pada pangeuyeuk). Pangeuyeuk adalah istilah zaman dulu untuk seorang ahli tekstil. Sedangkan yang membuat sktsa atau gambarnya disebut patekin. Selain membuat batik tulis, juga sudah dikenal batik tenun. Alat yang digunakan adalah keuntreung.

Dari begitu banyaknya jenis motif batik yang ada, 33 diantaranya dibuat sebelum zaman pajajaran. Sedangkan sisanya 4 motif batik lainnya dibuat pada masa Prabu siliwangi.

Catatan resmi tentang siapa tokoh zaman dulu yang mulai memperkenalkan batik, membuat batik, belum diketahui secara jelas. Sebuah sumber menyatakan bahawa pada masa kerajaan pajajaran sudah banyak yang pandai membuat batik. yang dikenal amat terampil membuat batik kala itu antara lain rei sutan pamangku dan istrinya yang bernama dasimah arthi pahrih, ambhir seta barsama karibnya silihandju dan anak perempuannya yang bernama suranti palihwarthi.

Bahan dan alat-alat yang digunakan untuk membatik pada zaman dahulu sangat berbeda bila dibandingkan dengan masa sekarang. Jika sekarang digunakan lilin dan zat pewarna yang kimiawi, zaman dahulu yang digunakan adalah lilin yang berasal dari sarang lebah atau sarang tawon. Sedangkan untuk zat pewarnanya digunakan bahan-bahan yang berasal dari alam seperti dari biji-bijian yang dicampur dedaunan atau kulit pohon.

Bahan dan warna yang dihasilkan antara lain: warna merah dihasilkan dari buah galinggem, warna coklat dihasilkan dari tanah hitam, hijau dihasilkan dari pohon atau daun pandan, warna abu-abu dihasilkan dari tanah liat, warna biru muda dihasilkan dari tanah liat yang dicampur biji pohon wewdakkan, kuning dihasilkan dari barbagai gegetahan, sedangkan warna biru dihasilkan dari daun pohon tarum dicampur biji pohon wewedakan.

Gambar yang dominan pada batik sunda zaman dulu adalah motif bunga-bunga atau tumbuhan, sebagian lagi merupakan motif bergambar binatang seperti kura-kura, monyet, burung, dan julang.

Dalam naskah ratu pakuan, dalam babad ambet kasih, saat pernikahan prabu siliwangi kepada ratu ambet kasih salah satu perlengkapan yang digunakan adalah berupa sinjang dodot. Jika dilihat batik tersebut bermotif ragen panganten. Salah satu jenis motif yang disebutkan pada naskah siksakandang karesian(1518 M). Akan tetapi pada saat upacara diwastu (upacara penobatan) gelar sri baduga maharaja, prabu siliwangi memekai sinjang dodot yang masih bermotif banyak ngantrang.

Banyak ngantrang merupakan salah satu motif yang diciptakan pada masa kerajaan pakuan pajajaran. Ada yang menyebutkan bahwa motif batik yang diciptakan pada masa kerajaan pajajaran antara lain: banyak ngantrang, banyak wide, julat jalikem, jeung julat jalintreng. Tapi yang patut kita ketahui adalah bahwa meskipun tercipta beberapa motif batik barupada masa kerajaan pakuan pajajaran, akan tetapi motif-motif batik sebelumnya tidak dilupakan.

Sebenarnya pada zaman dahulu, motif-motif tersebut amat lekat dengan masyarakat kerajaan pakuan pajajaran masa dulu. Akan tetapi semenjak runtuhnya kerajaan pajajaran, motif-motif batik sunda heubeul pun turut tenggelam. Berganti ke batik sunda yang lebih bercorak mataram.

Pada zaman dahulu menurut sebuah sumber, motif batik dapat digunakan sebagai tanda pengenal asal si pemakai. Sebagai contoh batik mataram bergambar burung merak, motif batik singasari terdapat gambar binatang berkaki empat, sedangkan motif majapahit bergambar burung garuda. Salah satu jenis burung yang kini juga digunakan sebagai lambang negara.

Batik sunda atau pajajaran pun memiliki ciri khas yang lain daripada yang lain yaitu motif tumbuhan. Sayangnya perubahan zaman dan runtuhnya kerajaan pajajaran membuat batik tersebut tenggelam di telan bumi. Akan tetapi yang cukup menggembirakan sekarang adalah motif-motif batik zaman dahulu seperti ragen panganten, pasi-pasi, kembang muncang, jayanti, dan bayak ngantrang mulai direkonstruksi kembali untuk diperkenalkan kembali.

Belum lama ini batik dalam berbagai bentuk dan macam mulai diminati kembali. Masyarakat mulai memandang kembali bahwa batik merupakan salah satu jenis sandang yang bernilai seni tinggi dan elegan. Yang menjadi hal yang perlu kita soroti adalah, sejauh mana batik motif sunda heubeul mengambil peran untuk turut serta didalamnya. Semoga batik sunda berjaya kembali seperti pada masa kejayaanya dahulu kala. Semoga.

Reza Saeful Rachman. Mahasiswa sastra indonesia universitas pendidikan indonesia.