Amanat dalam wawacan Syeh Abdul Qadir Jaelani

oleh Reza Saeful Rachman*

suku sunda atau masyarakat sunda memiliki amat banyak kekayaan sastra yang diwariskan leluhurnya. Bentuk sastra yang tertua adalah cerita-cerita pantun. Yaitu cerita tentang pahlawan-pahlawan atau tokoh sunda zaman dulu. Tukang pantun itu mendongengkan cerita pantunnya dengan iringan kecapi. Tokoh yang paling sering diangkat ceritanya adalah tokoh prabu siliwangi. Seorang raja yang dianggap amat bijak dan bersahaja serta disegani oleh semua orang.

Setelah zaman pantun, dikenal zaman wawacan. Cerita wawacan biasanya berisi tentang cerita-cerita islam. Wawacan merupakan seni bercorak islam hasil pengaruh dari kerajaan mataram islam setelah kerajaan-kerajaan sunda runtuh. Dahulu wawacan menjadi salah satu kesenian yang amat disenangi masyarakat sunda zaman dulu. Wawacan dibacakan dengan cara di dangdingkeun atau dinyanyikan seperti pupuh. Sehingga selain mengandung unsur ilmu, wawacan juga memiliki nilai seni yang amat tinggi.

Akan tetapi tradisi wawacan kini sudah sangat jarang ditemui atau dapat dikatakan sudah hampir punah. Jika dahulu wawacan sering di tampilkan dalam acara-acara seperti syukuran, kelahiran anak, atau hari besar islam, kini sudah tidak lagi. Masyarakat zaman kiwari sudah tidak tertarik lagi dengan kesenian tradisional yang mengandung amat banyak nilai-nilai islam ini.

Disaat hampir sebagian masyarakat tatar sunda lupa akan aset budaya warisan leluhurnya, masih ada sekelompok masyarakat di salah satu desa di kota garut masih aktif melakukan tradisi ini tepatnya di kampung panyiarapan, desa samida kecamatan selaawi kota garut.

Bapak asep saepudin adalah sosok yang amat berjasa dalam pelestarian tradisi ini. Beliau masih setia melakukan tradisi wawacan. Dari awalnya hanya dipaksa oleh orang tuanya, kini hampir enam kali dalam sebulan beliau mendapat panggilan untuk membacakan wawacan dalam acara-acara syukuran atau dalam acara-acara yang diadakan di masjid-masjid. Dengan dibantu kaca mata tuanya, beliau dengan fasih membaca sebuah naskah tua beraksarakan arab namun berbahasa sunda. Jenis huruf ini adalah arab pegon. Salah satu jenis huruf yang pada zaman dahulu sangat terkenal dan sering digunakan masyarakat sunda zaman dulu untuk menulis.huruf ini hasil percampuran antara kebudayaan arab dan budaya melayu.

Naskah yang dibacakan pak asep adalah naskah wawacan manakib syeh abdul qadir jaelani. Yaitu seorang ahli sufi yang dilahirkan pada tahun 1077 dan meninggal dunia pada tahun 1166. berbagai riwayat hidupnya telah banyak dituliskan orang, tetapi riwayat hidupnya banyak dimasuki bahan-bahan yang bercorak fiksi. Beliau dianggap sebagai pemimpin aliran tasawuf yang dipanggil kadiriah. Menurut pak asep, naskah yang dimilikinya ini berisi tentang amanat-amanat, kisah-kisah religius serta pengalaman-pengalaman aneh tentang tuan syeh abdul qadir jaelani.

Naskah ini merupakan hasil penyalinan pada tahun 1966 dari naskah asli yang dimiliki oleh ayahnya dulu. Dalam ilmu filologi, naskah seperti ini disebut naskah salinan. Naskah ini amat banyak mengandung nilai-nilai islam didalamnya. Secara tidak langsung, wawacan adalah salah satu media penyampaian yang amat efektif serta praktis dalam penyebaran ilmu-ilmu serta ajaran-ajaran agama islam.

Naskah ini dibuka dengan pupuh asmarandana. Dijelaskan pertama bahwa dulu ada tokoh mulia bernama syeh abdul qadir jaelani. Dalam naskah ini beliau diceritakan sebagai sosok yang sangat jujur sejak kecil beliau sudah diajarkan perihal kejujuran oleh sang ibu. Dalam satu kutipan pupuh disebutkan bahwa saat itu syeh yang masih kecil disuruh ibunya untuk pergi menuntut ilmu. Oleh ibunya, beliau diberi uang 40 dinar. Ibunya berpesan kepada beliau agar selalu berkata jujur, bertndak jujur selama di perjalanan apapun yang terjadi. Suatu ketika di tengah perjalanan beliau di cegat oleh gerombolan perompak gurun. Pimpinan perompak itu kemudian menodongkan pedang yang amat tajam ke perut syeh. Dia bertanya kemanakah tujuan syeh berkelana. Lalu dia meminta semua benda yang dibawa syeh. Saat ditanya apakah ada benda lain yang yang di bawa, syeh kecil menjawab bahwa ia memiliki uang sebesar 40 dinar. Pemimpin perompak itu pun tertawa mendengar jawaban syeh. Dia tidak percaya bahawa ada anak kecil membawa uang dengan jumlah sebanyak itu. Lalu syeh mengeluarkan uang 40 dinar itu dari balik pakaiannya. Setelah benar-benar melihat sejumlah uang yang dikeluarkan syeh kecil pemimpin itu bukan senang, dia malah menangis sambil berlutut di hadapan syeh. Dia merasa amat malu, hatinya amat teriris melihat kejujuran seorang anak yang masih kecil ini. Pemimpin perompak ini pun akhirnya bertaubat dan syeh pun diperkenankan untuk pergi melanjutkan perjalanan.

Jika dicermati secara akal sehat, mungkin kita tidak akan mudah percaya dengan cerita seperti ini. Tapi masyarakat dahulu membuat cerita seperti ini sebagai pedoman atau sebagai acuan dalam bertindak dalam melakukan berbagai hal. Karena nilai-nilai dan norma-norma sangat kental di dalamnya.

Serta disebutkan pada awal pupuh bahwa sebelum membaca naskah ini atau sebelum melakukan sesuatu di perlukan hati yang bersih. Kalimatnya seperti ini :”kudu serta ati bening suci, serta ikhlas. Ulah sambewara. Kudu luak lieuk kanu sejen”.(hati harus serta bening suci,serta ikhlas. Jangan gegabah. Harus memperhatikan yang lain.).

Setelah asmarandana, dilanjutkan ke pupuh-pupuh yang lain. Seperti sinom, pucung, magatru, kinanti, dll. Jika disimak sampai akhir setelah mendengarkan wawacan ini, banyak sekali manfaat serta amanat di dalamnya. Wawacan sebenrnya merupakan media yang sangat efektif dalam proses penyampaian ajaran islam.

Namun sayang kini hanya segelintir orang saja yang masih peduli dengan tradisi ini. Masyarakat sunda seakan sudah tidak peduli lagi. Padahal tradisi wawacan masih sangat berguna jika masih ada dan diterapkan di masa sekarang. Karena selain memilki ilmu,nilai-nilai seta ajaran islam didalamnya, wawacan juga memilki nilai seni yang amat tinggi. Dan yang terpenting adalah kita bisa mengambil amanat-amanat didalamnya yang bermanfaat sebagai pedoman hidup bagi umat manusia pada umumnya.

*Reza Saeful Rachman, penulis. Mahasiswa sastra indonesia universitas pendidikan indonesia.